Selamat Jalan Guru Bangsa
Oleh: Elly Roosita
Jadilah bambu. Jangan jadi pisang. Daunnya lebar membuat anaknya tidak kebagian sinar matahari. Bambu lain rela telanjang asal anaknya, rebung, pakaiannya lengkap.
Metafora itu berulang kali dilontarkan cendekiawan Nurcholish Madjid (66) dalam berbagai kesempatan. Mengingatkan bangsa ini betapa pentingnya menunda kesenangan untuk hari esok yang lebih baik. Menahan diri dari kemewahan dan mementingkan pendidikan. Bila perlu orangtua melarat, tapi anaknya sekolah dengan baik, pesannya.
Cak Nur tidak hanya berpesan, tetapi menyatakannya dalam kehidupan. Kedua anaknya melanjutkan pendidikan ke Amerika Serikat hingga jenjang master. Kesederhanaan melekat kuat dalam keseharian kehidupannya.
Sikapnya yang lurus tidak terbawa arus, ajaran-ajaran bijak yang disuarakannya melintasi agama, usia, dan kelompok, menjadikannya tempat bertanya berbagai kalangan masyarakat. Sikap pendidiknya membuat siapa pun berdialog dengannya merasa pintar. Kini, itu tinggal kenangan. Tidak akan ada lagi ajaran bijaknya, juga kritik bernas yang disampaikan dengan santun. Cak Nur, panggilan akrab Nurcholish, telah menghadap Sang Khalik, pukul 14.05 kemarin.
Dalam kondisinya yang semakin lemah, Cak Nur meminta Nadia, putrinya, membimbingnya membaca ayat suci Al Quran, Surat Al-Fatihah, dan Al-Ikhlas. Papa melafazkannya dengan baik sampai selesai. Setelah itu Papa sangat tenang, tutur Nadia.
Tidak ada pesan khusus kepada keluarganya. Cuma, sempat bilang mbok anak-anak belajar bahasa Arab supaya bisa memahami Islam dengan benar, kata Mbak Omi, panggilan akrab Omi Komariah, istrinya.
Cak Nur telah mengakhiri perjuangannya, selama lebih dari satu tahun menghadapi sakit yang dideritanya, tanpa pernah berkeluh kesah, setelah menjalani operasi transplantasi hati.
Memberi inspirasi
Dia bukan hanya cendekiawan, tetapi pemberi inspirasi bagi bangsanya, dengan gagasan yang sering kali mendahului zamannya. Tahun 1970, ketika semangat masyarakat berpartai menggebu, putra sulung almarhum Abdul Madjid ini muncul dengan jargon Islam Yes, Partai Islam No, untuk melepaskan Islam dari klaim satu kelompok tertentu, dan menjadi milik nasional. Namun, sedikit yang paham dengan gagasan ini, menganggap Cak Nur mengembangkan sekularisme.
Tahun 1980-an, Cak Nur mendorong terjadinya check and balance dengan munculnya ide oposisi loyal. Guru besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, ini juga melontarkan wacana Pancasila sebagai ideologi terbuka, yang juga kembali menuai pro dan kontra.
Cak Nur tak pernah surut mengembangkan intelektualitasnya. Lewat Paramadina, dikembangkan komunitas intelektual dan merengkuh kelas menengah Muslim Indonesia untuk lebih intensif mengkaji Islam.
Dengan caranya, Cak Nur membuka jalan terwujudnya reformasi dengan menolak tawaran duduk di Komite Reformasi, yang akan dibentuk Presiden Soeharto untuk menghadapi tuntutan reformasi (1998). Penolakan itu meruntuhkan rencana Soeharto bertahan sebagai presiden.
Kegundahan terhadap kehidupan politik bangsa mendorong Cak Nur menyatakan siap mengikuti pemilihan presiden pada Pemilu 2004, dan lahirlah 10 program membangun Indonesia.
Banyak yang menyayangkannya karena akan mengotori keberadaannya sebagai nurani bangsa.
Saya harus melakukannya. Ini pembelajaran bahwa proses (pemilu) dari awal harus bersih, transparan, dan bukan sekadar berebut kekuasaan, tuturnya kepada Kompas ketika itu.
Cak Nur banyak disalahpahami, tetapi dia tidak pernah surut.
Selamat jalan guru bangsa....
Start your day with Yahoo! - make it your home page
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
