Kompas, Minggu, 14 Agustus 2005

Jalan Berliku Mengakhiri Kemiskinan

Oleh Arya B Gaduh

Kemiskinan negara berkembang menciptakan teka-teki. Seiring dengan terbebasnya banyak negara dari penjajahan, muncul harapan negara-negara miskin ini akan mengejar ketertinggalannya untuk makmur seperti negara maju. Para pakar pembangunan pun mencari ”obat mujarab” untuk mengangkat negara-negara ini dari kemiskinan. Setengah abad kemudian, pencarian belumlah usai.

Saat ini yang masih menjadi teka-teki, mengapa sebagian negara miskin tak kunjung mengejar ketertinggalannya? Mengapa, misalnya, kemiskinan turun drastis di Asia Timur, tetapi tidak di sub-Sahara Afrika? Sepasang buku—satu optimistis, sementara yang lainnya hati-hati— mencoba menjawabnya. Secara bersama, keduanya menggambarkan wacana mutakhir tentang pemberantasan kemiskinan.

The End of Poverty, buku yang optimistis. Jeffrey Sachs, ekonom makro sekaligus aktivis pengampunan utang negara miskin, ingin meyakinkan dunia bahwa kemiskinan dapat diakhiri segera. ”The wealth of the rich world, the power of today’s vast storehouses of knowledge, and the declining fraction of the world that needs help to escape from poverty all make the end of poverty a realistic possibility by the year 2025” (hal 3).

Sachs bukan pemimpi. Targetnya bukan memberantas segala bentuk kemiskinan, melainkan kemiskinan absolut (extreme poverty). Kemiskinan absolut adalah ketika sebuah rumah tangga tak mampu memenuhi kebutuhannya bertahan hidup.

Kemiskinan absolut menyebabkan bencana kelaparan serta pelbagai jenis penderitaan dan penyakit yang di dunia modern ini seharusnya punah sudah. Kemiskinan absolut menjadi jebakan yang jika jatuh ke dalamnya sulit keluar tanpa bantuan.

Kemiskinan absolut terparah berada di Asia Selatan dan sub- Sahara Afrika. Pertumbuhan ekonomi sebagian Asia Selatan mulai bangkit, tetapi rakyat di Afrika—benua yang oleh majalah The Economist dijuluki the hopeless continent—terus tenggelam dalam kemiskinan absolut. Para pemerintahnya pun terlalu miskin untuk bisa mengentaskan rakyatnya dari kemiskinan. Mengapa?

Konon, kemiskinan Afrika berakar dari pemerintahan yang buruk. Inilah mengapa negara- negara maju enggan membantu. Namun, penjelasan ini tidak lengkap. Dibandingkan negara dengan tingkat pendapatan dan kualitas pemerintahan serupa, ekonomi Afrika tumbuh tiga persen lebih lambat. Kondisi geografis dan infrastruktur yang buruklah, menurut Sachs, akar kemiskinan Afrika.

Menggugat negara kaya

Atas dasar ini, Sachs menggugat apatisme negara kaya. Sudah waktunya negara-negara kaya memenuhi janji mereka di Rio De Janeiro 1992 dan Monterrey 2002 untuk menyisihkan 0,7 persen dari produk nasional bruto (PNB) untuk bantuan luar negeri.

Amerika Serikat (AS) adalah pelanggar terberat. Pada tahun 2003 hanya 0,15 persen PNB dialokasikan untuk bantuan luar negeri. Selain itu, Sachs menuntut pengampunan utang negara- negara termiskin. Sachs paham bantuan akan bertepuk sebelah tangan tanpa komitmen negara penerima. Negara penerima pun punya tanggung jawab.

”Poor countries have no guaranteed right …to accept development assistance from rich countries. They only have that right if they themselves carry through on their commitments to good governance” (hal 269).

Masalahnya, memang komitmen good governance ini sulit dibuktikan. Amat disayangkan Sachs tidak membahas masalah ini lebih dalam. Gugatannya terhadap negara kaya akan lebih substansial jika ia menunjukkan ada cara memastikan komitmen good governance ini sehingga penyalahgunaan bantuan, seperti yang terjadi empat dekade terakhir di sebagian Afrika, tidak terulang.

Bukan hal baru

Sachs punya kesempatan unik untuk membuktikan usulannya. Baru saja kelompok negara kaya G-8 setuju memangkas sekitar 50 miliar dollar Amerika Serikat utang negara-negara termiskin Afrika. Akan dapat kita lihat sejauh mana ini efektif mengentaskan negara miskin Afrika. Akan tetapi, banyak pakar skeptis dengan usulannya. Penulis The Elusive Quest for Growth adalah salah satunya. Menurut dia, solusi Sachs bukan barang baru dan pengalaman menunjukkan kerap tidak efektif.

Dalam The Elusive Quest for Growth, William Easterly—pakar ekonomi pembangunan dan mantan ekonom Bank Dunia, menunjukkan bahwa upaya pemberantasan kemiskinan lewat bantuan sudah dicobakan sebelumnya. Empat dekade berlalu dan hasilnya nyaris nihil! Bantuan, seberapa pun besarnya bukanlah magic bullet untuk memberantas kemiskinan.

Bagi Easterly, kunci keluar dari kemiskinan jelas: ”fast [economic] growth went with fast poverty reduction and overall economic contraction went with increased poverty” (hal 13). Pemberantasan kemiskinan berjalan berdampingan dengan pertumbuhan ekonomi. Pertanyaannya, mengapa di banyak negara Afrika pertumbuhan tak cukup cepat untuk memangkas kemiskinan?

Easterly kritis terhadap pendekatan negara donor maupun organisasi, seperti Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia, yang disebutnya ”fundamentalisme modal”.

Para fundamentalis modal percaya akumulasi modal adalah motor pertumbuhan sehingga melalui pinjaman ataupun bantuan investasi akumulasi modal secara instan pun diupayakan. Namun, ini sering sia-sia, dan Easterly menunjukkan sebabnya. Teori dan bukti empiris menunjukkan salah kaprahnya para fundamentalis modal. Adalah peningkatan produktivitas— dan bukan akumulasi modal— sumber pertumbuhan berkelanjutan.

Namun, bagaimana meningkatkan produktivitas demi pertumbuhan? Easterly mematahkan satu per satu resep-resep tradisional pertumbuhan: ”Neither aid nor investment nor education nor population control nor adjustment lending nor debt forgiveness proved to be the panacea for growth” (hal 143).

Mengapa? Moto resmi buku ini, yang sekaligus jantung ilmu ekonomi modern, memberikan jawaban: ”people respond to incentives”—orang merespons insentif yang diberikan.

Pertumbuhan muncul ketika setiap pelaku ekonomi, termasuk kaum miskin, punya insentif untuk produktif. Namun, bentuk insentif yang tepat tergantung pada kondisi masing-masing negara. Karena itu, resep-resep generik di atas tidak manjur.

Resep pertumbuhan hanya manjur jika dimulai dengan identifikasi faktor-faktor penghambat peningkatan produktivitas. Bisa jadi, nasib buruk dan jebakan kemiskinan penyebabnya. Namun, seperti ditunjukkan paruh kedua buku ini, kebijakan politis, pemerintah yang korup, atau konflik yang berkelanjutanlah yang lebih sering menjadi penghambat utama. Upaya mendorong pertumbuhan harus mulai dari penanganan faktor-faktor ini.

Antara Sachs dan Easterly

Bagaimana menilai kedua buku ini? Walaupun sering kali sejalan, jika disandingkan, sepasang buku ini memunculkan pertanyaan siapa yang benar?

Jika Sachs benar, bersyukurlah kita bahwa kampanye pengampunan utang telah maju selangkah; namun, jika tidak, kita perlu khawatir bahwa pengampunan utang hanya akan mengulang kesalahan yang sama.

Hati saya yang terdalam ingin agar Sachs-lah yang benar. Namun, sederetan bukti yang diberikan Easterly memaksa saya skeptis atas ”mudah”-nya solusi yang ditawarkan Sachs.

Dalam bab bertajuk Clinical Economics, Sachs membandingkan diagnosis ekonomi dengan kedokteran. Usaha memperbaiki ekonomi harus dimulai dengan diagnosis klinis kondisi keseluruhan negara. ”The key to clinical economics is a through differential diagnosis, followed by an appropriate treatment regimen” (hal 83). Menerapkan prinsip Sachs ini pada usulannya sendiri, pengampunan utang belum tentu manjur bagi seluruh negara termiskin Afrika.

Sementara Easterly tidak serta-merta menolak bantuan atau pengampunan utang. Namun, ada prasyarat agar keduanya menjadi insentif pertumbuhan. Pengampunan utang, misalnya, harus disertai dengan bukti adanya perbaikan kebijakan dari penerima serta ketegasan bahwa pengampunan utang hanya akan terjadi sekali (hal 136). Jika tidak, sejarah menunjukkan negara yang diampuni akan berutang (dan menyalahgunakan utangnya) lagi.

Terlepas kritik ini, kedua buku oleh ekonom kelas dunia ini perlu menjadi konsumsi bagi semua yang peduli pada pengentasan rakyat dari kemiskinan. Dibaca bersama, sepasang buku ini memberi harapan tanpa menjadi utopis: kemiskinan mungkin dapat diakhiri, tetapi mengakhirinya takkan semudah membalik telapak tangan.

Arya B Gaduh Ekonom, Tinggal di Jakarta


Start your day with Yahoo! - make it your home page

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke