Kompas, Jumat, 05 Agustus 2005
Ancaman Kemiskinan Global
Kemiskinan digambarkan sebagai salah satu ancaman terbesar abad ke-21. Dalam kenyataannya, kemiskinan memang kejam, bahkan lebih kejam dari perang.
Bayangkan, kini ratusan juta orang terancam mati akibat komplikasi kemiskinan. Ironinya, kemiskinan dengan segala ekspresinya, seperti kelaparan dan penyakit, merebak di tengah kemajuan modernisasi.
Bumi tempat manusia hidup terus dirusak oleh kemiskinan di samping ketimpangan sosial, konflik bersenjata, wabah penyakit, dan kehancuran ekologis.
Kenyataan itu antara lain diingatkan lagi oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hari Rabu, 3 Agustus, di Jakarta ketika membuka pertemuan tentang bahaya kemiskinan di kawasan Asia Pasifik.
Pertemuan tingkat menteri yang diikuti sekitar 41 negara itu dianggap penting karena sedikitnya 14 negara di kawasan ini, seperti Afganistan, Kamboja, Banglades, dan Timor Timur, sedang terperangkap dalam kemiskinan.
Hasil pertemuan diharapkan akan memerinci program untuk mencapai Tujuan Pembangunan Abad Milenium (Millennium Development Goals/MDG). MDG merupakan program PBB untuk mengurangi kemiskinan global hingga 50 persen sampai tahun 2015.
Ancaman kemiskinan tidak hanya membahayakan ribuan orang, tetapi ratusan juta orang di seluruh dunia saat ini. Sekitar 750 juta orang sedang terancam mati kelaparan.
Kondisi merisaukan ini akan bertambah buruk jika tidak segera diatasi. Negara-negara yang sedang terperangkap dalam kemiskinan seakan kehilangan tenaga untuk melepaskan diri. Maka sangat diperlukan kerja sama global untuk mengatasi krisis kemanusiaan itu.
Hasil survei pimpinan ekonomi terkenal Jeffrey D Sachs menyebutkan, kemiskinan global dapat dikurangi secara drastis jika negara-negara industri menggandakan bantuannya kepada negara-negara miskin.
Namun telah timbul skeptisisme karena negara-negara maju terkesan kurang tergugah menambah bantuan. Lebih memprihatinkan lagi, bantuan yang sudah terbatas itu sering dikorupsi oleh para pejabat negara penerima.
Kekayaan hasil korupsi itu menciptakan ketimpangan sosial ekonomi di negara-negara berkembang. Kesenjangan tidak lagi hanya antara negara kaya dan negara miskin, tetapi juga antara golongan kaya dan miskin di setiap negara berkembang.
Upaya pemberantasan kemiskinan terasa semakin sulit jika praktik korupsi tetap dibiarkan merajalela, dan masih belum terbentuk pemerintahan baik dan bersih, good and clean governance.
Yahoo! Mail
Stay connected, organized, and protected. Take the tour
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
| Religion and spirituality | Spirituality |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
