Namo Buddhaya para pengurus and ko Jimmy Lominto,
Mohon bantuannya nih, apakah bisa untuk sementara ini saya 
stop dulu karena kesibukan saya akhir-akhir ini, jadi tdk 
sempat untuk membuka email n karena baru pindah kejakarta 
dan belum ada komputer dirumah, sehingga email menumpuk 
diinbox tdk sempat dibuka karena tdk sempar kewarnet,
kalau bisa, mohon bantuannya ya..... entar kalau sudah 
lancar lagi baru register lagi, untuk konfirmasinya atau 
perlu apa-apa sehubungan dengan ini bisa menghubungi saya 
via hand phone 08127837992 atau rumah 021-5379010
tapi untuk dirumah sih diatas jam 19.00 karena pulang 
training sudah malem
terima kasih atas kiriman emailnya selama ini dan banyak 
manfaatnya bagi saya.
Anumodana ya buat semuanya, semoga kita selalu berjodoh 
dalam mempelajari buddha dharma and sama2 mencapai 
nibbana. sadhu 3x
Be happy, and always be midfull
Sartika / suher
On 29 May 2005 15:08:46 -0000
  [email protected] wrote:
> ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor 
> 
> There are 7 messages in this issue.
> 
> Topics in this digest:
> 
>      1. Re: Kesaksian di Buddhis
>           From: Johannes Sulistyo <[EMAIL PROTECTED]>
>      2. Re: Kesaksian di Buddhis
>           From: "Huangdi_98" <[EMAIL PROTECTED]>
>      3. Re: Re: Kesaksian di Buddhis
>           From: Johannes Sulistyo <[EMAIL PROTECTED]>
>      4. Re: Kesaksian di Buddhis
>           From: "Tsukudu" <[EMAIL PROTECTED]>
>      5. The Difference Between "Knowing About" & 
>"Knowing"
>           From: TSUKUDU - <[EMAIL PROTECTED]>
>      6. Statistik Buddhis Indonesia
>           From: Eddy Setiawan <[EMAIL PROTECTED]>
>      7. Re: Re: Kesaksian di Buddhis
>           From: Johannes Sulistyo <[EMAIL PROTECTED]>
> 
> 
> ________________________________________________________________________
> ________________________________________________________________________
> 
> Message: 1         
>   Date: Sat, 28 May 2005 08:17:30 -0700 (PDT)
>   From: Johannes Sulistyo <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: Re: Kesaksian di Buddhis
> 
> Saya pengen ikutan nimbrung neh... hehehehe
> 
> Nama saya Yohannes, dipanggil mas Andre Wongso
> Yohannes si penyusup, lho? Bukan... kata Bhante Utammo
> saya ini Yohannes Gautama, wakakakakakak... ya sudah
> deh, itu pengalaman lucu saya waktu mencoba bertanya
> di suatu acara kebaktian malam Kathina di Vihara
> Buddha Sassana Kelapa Gading. 
> 
> Begini, kesaksian-kesaksian, kebanyakan sih
> dibuat-buat tuh. Kebanyakan yang ngasih kesaksian itu
> orang-orang yang pindah agama (agama apa aja deh,
> semua sama aje), abis itu mereka jelek-jelekin tuh
> agama yang mereka tinggalin, udah gitu diikuti dengan
> kata-kata: "Syukurlah gw nemuin jalan terang, jalan
> yang bener, jalan ke mana gitu..." Sering deh. Tapi,
> kalo orang yang bener2 pinter, cerdas, berwawasan
> luar, pasti tahu, selalu ada yang nggak beres dengan
> orang seperti itu. 
> 
> Mereka itu biasanya dipanggil maju kedepan dalam suatu
> kebaktian atau acara pertemuan keagamaan. Jadi gantiin
> khotbah pemimpin agamanya. Mulai dah mereka ngemeng
> (ngomong panjang dan ditambah-tambahi). Kalau gw
> disuruh memberi kesaksian, hmmm... yah, gw sih ogah
> ah, kalau dipaksa, dengan berat hati gw maju, dan
> palingan gw cuma bisa ngomong 20-30 kalimat doang, gak
> lebih dari 15 menit lah! Tapi itu orang-orang biasanya
> hebat banget soal waktu. Kalian perhatiin deh, gak ada
> yang lebih sebentar dari 45 menit! Kalo gak, gak bakal
> di VCD-kan dan disebarkan ke komunitas agama-agamanya.
> Rugi space CD dong hehehehehe...
> 
> Nah, ini dia, karena sangking banyaknya yang mau
> diomongin, jadinya mereka mulai ngawur nih...
> contohnya tukang ramal yang ceritain tentang Kwa Mia
> itu... kan banyak yang ngaconya kan (Coba baca postnya
> Ko Huang Di)? Dulu pas masih kecil (jamanya Michael
> Jackson populer), banyak orang-orang nuduh dia itu
> ikutan aliran gak bener lah, macem2 lah...
> hahahahahaha, katanya yang paling lucu: Pake ilmu
> sesat biar kulitnya jadi putih?!?!? (Kan semua tahu
> kalo itu operasi tuh...) Yah, namanya juga kesaksian
> buat boongin anak kecil biat masuk agama tertentu,
> biar gak sesat katanya. Ilusinya David Copperfield?
> Separuhnya udah kebongkar... ternyata cuma trik-trik
> alat. 
> 
> Terus, yang paling bikin gw agak jengah... gw pernah
> baca di suatu Sutta. Di situ dicatat dialog antara
> Buddha dengan salah satu muridNya (lupa namanya).
> Muridnya nanya, bagaimana dengan ajaran guru-guru
> lainnya? Seperti para Brahmana, dll... Isinya gak sama
> dengan ajaran Buddha Gautama... apakah mereka sesat?
> Ternyata Buddha menjawab, kalo kita gak boleh
> menjelek-jelekan ajaran guru lain, karena orang itu
> gak tahu kalo di setiap ajaran itu terkandung nilai
> kebajikan, kebenaran, kebahagiaan, dll. Nah, terus
> MuridNya nanya balik lagi, kalo ada yang jelekin kita
> gimana? Buddha dengan gampang menjawab: diam saja!
> Terus kita jangan ikutan membalas dengan mengejek,
> soalnya itu bukan urusanmu!(katanya Banthe Utammo,
> "Pada suatu waktu, diem itu emas!"). Terus kenapa kok
> kita haus banget, pengen punya kesaksian dll, segala
> sesuatu buat ngelawan agama lain?
> 
> Temen gw pernah bilang, "Wei, itu cuma perisai! Bukan
> senjata! Palingan nggak lu gak jadi goyah kalo tiba2
> harus ngadepin orang fanatik gila. Hahahahahaha..."
> temen gw yang lain juga bilang, "Biasa anak muda,
> masih suka konflik, sesuatu yang gak pasti"
> (cieeeeh... temen gw yang satu ini emang udah dewasa
> pembawaanya). Terus temen gw yang lain lagi cerita,
> kalo dulu umat Buddha itu penakut banget... mereka
> selalu menghindar kalo ketemu umat agama lain, apalagi
> yang struktur organisasi keagamaannya sudah tertata
> jelas dan rapi. Mereka-mereka itu jago berdebat, jago
> ngomong, kitanya jadi penakut, selalu menghindar
> sampe-sampe dianggep kita ini agama yang tersembunyi.
> Jarang banget orang tau bagaimana sebenarnya agama
> Buddha itu. Kesan mereka agama Buddha itu mistik, dan
> "gak nyambung", karena itu  beberapa diantara mereka
> ada yang merasa superior lalu dengan mudahnya
> menjelek-jelekan kita setiap kali ada kesempatan. Gw
> sendiri udah sering ngalamain hal itu... cuma gw cuek
> aja... toh lagian mereka yang ngoceh sendiri, kalo
> kita diem aja terus gak terima, kepada siapa ocehan
> itu akan tertuju? Yang punyalah... hehehehehe. 
> 
> Jadi intinya, kita biasa-biasa aja, jangan pernah
> merasa sombong dan merasa paling tahu. Kita hanya tahu
> lebih awal dari mereka, itu saja. Kalo berbicara
> dengan orang lain bukalah wawasan (istilahnya sini
> pakai banyak kacamata yah? Lepas aja lah, gak enak lho
> pake kacamata hehehehehe...). Maksudnya jangan selalu
> ingin menghakimi orang, biarpun orang yang lu dengerin
> itu begonya setengah mati, atau lebih muda, atau
> kurang pengalaman, belum tentu lu tahu semua hal yang
> dia tahu, jadi jangan sombong dong, ntar malu lho... 
> 
> p.s. pesan-pesan seperti "don't be stupid, be smart"
> gw rasa kurang mengena yah, kurang bijak gitu. Gak ada
> yang mandang dirinya stupid, gak ada yang mau dikatain
> stupid. Gw memang gak tahu, tapi gw gak stupid. Jadi
> alangkah lebih baik bila diganti jadi: "don't you
> always see things on the negative side, but see it on
> the positive side." (Yaelah... bahasa marketing).
> Mungkin orang-orang perlu sedikit dikasarin, tapi
> janganlah... anger leads to hate, hate leads to fear,
> and fear leads to the dark side... but we're balanced
> and more powerful and wiser than before. Jangan arogan
> kayak ksatria Jedi, jangan nafsu kaya kaum Sith! 
> 
> 
> --- harryson huang <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
>> Terima kasih. 
>>  
>> Saya yang melempar topik ini, saya juga akan
>> memberikan sedikit komentar. 
>>  
>> "Kesaksian" dalam Kristen dan Islam adalah esensial,
>> hal pokok. "Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain
>> Allah, dst..." 
>>  
>> Dalam Buddhis, "Aku pergi berlindung kepada Buddha,
>> dst..." Sudah terasa sekali perbedaan pendekatannya.
>> 
>>  
>> Ehipassiko (dan Kalama Sutta) sering digunakan untuk
>> menjadi landasan untuk mengatakan umat Buddha itu
>> perlu menyelidiki dan membuktikan, jangan percaya
>> begitu saja. Saya setuju prinsip demikian. 
>>  
>> Umumnya penyelidikan dan pembuktian itu diarahkan ke
>> sains dan debat publik - di titik ini saya perlu
>> mengatakan untuk BERHENTI - karena ini bukanlah
>> tujuan Buddha mengajar Dharma. 
>>  
>> Buddha TIDAK PERNAH melayani pertanyaan para pertapa
>> lain yang menginginkan debat atau pemuasan intelek.
>> Buddha selalu merespon dengan DIAM.  
>>  
>> Penyelidikan dan pembuktian harus diarahkan pada
>> PRAKTEK. Di masa Buddha, bukan hanya Buddha saja
>> yang berkhotbah. Banyak para siswa, sravaka dan
>> bodhisattva, yang menjadi pusat sutta/sutra. Mereka
>> "bersaksi" tentang Dharma dan pengalaman mereka.
>> Buddha sendiri, "bersaksi" tentang Amitabha dan
>> Sukhavati kepada Vaidehi, ibunda Ajatasattu demi
>> menghibur beliau karena menganiayaan Ajatasattu
>> terhadap ayahnya Bimbisara (ref Mahasukhavati vyuha
>> sutra). 
>>  
>> Untuk kita, kata "bersaksi" mungkin kurang tepat,
>> lebih tepat "berbagi". Apakah Dharma itu benar?
>> Orang2 yang sudah melaksanakannya, apakah mereka
>> betul merasakan manfaatnya? 
>>  
>> sarva mangalam, Harryson
>> 
>> Yeherdian <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>> 
>> 
>> Semoga anda semua berbahagia.
>> 
>>  
>> 
>> Aku setuju sekali kalo adanya kesaksian yang dapat
>> menguatkan keyakinan terhadap Buddha, Dharma, dan
>> Sangha.
>> 
>> Tetapi seperti pada umumnya, umat Buddha sedikit
>> antipati kayanya ama yang namanya kesaksian, entah
>> ada yang bilang kesaksian jadi ajang boong2an yang
>> penting iman/keyakinan meningkat, kesaksian di
>> Buddhis tuh ga perlu, tar jadi latah ngikut yang
>> laen, de el el.
>> 
>> Aku lebih setuju kalo kita mau melihat dengan
>> perspektif lain yaitu umat Buddhis harus diajak
>> untuk membiasakan sharing. Menurut aku kesaksian itu
>> bisa dikatakan sama dengan sharing. Saat kita punya
>> masalah dan masalah tersebut dapat teratasi dengan
>> pemahaman Dharma, maka kita bagikan dan ceritakan
>> hal tsb kepada yang lain sehingga dapat membantu
>> meningkatkan keyakinan thd Dharma. Jika dapat
>> mengatasi masalah dengan merenungkan/meneladani
>> sikap seorang Buddha, bagikan hal itu sehingga dapat
>> membantu meningkatkan keyakinan thd Buddha. Begitu
>> juga jika terbantu oleh Bhikkhu Sangha, bagi dan
>> ceritakan untuk mendukung keyakinan thd Sangha.
>> 
>> Satu2nya masalah, pada umumnya kita merasa malu atau
>> enggan berbagi. Sesungguhnya coba kita pandang dari
>> perspektif berbeda yaitu kita berbagi agar orang2
>> lain yang mungkin mengalami masalah sama spt kita
>> dapat memiliki contoh dan cara mengatasinya, walau
>> Belem tentu cocok untuk semua orang. Kita berbagi
>> agar orang yang belum menghadapi masalah tsb dapat
>> menjadi siap sewaktu2 ia menghadapi masalah itu.
>> Kita berbagi agar orang lain menjadi semakin yakin
>> terhadap triratna. Kita berbagi agar orang lain
>> merasa bahagia karena kita memperhatikan mereka dan
>> tidak ingin mereka mengalami permasalahan yang sama
>> spt kita. Kita berbagi agar orang lain tidak jatuh
>> dalam masalah yang lebih dalam lg. 
>> 
>> Coba ingat bahwa kunci keberhasilan adalah
>> kegagalan. Tetapi tidak akan cukup waktu bagi kita
>> untuk harus mengalami semua kegagalan agar berhasil.
>> Kita dapat belajar dari kegagalan orang lain agar
>> tidak perlu bagi kita mengalami kegagalan itu, dan
>> ini semua akan dapat terjadi jika kita semua mau
>> saling berbagi. 
>> 
>>  
>> 
>> Yeherdian 
> 
> 
> 
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection 
>around 
> http://mail.yahoo.com 
> 
> 
> 
> 
> 
> ________________________________________________________________________
> ________________________________________________________________________
> 
> Message: 2         
>   Date: Sat, 28 May 2005 19:24:24 -0000
>   From: "Huangdi_98" <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: Re: Kesaksian di Buddhis
> 
> kesaksian ? hehehehehehehehehe
> kesaksian kalu sebut Namo Omitofo waktu tabrakan jadi 
>selamat ?
> 
> kesaksian kalu waktu kebakaran , rumah lu selamat gara2 
>karma bae 
> berbuah ?
> 
> kesaksian kalu lu lagi digebukin org trus baca tisarana 
>itu org 
> insap ?
> 
> KESAKSIAN NYANG TERINDAH ITU KALU LU DAH KENAL BUDDHA 
>DHAMMA ITU 
> IDUP LU LEBIH BENER LAGE
> bukan lu sebut2 namo omitofo , karma , tisarana segala 
>macem tetek 
> bengek.
> Bukan kesaksian lu dulu diagama A trus nyesel bla bla 
>bla bla
> 
> Pilih aje kesaksian nyang mana ?
> 
> --- In [email protected], Johannes Sulistyo 
><[EMAIL PROTECTED]> 
> wrote:
>> Saya pengen ikutan nimbrung neh... hehehehe
>> 
>> Nama saya Yohannes, dipanggil mas Andre Wongso
>> Yohannes si penyusup, lho? Bukan... kata Bhante Utammo
>> saya ini Yohannes Gautama, wakakakakakak... ya sudah
>> deh, itu pengalaman lucu saya waktu mencoba bertanya
>> di suatu acara kebaktian malam Kathina di Vihara
>> Buddha Sassana Kelapa Gading. 
>> 
>> Begini, kesaksian-kesaksian, kebanyakan sih
>> dibuat-buat tuh. Kebanyakan yang ngasih kesaksian itu
>> orang-orang yang pindah agama (agama apa aja deh,
>> semua sama aje), abis itu mereka jelek-jelekin tuh
>> agama yang mereka tinggalin, udah gitu diikuti dengan
>> kata-kata: "Syukurlah gw nemuin jalan terang, jalan
>> yang bener, jalan ke mana gitu..." Sering deh. Tapi,
>> kalo orang yang bener2 pinter, cerdas, berwawasan
>> luar, pasti tahu, selalu ada yang nggak beres dengan
>> orang seperti itu. 
>> 
>> Mereka itu biasanya dipanggil maju kedepan dalam suatu
>> kebaktian atau acara pertemuan keagamaan. Jadi gantiin
>> khotbah pemimpin agamanya. Mulai dah mereka ngemeng
>> (ngomong panjang dan ditambah-tambahi). Kalau gw
>> disuruh memberi kesaksian, hmmm... yah, gw sih ogah
>> ah, kalau dipaksa, dengan berat hati gw maju, dan
>> palingan gw cuma bisa ngomong 20-30 kalimat doang, gak
>> lebih dari 15 menit lah! Tapi itu orang-orang biasanya
>> hebat banget soal waktu. Kalian perhatiin deh, gak ada
>> yang lebih sebentar dari 45 menit! Kalo gak, gak bakal
>> di VCD-kan dan disebarkan ke komunitas agama-agamanya.
>> Rugi space CD dong hehehehehe...
>> 
>> Nah, ini dia, karena sangking banyaknya yang mau
>> diomongin, jadinya mereka mulai ngawur nih...
>> contohnya tukang ramal yang ceritain tentang Kwa Mia
>> itu... kan banyak yang ngaconya kan (Coba baca postnya
>> Ko Huang Di)? Dulu pas masih kecil (jamanya Michael
>> Jackson populer), banyak orang-orang nuduh dia itu
>> ikutan aliran gak bener lah, macem2 lah...
>> hahahahahaha, katanya yang paling lucu: Pake ilmu
>> sesat biar kulitnya jadi putih?!?!? (Kan semua tahu
>> kalo itu operasi tuh...) Yah, namanya juga kesaksian
>> buat boongin anak kecil biat masuk agama tertentu,
>> biar gak sesat katanya. Ilusinya David Copperfield?
>> Separuhnya udah kebongkar... ternyata cuma trik-trik
>> alat. 
>> 
>> Terus, yang paling bikin gw agak jengah... gw pernah
>> baca di suatu Sutta. Di situ dicatat dialog antara
>> Buddha dengan salah satu muridNya (lupa namanya).
>> Muridnya nanya, bagaimana dengan ajaran guru-guru
>> lainnya? Seperti para Brahmana, dll... Isinya gak sama
>> dengan ajaran Buddha Gautama... apakah mereka sesat?
>> Ternyata Buddha menjawab, kalo kita gak boleh
>> menjelek-jelekan ajaran guru lain, karena orang itu
>> gak tahu kalo di setiap ajaran itu terkandung nilai
>> kebajikan, kebenaran, kebahagiaan, dll. Nah, terus
>> MuridNya nanya balik lagi, kalo ada yang jelekin kita
>> gimana? Buddha dengan gampang menjawab: diam saja!
>> Terus kita jangan ikutan membalas dengan mengejek,
>> soalnya itu bukan urusanmu!(katanya Banthe Utammo,
>> "Pada suatu waktu, diem itu emas!"). Terus kenapa kok
>> kita haus banget, pengen punya kesaksian dll, segala
>> sesuatu buat ngelawan agama lain?
>> 
>> Temen gw pernah bilang, "Wei, itu cuma perisai! Bukan
>> senjata! Palingan nggak lu gak jadi goyah kalo tiba2
>> harus ngadepin orang fanatik gila. Hahahahahaha..."
>> temen gw yang lain juga bilang, "Biasa anak muda,
>> masih suka konflik, sesuatu yang gak pasti"
>> (cieeeeh... temen gw yang satu ini emang udah dewasa
>> pembawaanya). Terus temen gw yang lain lagi cerita,
>> kalo dulu umat Buddha itu penakut banget... mereka
>> selalu menghindar kalo ketemu umat agama lain, apalagi
>> yang struktur organisasi keagamaannya sudah tertata
>> jelas dan rapi. Mereka-mereka itu jago berdebat, jago
>> ngomong, kitanya jadi penakut, selalu menghindar
>> sampe-sampe dianggep kita ini agama yang tersembunyi.
>> Jarang banget orang tau bagaimana sebenarnya agama
>> Buddha itu. Kesan mereka agama Buddha itu mistik, dan
>> "gak nyambung", karena itu  beberapa diantara mereka
>> ada yang merasa superior lalu dengan mudahnya
>> menjelek-jelekan kita setiap kali ada kesempatan. Gw
>> sendiri udah sering ngalamain hal itu... cuma gw cuek
>> aja... toh lagian mereka yang ngoceh sendiri, kalo
>> kita diem aja terus gak terima, kepada siapa ocehan
>> itu akan tertuju? Yang punyalah... hehehehehe. 
>> 
>> Jadi intinya, kita biasa-biasa aja, jangan pernah
>> merasa sombong dan merasa paling tahu. Kita hanya tahu
>> lebih awal dari mereka, itu saja. Kalo berbicara
>> dengan orang lain bukalah wawasan (istilahnya sini
>> pakai banyak kacamata yah? Lepas aja lah, gak enak lho
>> pake kacamata hehehehehe...). Maksudnya jangan selalu
>> ingin menghakimi orang, biarpun orang yang lu dengerin
>> itu begonya setengah mati, atau lebih muda, atau
>> kurang pengalaman, belum tentu lu tahu semua hal yang
>> dia tahu, jadi jangan sombong dong, ntar malu lho... 
>> 
>> p.s. pesan-pesan seperti "don't be stupid, be smart"
>> gw rasa kurang mengena yah, kurang bijak gitu. Gak ada
>> yang mandang dirinya stupid, gak ada yang mau dikatain
>> stupid. Gw memang gak tahu, tapi gw gak stupid. Jadi
>> alangkah lebih baik bila diganti jadi: "don't you
>> always see things on the negative side, but see it on
>> the positive side." (Yaelah... bahasa marketing).
>> Mungkin orang-orang perlu sedikit dikasarin, tapi
>> janganlah... anger leads to hate, hate leads to fear,
>> and fear leads to the dark side... but we're balanced
>> and more powerful and wiser than before. Jangan arogan
>> kayak ksatria Jedi, jangan nafsu kaya kaum Sith! 
>> 
>> 
> 
> 
> 
> 
> 
> ________________________________________________________________________
> ________________________________________________________________________
> 
> Message: 3         
>   Date: Sat, 28 May 2005 19:30:35 -0700 (PDT)
>   From: Johannes Sulistyo <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: Re: Re: Kesaksian di Buddhis
> 
> Oh, yang pertama itu banyak koh...hehehehehe
> Sering banget, gw ketemu saudara gw nyang fanatik
> banget ama viharanya. Dikit-dikit kalo denger cerita
> menyeramkan, pas klimaksnya dia bisa menjerit
> sendiri... Amitofo... terus ngos-ngosan. Waduh, untung
> latahnya begitu, gak nyebut-nyebut penghuni kebun
> binatang atau kata-kata terlarang.
> 
> Kalo yang kedua? Banyak juga nih, waktu itu saudara gw
> (lagi) rumahnya kebakaran. Satu keluarga dan
> penghuni-penghuni lainnya (pembantu dan supir nginep)
> juga selamat. Pas ngeliat semuanya lengkap, dia udah
> lega... eh, surat berharganya yang katanya disimpen di
> Brankas anti api malah jatuh dari lantai 2 waktu
> bangunannya roboh, hancur dan ikut kebakar. Waduh...
> sudah berbuah langsung runtuh kayak duren.
> 
> Yang ketiga juga sering denger koh... cuma dari
> komunitas laen. Belom tentu bener juga sih.
> 
> Ekeh dari kecil juga udah agama Buddha koh, gak berani
> pindah meski dikatain apa aje, dulu mau pindah agama,
> gak jadi, mau pindah, gak jadi, ya ikutin ortu aja
> deh. Soalnya dulu masih sekolah pernah diceritain ama
> guru Sejarah, kalo pindah agama dosanya besar lho...!
> Hayo...! Wah langsung deh, gak ada pindah-pindahan.
> 
> Pengen sih ngakuin kalo hidup jadi lebih indah karena
> mengenal Dharma. Cuma dari kecil sampe sekarang
> (sekarang umur gw 18 tahun, masih muda lah) Buddha
> terus, baru aja ngenal Buddha, Dharma, Sangha, dll.
> Yah, mungkin berubah lah, cuma gak ngerasa. Mungkin
> yang paling bener ya itu.  
> 
> 
> 
> --- Huangdi_98 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
>> kesaksian ? hehehehehehehehehe
>> kesaksian kalu sebut Namo Omitofo waktu tabrakan
>> jadi selamat ?
>> 
>> kesaksian kalu waktu kebakaran , rumah lu selamat
>> gara2 karma bae 
>> berbuah ?
>> 
>> kesaksian kalu lu lagi digebukin org trus baca
>> tisarana itu org 
>> insap ?
>> 
>> KESAKSIAN NYANG TERINDAH ITU KALU LU DAH KENAL
>> BUDDHA DHAMMA ITU 
>> IDUP LU LEBIH BENER LAGE
>> bukan lu sebut2 namo omitofo , karma , tisarana
>> segala macem tetek 
>> bengek.
>> Bukan kesaksian lu dulu diagama A trus nyesel bla
>> bla bla bla
>> 
>> Pilih aje kesaksian nyang mana ?
>> 
> 
> 
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection 
>around 
> http://mail.yahoo.com 
> 
> 
> 
> 
> ________________________________________________________________________
> ________________________________________________________________________
> 
> Message: 4         
>   Date: Sun, 29 May 2005 02:43:20 -0000
>   From: "Tsukudu" <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: Re: Kesaksian di Buddhis
> 
> 
> Ikut Nimburg Ah.....
> 
> Tul, manusia zaman skrg maunya yang bersifat Miracle 
>atau keajaiban.
> 
> Kalo memeluk suatu agama. Usaha nya Lancar. Tidak ada 
>pertikaian/ 
> perselisihan. orang orang semuanya baek. Orang ini baru 
>tahap 
> mengenal, tapi belum mengetahui. 
> 
> Sama seperti ABG kalo pacaran. Waktu pertama kali deket 
>deketan 
> buset...... tiap hari telepon. tiap hari mesti ketemu. 
>nempel terus
> kayak perangko. Dunia milik kita berdua katanya. Bahagia 
>nya sampe
> selangkit.
> 
> Akan tetapi setelah mengenal lebih lama. Apa yang 
>terjadi ?
> Egois nya muncul. masing masing punya prinsip sendiri 
>sendiri. 
> Dan kalo tidak ada yang mempunyai pengertian. Bubar deh. 
> 
> Makanya ada sebuah Dharma yaitu : Cie Siung Hok Fok 
> (Berkah Musibah Kemalang Kemujuran) 
> 
> Cie Siung Ho Fok  = Berkah - Musibah dan kemalangan - 
>kemujuran.
> 
> 1. Berkah - Musibah dan kemalangan - Kemujuran bersifat 
>ilusi dan 
> maya.
> 2. Berkah - Musibah dan kemalangan - kemujuran adalah 
>nama dan bentuk 
> semu.
> 3. Berkah - Musibah dan kemalangan - kemujuran adalah 
>saling 
> mengikuti satu dengan 
> lainnya bagaikan bayangan yang mengikuti roda pedatinya.
> 4. Berkah - Musibah dan kemalangan - kemujuran merupakan 
>fenomena 
> yang alami
> 5. Berkah - Musibah dan kemalangan - kemujuran merupakan 
>ratna 
> mustika yang tak ternilai.
> 
> Bila sepenuhnya menginsafi dharma ini tidak akan memburu 
>dan tercekat 
> ataupun menolak dan menghindari Buddha maupun manusia 
>awam.
> 
> Bila sepenuhnya menginsafi dharma ini tidak akan memburu 
>dan tercekat 
> ataupun menolak dan menghindari masalah terbebas maupun 
>terbelenggu 
> dalam bencana.
> 
> Bila sepenuhnya menginsafi dharma ini tidak akan memburu 
>dan tercekat 
> ataupun menolak dan menghindari peristiwa terbebas dari 
>samsara 
> maupun mengalami perputaran roda tumibal lahir.
> -
> Dharma ini untuk orang orang tingkat lanjutan. Bahwa 
>Berkah dan
> Musibah adalah Ilusi dan Maya. Dan orang orang yang 
>mengerti ini
> adalah orang orang yang mencapai Uppeka (seimbangan 
>batin)
> 
> Tsukudu
> 
> --- In [email protected], "Huangdi_98" 
><[EMAIL PROTECTED]> 
> wrote:
>> kesaksian ? hehehehehehehehehe
>> kesaksian kalu sebut Namo Omitofo waktu tabrakan jadi 
>>selamat ?
>> 
>> kesaksian kalu waktu kebakaran , rumah lu selamat gara2 
>>karma bae 
>> berbuah ?
>> 
>> kesaksian kalu lu lagi digebukin org trus baca tisarana 
>>itu org 
>> insap ?
>> 
>> KESAKSIAN NYANG TERINDAH ITU KALU LU DAH KENAL BUDDHA 
>>DHAMMA ITU 
>> IDUP LU LEBIH BENER LAGE
>> bukan lu sebut2 namo omitofo , karma , tisarana segala 
>>macem tetek 
>> bengek.
>> Bukan kesaksian lu dulu diagama A trus nyesel bla bla 
>>bla bla
>> 
>> Pilih aje kesaksian nyang mana ?
>> 
>> --- In [email protected], Johannes Sulistyo 
>><[EMAIL PROTECTED]> 
>> wrote:
>> > Saya pengen ikutan nimbrung neh... hehehehe
>> > 
>> > Nama saya Yohannes, dipanggil mas Andre Wongso
>> > Yohannes si penyusup, lho? Bukan... kata Bhante Utammo
>> > saya ini Yohannes Gautama, wakakakakakak... ya sudah
>> > deh, itu pengalaman lucu saya waktu mencoba bertanya
>> > di suatu acara kebaktian malam Kathina di Vihara
>> > Buddha Sassana Kelapa Gading. 
>> > 
>> > Begini, kesaksian-kesaksian, kebanyakan sih
>> > dibuat-buat tuh. Kebanyakan yang ngasih kesaksian itu
>> > orang-orang yang pindah agama (agama apa aja deh,
>> > semua sama aje), abis itu mereka jelek-jelekin tuh
>> > agama yang mereka tinggalin, udah gitu diikuti dengan
>> > kata-kata: "Syukurlah gw nemuin jalan terang, jalan
>> > yang bener, jalan ke mana gitu..." Sering deh. Tapi,
>> > kalo orang yang bener2 pinter, cerdas, berwawasan
>> > luar, pasti tahu, selalu ada yang nggak beres dengan
>> > orang seperti itu. 
>> > 
>> > Mereka itu biasanya dipanggil maju kedepan dalam suatu
>> > kebaktian atau acara pertemuan keagamaan. Jadi gantiin
>> > khotbah pemimpin agamanya. Mulai dah mereka ngemeng
>> > (ngomong panjang dan ditambah-tambahi). Kalau gw
>> > disuruh memberi kesaksian, hmmm... yah, gw sih ogah
>> > ah, kalau dipaksa, dengan berat hati gw maju, dan
>> > palingan gw cuma bisa ngomong 20-30 kalimat doang, gak
>> > lebih dari 15 menit lah! Tapi itu orang-orang biasanya
>> > hebat banget soal waktu. Kalian perhatiin deh, gak ada
>> > yang lebih sebentar dari 45 menit! Kalo gak, gak bakal
>> > di VCD-kan dan disebarkan ke komunitas agama-agamanya.
>> > Rugi space CD dong hehehehehe...
>> > 
>> > Nah, ini dia, karena sangking banyaknya yang mau
>> > diomongin, jadinya mereka mulai ngawur nih...
>> > contohnya tukang ramal yang ceritain tentang Kwa Mia
>> > itu... kan banyak yang ngaconya kan (Coba baca postnya
>> > Ko Huang Di)? Dulu pas masih kecil (jamanya Michael
>> > Jackson populer), banyak orang-orang nuduh dia itu
>> > ikutan aliran gak bener lah, macem2 lah...
>> > hahahahahaha, katanya yang paling lucu: Pake ilmu
>> > sesat biar kulitnya jadi putih?!?!? (Kan semua tahu
>> > kalo itu operasi tuh...) Yah, namanya juga kesaksian
>> > buat boongin anak kecil biat masuk agama tertentu,
>> > biar gak sesat katanya. Ilusinya David Copperfield?
>> > Separuhnya udah kebongkar... ternyata cuma trik-trik
>> > alat. 
>> > 
>> > Terus, yang paling bikin gw agak jengah... gw pernah
>> > baca di suatu Sutta. Di situ dicatat dialog antara
>> > Buddha dengan salah satu muridNya (lupa namanya).
>> > Muridnya nanya, bagaimana dengan ajaran guru-guru
>> > lainnya? Seperti para Brahmana, dll... Isinya gak sama
>> > dengan ajaran Buddha Gautama... apakah mereka sesat?
>> > Ternyata Buddha menjawab, kalo kita gak boleh
>> > menjelek-jelekan ajaran guru lain, karena orang itu
>> > gak tahu kalo di setiap ajaran itu terkandung nilai
>> > kebajikan, kebenaran, kebahagiaan, dll. Nah, terus
>> > MuridNya nanya balik lagi, kalo ada yang jelekin kita
>> > gimana? Buddha dengan gampang menjawab: diam saja!
>> > Terus kita jangan ikutan membalas dengan mengejek,
>> > soalnya itu bukan urusanmu!(katanya Banthe Utammo,
>> > "Pada suatu waktu, diem itu emas!"). Terus kenapa kok
>> > kita haus banget, pengen punya kesaksian dll, segala
>> > sesuatu buat ngelawan agama lain?
>> > 
>> > Temen gw pernah bilang, "Wei, itu cuma perisai! Bukan
>> > senjata! Palingan nggak lu gak jadi goyah kalo tiba2
>> > harus ngadepin orang fanatik gila. Hahahahahaha..."
>> > temen gw yang lain juga bilang, "Biasa anak muda,
>> > masih suka konflik, sesuatu yang gak pasti"
>> > (cieeeeh... temen gw yang satu ini emang udah dewasa
>> > pembawaanya). Terus temen gw yang lain lagi cerita,
>> > kalo dulu umat Buddha itu penakut banget... mereka
>> > selalu menghindar kalo ketemu umat agama lain, apalagi
>> > yang struktur organisasi keagamaannya sudah tertata
>> > jelas dan rapi. Mereka-mereka itu jago berdebat, jago
>> > ngomong, kitanya jadi penakut, selalu menghindar
>> > sampe-sampe dianggep kita ini agama yang tersembunyi.
>> > Jarang banget orang tau bagaimana sebenarnya agama
>> > Buddha itu. Kesan mereka agama Buddha itu mistik, dan
>> > "gak nyambung", karena itu  beberapa diantara mereka
>> > ada yang merasa superior lalu dengan mudahnya
>> > menjelek-jelekan kita setiap kali ada kesempatan. Gw
>> > sendiri udah sering ngalamain hal itu... cuma gw cuek
>> > aja... toh lagian mereka yang ngoceh sendiri, kalo
>> > kita diem aja terus gak terima, kepada siapa ocehan
>> > itu akan tertuju? Yang punyalah... hehehehehe. 
>> > 
>> > Jadi intinya, kita biasa-biasa aja, jangan pernah
>> > merasa sombong dan merasa paling tahu. Kita hanya tahu
>> > lebih awal dari mereka, itu saja. Kalo berbicara
>> > dengan orang lain bukalah wawasan (istilahnya sini
>> > pakai banyak kacamata yah? Lepas aja lah, gak enak lho
>> > pake kacamata hehehehehe...). Maksudnya jangan selalu
>> > ingin menghakimi orang, biarpun orang yang lu dengerin
>> > itu begonya setengah mati, atau lebih muda, atau
>> > kurang pengalaman, belum tentu lu tahu semua hal yang
>> > dia tahu, jadi jangan sombong dong, ntar malu lho... 
>> > 
>> > p.s. pesan-pesan seperti "don't be stupid, be smart"
>> > gw rasa kurang mengena yah, kurang bijak gitu. Gak ada
>> > yang mandang dirinya stupid, gak ada yang mau dikatain
>> > stupid. Gw memang gak tahu, tapi gw gak stupid. Jadi
>> > alangkah lebih baik bila diganti jadi: "don't you
>> > always see things on the negative side, but see it on
>> > the positive side." (Yaelah... bahasa marketing).
>> > Mungkin orang-orang perlu sedikit dikasarin, tapi
>> > janganlah... anger leads to hate, hate leads to fear,
>> > and fear leads to the dark side... but we're balanced
>> > and more powerful and wiser than before. Jangan arogan
>> > kayak ksatria Jedi, jangan nafsu kaya kaum Sith! 
>> > 
>> >
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> ________________________________________________________________________
> ________________________________________________________________________
> 
> Message: 5         
>   Date: Sat, 28 May 2005 19:47:32 -0700 (PDT)
>   From: TSUKUDU - <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: The Difference Between "Knowing About" & 
>"Knowing"
> 
> Excerpt: The Difference Between "Knowing About" & 
>"Knowing"
> 
> 
> 
> Wisdom has nothing to do with intellectual knowledge. 
>Intellectual knowledge can be very helpful. It can 
>clarify things. But there is an enormous difference 
>between "knowing about" and "knowing." Knowing has a 
>sense of direct experience. We could read many books on 
>sugar, for example. We could learn its chemical 
>components, how it's made, how it's produced, the 
>different kinds of sugars, how long sugar has been used 
>by the human race, the kinds of sugars we have in the 
>body, how carbohydrates convert into sugar. We could 
>become "experts" on sugar. But until we taste sugar, we 
>do not know sugar. We only know about it.
> 
> Wisdom occurs when we become what we experience. It is 
>the nature of direct realisation to transform. Once this 
>happens, we will naver be the same again. it doesn't mean 
>that we are totally enlightened. Some people imagine that 
>they are going to sit and meditate for a while and then, 
>in the space of one minute, they're suddenly going to get 
>this big breakthrough full of bright lights, trumpets, 
>angels and flowers falling. It's not like that. Actually, 
>when we meditate we do experience little breakthroughs, 
>like tiny flashes of the unconditioned mind. But that's 
>just the beginning of the process. It's certainly not the 
>end.
> 
> 
> 
> ************************************************************************
> DISCOVERING THE DHARMA. By : Master Hsing Yun 
> Some People believe dharma to be profound, Something has 
>to incomprehensible. 
> This is not the case at all. The Dharma is something we 
>all can understand and use. 
> The Dharma is a guiding light which can help us to 
>better evalute the material, Social, 
> and spiritual aspects of life
> 
>               
> ---------------------------------
> Yahoo! Mail Mobile
> Take Yahoo! Mail with you! Check email on your mobile 
>phone.
> 
> [This message contained attachments]
> 
> 
> 
> ________________________________________________________________________
> ________________________________________________________________________
> 
> Message: 6         
>   Date: Sun, 29 May 2005 01:42:11 -0700 (PDT)
>   From: Eddy Setiawan <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: Statistik Buddhis Indonesia
> 
> Presdium Pusat
> Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia
> The Union of Indonesian Buddhist Students
> Central Board
> 
> Bidang I Penelitian dan Pengembangan
> 
> 
> TERBITAN BERKALA III
> Umat Buddha Indonesia dan Tempat Ibadahnya
> 
> 
> Pendahuluan
>       Komunitas Buddhis adalah salah satu komunitas
> religius yang berkembang di Indonesia, sebuah
> komunitas yang begitu berjaya di era Sriwijaya dan
> kemudian tenggelam secara meyakinkan. Lalu
> bagaimanakah kondisi komunitas yang kita saat ini?
> Deret-deret angka yang kami olah dari data Badan Pusat
> Statistik dibawah ini semoga dapat memberikan gambaran
> kasar tentang beberapa aspek komunitas Buddhis kita
> seperti tingkat penyebaran, ratio tempat ibadah dan
> umat, persentase umat Buddha per propinsi dan
> lain-lain.
> 
>       Semoga data-data yang kami sajikan ini (attachment)
> dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan
> dan strategi pengembangan agama Buddha ke depan oleh
> pihak-pihak terkait seperti pimpinan Sangha, Majelis,
> Organisasi Pemuda, Mahasiswa dan lain sebagainya. Data
> yang menunjukkan bahwa 5 besar propinsi dengan
> persentase umat Buddha terbesar yakni Bangka Belitung
> (7,23%), Kalimantan Barat (6,41%), Riau (4,18%),
> Jakarta (3,75%) dan Sumatera Utara (2,82%) perlu
> mendapat perhatian khusus. Sedangkan data lain
> menunjukkan bahwa di banyak daerah perlu dilakukan
> evaluasi terhadap strategi pengembangan dan pembinaan
> umat Buddha di daerah bersangkutan, kita simak NTT
> rationya 1:2 yang artinya jika didistribusi secara
> merata ternyata 1 tempat ibadah hanya diisi oleh 2
> orang! Maluku 1:7, Maluku Utara 1:8, Papua 1:14,
> Sulteng dan Gorontalo masing-masing 1:15, Bengkulu
> 1:16, Yogyakarta 1:21, Sumatera Barat 1:23, Kalteng
> 1:36 dan seterusnya, ternyata di lebih dari 60%
> propinsi yang ada umat Buddha sebenarnya sudah
> kelebihan tempat ibadah atau mengalami penurunan yang
> signifikan sehingga ratio jumlah tempat ibadah dan
> umat menjadi begitu besar. Apalagi bila mengingat tren
> perlombaan membangun vihara-vihara mewah, yang menelan
> dana ratusan hingga milyaran rupiah, padahal Buddhisme
> pada hakekatnya menuntun pada kesederhanaan.    
> 
> Adalah tugas kita bersama untuk melestarikan dan
> mengembangkan ajaran Guru Buddha yang  begitu agung di
> bumi Nusantara ini, karenanya mari bersatu demi
> pelestarian dan pengembangan Buddhisme di Indonesia,
> hancurkan semua pandangan sempit, sektarianisme,
> dendam antar aliran, sikap saling curiga dan lain
> sebagainya karena persatuan akan membawa kebahagiaan
> bagi semua. BERSATULAH KOMUNITAS BUDDHIS INDONESIA!!! 
> 
> 
> 
> Appamadena Sampadetha,
> 
> Ttd.
> 
> Eddy Setiawan
> Ketua Bidang I
> 
> 
> 
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection 
>around 
> http://mail.yahoo.com 
> 
> [This message contained attachments]
> 
> 
> 
> ________________________________________________________________________
> ________________________________________________________________________
> 
> Message: 7         
>   Date: Sun, 29 May 2005 04:54:35 -0700 (PDT)
>   From: Johannes Sulistyo <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: Re: Re: Kesaksian di Buddhis
> 
> Jadi kita gak langsung percaya begitu saja ama yang
> namanya kesaksian, harus dibuktikan. Biasanya kalo
> selama ini ngeliat kesaksian di tempat lain,
> panjang-panjang semua. Lama banget... pertamanya sih
> seru, lama-lama ya bosenin. Jadi gw jarang banget
> denger yang cuma ngomong "Hidup gw telah berubah
> setelah mengenal ini" Pasti setelah itu ditambahin
> segala macem omongan, sampe terkadang make bukti-bukti
> yang dikarang sendiri. Itulah kenapa gw juga kurang
> "ngeh" ama yang namanya kesaksian. Ngeliat sendiri
> baru percaya, emang kedengaran agak bebal sih.
> 
> 
>               
> __________________________________ 
> Do you Yahoo!? 
> Yahoo! Small Business - Try our new Resources site
> http://smallbusiness.yahoo.com/resources/
> 
> 
> 
> 
> ________________________________________________________________________
> ________________________________________________________________________
> 
> 
> Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI 
>di dalam diri saya maupun di luar diri saya. 
> 
> Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
> tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
> serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang 
>kokoh.
> Kami mengikuti jalur perhatian penuh, 
> latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
> agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
> sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
> Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, 
>menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap 
>pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa 
>akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama 
>melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh 
>rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta 
>sahabat-sahabat kami.
> 
> ------------------------------------------------------------------------
> Yahoo! Groups Links
> 
> 
> 
> 
> ------------------------------------------------------------------------
> 
> 
> 

========================================================================================
Akses Internet TELKOMNet-Instan beri Diskon s.d. 50 % khusus untuk wilayah Jawa 
Timur.
Informasi selengkapnya di www.telkomnetinstan.com atau hub 0800-1-INSTAN 
(467826)
========================================================================================
 


** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke