|
BOROBUDUR (KR) - Ketua PBNU Prof Dr H
Said Agil Siraj mengatakan, dalam beragama diharapkan tidak main-main.
Harus benar-benar menjalankan, menghayati dan memahami keberagamaan, yakni
selalu sadar hadir bersama Tuhan atau sadar bahwa Tuhan selalu hadir
bersama kita. Bagaimana kita selalu sadar hadir bersama-Nya atau sadar Dia
selalu bersama kita. Hal ini dikatakannya di depan wartawan disela-sela
menghadiri acara Sejuta Pelita Sejuta Harapan, Doa Untuk Bangsa di Candi
Borobudur Magelang, Sabtu petang (23/7).
Juga hadir beberapa tokoh lainnya, di antaranya Prof HM
Syafii Maarif, Rm Frans Magnis Suseno, Djohan Effendi, I Nyoman Suarta,
I Nyoman Dana, Sudhamek AWS SE SH.
Menyinggung masalah pluralisme,
dikatakan, pluralisme bukan hanya toleransi. Semangat pluralis adalah
bagaimana kita saling mendukung, saling menyempurnakan dan saling mengisi
sesama kita. Bukan sekadar toleransi, tetapi lebih aktif dari itu,
katanya. Juga dikatakan, menciptakan permusuhan atau perang lebih mudah
dan lebih murah dibanding menciptakan persatuan. Membangun kerukunan,
perdamaian, keharmonisan ketelatenan, terus-menerus dan kesabaran, selain
itu biayanya juga tidak sedikit.
Syafii Maarif di antaranya
mengatakan energi agama perlu ditegaskan untuk memperbaiki moral bangsa.
Diharapkan dengan adanya Sejuta Pelita Sejuta Harapan, Doa Untuk Bangsa
benar-benar dapat menjadi pencerahan. Beragama harus serius. Kita tidak
bisa main sebelah mata dengan Tuhan, katanya.
Dikatakan juga,
dunia kita saat sekarang ada yang mengatakan dunia yang tunggang langgang.
Dua per tiga umat manusia dalam kemiskinan, sedang sepertiga lagi
menikmati kekayaan dengan seenaknya. Terorisme ada di mana-mana dalam
segala bentuk, baik dilakukan perorangan maupun kelompok. Menurut mantan
Ketua Umum PP Muhammadiyah ini, agama perlu berperan benar-benar dan tidak
sekadar seremonial atau simbolik, tetapi dapat mempercepat proses
pencerahan, pencerdasan untuk seluruh umat manusia. Frans Magnis Suseno
menambahkan di antaranya penting sekali agama-agama belajar saling
menghormati, dan masa depan agama-agama harus begitu.
Dalam
pembukaan acara Sejuta Pelita Sejuta Harapan, Doa Untuk Bangsa, Ketua
Umum DPP Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) Sudhamek AWS di antaranya
mengatakan agama dewasa ini sudah semakin menuju ke formalisme. Agama
bukan lagi berperan menjadi jalan spiritual bagi manusia dalam arti yang
sesungguhnya, yaitu untuk mentransformasikan diri. Kita semua sepakat,
bahwa hanya dengan keberhasilan transformasi dirilah kita bisa ikut
melakukan transformasi sosial, khususnya di dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara, katanya.
Seperti diketahui di kompleks Candi Borobudur,
Sabtu malam, digelar acara Sejuta Pelita Sejuta Harapan, Doa Untuk
Bangsa yang dihadiri ribuan umat Budha dari berbagai daerah. Hadir dalam
acara ini Sekjen Depag Ismail, yang mewakili Menteri Agama, Gubernur
Jateng H Mardiyanto, KGBPH Hadi Winoto yang mewakili Sri Sultan Hamengku
Buwono X dan tokoh lintas agama.
Acara ini juga diwarnai
acara Pradaksina yakni berjalan mengelilingi Candi Borobudur oleh para
bhante dan pemercikan air berkah. Menteri Agama mengatakan Sejuta Pelita
Sejuta Harapan, Doa Untuk Bangsa ini dapat memancarkan kerukunan umat
beragama serta memberikan dampak positif bagi bangsa dan negara.
(Tha)-o
|