"B. Suryadi" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Dari millist tetangga...
>
> APA YANG KITA SOMBONGKAN?
>
> Seorang pria yang bertamu ke rumah Sang Guru tertegun keheranan. Dia
> melihat Sang Guru sedang sibuk bekerja; ia mengangkuti air dengan ember
> dan menyikat lantai rumahnya keras-keras. Keringatnya bercucuran deras.
> Menyaksikan keganjilan ini orang itu bertanya, "Apa yang sedang Anda
> lakukan?"
>
> Sang Guru menjawab, "Tadi saya kedatangan serombongan tamu yang meminta
> nasihat. Saya memberikan banyak nasihat yang bermanfaat bagi mereka.
> Mereka pun tampak puas sekali. Namun, setelah mereka pulang tiba-tiba
> saya merasa menjadi orang yang hebat. Kesombongan saya mulai
> bermunculan. Karena itu, saya melakukan ini untuk membunuh perasaan
> sombong saya."
>
> Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, yang benih-
> benihnya terlalu kerap muncul tanpa kita sadari. Di tingkat terbawah,
> sombong disebabkan oleh faktor materi. Kita merasa lebih kaya, lebih
> rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain.
>
> Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan. Kita
> merasa lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dibandingkan
> orang lain.
>
> Di tingkat ketiga, sombong disebabkan oleh faktor kebaikan. Kita sering
> menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus
> dibandingkan dengan orang lain.
>
> Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula
> kita mendeteksinya. Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun
> sombong karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit
> terdeteksi karena seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam
> batin kita.
>
> Akar dari kesombongan ini adalah ego yang berlebihan. Pada tataran yang
> lumrah, ego menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri (self-esteem)
> dan kepercayaan diri (self-confidence). Akan tetapi, begitu kedua hal
> ini berubah menjadi kebanggaan (pride), Anda sudah berada sangat dekat
> dengan kesombongan. Batas antara bangga dan sombong tidaklah terlalu
> jelas.
>
> Kita sebenarnya terdiri dari dua kutub, yaitu ego di satu kutub dan
> kesadaran sejati di lain kutub. Pada saat terlahir ke dunia, kita dalam
> keadaan telanjang dan tak punya apa-apa. Akan tetapi, seiring dengan
> waktu, kita mulai memupuk berbagai keinginan, lebih dari sekadar yang
> kita butuhkan dalam hidup. Keenam indra kita selalu mengatakan bahwa
> kita memerlukan lebih banyak lagi.
>
> Perjalanan hidup cenderung menggiring kita menuju kutub ego. Ilusi ego
> inilah yang memperkenalkan kita kepada dualisme ketamakan (ekstrem
> suka) dan kebencian (ekstrem tidak suka). Inilah akar dari segala
> permasalahan.
>
> Perjuangan melawan kesombongan merupakan perjuangan menuju kesadaran
> sejati. Untuk bisa melawan kesombongan dengan segala bentuknya, ada dua
> perubahan paradigma yang perlu kita lakukan. Pertama, kita perlu
> menyadari bahwa pada hakikatnya kita bukanlah makhluk fisik, tetapi
> makhluk spiritual. Kesejatian kita adalah spiritualitas, sementara
> tubuh fisik hanyalah sarana untuk hidup di dunia. Kita lahir dengan
> tangan kosong, dan (ingat!) kita pun akan mati dengan tangan kosong.
> Pandangan seperti ini akan membuat kita melihat semua makhluk dalam
> kesetaraan universal. Kita tidak akan lagi terkelabui oleh penampilan,
> label, dan segala "tampak luar" lainnya. Yang kini kita lihat
> adalah "tampak dalam". Pandangan seperti ini akan membantu menjauhkan
> kita dari berbagai kesombongan atau ilusi ego.
>
> Kedua, kita perlu menyadari bahwa apa pun perbuatan baik yang kita
> lakukan, semuanya itu semata-mata adalah juga demi diri kita sendiri.
> Kita memberikan sesuatu kepada orang lain adalah juga demi kita sendiri.
>
> Dalam hidup ini berlaku hukum kekekalan energi. Energi yang kita
> berikan kepada dunia tak akan pernah musnah. Energi itu akan kembali
> kepada kita dalam bentuk yang lain. Kebaikan yang kita lakukan pasti
> akan kembali kepada kita dalam bentuk persahabatan, cinta kasih, makna
> hidup, maupun kepuasan batin yang mendalam. Jadi, setiap berbuat baik
> kepada pihak lain, kita sebenarnya sedang berbuat baik kepada diri kita
> sendiri. Kalau begitu, apa yang kita sombongkan?
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
| Religion and spirituality | Religions spirituality | Different religions beliefs |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
