Agama Buddha dan Kemiskinan
David Loy
Diterjemahkan oleh Suryandi Sadeli dan diedit oleh Jimmy Lominto
(bag 4)
Masalah mendasar manusia bukanlah persoalan teknologi dan ekonomi dari memenuhi seluruh kebutuhan materil kita�sesuatu yang mustahil secara psikologi dan lingkungan�melainkan kebutuhan psikologi dan spiritual untuk memahami sifat dasar pikiran kita sendiri. Untuk alasan inilah, setiap rumusan �kebutuhan� merupakan sebuah value judgement (penilaian yang lebih mencerminkan nilai yang dipegang si pemberi nilai ketimbang mencerminkan realitas) sebanyak determination of fact (penentuan fakta). Ini adalah sesuatu yang ditekankan agama Buddha dan agama-agama lain, tapi yang tidak diakui ilmu ekonomi. Ilmu ekonomi tidak bisa
menghindari mereduksi kebajikan ke dalam jumlah karena ia menfaktorkan seluruh nafsu ke dalam persamaan dasar kelangkaannya yang berasal dari membandingkan sarana yang terbatas dengan keinginan yang secara potensi tidak terbatas. Tetapi, tanpa termakan oleh mimpi keberlimpahan karena teknologi (technological cornucopia) kaum utopia, tidak akan pernah terjadi pada kebanyakan orang �miskin� untuk menjadi sedemikian terpaku pada fantasi mengenai segala hal yang mungkin mereka miliki. Sejauh mereka melakukan ini, kita sedang memaksakan value judgement kita kala kita bersikeras melihat mereka sebagai miskin atau sedang hidup dalam kondisi kelangkaan (sekali lagi, kecuali untuk kaum melarat yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar untuk bertahan hidup). Sungguh sombong menganggap mereka pasti tidak bahagia dan satu-satunya jalan untuk menjadi bahagia adalah memulai di atas treadmill gaya hidup yang semakin keasyikan dengan konsumsi.
Semua ini diungkapkan secara lebih baik oleh sebuah analogi populer dalam agama Buddha Tibet. Dunia penuh dengan duri dan batu tajam (dan sekarang pecahan kaca juga). Apa yang seharusnya kita lakukan tentang hal ini? Satu solusi adalah membalut seluruh bumi; pilihan lain, kita bisa pakai sepatu. �Membalut seluruh planet� adalah sebuah kiasan yang baik untuk bagaimana proyek teknologi dan ekonomi kolektif kita sedang berusaha membuat kita bahagia. Ia tidak akan dipuaskan sekalipun seluruh sumber daya bumi dirubah menjadi produk-produk untuk digunakan. Solusi lain adalah pikiran kita belajar bagaimana membuat dan memakai sepatu, sehingga tujuan kolektif kita menjadi sebuah ekspresi dari sarana yang dapat
diperbaharui yang disediakan oleh biosfer.
Mengapa kita menganggap �kemiskinan akan penghasilan/konsumsi� sama dengan ketidaksejahteraan? Itu membawa kita pada inti permasalahan. Bagi kita, kesejahteraan materil telah menjadi semakin penting oleh karena hilangnya kepercayaan kita terhadap kemungkinan pemenuhan lain�misalnya, berada di surga bersama Tuhan atau surga sekuler sosialisme, atau bahkan (karena merasa putus asa akan krisis lingkungan) kemajuan masa depan umat manusia. Sebagaimana dikesankan oleh ini, meningkatkan �standar kehidupan� kita telah menjadi begitu kompulsif karena ia telah menjadi pengganti nilai-nilai keagamaan tradisional�atau, yang lebih baik lagi, karena ia sebenarnya telah menjadi semacam agama sekuler bagi kita. Jika demikian, upaya-upaya kita untuk secara ekonomi �membangun� rakyat Dunia Ketiga yang mempunyai tradisi spiritual mereka sendiri, bisa dilihat sebagai satu bentuk imperialisme agama yang kontemporer, sebuah misi baru untuk mengalihagamakan kaum kafir...Dengan demikian, terlepas dari kekerasan gelap mereka yang menyebalkan, apakah �para teroris Dunia Ketiga� lebih memahami aspek globalisasi yang satu ini daripada kita.? (bersambung)
==============================================================Bagi saudara-saudari seDharma yang tertarik untuk Belajar, Berlatih, dan Berbagi Hidup Berkesadaran serta mengembangkan Socially Engaged Buddhism* (SEB) di Indonesia silahkan bergabung dengan kami di Milis Dharmajala.
*Agama Buddha yang terjun aktif ke dalam segala aspek kehidupan manusia seperti urusan sosial kemasyarakatan, budaya, ekonomi, politik, perlindungan lingkungan hidup�dsbnya tapi yang dilakukan secara PENUH KESADARAN atau dengan PERHATIAN PENUH.
Silahkan kunjungi:
http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/
Untuk bergabung, kirimkan email ke:
[EMAIL PROTECTED]
Dharmajala bertujuan untuk:
Menyingkap Tabir Ketidaktahuan
Membongkar Sekat Ketidakpedulian
Menganyam Tali Persahabatan
Merajut Jaring Persaudaraan
Saling Asah, Asih, dan Asuh dalam Semangat Sanggha
Aktif Mengupayakan Transformasi Diri Transformasi Sosial
Melalui Hidup Berkesadaran
|
========================================================= |
|
|
Discover Yahoo!
Find restaurants, movies, travel & more fun for the weekend. Check it out!
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
Yahoo! Groups Links
- To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
