Rekan-rekan Dharmajala yt,
 
Beberapa waktu yang lalu dalam miliis ini saya pernah melontarkan gagasan mengubah pola pikir dalam menentukan pilihan suatu keputusan, yaitu melihat sesuatu dari fungsinya. Dengan melihat sesuatu dari fungsinya maka tanpa disadari kita telah mengeliminasi masalah kebanggaan, masalah prestise dan secara tidak sadar mengurangi sifat kesombongan. Waktu itu saya juga menganggap bisa mengurangi sifat konsumtif sebagai akibat gencarnya bujukan di TV. Apakah teori ini betul, perlu dikaji. Kalau rekan-rekan bersedia mempraktekkan maka dari pengalaman banyak orang baru bisa disimpulkan apakah memang efektif atau teori gabrul. Selamat mencoba dan memberi respon.
 
Semoga kita dapat memetik manfaat dari gagasan ini.
 
Kreshna
 

"B. Suryadi" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Dari millist tetangga...
>
> APA YANG KITA SOMBONGKAN?
>
> Seorang pria yang bertamu ke rumah Sang Guru tertegun keheranan. Dia
> melihat Sang Guru sedang sibuk bekerja; ia mengangkuti air dengan ember
> dan menyikat lantai rumahnya keras-keras. Keringatnya bercucuran deras.
> Menyaksikan keganjilan ini orang itu bertanya, "Apa yang sedang Anda
> lakukan?"
>
> Sang Guru menjawab, "Tadi saya kedatangan serombongan tamu yang meminta
> nasihat. Saya memberikan banyak nasihat yang bermanfaat bagi mereka.
> Mereka pun tampak puas sekali. Namun, setelah mereka pulang tiba-tiba
> saya merasa menjadi orang yang hebat. Kesombongan saya mulai
> bermunculan. Karena itu, saya melakukan ini untuk membunuh perasaan
> sombong saya."
>
> Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, yang benih-
> benihnya terlalu kerap muncul tanpa kita sadari. Di tingkat terbawah,
> sombong disebabkan oleh faktor materi. Kita merasa lebih kaya, lebih
> rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain.
>
> Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan. Kita
> merasa lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dibandingkan
> orang lain.
>
> Di tingkat ketiga, sombong disebabkan oleh faktor kebaikan. Kita sering
> menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus
> dibandingkan dengan orang lain.
>
> Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula
> kita mendeteksinya. Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun
> sombong karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit
> terdeteksi karena seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam
> batin kita.
>
> Akar dari kesombongan ini adalah ego yang berlebihan. Pada tataran yang
> lumrah, ego menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri (self-esteem)
> dan kepercayaan diri (self-confidence). Akan tetapi, begitu kedua hal
> ini berubah menjadi kebanggaan (pride), Anda sudah berada sangat dekat
> dengan kesombongan. Batas antara bangga dan sombong tidaklah terlalu
> jelas.
>
> Kita sebenarnya terdiri dari dua kutub, yaitu ego di satu kutub dan
> kesadaran sejati di lain kutub. Pada saat terlahir ke dunia, kita dalam
> keadaan telanjang dan tak punya apa-apa. Akan tetapi, seiring dengan
> waktu, kita mulai memupuk berbagai keinginan, lebih dari sekadar yang
> kita butuhkan dalam hidup. Keenam indra kita selalu mengatakan bahwa
> kita memerlukan lebih banyak lagi.
>
> Perjalanan hidup cenderung menggiring kita menuju kutub ego. Ilusi ego
> inilah yang memperkenalkan kita kepada dualisme ketamakan (ekstrem
> suka) dan kebencian (ekstrem tidak suka). Inilah akar dari segala
> permasalahan.
>
> Perjuangan melawan kesombongan merupakan perjuangan menuju kesadaran
> sejati. Untuk bisa melawan kesombongan dengan segala bentuknya, ada dua
> perubahan paradigma yang perlu kita lakukan. Pertama, kita perlu
> menyadari bahwa pada hakikatnya kita bukanlah makhluk fisik, tetapi
> makhluk spiritual. Kesejatian kita adalah spiritualitas, sementara
> tubuh fisik hanyalah sarana untuk hidup di dunia. Kita lahir dengan
> tangan kosong, dan (ingat!) kita pun akan mati dengan tangan kosong.
> Pandangan seperti ini akan membuat kita melihat semua makhluk dalam
> kesetaraan universal. Kita tidak akan lagi terkelabui oleh penampilan,
> label, dan segala "tampak luar" lainnya. Yang kini kita lihat
> adalah "tampak dalam". Pandangan seperti ini akan membantu menjauhkan
> kita dari berbagai kesombongan atau ilusi ego.
>
> Kedua, kita perlu menyadari bahwa apa pun perbuatan baik yang kita
> lakukan, semuanya itu semata-mata adalah juga demi diri kita sendiri.
> Kita memberikan sesuatu kepada orang lain adalah juga demi kita sendiri.
>
> Dalam hidup ini berlaku hukum kekekalan energi. Energi yang kita
> berikan kepada dunia tak akan pernah musnah. Energi itu akan kembali
> kepada kita dalam bentuk yang lain. Kebaikan yang kita lakukan pasti
> akan kembali kepada kita dalam bentuk persahabatan, cinta kasih, makna
> hidup, maupun kepuasan batin yang mendalam. Jadi, setiap berbuat baik
> kepada pihak lain, kita sebenarnya sedang berbuat baik kepada diri kita
> sendiri. Kalau begitu, apa yang kita sombongkan?



Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Religions spirituality Different religions beliefs


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke