Kompas, Kamis, 21 Juli 2005

Dari Porto Alegre ke Komunitas Lo-Rejo

Oleh: Maria Hartiningsih

Di tengah carut marut situasi politik, ekonomi, sosial, dan hubungan antarkelompok di negeri ini, dua organisasi nonpemerintah menyelenggarakan forum pertemuan bertema ”Gerakan Sosial Baru: Indonesia yang Lain”. Rangkaian acaranya berlangsung di Komunitas Lo-Rejo, Desa Sumberarum, Moyudan, Sleman, 17 kilometer sebelah Barat Yogyakarta, tanggal 21 -24 Juli 2005.

Forum rakyat dengan spirit Forum Sosial Dunia (WSF) di Porto Alegre, Brasil, dan Mumbai, India, itu tak memakai jargon ’antiglobalisasi’. Tetapi semangatnya sama. Mereka menolak praktik-praktik kapitalisme neoliberal yang merangsek sampai ke jantung kehidupan rakyat, dan menolak kepariahan Indonesia.

”Kami mencari solusi mengenai berbagai persoalan di akar rumput,” kata F Wahono dari Cindelaras Institute for Rural Empowerment and Global Studies, penyelenggara pertemuan itu bersama Bina Desa.

Pertemuan serupa sebenarnya pernah dua kali digagas beberapa tokoh ornop setelah mengikuti WSF di Porto Alegre, Brasil, dan Mumbai, India, tetapi dua kali pula gagal diselenggarakan. Menurut Boni Setiawan dari Institute of Global Justice yang menjadi salah satu penggagas Indonesian Social Forum, penyebabnya adalah ketidaksiapan dan ketiadaan dana.

Dana itu yang dicoret dari hambatan penyelenggaraan pertemuan di Lorejo. Apalagi bantuan lembaga dana telah menjadi pertanyaan banyak pengamat, seperti Peter Waterman dari Belanda. Saat itu Waterman mempertanyakan akuntabilitas WSF yang menerima bantuan sebuah lembaga dana yang berpengaruh dari AS.

”Mereka mencurigai adanya agenda khusus lembaga-lembaga itu di balik komitmen memberdayakan civil society di negara berkembang,” jelas sosiolog Hanneman Samuel dari Universitas Indonesia.

Di dalam WSF muncul beberapa pandangan mengenai lembaga dana. Pertama, menolak semua bantuan, khususnya dari lembaga-lembaga besar yang berinduk di AS. Itu sebabnya dalam WSF di Mumbai tahun 2004 terdapat forum tandingan, the Mumbai Resistence.

Di antaranya, Via Campesina, yang ”berjalan” di luar WSF dalam internasionalisme gerakan sosial baru. Via Campesina merupakan jaringan internasional baru untuk organisasi buruh tani dan petani gurem.

Kedua, menerima bantuan lembaga-lembaga kecil di negara maju, khususnya Eropa, yang diketahui secara jelas komitmennya. Ketiga, menerima bantuan lembaga dana mana saja, tetapi tetap independen.

Menurut Wahono, dana penyelenggaraan pertemuan itu berasal dari dana ulang tahun ke-20 Bina Desa dan ketujuh bagi Cindelaras. Diselenggarakan di Lorejo, karena, ”Itulah yang kita punya. Kita harus berangkat dari sana, seberapa pun,” katanya mengenai pertemuan yang dihadiri sekitar 600 orang dari luar desa dan warga desa itu.

Mengapa di desa

”Karena desa adalah tempat di mana rakyat kecil bermukim,” kata Wahono. Desa dapat menjadi pusat perjuangan di mana ide-ide pembaruan dilakukan, seperti halnya perjuangan gerilya pada masa kemerdekaan.

Komunitas Lo-Rejo terdiri dari tiga dusun, Pingitan, Jitar, dan Puluhan. Komunitas dengan penduduk 1.639 jiwa itu adalah komunitas yang tercerahkan. Empat tahun terakhir ini rakyatnya mengupayakan terwujudnya pertanian organik, keberagaman produksi pertanian dan usaha pengolahan makanan, mengoptimalkan penggunaan lahan pekarangan, dan me-reklaiming atas tanah kas desa sebagai penguatan akses petani terhadap tanah. Juga ada pendidikan luar sekolah untuk anak-anak melalui kesenian, pendidikan kritis untuk para petani gurem dan pelatihan kepemimpinan.

”Kami di desa merasakan sekali dampak perubahan yang berujung pada beban ekonomi biaya tinggi. Air kemasan sudah masuk desa, juga camilan kemasan, mi instan, juga minuman sejenis bir. Semua semakin menggeser nilai dan potensi yang dimiliki desa,” ujar G Suwarto, Ketua Forum Lorejo.

Warga di tingkat akar rumput berangkali memang tidak terlalu paham dan tidak peduli istilah-istilah seperti kapitalisme neoliberal, globalisasi, dan lain-lain. Akan tetapi, mereka merasakan langsung dampaknya.

Desa yang dulu memberi makan kota kini menjadi semakin tua dan pikun. Sumber dayanya hancur. Putra-putri terbaiknya dicerabut dari akar. Budaya kekerabatan penyangga identitas diretas dan ditebas. ”Kompetisi” melemparkan anak-anak dan perempuan muda ke ”selokan”, tempat calo-calo perdagangan manusia menanti mangsa.

Di ranah politik ekonomi makro, utang berjibun, tetapi Dana Moneter Internasional (IMF) cuci tangan ketika korupsi susah dibendung. Bank Dunia memberi rumus dan santunan untuk tujuan yang seakan-akan mulia. Tetapi utang tetap saja utang. Saat ini setiap bayi yang baru lahir di negeri ini sudah menggendong beban utang sebesar Rp 7 juta.

Tata perdagangan baru yang ”adil” menurut Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) didefinisikan oleh kelompok negara yang menguasai badan dunia itu.

Resepnya adalah privatisasi dan deregulasi, pemotongan drastis pengeluaran pemerintah di bidang kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan rakyat, liberalisasi impor dan menghilangkan hambatan bagi investasi asing, serta menekan tingkat upah dan melemahkan segala bentuk mekanisme perlindungan terhadap buruh.

Gerakan sosial

Banyak teori gerakan sosial bisa dieksplorasi. ”Titik berangkat gerakan sosial adalah the social question, bukan the economic question,” kata Wahono.

Bagi orang-orang di dalam gerakan sosial, akar persoalan bukan pada investasi dan injeksi materi. Relasi antar manusia yang tidak adil dan tidak seimbang adalah pangkal kemiskinan. Manusia sederajat di depan Sang Khalik, tetapi tidak di antara sesama manusia. Ada perbedaan derajat, daya serap, kondisi awal dan posisi. Demokrasi di tengah perbedaan tanpa korelasi afirmatif dan sistematis sama dengan pasar bebas tanpa kendali. Setidaknya itulah yang digagas penerima Nobel Ekonomi tahun 1998, Amartya Sen.

”Indonesia baru” sebenarnya Indonesia dalam visi para pendiri negeri ini. Bung Karno dan Bung Hatta, yang ditinggalkan ketika Indonesia memasuki arus ekonomi neoliberal.

Namun, barangkali yang unik dari forum di Lo-Rejo ini bukan teori-teori yang muluk atau silang pendapat mengenai gerakan sosial ”baru”. Melainkan komunitas Lo-Rejo sendiri, situasinya dan bagaimana proses gerakan sosial dibangun di situ.

”Apa yang terjadi di Lo-Rejo beberapa tahun terakhir ini memperlihatkan sebuah pendekatan yang cukup komprehensif dari sebuah gerakan sosial,” ujar sosiolog Meuthia Gani-Rohman dari Universitas Indonesia.

Solidaritas di situ, menurut Meuthia, tidak dibangun dengan jargon, tetapi lewat tindakan riil, termasuk ekonomi dan pemanfaatan teknologi untuk membangun kelembagaan lokal.

Pendekatan yang komprehensif, kata Meuthia, lebih menjamin keberlanjutan gerakan sosial. Tentu dengan beberapa catatan, karena selalu ada peningkatan aspirasi dan kebutuhan komunitas dari waktu ke waktu.

”Forum ini menjadi penanda lahirnya solidaritas antarwarga di mana pun sehingga gerakan ini menjadi gerakan bersama,” kata Suwarto. ”Secara internal, forum ini akan mendorong kami untuk mempercepat proses perubahan.”

 

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Spirituality Dan


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke