Belajar Agama Buddha Belajar Diri Sendiri (4/4)

 

Oleh : Lama Thubten Yeshe

Diterjemahkan oleh : Hendy Hanusin

 

Untuk menjadi seorang psikolog, tidak perlu belajar filosofi yang susah; cukup mengamati pikiran sendiri tiap hari. Kalian mengamati benda-benda materi setiap hari – makanan di dapur, contohnya – maka mengapa tidak memeriksa pikiran sendiri? Ini lebih penting. Kehidupan di Barat berlandaskan falsafah “saya selalu dapat membeli solusi untuk masalah-masalahku di supermarket”. Kalian berpikir bahwa selalu dapat pergi ke apotik dan membeli pil-pil, dan bila frustrasi emosi dapat mendapat obat dari dokter. Apakah kalian pikir pengobatan seperti itu dapat menolong? Tentu tidak. Walaupun kelihatan menolong, mereka tidak kekal. Mereka bahkan tidak menghancurkan gejala-gejala emosi yang menipu; mereka hanya membuat melempem dan lebih bodoh.

            Pandangan materialistis berpikir kenikmatan dan kebahagiaan dapat dibeli, tapi tidak demikian. Secara halus ia mengatakan bahwa kedamaian batin dapat dibeli di supermarket. Itu benar-benar salah kaprah. Orang-orang religius juga seharusnya mencoba mengerti pikiran mereka sendiri daripada sekedar “percaya-percaya pada sesuatu”. Dan lagi lebih praktis. Percaya belaka tidak dapat menyelesaikan persoalan hidup; hanya pengertian kebijaksanaan dapat melakukannya. Guru Buddha bahkan berkata bahwa berbahaya hanya percaya pada Buddha dan Beliau mendesak kita untuk mengerti cara kerja batin pikiran. Ketika kamu menemukan sesuatu dalam batin pikiran, barulah masuk akal untuk mempercayainya. Kepercayaan atau keyakinan berdasarkan realisasi atau pengertian intelektual yang jernih benar-benar sempurna dapat diterima. Tapi bila anda tidak jelas mengapa anda percaya yang dilakukan, keyakinan anda dapat dengan mudah dihancurkan orang lain. Banyak manusia-manusia yang cenderung spiritual itu lemah karena tidak mengerti sifat sejati dari semangat atau pikiran. Pengertian adalah sebuah bentuk energi mental : itu mendukung pikiran sendiri dan membuatnya tetap sehat.

            Ketika mengerti pandangan pikiran sendiri, atau cara persepsi obyek-obyek, anda menyadari bahwa selama ini yang anda genggam kuat dunia sensasi – dan khayalan masa depan yang idealis hanyalah proyeksi pikiran sendiri dan tidak memiliki kenyataan fisik yang terhalus sekalipun. – anda benar-benar tidak sadar akan saat sekarang. Kalian harus setuju bahwa inilah sebuah kondisi pikiran yang tidak sehat.

            Penting kiranya untuk mempertahankan kewaspadaan sepanjang hari. Sifat dasar kebijaksanaan dan kewaspadaan adalah kedamaian dan keriangan. Kamu tidak harus terikat pada pengalaman kesenangan atau apapun yang bisa membawa keriangan – kamu cukup bertindak tepat dengan pengertian benar. Maka hasil berupa kebahagiaan muncul spontan. Kamu tidak harus berpikir, “Bila aku menghabiskan hidupku berkelakuan seperti ini, di kehidupan setelah mati aku akan mendapat buah-buah baik.” Kalian tidak perlu terobsesi dengan mendapatkan pencerahan atau yang lain. Selama bertindak dengan bijaksana, maka kalian akan mendapat pencerahan kedamaian abadi.

           

Dari “Second Dharma Celebration”, 5- 8 November 1982, New Delhi, India.

Lama Thubten Yeshe memberikan ajaran ini di Australia, 1975. Diedit oleh Nicholas Ribush. Pertama kali dipublikasikan oleh Tushita Mahayana Meditation Centre, New Delhi, 1982. Dicetak kembali bulan Januari-Februari 1998 dalam Mandala, majalah berita FPMT.


** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke