Kompas, Selasa, 09 Agustus 2005

Pesakitan dari Asia

Tak perlu meladeni upaya segelintir anggota Kongres Amerika Serikat yang tergabung di dalam Kaukus Kulit Hitam di Kongres AS yang menggugat kesahihan penentuan pendapat rakyat di Irian Barat tahun 1969. Saya mengurut dada ketika berbagai pihak mengungkapkan kekecewaan yang reaktif terhadap ulah Kaukus Kulit Hitam itu.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, misalnya, mengucapkan pernyataan kecewa di China. Sebagai tamu, kurang elok mengomentari soal-soal di luar hubungan bilateral Indonesia- China.

Kita bertamu ke rumah tetangga di sebelah kiri bukan untuk ngerasani tetangga lain yang tinggalnya jauh di ujung jalan. Dua-duanya sahabat yang ingin rumah kita tidak menjadi korban penggusuran meskipun kita sendiri sebagai penghuni rumah dengan gampang menjual kedaulatan.

Proses legislasi seperti yang diupayakan Kaukus Kulit Hitam itu bukan hal yang perlu ditakutkan. Saya lebih takut kepada jaringan hitam terorisme di sini daripada Kaukus Kulit Hitam di sana.

Legislasi itu perlu persetujuan kedua majelis tinggi dan rendah di Kongres. Kalaupun disetujui, toh masih ada Presiden George Bush yang mempunyai hak veto untuk menolak menjalankan legislasi tersebut.

Para anggota DPR kita yang sering studi banding ke mancanegara mbok ya menjelaskan prosedur di Kongres AS itu kepada presiden dukungan mereka. Ini soal yang sama mudahnya dengan membelanjakan uang untuk membeli koper merek Gucci di Amsterdam, Belanda.

Komisi I DPR kedatangan tamu delegasi Uni Eropa belum lama ini. Mereka bukan cuma membicarakan pelaksanaan kesepakatan Helsinki antara Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), tetapi juga melayangkan pertanyaan tentang sejauh mana proses penyidikan pembunuhan Munir.

Masih untung mereka tidak bertanya mengapa kita gemar menyeruput sayur lodeh? Atau mengapa rakyat kita masih kekurangan jamban?

Itu gambaran yang ekstrem tentang pekerjaan legislatif Barat yang dipilih dan digaji rakyat masing-masing untuk menggugat, misalnya, praktik hak asasi manusia (HAM) dan demokratisasi di sini. Jangan membandingkan kerja keras mereka dengan anggota legislatif di sini.

Beberapa tahun lalu pernah ada prakarsa bagus yang dilakukan para diplomat kita, termasuk Pak Sulaiman Abdulmanan. Dicarilah cara bagaimana kita juga berani mempertanyakan nasib kaum Aborigin yang mengalami diskriminasi di Australia.

Mbok ya sekali-sekali menunjukkan gengsi bahwa kita bukanlah makanan empuk yang setiap kali enak disantap. Tradisi kita sebagai negara berkekuatan menengah (middle power) sedari dulu dikenal mempunyai pamor yang mantap.

Alkisah, Menteri Luar Negeri (Menlu) Haji Agus Salim di setiap resepsi internasional senang merokok kretek yang bau asapnya menusuk hidung. Kalau ada orang asing yang terganggu, ia akan berseloroh, justru gara-gara cengkeh yang berbau tak sedap itulah Belanda jauh-jauh datang ke Indonesia untuk menjajah.

Jangan main-main, Menlu Ali Sastroamidjojo yang sangat sohor sebagai penggerak utama Konferensi Asia-Afrika 1955 pernah dicalonkan menjadi Presiden Dewan Keamanan PBB tahun 1961. Layak juga dicatat, Menlu Adam Malik malah pernah menduduki jabatan bergengsi tersebut.

Menlu Soebandrio dikenal sebagai diplomat ulung yang mau bekerja keras sekalipun gajinya rendah. Kalau sudah tinggal mengenakan kaus kutang, semua anak buahnya segera paham tiba waktunya untuk begadang dan bekerja tanpa kenal lelah.

Setiap kali mengayunkan langkah, Menlu Ali Alatas menyimbolkan pula wibawa negara besar Indonesia kita. Saya pernah mendengarkan ”kuliah” Menlu Alatas di hadapan sidang menlu ASEAN yang isinya mengasyikkan, membanggakan, dan membuat Menlu AS Madeleine Albright diam seribu bahasa. Menlu Hassan Wirajuda menghadapi berbagai restriksi domestik yang sangat tidak mudah. Ia mendapat warisan sebuah Indonesia yang sudah tidak lagi berwibawa, bahkan sering menjadi bahan tertawaan di mana-mana.

Para diplomat Departemen Luar Negeri (Deplu) dewasa ini ibaratnya terpaksa harus menjual barang bermerek Indonesia yang kualitasnya cuma layak dijual di warung kelontong. Padahal, dulu merek dagang kita habis terjual di butik eksklusif kelas dunia.

Sekelumit cerita tentang kehebatan menlu-menlu dan Deplu tidak ada manfaatnya karena betapa pun mereka hanyalah pembantu sang kepala negara. Deplu boleh tak setuju dengan kesepakatan Helsinki, tetapi tetap patuh kepada keputusan pemerintah.

Sayangnya, ada beberapa kepala negara yang menganggap politik luar negeri sama dengan pergi-pergi ke luar negeri. Maka, politik luar negeri kita diam- diam berubah menjadi ”bebas dan aktif berkunjung ke luar negeri”.

Padahal, politik luar negeri merupakan cerminan dari kondisi di dalam negeri. Kalau miskin, janganlah membusungkan dada ke mana-mana. Jika uang tak ada, janganlah ngutang ke mana-mana.

Pekerjaan paling sulit saat ini adalah meyakinkan dunia tentang siapakah kita sebenarnya. Kita dianggap tidak becus menyelenggarakan pemilihan kepala daerah, tak mampu mempertahankan kedaulatan sendiri, menjadi salah satu sarang teroris, dan krisis tak habis-habisnya.

Kita sakit hati karena jadi cemoohan negara-negara tetangga. Anak-anak kita sering sakit karena terlalu banyak wabah.

Saudara-saudara kita ada yang sakit hati karena menolak keberagaman kita sebagai bangsa. Istri salah seorang menteri kita pun bisa sakit hati karena wartawan sang pewawancara suaminya nekat menduduki kursinya.

Jangan-jangan kita memang sudah pantas menyandang gelar The Sick Man of Asia alias Pesakitan dari Asia.

(e-mail: [EMAIL PROTECTED])


Start your day with Yahoo! - make it your home page

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke