Kompas, Rabu, 27 Juli 2005

Dari Lo-Rejo, Mengawasi Gerak Durgo
Oleh: Agnes Rita Sulistyawaty dan Maria Hartiningsih

Batara Guru bersekongkol dengan Durgo, salah satu istrinya dengan sifat keserakahan abadi, mencoba menghalangi usaha Semar membangun kayangan. Mereka takut Semar akan menurunkan status mereka sebagai dewa, penguasa kayangan. Pasukan dedemit Durgo merasuki semua ksatria Pandawa, juga anak-anak Semar. Namun, Semar dapat menghentikan semua itu.

Pertunjukan wayang kulit dengan lakon carangan Semar Mbangun Kayangan, Sabtu (23/7) malam, menutup Forum Pertemuan bertema Gerakan Sosial Baru: Indonesia yang Lain di komunitas Lo-Rejo sejak tanggal 20 Juli. Tak sulit mempersonifikasikan tokoh-tokoh dalam cerita itu; tak sulit memaknai œkayangan yang akan dibangun Semar.

Tak sulit mengontekstualisasikan cerita itu dengan situasi sekarang ketika warga negeri ini, sampai ke pelosok-pelosoknya, menanggung dampak globalisasi ekonomi, termasuk privatisasi dan swastanisasi seluruh sumber daya milik masyarakat.

Situasi itu masih ditambah dengan otonomi daerah yang lebih disemangati spirit the economic question karena pemikiran tentang pembangunan tidak berubah, seperti dipaparkan ahli reforma (bukan reformasi) agraria dari Institut Pertanian Bogor, Gunawan Wiradi, dalam satu sesi diskusi di forum tersebut.

Lo-Rejo adalah nama sebuah Komunitas Gerakan Pembaharuan Desa, mencakup tiga dusun, Jitar, Pingitan, dan Puluhan, di Desa Sumber Arum, Moyudan, Sleman, Yogyakarta, 17 kilometer ke arah barat dari Tugu, Yogyakarta. Desa ini berada dalam proses pembebasan warga eksploitasi tenaga dan pikiran sejak empat tahun terakhir ini. Warganya mengalami pencerahan politik dalam arti luas, berkaitan dengan keseharian hidup, sejak empat tahun terakhir ini.

Capaian paling riil adalah pengambilalihan tanah kas desa, yang semula lebih banyak disewakan kepada pabrik gula. Proses empat tahun membuat warga memperoleh sekitar 2,5 hektar lahan untuk pertanian. Kalau masih membutuhkan lahan, akan saya berikan lagi, ujar Kepala Desa Sumber Arum Senaja tentang tanah kas desa yang luasnya sekitar 10 hektar itu.

Tambahan lahan dua hektar itu dengan sewa Rp 400 per meter persegi membuat warga, yang sebelumnya banyak bekerja sebagai buruh, mendapat tambahan lahan untuk digarap. Seperti Legiman (50), yang mendapat tambahan lahan 1.200 meter persegi untuk pertanian kacang tanahnya. Sekali panen sudah bisa membayar sewa tanah, katanya.

Panen berikut

Dua panenan berikutnya dan program-program lain, yang dikembangkan komunitas itu terkait dengan pengolahan hasil pertanian, dapat ia gunakan untuk menata kehidupan keluarganya.

Gerak komunitas Lo-Rejo menjadi inspirasi banyak komunitas desa lain yang berpartisipasi dalam forum pertemuan itu. Mereka ingin belajar bagai mana komunitas Lo-Rejo mengubah kesulitan menjadi tantangan dan bagaimana proses pemberdayaan warga.

Seperti Mursiyo, dari Kelompok Tani Ngudi Makmur, Dusun Tobong, Sambirejo, Ngawen, Gunung Kidul, sekitar 30 kilometer ke arah selatan dari Wonosari, Gunung Kidul. Ia dan kawan-kawannya memamerkan produk kerajinan batu kapur bertekstur dari wilayahnya.

Namun, karena tak memiliki kemampuan yang cukup, produk mereka tidak dapat bersaing di pasar. Malah, katanya, orang lebih suka membeli batu mentahnya. Belum lama ini pemodal asing perseorangan dari Korea menyewa lahan penduduk untuk ditambang.

Sewanya Rp 25 juta dua tahun, ujar F Wahono dari Cindelaras, Lembaga Pemberdayaan Pedesaan dan Kajian Global. Pemilik lahan tak bisa disalahkan karena ia tidak tahu nilai lahannya dan dampak dari penambangan itu untuk lingkungannya.

Warga desa bekerja sebagai petani kecil dan buruh dengan kondisi ekonomi subsisten. Mereka tidak tahu bagaimana memperoleh uang sebesar itu tanpa menyewakan lahannya. Padahal mungkin tak sampai dua tahun tambang batu itu sudah habis, lanjutnya.

Banyak warga di pedesaan, khususnya di wilayah DI Yogyakarta, berada dalam situasi ekonomi subsisten. Seperti halnya Sumarno dari Dusun Ngliseng, Desa Muntuk, Dlingo, Bantul, yang untuk pertama kalinya memamerkan produk kerajinan bambu dan kulit dari wilayahnya. Kondisi itu membuat tingkat pendidikan tertinggi anak tak lebih dari sekolah menengah pertama.

Kesejahteraan tak mungkin dicapai kalau eksploitasi terus berjalan, baik antarmanusia maupun antara manusia dan alam. Seperti dikemukakan Mbah Marijan dari lereng Merapi, Kalau mau makmur, tanah di Sleman ini tidak boleh dibebani alat-alat berat karena tanah akan cepat sekali rusak dan menghancurkan pohon-pohon, katanya. Dengan bahasa yang sangat sederhana, Mbah Marijan mengingatkan, menghancurkan lingkungan berarti menghancurkan kehidupan.

Konsep konservasi

Sayangnya, kearifan orang desa tidak mampu ditangkap oleh birokrat kota sehingga konsep tentang konservasi, misalnya, malah datang dari birokrat kota.

Konsep zonasi yang akan diterapkan dalam Taman Nasional Gunung Merapi, seperti dikemukakan Mimin Dwi Hartono dari Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Yogyakarta, yang juga Koordinator Wana Mandhira, akan membatasi gerak warga mencari penghidupannya. Orang desa tahu bagaimana cara memperlakukan alam, tak usah diajari, ujar Mimin.

Persoalan konservasi acapkali menggeser masalah lain yang lebih substansial, seperti penggunaan sumber air Umbul Wadon di Sleman. Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Sleman, menurut Mimin, telah mengizinkan tiga perusahaan air minum kemasan untuk masuk. Tetapi, PDAM itu masih disubsidi sebesar Rp 70 juta per tahun dengan utang kepada Bank Dunia sebesar Rp 12 miliar tahun ini.

Meski ada perdebatan mengenai definisi gerakan sosial baru, pertemuan di Lo-Rejo lebih banyak membahas hal-hal konkret yang dihadapi orang desa serta isu-isu kritis yang menyertainya.

Diskusi mengenai pendidikan dalam arti luas, tanah, air, pangan otonomi rakyat mengingatkan pada pandangan Bung Hatta tentang pendidikan politik, ekonomi, dan sosial agar rakyat menyadari hak dan kedaulatannya, membuka mata rakyat terhadap kondisi keterbelakangannya dan memberi jalan terhadap kemungkinan berkembangnya perekonomian baru yang kendalinya di tangan rakyat setempat, serta agar rakyat dapat mempertinggi keselamatan penghidupan bersama.

Forum pertemuan di Lo-Rejo tampaknya hendak memperlihatkan pandangan-pandangan Bung Hatta dan Bung Karno yang telah dibumikan oleh komunitas Lo-Rejo. Sesi diskusi tentang Dewa-dewa Pencipta Kemiskinan, menyangkut praktik-praktik lembaga dana asing, korupsi, soal kolaborasi pemerintah dan perusahaan-perusahaan raksasa transnasional dan lembaga-lembaga keuangan internasional serta kerukunan umat beriman, banyak didasari oleh pandangan Bung Karno dan Bung Hatta tentang kolonialisme baru dan tentang Indonesia yang plural.

Forum Sosial Dunia di Porto Alegre, Brasil, menemukan wajahnya yang lebih membumi di Lo-Rejo, dengan konsep-konsep keadilan dan demokrasi yang digali dari negeri sendiri.

Lo-Rejo adalah nama Komunitas Gerakan Pembaharuan Desa.

 


Start your day with Yahoo! - make it your home page

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke