Rabu, 13 Juli 2005

Kebijakan Energi Berkelanjutan

Oleh: EMIL SALIM

Kepulauan Indonesia yang terletak di khatulistiwa diperkirakan bakal menderita dampak negatif pencemaran udara berupa perubahan iklim, peningkatan suhu daratan, dan kenaikan permukaan laut. Iklim akan semakin panas dan curah hujan tidak menentu sehingga memengaruhi produksi pertanian yang menderita kekurangan air.

Bumi daratan akan semakin panas dan membangkitkan penyakit yang mengganggu kesehatan manusia, hewan, serta semua makhluk ciptaan ilahi. Permukaan laut akan naik akibat pemekaran molekul air serta pencairan bongkahan es di Kutub Utara dan Selatan sehingga menghambat aliran sungai ke laut lalu mengancam daratan pantai dilanda banjir.

Dan yang lebih mencemaskan, sekitar 2.000 pulau kecil dari sebanyak 17.000 pulau di Indonesia terancam tenggelam dalam musim laut pasang menjelang tahun 2030 mendatang. Tidak terhitung di sini dampak badai topan, angin puyuh, tsunami, dan gempa bumi yang berada di luar jangkauan perbuatan manusia.

Negara-negara kepulauan di Lautan Pasifik selatan, seperti Tuvalu, Kiribati, Vanuatu, dan Kepulauan Marshall sekarang sudah menderita tenggelamnya beberapa pulau waktu musim laut pasang sehingga penduduknya harus berevakuasi sebagai ”korban ekologi” ke Selandia Baru. Di Lautan Hindia, penduduk Kepulauan Maladewa sudah mencemaskan ancaman kenaikan permukaan laut akan menenggelamkan pulaunya.

Bagi negara daratan luas seperti Amerika Serikat (AS), Australia, RRC, dan India, ancaman pencemaran udara tak dirasakan terlalu mendesak karena dampaknya tidak sebesar kerusakan yang bakal diderita negara kepulauan. Karena itu, bisa dipahami jika negara-negara ini agak meremehkan ancaman pencemaran udara ini. Lain halnya dengan posisi Indonesia sebagai negara kepulauan yang dua pertiga luas wilayahnya terdiri dari laut.

Karena itu, Indonesia perlu menjadi negara pelopor pengendalian pencemaran udara untuk menyelamatkan ribuan pulau kecil kita dan sekaligus memberi contoh model kepada negara kepulauan lain untuk membangun tanpa pencemaran.

Semakin panas

Sumber pokok pencemaran udara adalah gas rumah kaca yang terutama berasal dari pembakaran fossil fuel, terdiri dari minyak bumi, batu bara, dan gas alam, untuk energi bagi transportasi, industri, dan rumah tangga. Di seluruh dunia, minyak bumi, batu bara, dan gas memasok 88 persen dari kebutuhan energi global. Pembakaran fossil fuel ini melepaskan berbagai gas cemar yang menjadi ”selimut buatan” membungkus bumi ini.

Sinar matahari masuk menerangi dan memanaskan bumi. Panas bumi ini lazimnya terlepas ke udara dan suhu bumi kembali menjadi normal dan nyaman bagi kehidupan makhluk alam. Namun, adanya ”selimut buatan” yang semakin tebal menghambat pelepasan panas bumi ke udara sehingga suhu bumi naik menjadi semakin panas.

Untuk mencegah naiknya kerusakan alam, negara-negara sedunia sepakat dalam Protokol Kyoto mengendalikan pencemaran udara dengan menurunkan buangan zat cemar fossil fuel dari kegiatan transportasi, industri, dan pengembangan energi. Bersama negara-negara lain, Indonesia ikut meratifikasi kesepakatan ini. Hanya AS dan Australia yang menolak kesepakatan ini.

Kewajiban pokok kita sekarang adalah turut bertanggung jawab mengendalikan pelepasan zat cemar asal fossil fuel. Dalam rangka inilah perlu dilihat pentingnya usaha penanggulangan dampak kenaikan harga BBM yang melanda ekonomi kita. Dalam jangka panjang, garis kebijakan Indonesia seyogianya mengurangi kadar karbon dalam penggunaan energi untuk transportasi, industri, dan rumah tangga dengan mengembangkan teknologi bersih dan energi terbarukan. Untuk ini, perlu dilaksanakan kebijakan mengefisienkan penggunaan energi.

Untuk menciptakan produk domestik bruto nasional sebesar 1.000 dollar AS (harga konstan 1993), Indonesia memerlukan 4,7 SBM (setara bahan minyak) dibandingkan dengan 3,9 SBM negara-negara ASEAN. Berjuta kubik volume gas kita bakar (flair) tanpa menarik manfaatnya. Sistem distribusi minyak kita sangat boros sehingga tinggi ongkosnya. Semua ini karena harga minyak dan gas disubsidi sehingga tergolong murah dan menumbuhkan kecenderungan produsen maupun konsumen boros.

Langkah usaha penghematan energi harus bersikap menyeluruh dan bersifat jangka panjang. Kita perlu kembangkan rangsangan mengubah mesin mobil dan sepeda motor ke sistem irit bensin. Usaha mengembangkan kendaraan hemat energi harus merupakan bagian dari kebijakan transportasi. Pola pembangunan berorientasi angkutan jalan raya harus diubah dengan mengembangkan sistem transportasi, seperti kereta-api, angkutan sungai, laut, dan udara.

Sistem transportasi ini harus ditopang oleh rencana penataan ruang yang secara efisien membagi fungsi kota dan wilayah agar secara hemat energi mengatur arus gerak manusia, barang, dan jasa. Bangunan kantor, mal, dan perumahan harus dipolakan hemat energi fossil fuel dan merangsang penggunaan energi terbarukan. Arsitek almarhum Silaban telah memberi contoh dengan cara membangun Masjid Istiqlal yang hemat energi.

Untuk mendukung pelaksanaan rencana ini perlu dikembangkan tarif pajak, retribusi, larangan, rangsangan, dan segala peralatan kebijakan yang secara sadar menggiring proses pembangunan ke jurusan ”hemat energi” dan secara diferensial mengenakan tarif tinggi bagi berbagai wahana yang menggunakan banyak energi fossil fuel untuk disubstitusi dengan energi terbarukan.

Sistem energi berbasis fossil fuel yang diandalkan sekarang harus diubah ke arah pengembangan energi terbarukan, seperti sel surya, hidrogen, angin, gelombang, panas bumi, mikro-hidro, biomassa, dan tenaga kinetika alami yang memungkinkan desentralisasi pembangkitan dan penggunaan energi tanpa sistem jaringan sehingga lebih murah, cepat pengadaannya, dan bersih produknya.

Sumber energi fossil fuel tersebar di Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, dan lain-lain, dan dihubungkan dengan konsumen energi oleh ”sistem jaringan” (grid system) yang mahal biayanya. Karena pemasokan fossil fuel terbatas, maka harus dimungkinkan agar energi terbarukan yang dihasilkan setempat bisa dijual lokal tanpa sistem jaringan maupun melalui sistem jaringan yang tersedia menurut harga jual di atas biaya pengadaannya. Dengan membuka peluang ini, kita rangsang kreativitas masyarakat membangun energi terbarukan mengatasi kekurangan pemasokan energi.

Distorsi harga

Untuk mengembangkan energi terbarukan, perlu kita hilangkan distorsi harga yang dideritanya dibandingkan dengan harga energi fossil fuel. Energi fossil fuel mencemarkan, tetapi biaya pencemaran ini tidak masuk harga energinya dan dibebankan pada seluruh masyarakat, baik kaya maupun miskin, baik yang memakai maupun yang tidak memakai energi fossil fuel.

Jika pencemaran udara mengakibatkan kematian bayi karena infeksi saluran pernapasan, naiknya jumlah penderita sesak napas yang harus membayar ongkos perawatan tinggi, menaikkan suhu, mengubah iklim, dan menaikkan permukaan laut, maka semua biaya ini tidak terbebankan pada harga fossil fuel.

Sebaliknya, untuk energi terbaru yang tak menimbulkan pencemaran udara dan segala penyakit di atas, maka segala manfaat bebas pencemaran ini tidak masuk harga energi terbarukan. Jadi, dari sudut kepentingan masyarakat, biaya energi fossil fuel dihitung terlalu rendah, sedangkan manfaat energi terbarukan dinilai terlalu rendah. Karena itu, distorsi harga antara energi fossil fuel dan energi terbarukan perlu dikoreksi.

Untuk menindaklanjuti kebijakan energi berkelanjutan ini, sangatlah perlu mengaktifkan kembali lembaga konsultasi kebijakan yang pernah aktif di masa Orde Baru untuk diperluas keanggotaannya, mencakup unsur pemerintah terkait, pengusaha, dan kelompok masyarakat madani yang berkepentingan. Lembaga ini bertugas memanfaatkan berbagai prakarsa yang sudah teruji berhasil di Inggris, Jerman, dan Skandinavia dalam membangun energi terbarukan.

Dengan demikian, kita menanggapi krisis kenaikan harga BBM dengan menjadikannya sebagai peluang membangun energi terbarukan menopang pola pembangunan yang bebas pencemaran udara guna mencegah tenggelamnya pulau-pulau kecil di Tanah Air akibat lalainya kita membangun energi berkelanjutan.

Emil Salim Mantan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup


Start your day with Yahoo! - make it your home page

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke