Selasa, 09 Agustus 2005
Toleransi Agamawan Sejati
Kristan, Ketua Generasi Muda Khonghucu/Direktur Eksekutif Confucius Center, Jakarta
MEMBINA diri adalah merupakan proyek pengembangan harkat kemanusiaan kita, dimulai dari diri sendiri, lalu keluarga, meningkat pada tingkat kerabat, lalu masyarakat, kemudian menuju kepada tingkat negara dan akhirnya seluruh dunia.
Membina diri merupakan ibadah yang paling utama dan merupakan suatu tema yang sentral. Karena manusia adalah makhluk sosial, tidak ada manusia yang hidup untuk dirinya sendiri saja. Setiap individu memiliki tanggung jawab sosial dimulai dari keluarganya, kerabatnya, lalu kaumnya kemudian sesama bangsa dan akhirnya kepada seluruh dunia. Kasih sayang tidak dapat dilakukan secara merata (indiscriminate love). Kasih sayang harus dilakukan secara arif (prudent love) karena cara inilah yang lebih relevan dalam penerapannya.
Seorang manusia yang sejati (virtous gentlemen) akan selalu merasa peduli terhadap nasib bangsa dan negaranya. Karena hidup beragama bukan hanya masalah kerohanian semata atau lebih sempit pada seputar ibadah saja, melainkan mencakup ajaran sosial, teologi, filsafat, dan sebagainya. Sesuatu yang sangat luas rupanya yang semuanya tersebut ternyata harus diaplikasikan untuk dunia kita
Dalam memahami suatu ajaran kita seyogianya tidak perlu mengklaim sebagai pihak yang paling benar atau bahkan merasa sebagai satu-satunya jalan yang paling benar. Kita sepatutnya merasa senang apabila jalan yang ditapaki pihak lain pun sama benarnya dengan kita. Bukankah semakin banyak pihak yang menemukan jalan yang benar kita akan menjadi semakin bergembira. Karena kita ingin agar semua manusia selamat bahkan tidak ada yang tersisa walaupun hanya satu orang saja.
Pada zaman dahulu semula kajian dan pengajaran tentang suatu agama atau ajaran biasanya hanya dilakukan para rohaniwan. Tujuan pengajaran tersebut terutama untuk menanamkan keyakinan pada orang lain akan kebenaran ajarannya. Pendekatan semacam ini mungkin sangatlah bersifat apologetic (uraian sistematika untuk mempertahankan suatu ajaran).
Terkadang para rohaniwan tersebut sering kali terjebak pada upaya meyakinkan orang lain bahwa ajarannya sajalah yang paling benar dan sempurna sedangkan ajaran lain keliru, tidak lengkap atau ada saja cacat celanya. Tentu saja pandangan seperti ini bagi rohaniwan yang sejati sangatlah tidak menarik. Karena umat tidak diajarkan untuk berpikir secara kritis dan menemukan suatu kebenaran secara jujur dan terbuka. Dunia kita ini senantiasa selalu berubah maka dari itu tidaklah mengherankan jika suatu ajaran atau pemahaman terhadap sesuatu mungkin juga perlu berubah karena zaman memang selalu berganti.
Kajian agama secara akademis menghendaki kita untuk berpikir kritis dan analitis, kita harus bisa menarik jarak agar dapat berpikir secara objektif. Logika berputar (circular logig) sebagaimana digunakan sebagian rohaniwan dalam mempertahankan suatu ajaran yang mungkin sudah usang kemungkinan besar sangatlah tidak mendidik.
Umumnya rohaniwan yang demikian sangatlah anti kritik, minatnya hanyalah bagaimana menduplikasi orang lain dengan keyakinan dan prilaku yang sama dengan dirinya, mereka berharap agar orang lain berpikir dan berprilaku sebagaimana ia berprilaku.
Tujuannya adalah tidak lebih dari sebuah reproduksi, sikapnya sangat tidak menyukai pluralisme dan tidak toleran sehingga penuh syak wasangka. Toleransi yang hanya didasarkan pada kesediaan menenggang pada kehadiran pihak lain adalah toleransi yang semu belaka, karena toleransi yang sejati adalah toleransi yang mencakup kesediaan untuk mengakui validitas pihak lain, setidaknya ada elemen kebenaran dari pihak lain.
Seorang rohaniwan yang sejati haruslah dengan bebas menerima kebenaran yang terdapat di dalam pihak lain dan juga mungkin menolak susut pandang yang keliru yang ada di dalam ajaran yang dihayati dirinya setidaknya sebagai diri pribadi .
Hakikat dari agama adalah merupakan suatu kritik (kritik diambil dari bahasa Prancis yaitu criticsm yang berarti mengungkapkan kebenaran). Para nabi dan rasul datang dengan membawa suatu konsep masyarakat yang ideal. Akan tetapi, tentu saja ada kesenjangan antara kondisi yang aktual dan ideal, baik pada tingkat sosial maupun individual.
Fungsi dari agama adalah memperkecil kesenjangan tersebut. Agar kondisi pribadi maupun sosial mendekati model ideal yang dimaksud di dalam ajaran agama. Seorang agamawan harus terus mengungkapkan kritik yakni menjelaskan kebenaran, karena kritik adalah pengungkapan kebenaran bukan merupakan pengungkapan suatu kesalahan.
Terbongkarnya suatu kekeliruan akibat dari sampingan sama sekali bukan tujuan, karena tujuan seorang agamawan adalah melakukan perbaikan yang nyata. Jika ia berhenti melakukan hal-hal tersebut maka mungkin ia sudah meninggalkan misi keberagamaannya.
Confucius mengatakan bahwa manusialah yang harus mengembangkan agama, bukan sebaliknya. Maksudnya manusia diberi tanggung jawab untuk turut merumuskan panduan menuju ketertiban pribadi dan masyarakat. Karena Tuhan telah memberikan kebenaran yang tertanam dalam fitrah manusia, aktualisasinya menjadi tugas kita sebagai manusia.
Setiap orang mendapatkan kodrat kebaikan yang menjadi mandat pribadi dari Tuhan. Oleh karena zaman terus berkembang maka cara manusia dalam merespons perkembangan dunia pun harus disesuaikan dari waktu ke waktu, dengan kata lain bahwa setiap individu dipanggil untuk menjadi manusia yang berhati nurani dan bertindak akali. Maka dengan begitu agama dipandang menjadi faktor yang dinamis/homeostasis, bukan statis.
Sayang sekali para tokoh agama kadang kala cenderung lebih melihat organisasinya sebagai kelompok sosial semata bukan memandangnya sebagi kelompok manusia yang beriman.
Mereka melihat umat dari agama lain sebagai objek buruan, yang biasanya diusahakan untuk menyeberang ke dalam kelompoknya. Umat lain dipikat, dibujuk, diberi insentif, bahkan kalau perlu dipaksa untuk beralih agama. Mereka berlomba-lomba mununjukkan umatnya lebih megah, hebat, dan sempurna, jadi kalau diperhatikan hal ini lebih mirip pendekatan-pendekatan yang dilakukan partai politik, yakni kegiatan dan misi penyebaran agama menjadi suatu bentuk kampanye.
Hal ini membuat kelompok yang ditinggalkan merasa dikhianati sedangkan kelompok yang dimasuki merasa telah mencapai kemenangan. Jika semua kelompok berpikiran demikian maka pantaslah bentrokan dan benturan tidak akan pernah ada putus-putusnya. Agama adalah persoalan dirimu pribadi dengan Tuhan jadi bukanlah merupakan persoalan sosial apalagi politik. Dalam beragama yang terutama adalah berada dalam ranah kalbu bukan akali.
Maka dari itu seorang agamawan yang sejati akan mengetahui secara persis tentang apa yang diyakininya (know what you believe) dan menyadari serta memahami dengan sepenuhnya mengapa ia mempercayai sesuatu (why you believe), dengan begitu barulah ia dapat menjadi individu yang matang dan independent yang dapat berinteraksi secara arif dan cerdas, karena ia telah memiliki iman yang dapat dipertanggungjawabkan.***
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
| Religion and spirituality | Spirituality |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
