--- In [email protected], Jimmy Lominto 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Pemutaran Roda Dharma Keempat?oleh Christopher Queen, Harvard 
University, Diterbitkan di the Buddhist Channel, 8 Juni, 
2005Diterjemahkan oleh Jimmy Lominto
> (bag 2)
> 
> Keterbatasan-Keterbatasan Agama Buddha
> 
> Dalam karya terakhirnya, The Buddha and His Dhamma, Ambedkar 
menunjuk empat masalah yang dia lihat dalam tradisi Buddhis 
sebagaimana yang diterima dari masa lalu, empat persoalan yang 
konflik dengan sensibilitas modern kita.  Jangan kita lupakan bahwa 
Ambedkar dilatih di Barat; dia adalah pengikut John Dewey, filsuf 
pragmatis Amerika yang tersohor.
> 
> 1) Hal pertama yang dipertanyakan Ambedkar adalah legenda
> pemingitan Buddha, sebagai pangeran, dari berbagai pengalaman
> normal manusia. Bagaimana seorang pria berusia dua sembilan tahun
> tiba-tiba menemukan penyakit, penderitaan, dan kematian, dan
> kemudian meninggalkan keluarganya dalam letupan kegamangan akan
> permasalahan eksistensial?  Bukankah sudah agak terlambat
> [ketuaan] bagi seseorang untuk menemukan hal-hal ini? Jadi ada
> sesuatu tentang kisah Buddha ini yang agak ganjil bagi cara
> berpikir kita, karena kita tahu orang muda masa kini menghadapi
> realitas-realitas kehidupan ini semasa usia remaja mereka dan kita
> mendorong mereka untuk bergumul dengan hal-hal ini dan
> menyelesaikannya dalam cara-cara tertentu.

Di sini saya mengambil kesimpulan bahwa Ambedkar melihat momentum 
momentum yang terjadi seakan-akan berjalan secara sekonyong-konyong 
dan tanpa sebab-musabab. Ambedkar di sini seakan-akan membongkar 
suatu lukisan puzzle dan memberi komentar pada tiap-tiap keping 
puzzle sebagai suatu yang tidak berharga (jelas sekeping puzzle 
tidaklah berarti, puzzle menjadi karya yang bernilai bila semua 
keping disatukan). Sangatlah tidak relefan mencuplik satu adegan 
dalam riwayat Buddha tanpa melihat riwayat pendahuluannya dan 
berkomentar bahwa ini adalah jagal. Kalau di lihat dari riwayat 
semasa kecil jelas lah bakat sang pangeran adalah mendalami 
kehidupan spiritual yang bahkan telah diramalkan sebelumnya. kalau 
mau melihat riwayat ke belakang bisa di pahami bahwa fenomena 
penderitaan yang dilihat dan kelihatannya merubah jalan hidup Sang 
Buddha adalah sebagai alasan terakhir / yang menguatkan tekad Sang 
Buddha menghilangkan keraguanNya untuk menjalani kehidupan 
spiritual. Sedangkan tekad itu sendiri sudah terbenam dalam sifat-
sifat asli sang pangeran.

> 
> 2) Persoalan kedua berkaitan dengan sebab-sebab penderitaan.
> Kebenaran mulia kedua mengatakan bahwa penderitaan merupakan
> akibat dari nafsu rendah dan ketidaktahuan; dengan demikian, jika
> seseorang sedang menderita kita harus katakan, "Ubahlah sikap
> anda. Latihlah meditasi. Praktikkanlah sila dan hidup anda pun
> akan menjadi lebih baik." Tapi adakah keadaan-keadaan di mana
> terdapat korban-korban yang tidak bersalah? Ada anak-anak dan
> seluruh komunitas yang dipinggirkan dan ditindas oleh kekuatan
> sosial, politik, dan ekonomi yang secara esensial berada di luar
> kendali mereka, kecuali mereka entah bagaimana caranya secara
> kolektif mengorganisir perlawanan terhadap penindasan itu.
> Dapatkah agama Buddha mencakup gagasan perubahan sosial, yang
> mempunyai dua hal ini, para korban dan para penindas?  

Salah penafsiran yang di kemukakan Ambedkar adalah salah-pengertian 
yang biasa terjadi pada seseorang yang mempelajari Buddhisme secara 
acak atau, mempelajari Buddhisme semata-mata untuk mencari apa-apa 
yang bisa disalahkan dalam Buddhisme (sekedar ambil satu atau dua 
kata dalam Buddhisme dan dipakai untuk memutar-balikkan fakta).

Untuk mempelajari Buddhisme urutan-urutan yang perlu diperhatikan 
adalah meyakini adanya 12 siklus tunimbal lahir.
Dari pengertian siklus tunimbal lahir akan diperoleh pengertian 
mengenai hukum Sebab-Akibat dan hukum saling ketergantungan yang 
saling berhubungan.

Bila seseorang gagal untuk melihat kebenaran di atas maka secara 
pasti mereka akan menemui kesulitan dalam mendalami Buddha Dharma. 
Dalam kegagalan ini selanjutnya yang bisa mereka manfaatkan dari 
Buddhisme adalah hanya teknik meditasi dan teori pil maklum tanpa 
pengertian yang benar.  


> 
> 3) Persoalan ketiga adalah masalah karma dan tumimbal lahir.
> Apakah kita benar-benar memercayai tumimbal lahir? Apakah kita
> benar-benar percaya bahwa karma adalah sejenis akumulasi energi
> terus-menerus yang bukan hanya akan mendikte kualitas kehidupan
> kita tapi juga menyebabkan kita terus lahir kembali? Haruskah kita
> menyimpulkan bahwa, misalnya, orang cacat adalah orang yang sedang
> menjalani hukuman atas perbuatan buruk ataupun kejahatan lampau?
> Ambedkar mengalami kesulitan dengan keberadaan ajaran-ajaran
> tradisional tentang karma dalam pandangan dunia (world view)
> modern kita, bukan hanya berkaitan dengan apa yang kita ketahui
> sekarang tentang psikologi dan fisika, tapi juga dipandang dari
> sudut masalah-masalah sosial seputar kehidupan kaum untouchable di
> India.
>

Persoalan kedua dan ketiga dikemukakan Ambedkar menguatkan 
kesimpulan saya bahwa Ambedkar mempelajari Buddhisme secara sungsang.
Biasanya semua research dimulai dengan timbulnya permasalahan 
terlebih dahulu, diselidiki sumber permasalahannya dan dicari 
solusinya. Di sini Ambedkar melakukan siklus sungsang, meneliti 
metodhe pemecahan masalah Catur Arya Sacca menguji kebenarannya dan 
mengambil kesimpulan dengan meragukan siklus tunimbal lahir dan 
hukum Sebab Akibat. Ibarat
Urutan Yang benar:
"Ada penyakit, di selidiki penyakitnya, di cari pengobatannya dan 
ditemukan obatnya"

Ambedkar:
"Ada obat untuk suatu penyakit, diselidiki bagaimana caranya obat 
ini bisa menyemuhkan penyakit dan berkesimpulan dengan meragukan 
bahwa penyakitnya memang benar-benar ada"

Disini kita bisa melihat bahwa mereka yang merasa tidak menderita 
memang mengalami kesulitan dalam mempelajari Buddha Dharma karena 
pada intinya Buddha Dharma adalah menganalisa akan adanya 
penderitaan dan menunjukkan jalan untuk mengatasi penderitaan.
 
> 4) Kontradiksi atau persoalan terakhir yang Dr. Ambedkar lihat
> dalam agama Buddha adalah peran rahib atau orang yang telah
> ditahbiskan. Apa peran yang sesungguhnya dari praktisi ideal agama
> Buddha? Apakah peran itu adalah seseorang yang melepas dan menarik
> diri dari kehidupan tanggung jawab keluarga, pekerjaan,
> masyarakat, yang secara esensial hidup terpisah, kecuali untuk
> kontak yang telah menjadi ritual dari memohon persembahan makanan
> atau mengajar? Atau apakah seharusnya para praktisi ideal ajaran
> Buddha dilihat bukan sedang duduk melainkan sedang berjalan;>
> yaitu, sedang berjalan ke dalam komunitas dan berusaha membantu
> khalayak memperbaiki keadaan materil sekaligus kondisi spiritual
> mereka? Apakah tidak lebih baik para rahib dilatih menjadi pekerja
> sosial? Ini merupakan salah satu pertanyaan inti Ambedkar. Dan
> model dia adalah kaum Jesuit, Benediktin, dan para misionaris
> Protestan yang membangun klinik dan program melek huruf, dan
> membantu rakyat menggali sumur, membangun jalan,dan juga
> memperbaiki situasi mereka melalui kegiatan terjun langsung.
> 

Seperti seorang ilmuwan jenius yang mampu memprediksi gempa yang 
maha hebat yang akan terjadi 1000 tahun lagi, dengan memperhitungkan 
populasi manusia 1000 tahun kedepan, akibat gempa akan sangat 
mengenaskan, dengan motifasi ini sang ilmuwan mempersiapkan rencana 
untuk menanggulangi bencana tsb, meninggalkan semuanya dan 
mendedikasikan diri untuk saat-saat tsb. Mereka yang berpikir 
sederhana tentunya tidak akan mempercayai prediksi ilmiah tsb dan 
malah menganggap semua adalah alasan yang dicari-cari untuk 
meninggalkan tanggung-jawab kemasyarakatan.

Ambedkar melupakan bahwa Buddhism memandang jauh kedepan bahkan 
setelah rentang kehidupan ini berakhir (di sini pentingnya 
pemahamaan mengenai 12 siklus tunimbal lahir dan Hukum Karma).

Bagi Ambedkar Buddhisme seakan akan terlalu fantastis untuk di 
percaya (12 siklus tunimbal lahir, keberadaan 36 tingkat kelahiran, 
Hukum Sebab Akibat, Fenomena tentang saling ketergantungan).

> Modifikasi
> 
> Melihat berbagai persoalan ini dan gagasan-gagasan mendasar agama 
Buddha lainnya, Ambedkar memodifikasi tradisi ini secara agak bebas. 
Salah satu dari perubahan paling penting yang ia lakukan adalah 
penerjemahan ulang yang radikal dari apa yang dimaksud dengan 
nirwana. Menurut Ambedkar, nirwana bukanlah keadaan atau pencapaian 
yang bersifat metafisik ataupun psikologis, melainkan sebuah 
masyarakat yang berlandaskan kedamaian dan keadilan. Dia menarik 
pandangan tentang nirwana yang bersifat transenden turun ke bumi.
> 
> Ini merupakan fitur penting dari engaged Buddhism [agama Buddha 
yang terjun aktif ke dalam segala urusan kemanusiaan dan lingkungan] 
sebagaimana yang dapat dilihat di banyak bagian Asia hari ini. Satu 
fitur umum dari gerakan ini adalah tidak begitu memerhatikan gagasan 
tentang dunia lain, apakah dunia yang bersifat psikologis ataupun 
yang metafisik, dan menerjemahkan itu ke dalam sebuah masyarakat 
yang berlandaskan kesetaraan dan pertukaran bebas ide dan barang. 
Ini adalah sejenis sosialisme dan Ambedkar sendiri, walaupun bukan 
seorang sosialis per se, dipengaruhi secara signifikan oleh para 
pemikir sosialis.
> 
> Dengan pemahaman yang beda ini, diskusi tentang nirwana menjadi 
analog dengan diskusi mengenai kerajaan Allah atau Surga dalam 
Kekristenan. Apakah itu adalah mengenai sebuah kehidupan setelah 
kematian atau mengenai sebuah komunitas ideal di planet ini? 
Ambedkar dan para pengikutnya akan memilih konsep kedua. Kita perlu 
menciptakan komunitas-komunitas yang akan membebaskan potensi dan 
martabat manusia dari kungkungan?itulah nirwana.
> 
> Jika anda lihat Sutta Satipatthána atau Visuddhimagga, anda akan 
menemukan teks-teks yang mengemukakan satu set yang kompleks 
mengenai ketrampilan meditasi dan praktik sila, yang ditawarkan 
tradisi pada kita sebagai jalur menuju kebangkitan. Hal itu hampir 
tidak ditekankan dalam tulisan maupun pemikiran Ambedkar. Bagi dia 
mengejar pendidikan di semua tingkat merupakan suatu bentuk meditasi 
dan olah mental. Ini pada gilirannya menyuplemen institusi-institusi 
masyarakat bebas?pemerintah yang representatif, due process, dan 
pengadilan yang tidak memihak kala seorang untouchable dapat pergi 
ke pengadilan dan mendapat hakim yang memberikan putusan menang 
kepadanya. Inilah nirwana. Semua ini sama sekali tiada hubungannya 
dengan kekayaan praktik meditasi tradisional yang tersedia.
> 
> Penting untuk dicamkan bahwa guru-guru utama Ambedkar adalah buku. 
Dalam hal ini dia agak mirip dengan "Buddhis-Buddhis" Barat yang 
telah dibawa masuk ke dalam agama Buddha melalui membaca Alan Watts, 
D.T. Suzuki, Shunryu Suzuki, atau Trungpa Rinpoche, alih-alih 
dilatih dalam agama Buddha oleh guru pribadi yang mencurahkan 
hidupnya untuk berlatih dan mengajarkan meditasi. Ada banyak orang 
di Amerika yang menyebut dirinya Buddhis karena telah membaca buku 
tentang agama Buddha?"Buddhis toko buku" atau "nightstand Buddhist," 
demikian Tom Tweed menyebut mereka. Ambedkar mempunyai tiga puluh 
ribu buku, termasuk satu koleksi besar tentang agama Buddha; buku-
buku ini ada corat-coret di seluruh bagian garis tepi buku, ada 
garis bawah, dan juga tanda silang, setuju maupun tidak setuju 
dengan elemen-elemen tradisi dan memutuskan bagaimana agama Buddha 
dapat bekerja untuk dia. Buku-buku inilah guru-guru dia.
> 
> Sebagai tokoh, Ambedkar sudah pasti bagaikan gunung berapi; dia 
tidak memiliki sikap tenang Thich Nhat Hanh. Bukan nafas dan senyum 
bagi Dr. Ambedkar. Ambedkar tergores secara mendalam sekali dari 
pengalamannya menjadi seorang untouchable dalam masyarakatnya seumur 
hidup dia dan dia membawa perasaan kuat dari pengalaman itu ke dalam 
pemahamannya tentang  agama Buddha.  Didik (Educate), Guncang 
(Agitate), dan Organisir (Organize)?inilah slogan Ambedkar semasa 
menjadi pemimpin hak-hak sipil di India. Slogan ini masih dipakai 
hari ini oleh para pengikutnya sebagai Buddhis, yang benar-benar 
mengganggu Buddhis lain yang mengatakan bahwa agitasi tidak 
mempunyai peran dalam agama Buddha. Apakah demikian? Tidakkah 
sebaiknya Buddhis menjadi, dalam arti tertentu, agitator untuk 
sebuah masyarakat yang lebih baik, untuk rekonsiliasi, atau apakah 
ini merupakan konsep-konsep yang tidak bisa didamaikan 
(irreconcilable concepts)?
> 
> Tantangan Ambedkar
> 
> Mengingat cara agama Buddha berevolusi di Barat, dengan 
penekanannya yang kuat pada meditasi dan psikologi, sudut pandang 
Ambedkar sungguh sangat provokatif. Banyak dari kita masuk ke dalam 
agama Buddha karena ia menawarkan kedamaian?kedamaian dalam diri 
maupun kedamaian dunia. Kita ingin menjadi lebih tidak mudah goyah, 
memiliki cinta dan kasih sayang, dan bersuka cita, ketimbang menjadi 
radikal yang berjihad ria seperti beberapa dari kita di tahun enam 
puluhan. Jika agama Buddha adalah berkaitan dengan mengheningkan api 
nafsu, maka mettá bhávaná [meditasi cinta kasih] mungkin merupakan 
praktik terbaik dan tertinggi untuk engaged Buddhism dalam cetakan 
tradisional?mencapai kedamaian dan kemudian memancarkan kedamaian 
tersebut pada yang lain-lain. Jika pencapaian kedamaian ini kemudian 
menimbulkan beberapa riak dalam dunia, bagus; tapi dunia benar-benar 
bukanlah perhatian utama Buddhis tradisional. Yang jadi perhatian 
utama adalah melatih pikiran yang seperti kera agar menjadi reda. 
> 
> Tapi barangkali layak untuk melihat ide Ambedkar secara dekat 
bahwa agama Buddha adalah sesuatu yang kita terima dan kemudian 
harus kita olah. Ajaran Buddhis mengundang kita untuk mengambil 
tanggung jawab untuk diri kita sendiri dan ini diterjemahkan dalam 
lingkungan engaged Buddhist sebagai mengambil tanggung jawab untuk 
seluruh Sangha, komunitas yang lebih besar, dan pada akhirnya, 
ekosistim kita di planet Bumi ini. Pendekatan Ambedkar memberitahu 
kita bahwa jika kita menghabiskan terlalu banyak waktu dalam latihan 
meditasi pribadi dan menarik diri dari hubungan sosial dunia ini, 
kita akan menjadi tidak bertanggung jawab terhadap komunitas kita. 
Jadi kita perlu bangkit dari alas meditasi, keluar rumah, terjun 
keluar sana, dan mulai didik, guncang, dan organisir. Inilah gagasan 
seorang kolektivis tentang Sangha sebagai khalayak yang bekerja 
bersama untuk mewujudkan sebuah masyarakat yang berkeadilan, di mana 
praktik Buddhis kita menjadi kegiatan terjun langsung yang berkaitan 
dengan
>  perubahan sosial.
> 
> ==============================================================
> 
> Bagi saudara-saudari seDharma yang tertarik untuk Belajar, 
Berlatih, dan Berbagi Hidup Berkesadaran serta mengembangkan 
Socially Engaged Buddhism* (SEB) di Indonesia silahkan bergabung 
dengan kami di Milis Dharmajala. 
> 
> *Agama Buddha yang terjun aktif ke dalam segala aspek kehidupan 
manusia  seperti urusan sosial kemasyarakatan, budaya, ekonomi, 
politik,  perlindungan lingkungan hidup?dsbnya tapi yang dilakukan 
secara PENUH KESADARAN atau dengan PERHATIAN PENUH.
> 
> Silahkan kunjungi:
> http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/
>   
> 
> Untuk bergabung, kirimkan email ke:
> [EMAIL PROTECTED]
>   
> 
>  
> 
> Dharmajala bertujuan untuk:
> 
> Menyingkap Tabir Ketidaktahuan
> Membongkar Sekat Ketidakpedulian
> Menganyam Tali Persahabatan 
> Merajut Jaring Persaudaraan
> Saling Asah, Asih, dan Asuh dalam Semangat Sanggha 
> Aktif Mengupayakan Transformasi Diri Transformasi Sosial
> Melalui Hidup Berkesadaran
> 
> 
> =========================================================
> 
> 
>  
>  
> 
>               
> ---------------------------------
> Yahoo! Mail
>  Stay connected, organized, and protected. Take the tour






** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke