PATRIAK SUCI -MAZHAB SUKHAVATI (3)
BY : CHING IK

Riwayat singkat 13 Patriak Mazhab Sukhavati


1.      Hui yuan (334-416 M)

        Mahaguru HuiYuan, nama marganya adalah Jia. Berasal dari 
YanmenLoufan (propinsi Jiangxi). Sejak kecil beliau sudah 
menampakkan kecerdasannya dan semangat belajar. Pada usia 13 tahun 
(346), beliau mengikuti pamannya mengunjungi kota XuChang dan  
LuoYang untuk mempelajari ajaran Konfucius, LaoZi dan ZhuangZi. 
Ternyata beliau  menguasai ajaran tersebut dengan sangat baik, 
selain itu  sifatnya yang ramah dan terbuka mendapat pujian dari 
para senior. Di usia 21 tahun (354), atas izin pamannya  beliau 
berencana untuk pergi ke wilayah selatan untuk berguru pada seorang 
konfucianis terkenal dari Yuzhang bernama FanXuanZi untuk 
memperdalam pengetahuannya. Namun kebetulan pada saat itu wilayah 
selatan sedang berkecamuk peperangan maka beliau pun mengurungkan 
niatnya.  Di wilayah pegunungan TaiXing/Hengshan (daerah HeBei-
Baratlaut QuYang) saat itu ada seorang bhiksu bernama DaoAn yang 
sangat terkenal, menetap dan mengajar di sana. Karena HuiYuan merasa 
penasaran dan tertarik dengan popularitas bhiksu DaoAn maka beliau 
pun merubah rencana perjalanannya. Bersama dengan adiknya mereka 
pun  berangkat ke gunung TaiXing untuk bertemu dengan bhiksu DaoAn.. 
         Setelah tiba di gunung TaiXing, HuiYuan mendengar  DaoAn 
berceramah tentang kitab Maha PrajnaParamitha Sutra - salah satu 
sutra terpenting Mahayana. Setelah mendengar ajaran tersebut, beliau 
mengalami suatu titik balik dari pandangan hidup beliau dan 
mengatakan bahwa ternyata ajaran Konfucius dan LaoZi tidak sedalam 
ajaran Buddha. Akhirnya bersama dengan adiknya, mereka memutuskan 
memasuki persamuan Sangha dengan menjadi bhiksu. Karena beliau 
sangat cerdas dan tekun maka di usia 24 tahun saja beliau sudah 
dapat berceramah dan mengajar. Apabila ada pendengar yang belum 
mengerti dengan topik ceramahya maka beliau sanggup menggunakan 
konteks ajaran Konfucius maupun LaoZi untuk menjelaskan ajaran 
Buddha. Kepiawaiannya mendapatkan sambutan yang sangat 
menggembirakan sehingga hari demi hari orang yang datang 
mendengarkan ajarannya pun semakin bertambah. Setelah gurunya - 
DaoAn - melihat hal ini, sang guru pun memuji beliau dengan 
mengatakan bahwa orang seperti HuiYuan-lah yang akan membuat agama 
Buddha dapat berkembang pesat di daratan China. 
        Pada era kaisar JinAiDi dari dinasti Jin Selatan tahun ke-3 
(365 M), DaoAn bersama HuiYuan dan sekitar 400 orang siswanya 
mengunjungi wilayah selatan, dan menetap di vihara BaiMa.  Setelah 
itu mereka membangun vihara TanXi. Kemudian di masa dinasti Jin 
Timur saat bertahta kaisar XiaoWudi tahun ke-3 (378 M) tentara dari 
kerajaan  Qin pimpinan FuPi menyerang kota XiangYang, wilayah 
dinasti Jin Timur. Kerajaan Qin adalah satu di antara beberapa 
kerajaaan yang terpisah dari Dinasti Jin Timur, dan saat itu raja 
yang bertahta bernama FuJian. Pada masa itu peperangan sering 
terjadi layaknya masa Tiga Kerajaan (Samkok).   Popularitas Bhiksu 
DaoAn menjadi sasaran yang diincar oleh para pemimpin kerajaan, 
sehingga mereka berusaha mendapatkan bhiksu DaoAn.   Setelah 
berhasil mendapatkan bhiksu DaoAn, raja Qin – FuJian – memerintahkan 
untuk  menempatkan beliau di kota ChangAn , vihara WuChong.  DaoAn 
kemudian memerintahkan HuiYuan agar meninggalkan beliau untuk 
melarikan diri. Bersama beberapa puluh rekannya, HuiYuan pun dengan 
sedih meninggalkan gurunya dan berangkat menuju wilayah JinZhou. 
Setelah beberapa waktu menetap di JinZhou, HuiYuan kemudian 
berangkat lagi  menuju  ke arah gunung LuoFu. 
        Era TaiYuan tahun ke 6 dari dinasti Jin Timur (381 M), 
HuiYuan tiba di XunYang (sekarang kota JiuJiang di prop. JiangXi), 
di situ beliau pun menuju ke gunung Lu. Gunung Lu adalah pegunungan 
yang sangat eksotis dan tenang. Oleh karena itu HuiYuan bermaksud 
untuk menetap di sini. Awalnya beliau tinggal di vihara LongQuan, 
dan berceramah tentang kitab MahaParinirvana Sutra. Hari demi hari 
orang yang datang belajar pun semakin banyak, sehingga tempat untuk 
menampung para praktisi pun menjadi semakin sempit.   Pada saat itu 
seorang pejabat bernama HuangYi telah banyak mendengar popularitas 
HuiYuan dan mengagumi beliau, maka bermaksud mengumpulkan dana untuk 
membangunkan sebuah vihara besar. Lokasi yang dipilih terletak di 
sisi timur yang lebih luas di banding dengan sisi barat yang telah 
dipimpin oleh kakak seperguruannya yang bernama bhiksu HuiYong. 
Setelah selesai dibangun, vihara ini diberi nama vihara DongLin 
(Hutan timur). Di vihara tersebut juga dibangun kolam untuk menanam 
bunga teratai maka tempat bhiksu HuiYuan mengajar lebih dikenal 
sebagai LianShi (Perkumpulan Teratai). 
        Selain menguasai ajaran Buddha, HuiYuan juga berpengetahuan 
luas tentang ajaran lain. Beliau termasuk orang yang sangat 
terhormat di jamannya, tidak hanya dikagumi oleh umat lokal, bahkan 
bhiksu dari luar China pun sangat menghormati beliau.   HuiYuan 
sangat tekun dalam mendalami Sutra, namun beliau sering menyayangkan 
atas masih kurang lengkapnya kitab suci Buddha di  wilayahnya. 
Kemudian beliau pun menugaskan serombongan muridnya yang dipimpin 
oleh FaJing dan  FaLing  untuk pergi mencari kitab suci . Setiap 
mendengar ada bhiksu asing yang berkunjung ke China maka HuiYuan 
dengan antusias mengundang para bhiksu tersebut untuk membahas 
ajaran Buddha.  Era Taiyuan tahun ke 16 (391 M), Seorang bhiksu dari 
Kashmir bernama Sanghadeva  berkunjung ke XunYang. HuiYuan lalu 
mengundang beliau datang ke gunung Lu untuk  bekerja sama 
menerjemahkan kitab abhidharma seperti  ABiTanXinLun, ShanFaDuLun, 
dan bhiksu HuiYuan-lah yang menuliskan pengantarnya. Dari ke dua 
kitab ini pula ajaran Abhidharma pun makin berkembang di wilayah 
selatan China. 
        Era Kaisar AnDi tahun ke 5 (401 M),  HuiYuan menerima kabar 
bahwa bhiksu terkenal dari Kucha (Asia Tengah) bernama Kumarajiva 
telah tiba di kota ChangAn. Karena kekagumannya pada Kumarajiva, 
HuiYuan lalu menugaskan muridnya DaoShen, HuiGuan, DaoWen, dan TanYi 
berangkat ke ChangAn untuk belajar dengan Kumarajiva,  dan HuiYuan 
sendiri menulis surat untuk menjalin komunikasi dengan Kumarajiva. 
Kumarajiva pun telah sering mendengar ketenaran HuiYuan maka mereka 
berdua pun secara rutin saling berdiskusi ajaran Buddha melalui 
surat. Kaisar dari kerajaan Qin- YaoXin- juga mengagumi HuiYuan dan 
pernah mengirimkan surat sebagai tanda kehormatan dari sang kaisar, 
dan  memberikan hadiah patung Buddha emas asal negeri Kucha kepada 
HuiYuan.
        HuiYuan pernah menulis kitab "FaXingLun (risalat tentang 
hakekat dharma)" untuk menjelaskan tentang sifat sejati Nirvana. 
Setelah kitab ini dilihat oleh Kumarajiva, beliau pun memuji 
HuiYuan  dengan mengatakan bahwa walaupun HuiYuan belum pernah 
bersentuhan dengan ajaran sejati Mahayana, tetapi sudah sanggup 
memahaminya dengan baik.   
        Pada saat itu, banyak bhiksu terkenal juga berbondong 
bondong  menetap di gunung Lu, bahkan kaum terpelajar juga mulai 
menetap di sana, seperti LiuYiming dari kota PhengCheng, LeiCheZhong 
dari YuZhang, ZhouXuZhe dari YanMen, BiYingZhe dari XinChai, 
ZhongBing dari NanYang,  untuk menjadi murid HuiYuan.     
        Era Yuanxin tahun ke 1 (402 M), HuiYuan dan LiuYiming 
bersama dengan para bijaksana sejumlah 123 orang dihadapan altar 
Buddha Amitabha melaksanakan upacara sumpah tekad untuk terlahir di 
alam Buddha Sukhavati. LiuYiming lalu membuat sajak sumpah yang 
diukir di atas batu.  Setiap hari mereka  terus menerus 
mempraktekkan Nianfo (Buddhanusmrti) sebagai metode latihannya.  
        Sejak belajar dibawah bimbingan DaoAn, HuiYuan lebih banyak 
mendalami doktrin Prajna. Saat berada di kota Jinzhou beliau pernah 
juga mengkritik DaoHeng atas kemelekatannya pada konsep Kekosongan 
Batin. Perkumpulan Teratai yang didirikan HuiYuan untuk 
mempraktekkan metode Nianfo adalah  berdasarkan metode Buddhanusmrti 
Samadhi (NianFo SanMei= Samadhi atas perenungan tentang Buddha). 
Pada saat itu kitab Amitayur dhyana Sutra belum  didapatkannya. Jadi 
metode yang beliau praktekkan  lebih banyak diserap dari  kitab   
Pratyutpannasamadhi Sutra (BanZhou SanMei Jing) terjemahan 
Lokaraksha. 
        Pada saat itu WangQiaozhe bersama rekan-rekannya juga 
membuat sajak tentang "Buddhanusmrti Samadhi" sebagai tanda tekad 
untuk terlahir di tanah suci Buddha. HuiYuan kemudian menuliskan 
pengantarnya dengan kalimat "Apa yang disebut sebagai Samadhi?, 
yakni memanunggalkan pikiran, mengheningkan pemikiran atas segala 
konsep. Jika pikiran telah terpusat maka pikiran tidak akan 
bergejolak lagi. Jika pemikiran telah diheningkan maka batin menjadi 
tenang dan terang. Bila batin telah tenang dan terang maka 
kebijaksanaan pun muncul ke permukaan. Dengan demikian maka tidak 
akan ada lagi konsep rumit mendalam yang tidak bisa ditembus 
olehnya. Kemanunggalan pikiran dan keheningan batin merupakan 
pegangan untuk menembus sifat sejati, oleh karena itu kita pun akan 
mampu memasuki dimensi sejati dari dharmaloka dan membimbing semua 
makhluk hidup.  Lalu terdapat berbagai jenis Samadhi dari para 
Buddha. Jika ingin mencari jenis Samadhi yang tingkat 
keberhasilannya tinggi dan teknik latihannya yang mudah maka satu 
satunya pilihan yang terbaik adalah Samadhi atas perenungan nama 
Buddha. ( Buddhanusmrti Samadhi). Mengapa? Karena orang yang 
mempraktekkan Samadhi atas perenungan nama Buddha itu memanunggalkan 
pikiran dan mencapai keheningan batin. Setelah mencapai Samadhi ini 
maka samadhinya selaras dengan pikiran para Buddha. Melalui batin 
diri yang selaras dengan batin Buddha maka tidak ada lagi  
diskriminasi tentang konsep. Melalui suara batin yang merenungkan 
nama Buddha tersebut kemudian mengalami suatu kontak dengan batin 
para Buddha, maka terjadi peleburan batin diri dengan batin 
Buddha.   Disinilah keberhasilannya akan tercapai. Jika bukan 
melalui metode yang unggul ini, bagaimana lagi bisa memasuki dimensi 
yang demikian mengagumkan?".   Setelah itu WangQiaoZhe lalu dengan 
tekun berlatih dibawah bimbingan HuiYuan.      
   Perkumpulan Teratai  di bawah tangan HuiYuan mendapat kemajuan 
yang sangat berarti. Tidak sedikit orang yang berhasil terlahir di 
alam Sukhavati berkat bimbingan dari beliau.  Vihara DongLin pun 
dianggap sebagai pusat agama Buddha di wilayah selatan, dan boleh 
dikatakan memiliki kedudukan setara dengan pusat agama Buddha di 
wilayah utara pimpinan Kumarajiva. 
        Era YuanXin tahun ke 2, seorang pejabat penting dari 
kerajaan Jin bernama HuanXuan, berkunjung ke XunYang. Karena 
kekagumannya pada HuiYuan beliau pun mengirimkan surat untuk 
membujuk HuiYuan meninggalkan posisinya untuk mengabdi pada 
kerajaan. HuiYuan yang memiliki keteguhan hati, tidak tergoyahkan 
sama sekali oleh bujukan beliau dan menolaknya secara halus. 
HuanXuan pernah juga secara sepihak mengontrol tata kehidupan 
bhiksu, tetapi menjadikan wilayah gunung Lu sebagai pengecualian 
dengan alasan bahwa gunung Lu adalah tempat tinggalnya para 
bijaksana. Pernah juga HuanXuan bermaksud mengeluarkan peraturan 
bahwa bhiksu wajib bertunduk pada Kaisar. Beliau lalu megirim utusan 
untuk mendengarkan pendapat bhiksu HuiYuan. HuiYuan lalu segera 
merespon masalah ini dengan keras bahwa tidak ada alasan Sangha 
harus bertunduk pada kekuatan seorang raja, kemudian menulis sebuah 
kitab berjudul "Risalat tentang  Samana tidak bertunduk pada Raja" 
sebanyak 5 bab.  Kitab ini adalah reaksi terhadap terlalu seringnya 
pihak kerajaan mencampuri bahkan mengendalikan secara ketat 
pergerakan Sangha. Atas reaksi bhiksu HuiYuan, HuanXuan akhirnya 
sadar dan tidak lagi mencampuri urusan kehidupan Sangha. Ini 
merupakan salah satu peristiwa yang berpengaruh dalam sejarah 
kehidupan Sangha di China pada jaman itu. 
        Era YiXu th ke1 (405 M), Kumarajiva telah menyelesaikan 
terjemahan kitab MahaPrajnaparamita Sastra 100 jilid karya 
Nagarjuna. Kaisar YaoXin lalu mengutus orang untuk mengirim kitab 
ini kepada HuiYuan, kemudian meminta beliau untuk  menulis 
pengantarnya. Setelah diteliti oleh HuiYuan, kitab ini dianggap 
terlalu rumit dan mendalam, lalu beliau pun merangkumnya  menjadi 20 
jilid, untuk memudahkan para pemula. Dengan adanya kitab ini, ajaran 
tentang doktrin Sunyata dari Nagarjuna juga menjadi kajian yang 
penting pada masa itu. 
        Seorang bhiksu dari Kashmir bernama Punyatara pernah 
menerjemahkan kitab SheSongLü (10 bagian Vinaya), tetapi sang 
bhiksu  wafat sebelum selesai terjemahannya. Kemudian HuiYuan 
mendengar kabar bahwa seorang ahli Vinaya bernama Dharmaruci telah 
datang ke China, maka HuiYuan pun mengundang beliau untuk 
merampungkan kembali kitab SheSongLu yang belum selesai 
penerjemahannya. Selain itu HuiYuan juga mengutus orang menuju kota 
ChangAn untuk mengundang Buddhabhadra- bhiksu asal India Tengah-  ke 
gunung Lu menerjemahkan kitab DaMoDuoLuoChanJing (Dharmatara dhyana 
Sutra). Kitab ini merupakan kategori kitab Hinayana. Ini menunjukkan 
bahwa HuiYuan selain mengajar doktrin Prajna dari aliran Mahayana, 
juga tidak menepis ajaran meditasi Hinayana. Pada saat itu ternyata 
Buddhabhadra sedang di dalam tahanan karena terjadi suatu kesalah 
pahaman dengan anggota bhiksu lainnya, maka HuiYuan kemudian menulis 
surat kepada raja YaoXin untuk menengahi permasalahan ini dan 
meminta agar Buddhabhadra dapat meneruskan ajarannya di wilayah 
selatan. Atas perlindungan HuiYuan, Buddhabhadra pun dapat 
menyebarkan ajaran Madhyamika, Vinaya dan Dhyana di wilayah selatan. 
        HuiYuan berdiam di gunung Lu lebih dari 30 tahun, sekali pun 
tidak pernah turun dari gunung tersebut. Meskipun mengantar tamu, 
paling jauh hingga batas anak sungai Hu. Walaupun kaisar yang 
mengundang, tidak dapat juga membuatnya turun gunung. 
        Pada era YiXi tahun ke 12 (416), suatu ketika di akhir bulan 
ke 7 pada malam harinya,  HuiYuan baru saja keluar dari meditasinya, 
tiba-tiba muncul Buddha Amitabha, bodhisattva Avalokitetsvara dan 
Mahasthamaprapta dihadapan beliau. Disekitarnya juga bermunculan 
pemandangan alam Sukhavati dengan berbagai wujud kecemerlangannya,  
kemudian Buddha Amitabha berkata kepada beliau : " Saya datang ke 
sini atas kekuatan tekad terdahulu untuk menghibur anda, 7 hari 
kemudian anda akan terlahir di tanah suci Ku". Di samping Buddha 
Amitabha juga didampingi oleh rekan HuiYuan yang telah lebih dulu 
terlahir di Tanah suci seperti LiuYiMing, Buddhayasa, HuiChe, 
HuiYong dll. Mereka pun berkata kepada HuiYuan : "Guru adalah orang 
yang paling awal bertekad terlahir di Tanah Suci, mengapa datangnya 
begitu lambat"  HuiYuan kemudian berkata kepada muridnya FaJing dan 
HuiBao   : "Sejak 11 tahun terakhir ini, sudah 3 kali saya melihat 
Buddha Amitabha mengunjungi saya, setelah melihat yang kali ini, 
maka pastilah saya akan terlahir di Tanah Suci". Setelah itu beliau 
pun kembali duduk dalam samadhinya. Tanggal 6 bulan 8  kemudian 
beliau dengan posisi samadhi wafat dengan tenang, dalam usia 83 
tahun.  Pejabat dari XunYang bernama RuanNi memimpin upacara kremasi 
dan mendirikan stupa, kemudian seorang sastrawan terkenal bernama 
XieLingYun menuliskan sajak untuk dijadikan prasasti. Oleh para 
penganut mazhab Sukhavati, beliau pun dihormati sebagai patriak 
pertama. 


2.      Shan Dao (613-681 M)
        
        Mahabhiksu ShanDao, lahir pada masa dinasti Shui era DaYe 
tahun ke 9 (613 M), nama marganya adalah Zhu, berasal dari LingZi 
(sekarang wilayah ShanDong, kota ZiFu). Ada juga yang menyebut 
beliau lahir di daerah AnHui,SheZhou. Sejak kecil beliau sudah 
meninggalkan kehidupan rumah tangga untuk menjadi bhiksu di daerah 
MiZhou (sekarang wilayah ShanDong). Guru beliau bernama bhiksu 
MingSheng.
        Setelah menjadi bhiksu, awalnya ShanDao menekuni kitab 
Saddharmapundarika Sutra (Sutra Teratai) dan Vimalakirti Sutra. 
Kemudian setelah mengenal kitab Amitayur-dhyana Sutra (sutra yang 
mengajarkan meditasi pada objek alam Sukhavati) dan lukisan-lukisan 
bergambar alam Sukhavati, beliau menjadi sangat tertarik dengan 
metode ajaran Tanah Suci.  Sejak itu ShanDao sering mempraktekkan 
meditasi vipasyana pada 16 objek alam Sukhavati, dan hanya dalam 
beberapa tahun saja beliau telah sanggup memvisualisasikan alam 
tersebut dengan sangat baik. Dalam meditasinya, beliau dapat melihat 
dengan jelas perwujudan istana mustika, singgasana emas, taman dan 
kolam alam Sukhavati bagaikan muncul di depan mata beliau. Beliau 
juga adalah pengagum bhiksu HuiYuan, dan pernah berziarah ke gunung 
Lu.
        Pada usia 29 tahun,  masa dinasti Tang era ZhenGuang tahun 
15 (641 M), ShanDao berangkat menuju BingZhou (sekarang TaiYuan) 
untuk berguru pada bhiksu DaoChuo di Vihara XuanZhong yang terletak 
di gunung Dinding Batu, daerah WenShui. DaoChuo memberikan kitab 
Maha Sukhavati-vyuha Sutra dan mengajarinya praktek metode Tanah 
Suci. Setelah memahami metode ajaran ini, beliau dengan gembira 
berkata "Inilah ajaran inti dari para Buddha, metode lain sungguh 
sulit dan berat, hanya melalui metode ajaran inilah yang dapat 
dengan cepat terbebas dari Samsara". Kemudian beliau berlatih dengan 
tekun dan sungguh sungguh. Setiap hari bersujud dan melafal nama 
Buddha. Dengan mengerahkan sekuat tenaga untuk terus berlatih, jika 
belum mencapai kelelahan penuh, beliau tidak akan berhenti. Pada 
saat musim dingin sekalipun, beliau melafal nama Buddha hingga 
berkucuran keringat dan membasahi bajunya. ShanDao sungguh memiliki 
semangat yang luar biasa.
         Selama 30 tahun lebih beliau selalu mengajari orang tentang 
metode ajaran Tanah Suci dan menasihati orang melafal nama 
Buddha.    
ShanDao juga pernah tinggal di gunung ZhongNan, dan sering 
berceramah di vihara GuangMing. Pada masa tuanya, beliau tinggal di 
ChangAn, Vihara SheJi. . Beliau juga termasuk seorang ahli seni 
patung, sebab itu  Kaisar TangGaoZhong memberikan wewenang kepadanya 
untuk mengawasi pembangunan patung Buddha MahaVairocana di situs goa 
LungMen yang terletak di LuoYang. Di sisi selatan patung Buddha, 
beliau memimpin pembangunan vihara FengXian.    
Keluhuran watak ShanDao juga terlihat dalam kedisiplinannya dalam 
menjalani Sila. Tidak pernah sekalipun beliau menatap mata seorang 
wanita sebagai latihan disiplin yang beliau jalankan. Sepanjang masa 
beliau hidup dari sedekah, pakaiannya kusam dan makanan hanya 
seadanya saja. Sikapnya terhadap orang juga sangat ramah, jika 
mendapatkan makanan yang baik, beliau akan mempersembahkannya kepada 
orang yang membutuhkan, sedangkan beliau hanya mengambil makanan 
sisa saja.  
Tidak pernah sekalipun membicarakan masalah duniawi, karena menurut 
beliau hanya akan menangguhkan waktu untuk berlatih, dan masalah 
terbebas dari samsara merupakan  hal yang mendesak.   
        Setelah  mendapat ajaran sejati, beliau tidak tinggal diam 
menikmati hasil pencapaiannya. Ini menunjukkan welas asih nya demi 
semua makhluk hidup. Sejak memasuki kota ChangAn, beliau membimbing 
banyak orang. Setiap menerima persembahan dana dari para umat, semua 
dana nya digunakan untuk menulis kitab Amitabha Sutra sebanyak 
ratusan ribu jilid, dan melukis pemandangan alam Sukhavati sebanyak 
lebih 300-an  lukisan, untuk menyebar luaskan ajaran Tanah Suci. Di 
situs Goa Seribu Buddha yang terletak di DunHuang, terdapat lukisan 
mandala Amitayur-dhyana Sutra, merupakan hasil karya beliau. 
Belakangan ini di wilayah propinsi XinJiang, China bagian barat, di 
adakan penggalian di bekas kerajaan kuno GaoChang, ditemukan 
berbagai teks kitab suci Buddha, di antaranya adalah sebuah kitab 
Amitabha Sutra yang disalin dari tangan ShanDao. Bukti dari hasil 
karya beliau terletak pada akhir bab kitab tersebut terdapat 
kalimat :"Disalin oleh bhiksu yang bertekad (terlahir di Tanah 
Suci), ShanDao". 
        Bhiksu ShanDao juga memiliki kekuatan iddhi. Ada sebuah 
kisah yang terkenal mengenai kekuatan yang dimiliki beliau.  Di mana 
pada saat berada di vihara SheJi, bhiksu ShanDao pernah berdebat 
tentang keunggulan metode melafal nama Buddha bersama dengan bhiksu 
Vajra. ShanDao berkata " Jika metode melafal nama Buddha untuk 
terlahir di Tahah Suci itu adalah sebuah kebohongan, maka semoga 
saya terjatuh ke alam neraka, namun jika itu adalah sebuah  
kebenaran, semoga patung patung di dalam ruangan ini memancarkan 
cahaya".  Setelah berkata demikian, patung-patung tersebut pun 
memancarkan cahayanya. Sejak itu pula, semakin banyak umat yang 
berlatih di bawah bimbingan beliau. Kesungguhan para umat yang 
berlatih juga dapat dilihat dari ketekunan mereka dalam melafal nama 
Buddha, di mana ada yang  membaca kita Amitabha Sutra  hingga 
sepuluh ribu kali, ada juga yang mencapai limapuluh ribu kali. 
Jumlah orang yang mencapai Samadhi dan terlahir di Tanah suci pun 
sulit terhitung banyaknya.  
         Seseorang pernah bertanya pada sang bhiksu :"Apakah praktek 
Nianfo dapat terlahir di Tanah suci Buddha?" Sang bhiksu lalu 
menjawab :" Sesuai dengan apa yang engkau praktekkan, maka akan 
sesuai dengan apa yang engkau harapkan" kemudian ShanDao pun 
mengucapkan nama Buddha satu kali, maka seberkas cahaya keluar dari 
mulutnya sekali. Seterusnya beliau melafalkan nama Buddha sekian 
kali, maka berkas cahaya pun keluar dari mulutnya sekian kali. Ini 
mencerminkan bahwa sungguh tak terbayang kan pencapaian ShanDao. 
        Beliau pernah memberi nasihat  dengan syair 
demikian:"Perlahan lahan rambut memutih , kulit berkeriput, 
Berjalanpun semakin berat rasanya. Meskipun emas dan permata 
bertumpuk di rumah, bagaimana bisa menghindari sakit dan derita? 
Biarpun sesenang apapun hidup anda, ketidak kekalan akan tiba 
saatnya. Hanya ada jalan langsung untuk berlatih, (yakni)melafallah 
Amitabha Buddhaya".
Bhiksu ShanDao memiliki ajaran yang menitik beratkan pada 
metode "melafal nama Buddha". Oleh sebab itu pula ada yang 
menganggap mazhab Tanah Suci sejak dibawah ajaran ShanDao lebih 
menemukan jati dirinya dan melafal nama Buddha menjadi metode 
latihan yang paling diutamakan. Padahal istilah "melafal nama 
Buddha" yang berasal dari kata "Nianfo" ini hanyalah merupakan salah 
satu dari 4 jenis Nianfo.    Tetapi sejak bimbingan dari bhiksu 
ShanDao melalui metode "melafal nama Buddha", maka akhirnya 
metode "Nianfo" secara umum didefinisikan  sebagai "melafal nama 
Buddha". Sejak ajaran melafal nama Buddha dari ShanDao pula , 
kalimat "Namo Amituofo" telah melekat secara mendalam pada setiap 
umat Buddha di negeri China. 
        Ajaran dan nasihat yang diberikan ShanDao sangat mendalam. 
        Ada yang bertanya bahwa mengapa tidak mengajar orang 
berlatih meditasi vipasyana pada objek alam Buddha saja, tetapi 
menasihati orang melafal nama Buddha? Beliau menjelaskan bahwa 
rintangan karma para makhluk hidup sungguh berat,  pikiran mereka 
masih kasar sedangkan  bentuk visualisasi sangat halus, kesadaran 
mereka masih labil, dengan demikian metode vipasyana tersebut akan 
sulit membuahkan hasil. Oleh sebab itu pula atas welas asih dari 
sang Buddha, kita diajari metode yang praktis dan mudah yakni 
melafal nama Buddha.
 Jika melafal nama Buddha secara berkesinambungan hingga batas waktu 
menjelang ajal, baik  melafal 10 kali maupun 100 kali pasti akan 
terlahir di Tanah suci. Mengapa demikian? Karena pikiran demikian 
terpusat dan tidak melantur sebagai bentuk pikiran yang benar.  
Karena pikiran yang mengarah pada objek Buddha di mana pikiran kita 
berinteraksi dengan tekad dan sumpah  Buddha Amitabha. Karena 
pikiran demikian tidak bertentangan dengan dharma. Karena pikiran 
demikian sesuai dengan kata-kata Buddha. 
Sedangkan jika mengabaikan pikiran yang terpusat dan melatih 
bermacam macam jalan lain , maka dalam 100 orang belum tentu  satu 
dua orang bisa berhasil. Dalam seribu orang belum tentu ada tiga 
empat orang bisa berhasil. Mengapa? Karena pikirannya tidak terfokus 
dan melantur sehingga kehilangan pikiran yang benar. Karena pikiran 
demikian tidak akan mengalami interaksi  dengan sumpah dan tekad 
Buddha. Karena pikiran demikian bertentangan dengan dharma. Karena 
pikiran demikian tidak sesuai dengan kata-kata Buddha. Karena 
pikiran (melafal nama Buddha) nya  tidak berkesinambungan. Karena 
pikiran membalas jasa Buddha tidak berkesinambungan. Karena  
meskipun berbuat kebajikan, namun sering mengharapkan nama dan 
keuntungan pribadi. Karena bergembira dalam kehidupan yang kompleks, 
sehingga merintangi diri sendiri dan orang lain dalam menapak jalan 
yang benar menuju kelahiran di Tanah Suci. Dibandingkan dengan para 
bijak dan awam dari tempat jauh, meskipun metode ajaran dan latihan 
mereka berbeda beda, namun jika mereka berfokus pada satu jalur 
dengan sungguh sungguh, 10 orang di antara mereka yang berlatih, 10 
orang pun berhasil. Jika berlatih secara acak, tidak sepenuh hati, 
1000 orang yang berlatih, tidak ada seorang pun yang berhasil. 
Semoga semua orang merenungkan ini, baik berjalan, berdiri, duduk 
maupun berbaring, harus mendorong diri untuk berusaha  hingga batas 
akhir hidup, maka menjelang ajal, pasti akan terlahir di Tanah Suci, 
menikmati ajaran dharma sejati sepanjang masa hingga mencapai 
Kebuddhaan".      
        Kitab karya bhiksu ShanDao  yang terkenal adalah "Komentar 
atas Amitayur-dyana Sutra".  Pada abad ke-8 Masehi, kitab komentar 
ini menyebar dan berkembang di Jepang.  Melalui kitab ini pula, 
bhiksu Jepang yang bernama Hônen (FaRang) mendirikan mazhab  
JodoShu  (Mazhab Tanah Suci) di Jepang dan ShanDao diangkat  sebagai 
patriak.   Pada tanggal 14 Mei 1980, umat Buddha Mazhab JodoShu dari 
Jepang  bersama Lembaga Agama Buddha China, melaksanakan upacara 
bersama peringatan 1300 tahun wafatnya mahabhiksu ShanDao. Ini 
menunjukkan betapa besar rasa hormat dan pengaruh ajaran bhiksu 
ShanDao pada Mazhab Jodoshu di Jepang. 
        Mahabhiksu ShanDao wafat pada tanggal lunar 14 bulan ke 3 di 
usia 69 tahun pada masa dinasti Tang, era kaisar GaoZhong.  
Oleh muridnya HuaiHun?, beliau di semayamkan dalam stupa yang diberi 
nama ChongLing di ChangAn, gunung ZhongNanShan, ShenHeYuan, kemudian 
tempat tersebut juga dibangun vihara XiangJi.
        Nama besar  ShanDao dapat kita lihat dalam berbagai 
sanjungan yang diberikan oleh para sesepuh, seperti yang tercatat 
dalam kitab "TianZhuWangShenLueZuan(Kisah singkat tentang Kelahiran 
di Tanah Suci dari India)  mengatakan bahwa bhiksu ShanDao adalah 
jelmaan dari Buddha Amitabha. Pendiri mazhab Jodoshu dari Jepang, 
bhiksu Honen menyanjung ShanDao sebagai `Pewaris Sang Raja Tekad 
Buddha Amitabha'. Mahaguru  LianCi- patriak ke 8 mazhab Sukhavati -
mengatakan : "Legenda mengatakan bahwa bhiksu ShanDao adalah jelmaan 
Buddha Amitabha. Dilihat dari ketekunan dan latihan nya yang keras, 
memberi manfaat pada banyak orang dengan meningkatkan keyakinan 
orang, maka walaupun bukan jelmaan dari Buddha Amitabha, setidaknya 
adalah orang setaraf dengan bodhisattva Avalokitetsvara dan 
Samanthabhadra. Sungguh agung beliau".
Sejak masa dinasti Song, beliau dihormati sebagai Patriak ke 2 dari 
mazhab Tanah Suci.






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke