PEMUDA GEMBALA & GADIS PEMINTAL
Buat siapa saja yg be-te pada masalah politis dan polemik rasialis bertele-tele, simak aja dongeng "Pemuda Penggembala dan Gadis Pemintal" ini. Percaya ga percaya ternyata similar, begitu mirip dengan legenda Jawa, "Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari". Dongeng ini turun-temurun diceritakan pada anak-anak setiap Cit Gwee XCit Sek, tanggal 7 bulan 7 Imlek, menurut kalender Masehi internasional sekarang akan jatuh pada hari Kamis, 11 Agustus 2005 mendatang. Alkisah, ribuan tahun lalu, hiduplah seorang pemuda penggembala kerbau.
Setiap hari ia mengangon kawanan kerbaunya ke bukit padang rumput di tepi hutan.
Sembari mengawasi mereka, ia pun meniup seruling bambunya. Sampai suatu siang
melihat selarik sinar mencorong terang jatuh dari langit masuk ke hutan. Penuh
perasaan ingin tahu, ia pun menyusup ke sana.
Di tengah hutan ada mata air mengalir membentuk air
terjun ke kolam jernih berlanjut ke sungai. Dari balik pepohonan
lebat si pemuda takjub melihat pemandangan luar biasa. Seorang gadis ayu tengah
berkecimpung ria. Dialah si Gadis Pemintal, bungsu dari sembilan puteri Raja
Langit. Disebut demikian karena tugasnya memintal benang-benang sutera mega.
Rupanya jenuh oleh kerjanya ia pun melayang turun ke bumi.
Terpesona pada kecantikannya, diam-diam si Pemuda menyembunyikan selendang si Gadis Pemintal. Akibatnya setelah puas berkecimpung dia tak bisa terbang pulang ke Langit. Saking sedih Gadis Pemintal menangis. Muncullah pemuda kita untuk menghiburnya. Gadis Pemintal diboyong ke rumah si pemuda dan selanjutnya mereka hidup
bagaikan suami-istri. Sampai suatu saat si istri menemukan selendangnya dan
terkenang pada ayahanda serta tugasnya di langit. Mau tak mau ia mesti pulang.
Tak urung sempat berpesan pada suaminya, "Setahun sekali setiap tanggal 7 bulan,
kau boleh menemuiku selama semalam ...,"
Sang suami tak mau mengerti dan memaksa terus mengikutinya. Maka sang istri
mencabut tusuk konde kumalanya dan membuat garis maya, ajaib, seketika tercipta
sebuah Sungai Perak yang memisahkan mereka!
Baru pada tanggal 7 bulan 7 tahun berikutnya, si Suami dibantu ratu segala
burung yakni burung Hong (Phoenix, bacanya Finiks) yang mengerahkan semua burung
membentuk jembatan melintasi Sungai Perak, hingga ia bisa meniti dan tiba di
seberang bertemu kembali dengan istrinya.
Konon bila malam itu turun hujan rintik-rintik itulah simbolik air mata
sepasang kekasih yang baru bertemu kembali
...
Begitu dongengnya,
Yawi.
Happy Chinese Valentine !!! .: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :. .: Kunjungi website global : http://www.budaya-tionghoa.org :. .: Untuk bergabung : http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :. .: Jaringan pertemanan Friendster : [EMAIL PROTECTED] :. ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya ** ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh ** ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian ** ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami ** YAHOO! GROUPS LINKS
|
