Kompas, Kamis, 18 Agustus 2005

Stamina

Oleh: Radhar Panca Dahana

Jika kita berbicara tentang satu hal ini, stamina, dengan segera kita terasosiasi pada tubuh yang segar, kuat, bahkan atletis. Laiknya tubuh para atlet atau para penggemar body building, stamina adalah kualitas biologis yang memiliki daya tahan, endurance, tinggi.

Artinya, mampu mempertahankan kemampuan fisik dalam jangka waktu tertentu, tanpa kendor, tanpa penurunan hasil kerja yang drastis. Dalam pengertian ini, tubuh atau materi fisik menjadi perhitungan utama atau tumpuan prestasi.

Terlebih ketika ia dikaitkan dengan peribahasa kuno, men sana in corpore sano; dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang (juga) sehat. Karena itu, program kesehatan biologis menjadi bagian sangat penting dalam tiap program pembangunan di pemerintahan mana pun. Tubuh bangsa yang baik akan menjadi jaminan bagi jiwa bangsa yang baik pula. Dalam beberapa hal, pemahaman ini bisa jadi ada benarnya. Dalam arti keseluruhan, atau dalam hal lain, peribahasa ini menyesatkan.

Dengan kemajuan ilmu kedokteran dan ilmu jiwa (psikologi), kita dengan mudah memafhumi ternyata tak ada korelasi positif dan langsung dari kedua situasi itu (tubuh sehat dan jiwa yang sehat). Kedua dunia itu ternyata memiliki sejarahnya sendiri, pengalamannya sendiri, juga perkembangannya sendiri. Seorang yang berkembang secara sehat jasmaninya tidak serta-merta sehat pula jiwanya. Begitu pun sebaliknya: seseorang yang dididik dan mendapat sosialisasi yang baik, berkembang menjadi manusia yang bermoral baik, belum tentu sehat badannya.

Contoh untuk itu tentu saja bertebaran. Seperti koruptor-koruptor besar yang ternyata kebanyakan adalah mereka yang berbadan sehat karena memang lahir dan dibesarkan di lingkungan keluarga yang higienis dan kaya gizi. Para penjahat besar yang bermukim di hotel-hotel prodeo pun tidak menggambarkan kondisi yang rawan gizi. Begitu pun para pembesar negeri, politisi, atau pemuka yang kerap kali mendustai dan mengkhianati rakyatnya adalah barisan manusia yang tak hanya cukup, bahkan kelimpahan gizi.

Sebaliknya, tokoh seperti Stephen Hawking, yang sama sekali tidak sehat, berkembang menjadi Guru bahkan salah satu dewa fisika masa kini. Sebutlah kemudian nama-nama seperti Helen Keller, Jenderal Sudirman, Gus Dur, hingga nama seperti Benyamin S almarhum atau Edo Kondologit yang berkembang menjadi manusia penuh guna dengan berbagai keterbatasan fisik atau memulai hidupnya dari kepapaan sosial-ekonomi.

Keras maju

Bagi sebuah bangsa yang berkeinginan keras maju dan punya martabat, kecakapan serta stamina tidak hanya harus diukur dari standar-standar fisik atau biologis saja. Stamina mental dan jiwa ternyata lebih berperan dalam pengembangan karakter yang unggul dari satu masyarakat. Pada masa kini, seseorang tidak perlu kelaparan atau miskin untuk membunuh atau merampok orang lain. Begitu pun sebaliknya, seseorang tak perlu bertubuh prima untuk berbuat baik. Seorang yang berjiwa baik akan menolak penyelewengan atau korupsi betapa pun perutnya tiga hari memainkan keroncong atau anak kecilnya tak dapat membayar uang pangkal sekolah.

Hal ini berlaku umum, juga untuk mereka yang menjadi petinggi atau kaum elite negeri ini. Kelaparan yang ada di lingkungan mereka tidak lagi kelaparan biologis, tetapi sudah lapar batin. Alhasil, berapa pun hasil material yang mereka peroleh tidak akan pernah mengenyangkan perut keserakahan dan kerakusan mereka. Tidak ada kata ”cukup” untuk mereka. Sebagaimana paham kapitalisme mengajarkan hal itu. Dan, ketika sebagian dari mereka menganggap materi atau uang adalah jaminan kekuasaan, segala cara akan dilakukan untuk mendapatkannya betapa pun brankasnya sudah busung kekenyangan.

Demikian pula niat dan hati yang baik membutuhkan stamina yang tinggi. Membutuhkan latihan dan bimbingan yang keras sebagaimana para eksekutif yang memenuhi fitness center. Kita tampaknya membutuhkan lebih banyak mentally center ketimbang klub-klub kebugaran. Dengan begitu, publik dapat lebih memiliki daya tahan jiwa menghadapi gangguan dan cobaan zaman yang kian membaja. Dengan begitu pula, para prajurit rakyat, para pembela hak dan kebenaran yang mudanya begitu idealis, berapi, dan hebat dalam berkorban tidak segera hanyut dalam pusaran adab yang koruptif di masa tuanya. Dan tidak berapologi bahwa itu sudah kemauan zaman.

Cerita semacam itu sudah tak lagi menjadi buah bibir, sebagian bahkan dianggap sebagai konsekuensi logis. Setelah letih berjuang, bolehlah dapat jabatan. Setelah sebulan-dua dipenjara, bolehlah menikmati fasilitas negara. Setelah keras menekan pemerintah, bolehlah setelahnya sedikit menekan rakyat/bawahan. Dengan cara apa pun atau silat lidah selincah apa pun. Stamina mental sebagian besar petinggi kita memang rapuh digerus ”kebutuhan”.

Hal ini menjadi krusial ketika kita melihat mulai munculnya benih-benih hati dan perilaku yang baik. Moralitas yang baik di sebagian kecil masyarakat dan di satu dua lembaga. Mulai dari menteri-menteri, lurah, bupati, hingga lembaga-lembaga seperti KPK, Tim Tastipikor, hingga lembaga Presiden mesti awas benar dengan stamina yang satu ini. Artinya, latihan dan tuntunan mental tak boleh lepas dari keseharian sebagaimana kita selalu menyempatkan jogging atau berayung di treadmill untuk menjaga kondisi, mencegah penyakit.

Satu hal yang kurang juga diperhitungkan, dimensi ketiga dari manusia yang perannya bukan saja penting, tetapi juga banyak menentukan. Stamina akal atau pikiran yang memang kadang penggunaannya dirancukan dengan jiwa/mental. Sebagaimana dalam bahasa Inggris, kata mental kadang juga bermakna pikiran, seperti kata mentalitas (mentality) yang dalam kamus standar Hassan Shadily diartikan sebagai ”daya otak”.

Namun sesungguhnya sangat berbeda. Otak, mental, dan tubuh bekerja dengan metabolisme dan dengan sejarah serta pengalamannya sendiri-sendiri. Kadang kala berkaitan, tetapi lebih kerap bicara sendiri-sendiri. Sebagai contoh kecil; di satu saat ketika Anda harus menghadapi ujian atau presentasi penting esok hari, Anda akan belajar atau mempersiapkan malam harinya. Kadang hingga larut. Pikiran dan jiwa begitu kuat bekerja untuk sukses esok hari. Namun, apa yang terjadi? Tiba-tiba Anda terbangun dan matahari sudah tinggi.

Diperhitungkan

Tubuh yang bicara, memang belakangan sangat sedikit diperhitungkan (kecuali dalam olahraga dan ilmu bela diri). Hal itu menandakan ketidakseimbangan daya kerja kemanusiaan kita. Sekaligus memperlihatkan tubuh bukanlah kondisi yang sine qua non bagi mental dan akal. Begitu pun sebaliknya, akal atau jiwa tak juga menjadi jaminan bagi tubuh paripurna. Jiwa tak jamin akal. Akal tak jamin jiwa. Artinya, tugas manusia dengan berkah ilahiah di tiga dimensi itu tidaklah ringan karena jika hanya menjaga (stamina) yang satu, ia bisa hancur di dua lainnya.

Barangkali peribahasa Latin di atas harus diubah. Setidaknya kesehatan dan stamina di dua dimensi dapat menggaransi dimensi berikutnya. Coba dihitung sendiri. Yang terbaik adalah keseimbangan di antara ketiganya. Itulah manusia paripurna, yang mungkin takkan pernah ada (bahkan nabi pun dapat berdosa). Namun, kita dapat menapaki tingkat-tingkatnya, maqam-nya. Siapa yang terus naik tingkatannya, ia sedang berpromosi menjadi manusia yang baik. Dan orang seperti itulah yang kita inginkan. Yang seharusnya jadi pemimpin. Bagaimana?

Radhar Panca Dahana Penyair dan Esais, Tinggal di Tangerang


Start your day with Yahoo! - make it your home page

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke