Saya setuju, pendidikan berawal dari rumah. Saya salah satu produk dari Sekolah Buddhis dari SD-SMP, yang ada ajaran Agama Buddha-nya. Yang amazing sekali, setelah kami semua sudah tamat sekolah dan kemudian kuliah dan bekerja, kemudian memiliki keluarga sendiri-sendiri, banyak sekali teman-teman saya yang beragama Buddha tetapi pengertian mereka tentang AJARAN BUDDHA masih tidak jauh dari konsep Taoisme.
 
Ada yang bilang; hidup mati ditangan TUHAN, rejeki ada di tangan TUHAN, dan ketika tertimpa malang, hanya menyalahkan nasib baik yang tidak kunjung datang. Setelah beruntun dirundung malang, jadi malas kebaktian lagi ataupun ikut kegiatan di Vihara. Ada yang takut anaknya masuk Agama K, tetapi dia sendiri tidak pernah mengajak anaknya ke Sekolah Minggu ataupun mengajarkan value of Ajaran Buddha di rumah.
 
Bila, kita-kita, para orang tua-pun memiliki pola pikir seperti itu, bagaimana kita bisa mendidik anak kita dengan penuh paramitta? Dan untuk mereka-mereka ini, kita tidak perlu bicara yang rumit-rumit, gunakan bahasa simple saja, Hindari perbuatan jahat, Perbanyak kebajikan, Sucikan hati dan pikiran. Untuk mengajarkan ajaran Buddha ke para orang tua yang menjadi teman-teman kita, yang kita perlukan adalah meluangkan waktu untuk mereka; sambil kumpul-kumpul atau reuni, kita cerita-cerita tentang segala hal sambil menyelipkan cerita-cerita Buddhis.
 
Hal yang sama juga dilakukan oleh para salesman, menceritakan pentingnya produk yang mereka jual, yang diakhiri dengan closing: SALE. Kalau mereka, para salesman bisa melakukan itu dengan tujuan penjualan; kita sebagai Buddhis pun bisa melakukan hal yang sama dengan tujuan penyebaran Dhamma.
 
Pertanyaannya; mau-kah anda-anda yang suka menulis dan berargumentasi melakukan sosialisasi Dhamma ke lingkungan masing-masing. Kita tidak perlu jadi Dhammaduta, kita bisa mulai sebagai teman.
 
Mungkin ada yang udah tahu tentang DKD; Dana Kemanusiaan Dharmajala; salah satu keluarga pasien yang kami bantu lewat DKD; akhirnya jadi rajin ke Vihara dan belajar ajaran Buddha, bahkan sewaktu acara Sejuta Pelita, mereka membantu kami menjual lilin sebanyak 150 batang. Simple khan, hanya menunjukkan bahwa kita perduli.
 
Mengenai umat yang mau menjadi Guru di Sekolah Buddhis;
Dulu, di pertengahan tahun 2004, saya sempat melamar kerja untuk jadi guru di salah satu sekolah Buddhis di daerah tangerang. Latar belakang pendidikan saya memang dari Finance-Marketing, bukan dari IKIP ataupun STAB. Jawabnya? Mereka tidak bisa menerima saya, karena mengikuti prosedur dari Dept Pendidikan. Untuk guru Agama Buddha, harus lulusan Sekolah Tinggi Agama Buddha dan untuk yang lain, kami ambil dari IKIP ataupun Sekolah Guru yang lain. He didn't even give a chance to show him my resume.
 
Apakah kriteria jadi guru itu sebegitu sulitnya?
 
 
-------------------------------------------------------------
 
> Memang benar, banyak orang tua Buddhis tidak memiliki pengetahuan Dharma sama sekali. Justru itulah MASALAH POKOK-nya, bukan kurangnya sekolah Buddhis. Jadi, tantangannya adalah: bagaimana meningkatkan pengetahuan dan keimanan orang tua terhadap Buddha Dharma, sehingga pada gilirannya pengetahuan dan keimanan itu akan menurun kepada anak-anak mereka.Pada umumnya, keimanan anak (sebelum anak itu dewasa) mencerminkan keimanan orangtuanya.

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke