|
Kompas, Rabu, |
|
|
|
|
|
|
|
Keluar dari Kemelut Oleh: YONKY KARMAN "Mengapa sekarang seperti zaman tahun 1960-an, minyak tanah susah dicari dan harga eceran mahal, keluh seorang nenek yang terpaksa mengantre minyak tanah di suatu pangkalan di Medan. Itulah potret krisis ekonomi yang sudah beberapa bulan melanda Tanah Air. Rakyat, pelaku usaha, pekerja, dan pemerintah sama-sama tertekan. Semua menanggung beban. Namun, yang paling terkena dan menjadi korban adalah masyarakat kecil. Korban kemiskinan sudah dan sedang berjatuhan. Mereka sebagian besar rakyat tanpa akses layanan kesehatan dan pendidikan yang baik. Anak-anak putus sekolah. Bayi dan anak meninggal karena kurang gizi. Rakyat rentan terserang penyakit menular. Tingkat pengangguran melonjak. Nilai pendapatan masyarakat bawah mengecil. Pada Perang Dunia II, infrastruktur dan ekonomi Jerman hancur. Negeri itu nyaris lumpuh karena sumber finansial habis untuk biaya perang. Namun, pada tahun 1960-an, negeri itu bangkit, menjadi salah satu negeri industri dunia yang paling dinamis dan menjadi ikon keajaiban ekonomi. Bantuan besar-besaran dalam kerangka US Marshall Plan tak ada artinya jika Jerman tidak melakukan reformasi moneter, memberantas pasar gelap mata uang, dan mendisiplin diri dengan keras. Kaum buruh saat itu rela menerima pengurangan gaji, sebab pada saat sama pemerintah mampu menjaga harga-harga dan pajak tetap rendah. Soft state Berbeda dengan di Indonesia, sejak zaman revolusi, problem ekonomi kita masih soal beras dan minyak. Kebijakan ekonomi pemerintah belum mengalami kemajuan berarti, sebab petinggi negeri memimpin lewat kata-kata, instruksi, dan imbauan tanpa sanksi. Potret sebuah soft state. Indonesia negeri agraris, namun kebijakan ekonomi pemerintah tidak berpihak pada kepentingan dan kesejahteraan petani. Indonesia mengenal istilah wajib belajar, namun anggaran yang dialokasikan negara untuk pendidikan yang terendah di antara negara-negara di Asia. Ironisnya, tak ada penghargaan atau insentif kepada pihak swasta yang menyelenggarakan pendidikan. Lebih ironis lagi, predikat salah satu departemen terkorup melekat pada instansi terkait. Kita memiliki problem ketersediaan pasokan dollar AS. Namun, pemerintah tidak menerapkan sistem devisa bebas yang mewajibkan eksportir mengonversi hasil ekspornya ke mata uang domestik dalam waktu seminggu. Ada instrumen hukum UU No 23/1999 atau UU No 3/2004 tentang Bank Indonesia bahwa mata uang pembayaran yang sah adalah rupiah. Namun, banyak gaji WNI dibayar dalam dollar AS. Bahkan, ada BUMN memberlakukan pembayaran transaksi di dalam negeri dengan cara sama. Pemerintah hendak memerangi korupsi, namun pemberantasan pandang bulu dan setengah hati. Hakim ad hoc tindak pidana korupsi sempat setahun tidak memperoleh gaji tetap dari pemerintah. Seharusnya korupsi diberantas secara sistematis dan perolehan kembali harta hasil korupsi dipakai untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Solusi divergen Negara sedang dalam kemelut. Kemelut tidak cukup disikapi secara reaktif, tetapi harus dikelola dengan arif agar menjadi peluang untuk maju. Menurut E F Schumacher, ada dua corak problem (A Guide for the Perplexed, 1979). Problem yang solusinya bersifat logis, teknis, material, atau konvergen mengikuti hukum-hukum alam tak bernyawa. Ada juga problem divergen yang melibatkan tingkat eksistensi lebih tinggi, melibatkan kehidupan dan kesadaran diri. Problem divergen tidak bisa dipandang sebagai problem teknis dan mekanistis. Kemelut kita bukan hanya problem distribusi bahan bakar minyak atau ketidakseimbangan antara supply dan demand dollar AS. Kemelut kita membutuhkan suatu landasan etik-moral yang baru dan memungkinkan pengembangan kemampuan-kemampuan yang lebih tinggi. Sebagai pemimpin yang mendapat mandat langsung dari rakyat, presiden harus tegas guna menghentikan salah urus negara. Tindaklah pembantu dan pejabat yang kebijakannya menyusahkan rakyat. Pilihlah pembantu yang kapabel dan berpihak pada kesejahteraan rakyat dan jangan biarkan mereka tanpa koordinasi. Sudah saatnya pengusaha di sektor formal maupun informal diperlakukan sebagai pahlawan bangsa. Ketersediaan lapangan kerja amat mendesak. Segala urusan izin usaha harus dipermudah guna menggerakkan roda perekonomian. Sanksi tegas harus diberikan bagi aparat pemerintah yang mempersulit pelaku usaha. Jangan hanya memperlakukan mereka sebagai wajib pajak, tetapi hargailah mereka sebagai pahlawan yang membawa bangsa keluar dari kemelut. Perlu dipikirkan dampak kenaikan harga-harga dan penghasilan pegawai negeri tingkat rendah. Untuk mengikis pemberantasan korupsi secara paralel di semua lini, mungkin bisa disediakan semacam kotak amal di kantor-kantor pemerintah. Dana masyarakat dari kotak itu dikelola secara transparan guna kesejahteraan pegawai kecil. Untuk keluar dari kemelut dibutuhkan partisipasi segenap komponen bangsa. Bersama kita bisa baru sebatas slogan. Masih ada petinggi negeri mempermainkan keutuhan bangsa dengan membiarkan praktik-praktik diskriminatif yang kasar. Solidaritas berbangsa dibiarkan luntur lewat kebijakan tak tertulis yang diskriminatif. Diskriminasi melukai perasaan minoritas dan merusak sendi kehidupan berbangsa. Bung Hatta berpesan, Negara akan kuat jika pemerintahnya dipercaya rakyat. Rakyat akan makmur jika pemerintah mencintai rakyatnya (pidato pada rapat umum di Kabanjahe, 22/11/1950). Negara lemah karena rakyat tidak percaya bahwa pemerintah serius menyejahterakan mereka. Maka, pemerintah wajib meletakkan fundamen kesejahteraan rakyat yang kokoh. Yonky Karman Pengajar di Sekolah Tinggi Teologi Cipanas |
Yahoo! for Good
Click here to donate to the Hurricane Katrina relief effort.
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
