Kompas, Jumat, 05 Agustus 2005

 

Kenapa Manusia Tidak Berjalan Mundur?
Kita Tidak Bisa Membeli Waktu

Djewa seorang anak pemalu yang tinggal di sebuah perkampungan padat di Cipinang, Jakarta Timur. Djewa jarang keluar rumah, kecuali untuk pergi ke sekolah. Djewa akan berdiri lama di depan pintu rumahnya setiap hujan turun.

Hujan membuat halaman rumahnya mulai basah. Lalu perlahan-lahan, tetapi pasti dan tak tercegahkan lagi, air akan menggenangi halaman rumahnya. Djewa baru beranjak pergi meninggalkan rumah manakala air hujan mulai masuk melalui pintu rumahnya. Dan itulah banjir. Banjir yang akan mengubah semuanya.

Tahun ini Djewa baru saja tamat SD. Dia harus melanjutkan sekolah ke tingkatan yang lebih tinggi: ke SMP. Djewa tak bisa membayangkan bagaimana dirinya nanti kalau saja dia mulai duduk sebagai murid SMP. Untuk Djewa, bayangan itu terasa lebih banyak sisi menakutkannya daripada sisi harapannya yang kian dekat mencapai tingkat pendidikan yang lebih tinggi.

Bapaknya hanya sopir bajaj, yang setahun lalu pindah dari Kampung Rawa di Jakarta Barat, karena kampungnya kebakaran dan rumahnya ikut terbakar. Pergi ke sekolah tak hanya soal memakai seragam, membawa buku, dan berbagai ongkos pendidikan lainnya yang mahal, tapi juga pergi bertemu dengan dunia luar, dunia teman-temannya. Di sekolah, dia akan banyak mendengar cerita kehidupan keluarga teman-temannya.

Saat kembali ke rumah, saat bertemu orangtuanya, dia merasa betapa bapaknya harus memeras tenaga, memasuki hutan polusi di jalan raya hanya untuk menghidupi anaknya. Anaknya yang masa depannya sangat tak terbayangkan.

Itulah antara lain kenangan masa kanak-kanaknya yang terus melekat. Kini usia Djewa menjelang 26 tahun. Djewa memang tak sempat merasakan bagaimana kehidupan di SMP, karena bapaknya memang tidak mampu membiayai kelanjutan sekolahnya. Di usia yang ke 26 tahun, dia masih membaca banyak orangtua di Indonesia yang sangat bingung. Ya, begitu sangat bingung, saat tahun ajaran baru tiba. Sejumlah uang harus disiapkan. Mereka melakukan apa saja yang bisa dilakukan agar anaknya bisa tetap sekolah, termasuk mereka yang masuk dalam perangkap rentenir.

Rasanya tidak ada perubahan yang sungguh-sungguh berarti. Perubahan fisik berlangsung di mana-mana, yang membuat waktu seakan berlari seperti seekor kuda mabuk. Djewa tak mengerti bagaimana sebenarnya orang-orang pintar yang ikut merancang negeri ini mengukur perubahan dan kemajuan. Djewa sungguh tak punya bayangan untuk bisa mendekati pertanyaan yang menghantui pikirannya: apakah sekolah sungguh-sungguh rangkaian anak tangga untuk bisa membayangkan masa depan yang akan kita capai, atau hanya sebuah perangkap kosong.

Kini Djewa hidup sebagai pedagang bakmi, hidup dengan seorang istri dan seorang anak. Dunianya ikut terbentuk berdasarkan kemampuan ekonominya. Ekonomilah yang membentuk semuanya.

Djewa tak heran kalau dia tidak mungkin bisa memasuki dunia yang biasa didatangi oleh orang-orang yang kehidupan ekonominya jauh di atasnya. Djewa tak tahu kenapa manusia membiarkan hidupnya dirumuskan oleh kekuatan ekonomi dan membiarkan kekuatan ekonomi itu sebagai penjara sejarah.

Kembali ke belakang

Setiap Djewa menyaksikan perkembangan anaknya, dari mulai bisa tengkurap, duduk, berjalan, dan mulai mengucapkan satu dua patah kata, setiap itu pula Djewa seperti kembali membaca dirinya sendiri. Dan Djewa makin yakin bahwa usianya, sekian banyak pengalaman yang telah dijalaninya, bukanlah sebuah penjelasan bahwa waktu memang terus bergerak. Mungkin kelahiran anaknya bukan berarti dirinya kini telah menjadi seorang bapak, tetapi malah bisa sebaliknya: kelahiran anaknya sama dengan waktu yang membawa kembali berjalan mundur ke belakang, ke masa kanak-kanaknya kembali.

Djewa ingin sungguh-sungguh menyadari sebuah transportasi yang berjalan mundur ke masa lalu ini, sebagai transportasi yang padat. Transportasi yang tidak hanya membawa seluruh masa kininya ke masa lalu, tetapi juga membuat masa kininya harus membawa kembali masa lalunya untuk mengerti hubungan yang tak terhitung antara manusia dengan waktu.

Djewa sadar manusia tidak bisa membeli dan memiliki waktu. Lalu Djewa sampai kepada pembatasan bahwa waktu tidak memiliki identitas bergerak maju atau bergerak mundur. Pikiran ini membuat manusia kehilangan klaimnya terhadap masa depan maupun terhadap masa lalu. Waktu adalah daerah yang paling sensitif untuk bisa mengerti diri kita sendiri. Waktu adalah bagaimana kita bisa mendengar semua suara bisikan yang hidup dalam suara hati kita.

Apa yang mereka sebut kemajuan hanyalah dunia teknis, bukan substansial. Walaupun dunia teknis memiliki konsekuensi yang tidak sederhana. Tapi dunia teknis sama seperti bayangan yang berkhianat ketika cahaya matahari siang mulai berganti cahaya dari lampu listrik di malam hari. Lalu dunia teknis seperti telah dikutuk sebagai dunia yang akan selalu tak pernah bersinggungan dengan dunia substansial. Lalu dunia teknis pun seperti yakin bisa menggantikan dunia yang substansial dengan cara menguasai seluruh dimensi ekonomi.

Dunia substansial lebih sebagai pesona waktu yang datang bersama malam, bersama siang, bersama kelahiran dan kematian, bersama cinta dan kasih.

Malam hari, setelah usai menutup gerobak bakminya, Djewa akan tidur memeluk anaknya, membiarkan tubuhnya seperti saling bercerita antara tubuhnya dengan tubuh anaknya. Membiarkan tubuhnya merasakan genangan air hangat yang keluar dari tubuh anaknya yang biasa ngompol dalam tidurnya.

Pagi hari, tetangganya bingung melihat Djewa berjalan dengan langkah mundur. Dia bergerak ke depan meninggalkan rumahnya untuk kembali berdagang bakmi, tetapi dengan langkah mundur. Berjalan mundur membuat dirinya seperti tidak lagi hidup sebagai manusia terkutuk yang selalu harus mengalami hidup untuk meninggalkan atau ditinggalkan.

Dengan berjalan mundur, tak ada dunia yang hilang. Ruang semakin besar dalam perspektifnya. Berjalan mundur juga tidak membuat dirinya sebagai manusia yang berjalan pergi. Melainkan sebagai manusia yang melihat dan membiatkan waktu dengan ruang saling berbagi kasih sayang dalam perspektif.

”Hei, Presiden Republik Indonesia. Kenapa tak kau hentikan saja pembangunan? Kenapa tak kau hentikan saja utang nasional? Kenapa tak kau hentikan saja gaya hidup dengan biaya tinggi? Kenapa kau juga harus mengeluarkan Perpres Nomor 36 segala, apa tanah rakyat belum cukup dirusak atas nama negara maupun kepentingan umum? Lalu mari kita mulai hidup hasil keringat kita sendiri?” pikir Djewa sambil heran apa dia sungguh-sungguh merasa memiliki seorang presiden yang direlakannya untuk memerintah.

Aih...! Djewa sempat takjub membaca berita di koran, tentang Bupati Temanggung yang meninggalkan rumah sakit karena mahal.

Afrizal Malna Penyair, Kini Menetap di Solo

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke