Dalam kehidupan sehari-hari, kadang kita sering ikut emosi hanya karena perkataan orang yang benar-benar menyinggung harga diri kita, saya pun kadang dalam hati marah bila orang ada orang yang betul-betul menyinggung hal-hal yang amat prinsipil dan mendasar yang disertai keadaan batin yang sedang bergolak.
Sepertinya sangat sangat mudah mendengarkan dengan penuh kesadaran. Pada saat kita mendengarkan keluh kesah orang lain, kritik orang lain, beda pendapat dari pandangan orang lain, bahkan yang indah sekalipun seperti pujian dari orang lain. Bagaimana keadaan batin kita?
Rasanya mudah sekali mendengarkan pujian dari orang lain walaupun sebetulnya pujian menurut pribadi saya lebih berbahaya daripada kritikan orang. Kadang berat mendengarkan keluh kesah orang lain karena seperti kebiasaan orang kita kadang batinnya meniru keadaan batin orang yang sedang sedih, bila mendengarkan kesedihan orang kadang kita ikut sedih.
Celakanya bila ada orang marah-marah terhadap kita batin kita malah bisa ikut marah.
Bila kita merasa cerdas saat mendengar pandangan dari orang lain akan sulit menerimanya bahkan bisa terjadi perdebatan yang tidak perlu.
Dalam latihan mendengar kadang kita perlu seperti sumur yang dalam tanpa dasar, samudra luas tak bertepi. Mampu menerima apa pun yang masuk. Dan melihat keadaan batin kita dengan rileks dan penuh perhatian baik terhadap batin maupun fisik.
Ada seorang teman bertanya kepada seorang samanera, "Samanera, saya ingin belajar ajaran Buddha, tapi saya tidak mengerti apa-apa dan tidak tahu apa-apa tentang ajaran Buddha."
"Kalau begitu mulai aja dari 'ketidak tahuan' ajaran Buddha"... Jawaban konyol, tapi bisa membantu orang untuk belajar lebih.
Mendengarkan dengan perhatian dan kesadaran serta menunjukan bahwa kita berminat mendengarkan, tanpa berusaha menasehati, memberikan pandangan kita, memperlihatkan kemampuan kita, tidak hanya membantu membuat mental batin kita menjadi 'dewasa', tetapi juga dapat 'menyembuhkan' luka batin orang lain.
Kadang perlu juga kita tidak memberikan jawaban akhir (final answer) kepada orang lain sebagai saran atau nasehat agar orang tersebut langsung setuju kepada pendapat kita, karena terkadang orang lain cuma butuh sahabat 'ngobrol' tentang penderitaannya.
Avalokitesvara... 'Yang mendengarkan suara dunia', dalam Mahasatipatthana Sutta juga Buddha menyebutkan pada saat kita mendengar kita tahu kita mendengar, lalu pada bagian bagian terakhir Sutta tersebut mengatakan 'melihat dari luar ke dalam', 'melihat dari dalam ke luar', dan 'melihat dari luar ke dalam serta sebaliknya'...
Seberapa jauh kita dapat mendengar? seberapa dalam kita dapat empati (ikut merasakan perasaan orang) terhadap sahabat kita? seberapa jernih perhatian dan kesadaran kita?
Inilah yang perlu kita latih sehari-hari
Nyannadasa
May the fruits of good deeds always appears at the right moments
(semoga buah kebajikan senantiasa muncul pada saat yang tepat)
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
YAHOO! GROUPS LINKS