Kedaulatan Rakyat - Monday, 25 July 2005, Jawa Tengah
KETUA PBNU SAID AGIL SIRAJ; Pluralisme Bukan Toleransi


BOROBUDUR (KR) - Ketua PBNU Prof Dr H Said Agil Siraj mengatakan, dalam beragama diharapkan tidak main-main. Harus benar-benar menjalankan, menghayati dan memahami keberagamaan, yakni selalu sadar hadir bersama Tuhan atau sadar bahwa Tuhan selalu hadir bersama kita. Bagaimana kita selalu sadar hadir bersama-Nya atau sadar Dia selalu bersama kita. Hal ini dikatakannya di depan wartawan disela-sela menghadiri acara “Sejuta Pelita Sejuta Harapan, Doa Untuk Bangsa” di Candi Borobudur Magelang, Sabtu petang (23/7).

Juga hadir beberapa tokoh lainnya, di antaranya Prof HM Syafi’i Ma’arif, Rm Frans Magnis Suseno, Djohan Effendi, I Nyoman Suarta, I Nyoman Dana, Sudhamek AWS SE SH.

Menyinggung masalah pluralisme, dikatakan, pluralisme bukan hanya toleransi. Semangat pluralis adalah bagaimana kita saling mendukung, saling menyempurnakan dan saling mengisi sesama kita. “Bukan sekadar toleransi, tetapi lebih aktif dari itu,” katanya. Juga dikatakan, menciptakan permusuhan atau perang lebih mudah dan lebih murah dibanding menciptakan persatuan. Membangun kerukunan, perdamaian, keharmonisan ketelatenan, terus-menerus dan kesabaran, selain itu biayanya juga tidak sedikit. 

Syafi’i Ma’arif di antaranya mengatakan energi agama perlu ditegaskan untuk memperbaiki moral bangsa. Diharapkan dengan adanya “Sejuta Pelita Sejuta Harapan, Doa Untuk Bangsa” benar-benar dapat menjadi pencerahan. Beragama harus serius. “Kita tidak bisa main sebelah mata dengan Tuhan,” katanya.

Dikatakan juga, dunia kita saat sekarang ada yang mengatakan dunia yang tunggang langgang. Dua per tiga umat manusia dalam kemiskinan, sedang sepertiga lagi menikmati kekayaan dengan seenaknya. Terorisme ada di mana-mana dalam segala bentuk, baik dilakukan perorangan maupun kelompok. Menurut mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini, agama perlu berperan benar-benar dan tidak sekadar seremonial atau simbolik, tetapi dapat mempercepat proses pencerahan, pencerdasan untuk seluruh umat manusia. Frans Magnis Suseno menambahkan di antaranya penting sekali agama-agama belajar saling menghormati, dan masa depan agama-agama harus begitu.

Dalam pembukaan acara “Sejuta Pelita Sejuta Harapan, Doa Untuk Bangsa”, Ketua Umum DPP Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) Sudhamek AWS di antaranya mengatakan agama dewasa ini sudah semakin menuju ke formalisme. Agama bukan lagi berperan menjadi jalan spiritual bagi manusia dalam arti yang sesungguhnya, yaitu untuk mentransformasikan diri. “Kita semua sepakat, bahwa hanya dengan keberhasilan transformasi dirilah kita bisa ikut melakukan transformasi sosial, khususnya di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” katanya.

Seperti diketahui di kompleks Candi Borobudur, Sabtu malam, digelar acara “Sejuta Pelita Sejuta Harapan, Doa Untuk Bangsa” yang dihadiri ribuan umat Budha dari berbagai daerah. Hadir dalam acara ini Sekjen Depag Ismail, yang mewakili Menteri Agama, Gubernur Jateng H Mardiyanto, KGBPH Hadi Winoto yang mewakili Sri Sultan Hamengku Buwono X dan tokoh lintas agama. 

Acara ini juga diwarnai acara Pradaksina yakni berjalan mengelilingi Candi Borobudur oleh para bhante dan pemercikan air berkah. Menteri Agama mengatakan “Sejuta Pelita Sejuta Harapan, Doa Untuk Bangsa” ini dapat memancarkan kerukunan umat beragama serta memberikan dampak positif bagi bangsa dan negara. (Tha)-o

 



** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke