Yamin Prabudy wrote:
>Hi,..
>Ini newbie kembali lagi dengan kebinggungannya....
>-----------------------------
>
>
Welcome,
Memang di sini tempatnya untuk sharing...
>Susah ya jadi umat Buddha....
>Saya di sini baru selesai membicarakan masalah cara hidup sehari-hari
>dengan teman saya yang dari tetangga sebelah
>belum memikirkan masalah Nibana, pencerahan, dll dll
>hanya cara menjalani hidup
>----------------------------------
>
>
Tidak ada yang gampang di agama/ajaran manapun
>Tidak boleh membunuh tetapi meminjam tangan orang lain membunuh boleh...
>--------------------
>
>
Hah? (Kaget)
>"Tidak boleh membunuh udah menjadi keharusan di tiap agama, tapi urusan
>makan daging kita paling reseh.
>Kita tidak boleh secara langsung membunuh tuh hewan untuk dimasak, tapi
>boleh membeli di pasar dengan dalih
>Lah Saya kan kita membunuh secara langsung. jadi daging itu sudah ada
>dan saya tidak memikirkan lagi bagaimana tuh hewan
>matinya gimana (sukur2 bukan karena penyakit). Yang parahnya main pesan
>lagi.
>Wah dagingnya ngak bagus...besok saya titip yah yg rada montok (well dia
>tidak membunuh kan, dan tidak menyuruh membunuh hanya titip beli daging
>doang)"
>---------------------------------
>
>
Ini pandangan yang salah tentang Buddhisme.
Justru, ketika kita tahu bahwa binatang itu disembelih khusus buat kita,
seharusnya tidak mengkonsumsinya.
Kalau ada yang melakukannya demikian seperti di atas, jelas2 ngga bener.
Ada sekte-sekte dalam Buddhisme yang menganjurkan untuk bervegetarian,
karena mereka mengembangkan cinta kasih.
Ada sekte-sekte dalam Buddhisme yang mengkonsumsi daging, karena mereka
mengembangkan prinsip tidak membeda-bedakan apa yang harus mereka terima
sebagai makanan (jadi di sini latihannya pada pikiran), tetapi tentu
saja, mereka juga dilandasi prinsip untuk tidak makan apa yang disukai,
melainkan apa yang tersedia, malahan selewat jam 12 siang, latihan tidak
makan.
Jadi kalau ada yang dengan sengaja memilih daging tertentu, ya, tentunya
bukan ajarannya yang salah atau membingungkan, tapi individu tersebut
yang belum berkembang kebajikannya.
>Tidak boleh menjual barang berbau TRIRATNA (itu semua semestinya gratis)
>------------------------
>
>
Hah? (Kaget lagi)
>"Well ada teman saya yang bilang disinilah letak kesadisan seorang yg
>beragama Buddhis, gini analisa teman saya
>Kalian tidak boleh menjual barang seperti buku,rupang (yah yang berbau
>TriRatna - karena dia bukan Buddhis maka ngak tau nyebutinnya)
>tapi koq kalian kejam banget yah,...boleh membeli tidak boleh menjual.
>kenapa tidak nasehatin yang menjual barang seperti itu
>supaya mengubah usaha nya jadi bentuk lain, tapi malah rajin beli sama
>dia....Patung Buddha tidak boleh di jual, eh malah kalian ke
>Jawa Tengah untung pesan ke Pembuat patung...kenapa tidak nasehatin
>dia..harusnya ini gratis ngak boleh di perjual belikan.
>Saya jadi berpikir hehehe Karniya deh.. kenapa tidak ada yang nasehatin
>para Pengurus Karaniya untuk menghentikan usaha *ILEGAL* (secara Buddhis)
>karena mereka menerjemahkan buku Dharma dan menjual buku Dharma
>(harusnya kan GRATIS), tapi sialnya orang yang bilang ngak boleh
>jual barang-barang berbau TriRatna malah membeli buku Karaniya"
>----------------------------
>
>
Ajaran dari mana itu?
Bahkan ketika seorang Master Zen perlu kayu bakar, rupang Buddha di
altar yang tadi siang dinamaskarain pun dipakai.
>kesimpulannya,..orang boleh berbuat jahat dan kita boleh menebeng...ASAL
>kita tidak terjun langsung...
>terima dari tangan ke dua atau tiga boleh..tapi jangan jadi tangan
>pertama (pembeli boleh, penjual jangan....yah kasarnya kalau di dunia
>kriminal
>jadi penadah barang curian NGAK BOLEH, tapi beli dari PENADAH boleh
>karena *toh saya ngak tahu asalnya dari mana* pura-pura ngak tau atau
>tutup mata)
>--------------------------------
>
>
Sepertinya kesimpulannya salah, akibat dari data yang salah.
Tapi ngga papa, ya, namanya kita sharing di sini
Justru bagus, kita bisa saling menukarkan pemahaman dari pengalaman kita
Salam kasih,
Khai
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya
maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta
kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas
dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua,
para guru, serta sahabat-sahabat kami **
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/