Tulisan ini bagus & ± bisa dikatakan sebagai salah satu barometerku di dalam menanggapi pertanyaan Sdr. Gunawan Kurnia pada topik Tafsir...
Kalo saya bilang tulisan ini bagus & tidak mengkritik, berarti positiv yah?
Mohon jangan lupa dicatat, 'ntar saya dibilang cuma kritikkk sajaaa...
 

===============================
----- Original Message -----
Sent: Friday, June 17, 2005 11:18
Subject: [Dharmajala] ETERNALISME

IN NATURE THERE ARE NEITHER REWARDS NOR PUNISHMENTS, THERE ARE CONSEQUENCES!

(di dalam hukum alam tidak ada hadiah-hadiah ataupun hukuman-hukuman, yang ada ialah berbagai konsekuensi)

 

sumber : Dhammacakka

 

* ETERNALISME

 

Sun Go Kong, si kera sakti yang dituliskan terlahir dari batu serta memiliki kesaktian untuk merubah diri dan benda harus diakui merupakan kreasi pikiran yang inovatif. Ia keluar dari dimensi pragmatisme dan emperisme serta menembus batas logika, tetapi kental dengan nuansa Buddhis dalam filosofi ajarannya. Namun, pada beberapa buku ada juga yang menyajikannya sebagai dewa yang dipuja, sehingga batas antara kenyataan dan fiksi menjadi begitu dekat. Mungkin ini pula yang membuat akhir kisah kehidupan kera sakti menjadi tidak jelas.

 

Dalam catatan sejarah, seorang Bhikhu, Tong Hsuan Tsang, melaksanakan tugas mulia untuk mengambil kitab suci. Namun cerita kemudian beredar dengan menyajikan hal-hal yang tidak berlandaskan kenyataan. Misalkan dengan memakan daging bhiksu tersebut akan membuat hidup seseorang menjadi kekal.

 

Khayalan dan kenyataan adalah dua hal yang berhubungan, namun harus dibedakan demi kesadaran dalam kehidupan. Bila kita tidak mampu membedakan hal tersebut maka kita akan menjadi penafsir daripada perealisir. Perlu disadari pula, bahwa kenyataan mempengaruhi khayalan dan sebaliknya khayalan mempengaruhi kehidupan nyata sehingga manusia mempunyai pilihan dalam kehidupan yang multidimensional. Salah satu bentuk dari khayal itu adalah pandangan tentang adanya pribadi yang kekal (eternalisme) baik yang berkenaan dengan diri sendiri ataupun pribadi super lainnya (Tuhan). Untuk menggambarkan hal tersebut, khususnya dalam film, "Bruce almighty" yang diputar di layar lebar, pada dasarnya tidaklah jauh dari menyampaikan konsekuensi sebagai "God" yang dapat diterjemahkan sebagai "Dewa", "Tuhan", "Malaikat" atau "pribadi Supranatural" yang dapat berjalan di atas air (berkolerasi dengan Yesus berjalan di atas laut), membelah semangkok sup (berkolerasi dengan Musa membelah lautan) dan pada akhirnya akan menempati area nalar tersendiri di dalam analogi pikiran masing-masing penonton. Keleluasaan imajinasi dalam pikiran merupakan sesuatu yang berharga dan hasilnya tidak seharusnya menjadi sesuatu yang diperdebatkan dalam alur logika dan nalar. Sebaliknya, logika dan nalar tidak boleh dirancukan dengan pemikiran yang tidak analitis namun lebih berdasarkan perasaan, hati, dan bentuk-bentuk mental saja. 

 

Dalam kehidupan, orang yang sedang hidup bahagia akan mengkhayalkan sebuah kehidupan abadi yang dapat dipertahankan selama-lamanya. Sebaliknya orang yang menderita berharap akan terjadi perubahan secepatnya. Sumber kebahagiaan dan penderitaan sesungguhnya berada pada cara berpikir dalam menyikapi kehidupan yang saling bergantungan.

 

Dari pengalaman pribadi penulis, suatu pertanyaan yagn sering diangkat ke permukaan yang menggambarkan betapa kuat dan meluasnya pandangan eternalis yang saat ini masih eksis di dalam kehidupan sekitar kita, yaitu suatu bentuk pertanyaan sebagai berikut, "Jadi menurut pandangan agama Buddha, siapakah yang menciptakan alam semesta dan isinya ini?" suatu belenggu yang kuat dan merupakan bagian dari ketidaktahuan yang pekat dalam "Nature", sedangkan "Discovery" dari hal tersebut telah dibabarkan dengan jelas oleh Guru Maha Agung dan Bijaksana kurang lebih dua ribu lima ratus tahun yang lalu dalam rangkaian Sila, Samadhi dan Panna yang mengantarkan kita pada penembusan kesunyataan melalui Sutta, Vinaya, Abidhamma.

 

Jika saja kita dengan kesadaran penuh, mengerti pada muncul dan lenyapnya pikiran kita, makhluk-makhluk, dan segala fenomena alam semesta, maka pertanyaan bahwa kita dan alam semesta beserta isinya diciptakan akan berlalu dengan sendirinya sebagaimana suatu akibat kehilangan sebab yang mendahuluinya.

 

Perumpamaan yang dapat kita kaji pada pandangan eternalisme ini adalah merupakan sari pengetahuan dari khotbah Y.M. Pannaavaro Mahathera yang penulis cerna dan kembangkan, yaitu tentang bagaimana kita secara duniawi menjelaskan kepada orang lain terhadap bentukan yang "tercipta" di sekeliling kita dan bukan tentang sesuatu yang "dicipta" tanpa syarat.

 

Sebuah rumah yang dengan sempurna dan indah dibangun oleh seseorang atau sekelompok orang dikomunikasikan sebagai dibangun oleh suatu subjek tertentu dalam konteks harus memenuhi segala syarat yang sesuai dengan dimensi waktu dan ruang, hubungan kausal antara bahan mentah, bahan pendukung, serta usaha pembuatan rumah itu sendiri meliputi faktor-faktor fisik dan psikologis yang terus-menerus berproses (anicca, Dukkha, Anatta) sehingga tidak sesuai dengan realitiasalam sesungguhnya jika kita lalu mencari suatu sebab absolut yang kemudian kita konsepkan dengan pikiran kita.

 

Demikian pula manusia terlahir, tidak sesuai untuk kita katakan sebagai akibat dari suatu sebab tunggal, tetapi kita terlahir tidak lepas dari adanya dimensi waktu dan ruang, hubungan kausal antara materi pokok (sperma dan sel telur), dan materi pendukung serta faktor-faktor fisik dan psikologis yang juga terus-menerus berproses tanpa henti.

 

Manusia sering berada dalam kemalasan pikiran dan memberi toleransi bagi diri sendiri untuk terus mengabaikan kenyataan alam semesta dan sering mengembangkan pandangan-pandangan salah yang mempengaruhi lingkungannya dan membuat kegoyahan pandangan serta jauh dari pencerahan demi kemajuan lahir dan batin. Pengabaian terhadap kebenaran ini muncul dalam banyak bentuk yang pada umumnya rawan dengan konflik, dan semakin lama semakin berkembang menjadi kebodohan massal sehingga akhirnya merupakan kegelapan universal dalam semesta alam,, bahkan manusia tidak segan melakukan kekejaman atas nama kebenaran yang pada dasarnya merupakan ironi kehidupan. Dalam kemalasan dan ketidak berdayaan manusia melanjutkan dengan mengatakan, " Demikianlah kehidupan!" seakan hal tersebut wajar saja untuk terjadi atau merupakan kesesuaian yang eternal.

 

Pokok persoalan yang menjadikan kita berkomunikasi dan membuat konsep penciptaan memang merupakan bagian yang unik dari benang merah antara kenyataan dan khayalan yang berperan besar dalam pikiran kita, dan untuk itu tak ada yang perlu dipersalahkan kecuali kita sadar, pahami, dan maklumi. Untuk selanjutnya kebijaksanaan kita gunakan untuk menempatkan kenyataan dan khayalan pada proporsinya masing-masing.

 

Roda Dhamma telah diputar indah pada awal, indah pada pertengahan, indah pada akhirnya, dan tidak mungkin dihentikan walaupun mungkin suatu masa nanti dilupakan, saat misi penyebaran Dhamma terselimuti avijja di seluruh semesta alam (Discovery of Nature).

 

Oleh karena itu, bangunlah, jangan lengah, janganlah kita berkhayal dalam kenyataan hidup untuk memutar balik roda waktu "eternalisme" sesuka hati, seperti yang dilakukan Pat-Kay untuk menyelamatkan seorang gadis cantik agar dapat dipikatnya dalam film tentang kera sakti pada awal cerita.

 

Penulisan tentang eternalisme diharapkan dapat menghapus segala macam fenomena pandangan yang bersumber dari akar pandangan tentang adanya pribadi aku yang kekal baik di dalam ataupun di luar diri kita. Selanjutnya, kita dapat dengan mandiri, puas akan keberadaan kita yang terbatas (lahir, sakit, tua, dan mati) dengan kebijaksanaan dan kebajikan menorehkan sejarah hidup kita jauh dari alam sengsara dan dekat dengan alam bahagia menuju kesempurnaan akhir nibbana (hancurnya keserakahan, kebencian dan kegelapan batin).

 

^_^

 

 

 

 

 

 



** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke