Kompas, Minggu, 07 Agustus 2005

Musuh Kemiskinan Itu adalah Nurani

Oleh: Simon Saragih

Kemiskinan tergambar di setiap sudut kehidupan kita di Indonesia. Di jalanan dan saat mendengar lagu pun kita dihadapkan pada potret kemiskinan. Jadi, kemiskinan sudah menjadi hal biasa dan tidak baru lagi dan tidak pula terlalu mengagetkan. Masih adakah nurani yang mau menggerakkan kita untuk mengatasinya?

Jawabnya belum! Setidaknya belum mengental. Namun, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Kofi Annan tidak henti-hentinya mengampanyekan program pemberantasan kemiskinan. Maklum, berdasarkan data PBB, dari enam miliar jiwa penduduk dunia, ada 1,2 miliar yang hidup di bawah garis kemiskinan (hidup dengan biaya kurang dari Rp 9.000 per hari atau 1 dollar AS). Jika indikator kemiskinan adalah yang hidup di bawah biaya Rp 18.000 per hari (2 dollar AS), maka jumlah kaum papa mencapai 2 miliar orang.

Mengapa ada yang miskin? Ada yang ditakdirkan hidup miskin karena memiliki talenta pas- pasan. Ada warga yang tidak mendapatkan akses terhadap pembangunan. Bencana alam yang dahsyat dan kekeringan yang menggagalkan panenan juga termasuk faktor penyebabnya. Tidak sedikit pula yang menjadi miskin karena kebijakan nasional dan internasional.

Melihat kenyataan itu, muncullah protes dari para aktivis untuk menggugah nurani para pemimpin dunia untuk memikirkan kemiskinan itu. Kampanye seperti itu sudah dimulai sejak tahun 1995 dan akhirnya pada tahun 1999 PBB mencanangkan ”Tujuan Pembangunan Abad Milenium (Millennium Development Goals/MDGs)”. Sebanyak 191 negara anggota PBB sepakat mengurangi kemiskinan hingga setengah pada tahun 2015.

Secara umum, ada delapan poin tujuan pembangunan Abad Milenium yang dirinci lagi ke dalam 18 target-target. Sukses tidaknya pencapaian delapan poin MDGs itu diukur berdasarkan 48 indikator. Isinya aneka macam, mulai dari persentase penduduk yang memiliki akses terhadap obat-obatan hingga penggunaan telepon per kapita.

Kini sudah tahun 2005. Ternyata beberapa negara masih keteteran untuk mencapai MDGs. Wakil Presiden Bank Pembangunan Asia (ADB) GHPB van Der Linden mengatakan, kenyataannya setiap hari ratusan wanita Asia Pasifik menghadapi ancaman nyawa. Ribuan anak meninggal karena kelaparan dan penyakit. Ratusan juta warga miskin berjuang untuk lepas dari daerah-daerah kumuh dan desa tertinggal. Problem seperti itu malah lebih memburuk di Asia Pasifik ketimbang di Afrika.

Hal tersebut kontras dengan tingkat kemakmuran global yang justru meningkat. Asisten Sekjen PBB untuk Pembangunan Ekonomi Jomo Kwame Sundaram juga mengatakan, angka kemakmuran global meningkat, tetapi potret kemiskinan semakin buram. ”Jutaan warga semakin miskin saja,” demikian Sundaram. Menurut Sundaram, distribusi kemakmuran dunia semakin tidak merata.

Mentok

Mengapa demikian? Dibutuhkan 50 miliar dollar AS per tahun untuk membiayai MDGs. Sejauh ini dana yang tersedia baru 25 miliar dollar AS per tahun. Untuk menggalang dana tersebut, Presiden Perancis Jacques Chirac tahun lalu di PBB bersama Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva mengusulkan agar setiap transaksi keuangan internasional dikenai fee yang hasilnya dialokasikan ke PBB untuk mencapai MDGs. Ide ini ditolak mentah-mentah oleh Presiden Amerika Serikat George Walker Bush dan akhirnya tenggelam dan tak terdengar.

Pola lain yang diusulkan untuk pendanaan MDGs adalah penyisihan dana sebesar 0,7 persen dari produk domestik bruto (PDB) negara-negara maju. Setidaknya komitmen ini sudah dicanangkan kembali oleh Uni Eropa. Sejauh ini yang tersisihkan baru 0,3 persen dan belum semua negara melakukannya. Yang dijanjikan baru pengurangan utang sebesar 41 miliar dollar AS bagi 27 negara termiskin di dunia. Namun, hal itu belum direalisasikan juga.

Belum jelas apakah akan ada persyaratan yang dikenakan atau tidak untuk pengurangan utang itu. Direktur International Trade and Commodities (UNCTAD) Lakshmi Puri mengingatkan, sebaiknya pemberian keringanan itu tidak disertai persyaratan berat dari negara maju. Masalahnya, untuk program kemiskinan tersebut perlu ruang kebijakan yang luwes.

Sering bantuan dikaitkan dengan keharusan negara si penerima membuka pasar, atau meminta imbalan lain di negara yang dibantu.

Ada pola lain yang diupayakan, juga dalam rangka pencapaian MDGs, seperti penciptaan sistem perdagangan bebas yang baru. Sistem itu dirancang dalam putaran pembicaraan yang disebut Doha Development Agenda. Pada tahun 2001 negara maju mencanangkan sistem perdagangan internasional yang berpihak pada negara berkembang.

Pada Desember 2005 mendatang, di Hongkong, putaran Doha akan disimpulkan. Ada sedikit kemajuan, dalam konteks keberpihakan pada negara berkembang, berupa pembukaan akses. Namun, negara berkembang jangan berpuas diri karena masih ada keengganan AS untuk menghapus hambatan itu.

Padahal, jika hambatan itu dihapus, akan banyak komoditas pertanian negara berkembang yang bisa dijual di negara maju. Itu artinya, banyak penghasil di negara berkembang, terutama wanita, akan kecipratan rezeki. Namun, belum ada optimisme soal itu.

Pertumbuhan 7 persen

Asisten Sekjen PBB Dr Hafiz A Pasha mengatakan bahwa pencapaian MDGs bisa dicapai lewat pertumbuhan ekonomi 7 persen per tahun di semua negara. Dengan adanya pertumbuhan ekonomi, kesempatan meningkatkan penerimaan juga besar, yang selanjutnya berdampak pada pengurangan kemiskinan. Pertumbuhan ekonomi berdampak positif pada penyerapan tenaga kerja.

Studi ADB memperlihatkan, setiap kenaikan 1 persen pendapatan rumah tangga di Asia akan bisa mengurangi 2 persen kemiskinan. Hal itu terbukti di China, India, Vietnam, dan lainnya.

Akan tetapi, sebagaimana diketahui, mustahil bagi setiap negara mencapai pertumbuhan ekonomi 7 persen per tahun. Rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia juga paling tinggi 4 persen per tahun. Ada pertumbuhan tinggi yang dicapai beberapa negara, terutama China, tetapi tidak banyak yang bisa meniru China.

Lagi, untuk mencapai pertumbuhan seperti itu harus ada pembangunan proyek infrastruktur yang membutuhkan sekitar 250 miliar dollar AS per tahun di Asia Timur saja. Dana yang tersedia baru 50 miliar dollar AS.

Pertemuan Asia Pasifik

>subinter<Oleh karena itu, kuat dugaan MDGs tidak akan tercapai, setidaknya oleh sepertiga dari negara-negara yang ada di Asia Pasifik. Derita dan jeritan jutaan umat manusia masih tidak akan terhentikan.

Asia Pasifik bertemu sejak tanggal 3-5 Agustus di Jakarta. Pertemuan itu jadi ajang berbagi pengalaman soal program pemberantasan kemiskinan. Lewat forum itu, Asia Pasifik sepakat menunjuk Indonesia akan menyampaikan pendapat pada pertemuan di PBB, September mendatang.

Pada kesempatan itu, Asia Pasifik akan menyampaikan ”protes” karena anggota G-8 (Inggris, Perancis, Jerman, Italia, Rusia, AS, Kanada, dan Jepang) memprioritaskan penghapusan utang Benua Afrika. Padahal, dua per tiga penduduk termiskin ada di Asia Pasifik.

Asia Pasifik punya hak bersuara. Sistem perdagangan dunia dan sistem multilateral lainnya termasuk menjadi penyebab jatuhnya warga di negara berkembang ke lembah kemiskinan. Secara moral, Asia Pasifik berhak menyampaikan protes itu.

Namun, tugas utama pencapaian MDGs tetap berpulang pada Asia Pasifik sendiri. Korupsi adalah isu terbesar yang menggerogoti sumber daya keuangan pemerintah, termasuk di negara berkembang, apalagi di Indonesia. Walau tidak bisa mencapai MDGs secara sempurna, pencapaian sebagian MDGs juga sudah lumayan. Namun, adakah hal itu sudah menjadi komitmen Asia Pasifik? Di dalam 42 butir ”Deklarasi Jakarta tentang MDGs Asia Pasifik”, komitmen tertulis Asia Pasifik cukup mencengangkan.

Apakah butir-butir itu hanya akan menjadi aksesori di atas kertas putih? Ah, jangan lupa, musuh utama kemiskinan itu adalah nurani manusia itu sendiri. Perdana Menteri Inggris Tony Blair mengatakan, jeritan warga kaum miskin adalah catatan hitam bagi nurani dunia.

Jangan lupa pada kalimat-kalimat yang diucapkan Kofi Annan, ”Kemiskinan merupakan ancaman bagi Abad ke-21, yang daya rusaknya tidak kalah dahsyat dari sebuah perang.”

Masihkah kita tetap menutup mata hati kita pada kaum papa?

 

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke