42. Perumah Tangga Tasila
Demikian telah saya dengar pada suatu ketika: Buddha
berdiam di Rajagraha di Hutan Bambu, Burung Kalandaka.
Pada saat itu di daratan Kosala hiduplah seorang
perumah tangga berkasta tinggi yang bernama Dalan
Masicar yang benar-benar makmur. Karena tanpa anak,
dia membuat persembahan di semua kuil para dewa dan
naga. Karena dia melakukannya dengan pikiran penuh
keyakinan, istrinya mengandung. Ketika berbulan-bulan
telah berlalu dia melahirkan seorang putra yang sangat
tampan. Ketika seorang peramal mengamati tanda-tanda
putra ini, dia memberikan nama Tasila kepadanya.
Ketika putra ini dewasa, semua bangunan perumah tangga
dipenuhi oleh tujuh permata, semua harta benda
dirumahnya penuh dan dia tidak kekurangan apapun.
Pada suatu ketika Vaidurya, putra Raja
Prasenajit, sakit. Tabib yang memeriksanya berkata
bahwa anak itu akan sembuh hanya jika dirawat dengan
cendana berwarna putih. Oleh karena itu raja
mengumumkan di seluruh kerajaannya: "Jika siapapun
memiliki cendana putih, biarlah dia membawanya dan
saya akan membayarnya dengan 1000 ukuran emas. "Tapi
cendana putih tidak ditemukan. Suatu hari seorang pria
datang kepada raja dan berkata: "Yang Mulia, di
daratan Kosala ada seorang perumah tangga yang
memiliki banyak cendana putih." Raja dan rombongannya
segera pergi ke Kosala untuk meminta cendana putih.
Ketika mereka sampai dikediaman perumah tangga itu,
penjaga gerbang berlari memberitahu tuannya bahwa Raja
Prasenajit ada di gerbang. Perumah tangga sangat
gembira, keluar menyambut raja dan mengundangnya masuk
kerumahnya.
Ketika raja melewati gerbang dia mengamati
bahwa itu dibuat dari perak. Ketika dia masuk, dia
melihat seorang wanita yang sangat cantik, yang duduk
di atas tempat duduk perak sedang memintal benang
perak, dengan 16 wanita muda yang menolongnya. Raja
bertanya kepada perumah tangga apakah ini adalah
istrinya. Perumah tangga menjawab: "Tidak, itu adalah
istri pelayan penjaga gerbang." Ketika mereka melewati
gerbang selanjutnya raja melihat gerbang yang terbuat
dari lapis-lazuli, dan didalamnya dia mengamati ada
seorang wantia yang lebih cantik lagi yang memiliki 18
wanita melayaninya. Gerbang selanjutnya terbuat dari
emas. Didalamnya duduk seorang wanita yang lebih
cantik, yang memiliki pelayan wanita lebih banyak, dan
yang memintal benang emas. Ketika raja bertanya apakah
dia adalah istri perumah tangga, dia diberitahu bahwa
dia bukan.
Ketika mereka sampai di tempat tinggal
perumah tangga, raja melihat lantai yang terbuat dari
lapis-lazuli transparan. Di atap tergantung bentuk
binatang-binatang, monster-monster laut, ikan, dan
hewan laut lainnya yang ketika mereka bergoyang
tertiup angin, mereka memantul di lantai. Melihat hal
ini, raja berpikir itu adalah air dan bertanya mengapa
istana itu banjir. Ketika diberitahu bahwa itu adalah
lapis-lazuli transparan, raja tidak bisa
mempercayainya dan menyentuh lantai dengan tangannya.
Ketika mereka masuk ke dalam istana, yang
dibangun dari tujuh permata, raja dipersilahkan untuk
duduk di atas tempat duduk lapis-lazuli. Dia kemudian
melihat istri perumah tangga yang air matanya sedang
mengalir. Ketika raja bertanya kepadanya apakah
kedatangannya membuat dia tidak senang, wanita itu
berkata: "Yang Mulia, saya bersukacita atas
kedatanganmu. Alasan saya menangis adalah jubahmu
berbau asap membuat mata berair. "Raja berkata:
"memangnya kalian tidak membuat api disini?" Ketika
wanita itu berkata bahwa mereka tidak, raja bertanya
bagaimana mereka memasak makanan mereka. Wanita itu
berkata: "Ketika kami berpikir tentang makanan,
makanan lezat muncul dengan sendirinya. "Raja kemudian
bertanya apa yang mereka gunakan sebagai penerangan
dalam gelap malam. Wanita itu berkata: "Kami duduk di
bawah cahaya permata cintamani. Meskipun ketika kami
menutup pintu-pintu, cahaya cintamani bersinar melalui
sela-sela dan membuat segalanya seterang siang hari."
Perumah tangga kemudian menunduk dan bertanya
kepada raja apa tujuan kunjungannya. Raja berkata:
"Anakku, Vaidurya, menderita sakit demam dan kami
membutuhkan cendana putih untuk menyembuhkannya. Saya
datang untuk meminta sedikit." Perumah tangga itu
senang dan membawa raja ke harta miliknya. Menunjuk
pada tumpukan tak hingga dari cendana putih, berkata:
"Yang Mulia, ambilah sebanyak yang engkau mau. "Raja
meminta dua ukuran dan perumah tangga itu memberikan
mereka kepadanya.
Ketika raja siap untuk kembali, dia berkata:
"Perumah tangga, engkau harus mengunjungi Buddha.
"Perumah tangga berkata: "Buddha? Apa artinya itu?"
Raja menjawab: "Engkau belum pernah mendengar? Putra
dari Raja Suddhodana di Kapilavastu letih dengan
kelahiran, sakit, usia tua dan kematian, dan menjadi
seorang bhiksu. Berkat usahaNya, dia menjadi seorang
Buddha Sempurna dianugrahi dengan 32 tanda manusia
besar dan 80 tanda minor. Dia sempurna dalam
kebijaksanaan transendental dan terunggul diantara
para dewa dan manusia. Oleh karena itu dia dipanggil
Buddha -Yang Sadar." Ketika perumah tangga mendengar
hal ini, di bersukacita dan pikiran penuh percaya
tumbuh darinya. Dia bertanya di mana Buddha berdiam
dan raja memberitahunya bahwa Bhagava tinggal di Hutan
Bambu Rajagrha.
Ketika raja telah pergi, perumah tangga pergi
melihat Buddha. Melihat Bhagava lebih cermelang
daripada raja-raja lainnya, dia berkeyakinan dan
bersukacita, menundukkan kepalanya, dan bertanya
kesejahteraan Buddha. Ketika Buddha telah
mengajarkannya Dharma, perumah tangga menjadi seorang
Pemenang Arus. Dia berlutut, beranjali, dan memohon
untuk menjadi seorang bhiksu. Ketika Buddha berkata:
"Selamat Datang," rambut dan jambangnya rontok dan dia
menjadi seorang bhiksu. Ketika Buddha mengajarkannya
Empat Kebenaran, dia menjadi arahat.
Kemudian Ananda dan kumpulan besar berkata
kepada Buddha: "Bhagava, perbuatan apa yang sebelumnya
telah dilakukan bhiksu Tasila sehingga dia sekarang
memperoleh kelahiran sebagai manusia, dianugrahi
dengan kekayaan para dewa, dan meninggalkan rumah,
dan menjadi seorang bhiksu dan mencapai kebebasan?"
Buddha berkata: "Ananda, dengarkan dengan
baik dan saya akan memberitahumu. Di waktu lampau, 91
kalpa yang lalu ketika Buddha Vipasyin telah datang
dalam dunia demi kebahagiaan makhluk dan telah
mencapai Nirvana, 500 bhiksu membuat sumpah suci:
'Kita harus pergi ke tempat terpencil dan berlatih di
Jalan Kebebasan.' Pergi ke hutan, mereka berdiam dekat
mata air berbatu, dan dalam satu kesempatan berkata
kepada seorang bhiksu: 'Bhiksu, kita ada di pertapaan
ini yang jauh dari kota dan sulit bagi kita untuk
keluar dan berpindapatta. Engkau harus pergi sendiri,
mengumpulkan persembahan, dan membaginya dengan kami.
'Bhiksu itu setuju, pergi ke kota setiap hari,
mengajarkan Dharma ke banyak perumah tangga,
mengumpulkan persembahan, dan membagi mereka dengan
para bhiksu. Diantara para bhiksu itu ada empat orang
yang berusaha dalam meditasi dan mencapai buah dalam
19 hari. Semua bhiksu kemudian berkata kepada bhiksu
yang mengumpulkan peersembahan: 'Bhiksu, karena
engkau, kami nyaman dan mencapai samadhi yang kami
inginkan. Apa keinginanmu sekarang, mintalah kepada
kami dan kami akan memenuhi harapanmu. 'Dengan sangat
berbahagia bhiksu itu membuat harapan berikut: 'Di
masa akan datang semoga saya telahir sebagai seorang
manusia, semoga saya kaya raya, dan apapun keinginanku
akan terpenuhi. Semoga saya bertemu engkau, Yang Suci,
mendengar dari kalian lebih dari 100.000 Dharma,
semoga batinku sepenuhnya dimurnikan dan semoga saya
mencapai Pembebasan.' Ananda, karena bhiksu ini telah
menghormati bhiksu lain dengan persembahan, dia
terlahir di kasta tinggi dan diantara para dewa dan
manusia selama 91 kalpa, tidak pernah di keluarga
miskin. Sekarang dia telah bertemu denganKu dan
mencapai Pembebasan."
Kemudian Ananda dan bhiksu lain, setelah
mendengar perkataan Buddha, berusaha kuat dan
memperoleh Buah pertama dari Keempat Buah. Beberapa
memperoleh pikiran awal welas asih. Beberapa mencapai
alam Tidak Kembali Lagi. Semua kumpulan besar
bermudita dan percaya.
-----------------------------------------------------
Jika Ingin menyebarkan Naskah ini, mohon mencantumkan
sumber dan pengalih bahasa
Sumber:
Sutra of the Wise and the Foolish [mdo mdzangs blun]
atau
Ocean of Narratives [uliger-un dalai]
penerbit:
Library of Tibetan Works & Archieves
Alih Bahasa Mongolia ke Inggris:
Stanley Frye
Alih Bahasa Inggris ke Indonesia:
Heni [Mhsi Universitas Indonesia]
Editor:
Junaidi
Kadam Choeling Bandung
ps: masih dlm proses edit, maaf jika masih ada
kesalahan
------------------------------------------------------
J u n a i d i
Dept. of Information Technology
PT. Tiara Gaya Arga Kencana
Paint, Road Marking, & Epoxy Manufacturer
Jl. Cimareme No. 185 A Padalarang, West Java - Indonesia
Phone: +62 22 665 1515 [ hunting ]
Fax.: +62 22 665 6555
Mobile: +62 856 219 8835 / +62 911 80 855 / +62 707 87 555
--------------------------------------------------
Klik Saya :
http://joened.blogspot.com
http://www.iloveblue.com/jatuhcinta/referensi.php?name=joened
---------------------------------------------------
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya
maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta
kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas
dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua,
para guru, serta sahabat-sahabat kami **
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/