PATRIAK SUCI - MAZHAB SUKHAVATI (6)
by: ching ik
12. CheWu /Jixing (1741 1810)
Mahaguru CheWu adalah patriak ke 12 dari mazhab Sukhavati,
termasuk bhiksu terkenal di masa dinasti Qing. Naman julukannya
adalah Jixing; YiZiNaTang; dan juga MengDong. Beliau berasal dari
wilayah JinDong,(Sekarang merupakan wilayah propinsi HeBei,
kabupaten FengRun). Marganya adalah Ma, nama ayahnya WanZhang.
Ibunya berasal dari keluarga Gao. Sejak kecil sang bhiksu telah
menampakkan kecerdasannya. Beliau sangat suka membaca buku seperti
kitab kitab konfusianis dan sejarah. Beliau juga mahir membuat puisi
sehingga sangat dihormati oleh orang.
Pada masa pemerintahan kaisar QianLong tahun ke 27 (1762 M), di
usianya yang ke 22, sang bhiksu jatuh sakit dengan kondisi yang
sangat lemah dan di saat itu pula beliau menyadari sifat ketidak
kekalan hidup ini. Dari hal inilah akhirnya beliau memutuskan untuk
menjadi bhiksu. Setelah sembuh beliau berangkat menuju ke kabupaten
FangShan, bermohon ditahbis oleh bhiksu tua bernama RongChe di
vihara SanSheng. Tahun berikutnya, beliau pergi ke vihara XiuYun
untuk menerima Sila penuh dari seorang guru vinaya bernama Bhiksu
HengShi. Tahun berikutnya lagi, beliau berangkat ke vihara XiangJie
untuk mendengarkan khotbah tentang Sutra Mahaparipurnabudhi dari
bhiksu LongYi. Beliau dengan tekun mendalami sutra tersebut dan
berhasil menembus makna inti tentang Kesadaran sempurna. Kemudian
beliau pergi lagi menuju vihara ZhenShou untuk belajar di bawah
bimbingan bhiksu HuiAn, mempelajari ajaran mazhab Yogacara. Setelah
berhasil menguasai ajaran tersebut, beliau pergi lagi menuju ke
vihara XinHua, dibawah bimbingan bhiksu BianKong beliau mendengarkan
khotbah tentang Sutra Teratai, Sutra Intan, Sutra Surangama, dan
berbagai sutra Mahayana lainnya. Setelah mendalami berbagai sutra
beliau akhirnya berhasil menembus pemahamannya tentang inti ajaran
Buddha. Sejak itu beliau menjadi seorang ahli ajaran dari kelompok
Vijnana maupun Sunyata, khususnya tentang ajaran dari mazhab
TienTai. Pada masa proses pembejarannya ini telah membantu CheWu
mendapatkan pijakan yang kuat untuk menjalankan misi penyebaran
ajaran Buddha.
Tahun 1768 di musim gugur, di usia ke 28 tahun sang bhiksu pergi
mengunjungi seorang sesepuh dari sekte Chan bernama Bhiksu CuiRuChun
di vihara GuanTong, wilayah JinDu. Setelah belajar di bawah
bimbingan bhiksu CuiRuChun dan berhasil menembus inti ajaran Chan,
bhiksu CheWu kemudian diangkat sebagai pewaris garis silsilah aliran
LinJi (Rinzai) yang ke 36 dan pewaris generasi ke 7 dari sub aliran
QingShan. Tahun 1776, karena bhiksu CuiRuChun berangkat ke vihara
WanShou, maka bhiksu CheWu pun menggantikan sang guru untuk mengajar
di vihara GuanTong dan membimbing para siswa untuk berlatih
meditasi. Hingga tahun 1792 selama 24 tahun ini, bhiksu CheWu terus
berlatih secara tekun, membimbing para praktisi junior dan menjadi
panutan semua orang. Popularitas sang bhiksu kemudian menyebar ke
berbagai penjuru, dan oleh karena itu juga ajaran Chan kembali
menampakkan kejayaannya. Lalu kemudian di sela sela mempraktekkan
meditasinya, selalu terbayang dalam perenungannya bahwa bhiksu
YenShou dan bhiksu LianCi sebagai sesepuh dari mazhab Chan bahkan
rela melepaskan ajaran Chan dan sepenuh hati bernaung pada Tanah
suci untuk bermohon terlahir di tanah suci Sukhavati, maka
bagaimana dengan makhluk hidup di masa sekarang yang di mana akar
kebajikannya lebih kecil? Atas perenungan ini, akhirnya beliau
memutuskan untuk mengikuti jejak para sesepuh terdahulu, melepaskan
Chan dan bernaung pada Tanah suci dan bertekad untuk terlahir di
Sukhavati. Ini merupakan pengalihan terbesar yang dialami sang
bhiksu selama menjadi seorang praktisi dan oleh sebab itu pula dalam
sejarah mazhab Sukhavati kemudian akan muncul lagi seorang praktisi
besar.
Sejak itu bhiksu CheWu berhenti mempraktekkan meditasi Chan, beralih
mempraktekkan Nianfo dan secara khusus membabarkan ajaran Tanah
suci. Setiap ada orang yang membuat rintangan atas ajaran Tanah
suci, beliau tidak akan mempedulikan orang tersebut. Tidak ada yang
dapat menandinginya dalam hal Keyakinannya yang tulus dan
tekadnya yang kuat. Untuk mempraktekkan ajaran Tanah suci secara
intensif, beliau berusaha keras untuk menjauhi diri dari hubungannya
dengan dunia luar. Jika ada oarng yang datang mengunjunginya, maka
beliau hanya membatasi waktu selama satu batang dupa untuk bertatap
muka. Selain itu, beliau hanya mempraktekkan nianfo saja.
Kemudian bhiksu CheWu berangkat menuju vihara JueShen dan menjadi
kepala vihara tersebut. Selama 8 tahun di sana beliau membimbing
para umat untuk mempraktekkan Nianfo secara tekun. Metode Chan dan
Tanah suci dikombinasikannya secara bijaksana untuk mengajar para
siswa. Para siswa dari berbagai penjuru datang untuk berguru
kepadanya dan orang yang bernaung pada ajaran Tanah Suci pun tak
terhitung jumlahnya dan oleh karena itu pula ajaran Tanah suci
mengalami kemajuan pesat. Saat itu orang orang pun memujinya sebagai
orang nomor satu dalam mazhab Tanah suci.
Tahun 1800, sebagai bhiksu yang sudah memasuki usia senja, CheWu
kemudian menetap di vihara ZiFu di gunung Hongluo. Sebenarnya sang
bhiksu bermaksud menyepi ke gunung untuk mempraktekkan nianfo dengan
tenang untuk menjalani masa masa akhir hidupnya Namun karena para
siswanya yang tidak rela ditinggalkan oleh sang guru, maka beliau
pun dengan welas asihnya terus membimbing para siswanya tanpa
pamrih. Hari demi hari, jumlah siswa yang semakin banyak hingga
wilayah tersebut kemudian menjadi sebuah vihara hutan yang luas.
Berkat pengaruh bhiksu CheWu pula sejak itu vihara Zhefu di gunung
Hongluo ini pun berubah menjadi sebuah pusat ajaran Tanah suci yang
penting. Meskipun pada usianya yang sudah tua, bhiksu CheWu masih
tetap melakukan pekerjaan kasar bersama para siswa sebagaimana
biasanya seperti memikul kayu, mengambil air, memperbaiki bangunan.
Tahun 1810 bulan ke 2, beliau menuju ke vihara WanShou untuk
bersujud pada stupa gurunya-bhiksu CuiRuChun. Kemudian beliau
berpesan kepada para siswa dengan mengatakan :" Dunia dan kehidupan
ini tidak kekal, hidup dengan hampa sungguh sayang, berlatihlah
nianfo secara tekun, semoga dapat berjumpa lagi di Tanah suci pada
suatu saat" . Kata-kata sang guru mengindikasikan bahwa beliau telah
tahu masa hidupnya sudah tidak lama lagi. Hingga pada bulan ke 3,
bhiksu CheWu kembali ke gunung HongLuo, karena tahu hari
kemangkatannya sudah semakin dekat maka beliau pun memberi pesan
kepada para siswanya untuk mempersiapkan kremasinya, kemudian
melepaskan jabatan vihara kepala dan berkata kepada semua
orang :" Metode ajaran Nianfo dapat dilatih oleh semua orang yang
memiliki tingkat kebajikan tinggi, sedang maupun rendah, t idak ada
satupun orang yang tidak dapat terserap dalam metode ini. Selama
bertahun-tahun ini aku telah mendirikan pusat latihan ini bersama
semua orang dengan susah payah, pada intinya bertujuan untuk
mengundang semua orang agar dapat datang ke tempat ini berlatih
ajaran Tanah suci bersama, maka taatilah setiap tata tertib yang
telah aku tetapkan di sini selama lamanya dan jangan sampai
merubahnya secara semena mena, sehingga tidak mensia-siakan usaha ku
selama ini.
Setengah bulan sebelum kemangkatannya, bhiksu CheWu sudah mulai
menampakkan gejala sakitnya. Beliau meminta para siswanya untuk
melafalkan nama Buddha, kemudian di atas langit muncul wujud
berbagai macam umbul umbul dan bendera dari arah barat, beliau pun
berkata kepada para siswanya: "Wujud tanah suci telah muncul, aku
akan berangkat ke (tanah suci)barat". Lalu para siswa bermohon
kepada guru CheWu untuk tetap tinggal di dunia ini, namun beliau
menjawab :"Meski hidup seratus tahun, saat untuk berpisah tetap akan
tiba, aku akan mencapai alam suci, semestinya kalian bergembira
untukku, untuk apa menahanku? ". Pada tanggal 16 bulan ke 12,
bhiksu CheWu meminta pengawas vihara, bhiksu GuangYi untuk
mempersiapkan jamuan Nirvana. Esok harinya sekita pukul 3 sore,
bhiksu CheWu berkata kepada semua orang: "Semalam aku telah bertemu
dengan 3 mahasatvva , bodhisattva Manjusri, Avalokitetsvara dan
Mahasmaprapta, lalu hari ini aku telah melihat sang Buddha Amitabha
mengulurkan tangannya untuk menjemputku, hari ini aku akan terlahir
(di tanah suci)". Lalu semua orang pun melafalkan nama Buddha dengan
semakin lantangnya, dan bhiksu CheWu kemudian dalam posisi meditasi
ke arah barat berkata lagi :"Mengucapkan nama agung (Amitabha)
sekali akan muncul satu wujud yang mulia" setelah itu beliaupun
menggerakkan tangannya dalam bentuk Mudra Amitabha lalu mangkat
dengan sikap yang tenang. Semua orang di tempat tersebut kemudian
mencium aroma yang harum menyerbak ke angkasa. Jenasah sang bhiksu
lalu di semayamkan selama 7 hari, di mana selama itu raut muka sang
guru tampak masih seperti hidup, bahkan rambut ubannya berubah
menjadi warna hitam. Pada minggu ke dua, jenasah beliau baru di
masuk ke peti, dan pada minggu ke 3 dikremasikan. Setelah dikremasi,
didapatkan relic sang bhiksu berjumlah ratusan biji. Kemudian para
siswanya menempatkan abu dan relic tersebut dalam stupa PuTong
sesuai dengan pesan sang guru. Bhiksu CheWu mangkat pada usia ke 70,
di mana beliau menjadi bhiksu selama 49 tahun.
13. YinGuang (1861-1940)
Bhiksu YinGuang dilahirkan pada tanggal 12 bulan ke 12 tahun 1861.
Tempat asalnya berada di desa ChiCheng, kab.Heyang, wilayah tenggara
prop.ShaanCi, China. Ayahnya bernama BingGang dari marga Zhao dan
ibunya berasal dari keluarga Zhang.
YinGuang memiliki 2 orang kakak kandung, dimana kakak pertama
bernama ChongLong, sedangkan kakak kedua bernama FanLong. Beliau
sendiri adalah anak bungsu. Nama aslinya adalah ShaoYi, dan nama
julukannya adalah ZiRen.
Keluarganya bukanlah termasuk golongan keluarga berada, namun
ayahnya merupakan pemuka masyarakat yang sangat dihormati oleh
penduduk desa tersebut. Di antara ketiga bersaudara ini, kakak
pertama ChongLong- merupakan kaum terpelajar yang telah banyak
mengenyam ajaran klasik termasuk Confusianisme.. Kakak keduanya-
FanLong- tidak begitu tertarik dengan pendidikan formal, karena
beliau lebih suka bekerja di ladang. Sedangkan si bungsu YinGuang,
sejak kecil telah dipersiapkan untuk mengikuti jejak kakak
pertamanya mengenyam dunia pendidikan. Meskipun terlahir dalam
keluarga petani, orang tua YinGuang sangat mengharapkan agar
YinGuang pada suatu saat dapat menjadi orang besar. Maka tidak heran
jika beliau diberi nama ShaoYi, yang berarti mengikuti jejak YiYing,
seorang perdana menteri pada masa dinasti Shang yang berasal dari
wilayah Heyang.
Antara usia 7 hingga 14 tahun, YinGuang mengenyam pendidikannya yang
pertama dibawah bimbingan kakaknya sendiri di rumah. Antara usia 15
hingga 20 tahun, beliau melanjutkan pendidikannya di kota ChangAn.
Karena system pendidikan di China pada saat itu sangat sarat dengan
ajaran Confucius, maka secara alami kerangka berpikir YinGuang telah
tertanam oleh paham Confucianisme. YinGuang muda bahkan mengikuti
jejak para tokoh confusianis terdahulu yang cukup radikal untuk
mendiskreditkan ajaran Buddha.
Namun mengapa pada akhirnya justru beliau menjadi seorang penganut
Buddha bahkan meninggalkan keluarganya dan menjadi bhiksu?
Faktor yang membuat perubahan dalam diri beliau yang cukup besar
adalah penyakit yang dideritanya selama bertahun tahun. Sebenarnya,
sejak usia 6 bulan YinGuang telah mengidap penyakit mata yang sangat
mengganggu penglihatannya. Penyakit ini membuat beliau tidak mampu
melihat sesuatu dalam waktu yang cukup lama, jika menatap terlalu
lama maka penglihatan tersebut akan semakin kabur. Tidak diketahui
secara jelas apa kaitan langsung tentang penyakit yang dideritanya
dengan keputusannya untuk menjadi bhiksu. Atau apakah ada penyakit
yang dideritanya selain penyakit mata tersebut, tidaklah diketahui.
Beliau sendiri mengakui kesalahan telah mendiskreditkan ajaran
Buddha di mana hal ini beliau tuangkan dalam tulisannya dalam sebuah
surat balasan kepada seorang upasaka bernama Shao-HuiYuan di tahun
1931 demikian : "Aku pada dasarnya adalah seorang pelajar yang tidak
pernah mendengar nama Buddha dan hanya tahu kisah Han, Ou, Cheng dan
Zhu mendiskreditkan Buddha. Banyak orang yang menjadikannya sebagai
petunjuk jalan, tapi saya sebaliknya dan bahkan 100 kali lebih
parah. Untung saja aku sering menderita penyakit hingga baru tahu
apa yang dikatakan para pendahulu (tentang pendiskreditan ajaran
Buddha) adalah tidak benar".
YinGuang menjadi bhiksu pada usia 21 tahun (1881). Tanpa mendapat
restu dari keluarga, beliau secara diam diam dari kota ChangAn
menuju ke gunung ZhongNan, kemudian ke gunung WuTai selatan dan goa
LienHua dan di sana ditahbis oleh bhiksu DaoChun. Orang yang
paling tidak setuju dengan keputusannya ini adalah kakak pertamanya
ChongLong. YinGuang sendiri pergi menjadi bhiksu di saat ChongLong
tidak berada di ChangAn. Tidak sampai 3 bulan kemudian YinGuang
ditemukan oleh kakaknya dan diminta pulang dengan alasan harus
mendapat persetujuan dari sang ibu terlebih dahulu. YinGuang sendiri
tahu bahwa itu hanyalah alasan yang dibuat oleh kakaknya, namun
bagaimanapun beliau terpaksa harus pulang juga. Setelah kembali ke
rumah, baru diketahui bahwa ibunya tidak pernah menolak maupun
menyetujui. Sesungguhnya yang tidak setuju dengan keputusan YinGuang
hanyalah kakaknya seorang. Kakaknya memperingatkan YinGuang dengan
berkata :" siapa yang suruh engkau menjadi bhiksu dan apakah lalu
kau boleh menjadi bhiksu begitu saja dengan keputusan sendiri? Mulai
sekarang lupakanlah (niatmu) itu, jika tidak kau akan diberi
hukuman". Kemudian ChongLong lalu memaksa YinGuang tetap menjalani
kehidupan biasa dan menjaga agar beliau tidak melarikan diri lagi.
Hal ini memaksa YinGuang tetap tinggal di rumah selama 80 hari lebih
hingga pada suatu hari kebetulan ChongLong sedang pergi mengunjungi
saudaranya dan kakak keduanya sedang sibuk dengan pekerjaannya, maka
pada kesempatan ini YinGuang secara diam diam mengambil kembali
jubah bhiksunya, mencuri uang 200 sen sebagai biaya perjalanannya
dan pergi menuju ke goa LienHua. Karena takut akan ditemukan kembali
oleh kakaknya, maka beliau hanya tinggal di sana selama satu malam
saja dan keesokannya berangkat lagi menuju ke wilayah HuBei dan
tinggal sementara di vihara LienHua, daerah ZhuXi. Di vihara
LienHua, YinGuang membantu tugas vihara seperti mengambil air dan
kayu dan berbagai pekerjaan kasar lainnya untuk keperluan sekitar
40 orang bhiksu. Dengan rajin dan tekun melakukan tugas tugas itu
hingga akhirnya beliau diterima untuk menetap di vihara tersebut.
Tahun 1862 saat di usia 22 tahun, YinGuang berangkat menuju ke
vihara ShuangXi di kabupaten XinAn propinsi ShaanXi untuk menerima
sila penuh dari guru vinaya- Bhiksu YinHai. Karena ada tugas yang
harus beliau selesaikan dalam kegiatan mencatat selama masa
penyempurnaan Sila, mengakibatkan penyakit matanya kambuh kembali.
YinGuang kemudian dengan sepenuh hati melafal nama Buddha dan
ternyata penyakitnya menjadi sembuh. Hal ini membuat keyakinan diri
yang semakin kuat dalam diri YinGuang tentang metode ajaran Nianfo.
Setelah belajar beberapa lama di vihara ShuangXi, YinGuang berangkat
lagi menuju ke gunung ZhongNan wilayah puncak TaiYi. Di sana beliau
dengan tekun berlatih, mempraktekkan Nianfo dan mendalami kitab
suci. Setelah mendalami kitab suci, beliau menyadari bahwa metode
ajaran Tanah suci sangat sesuai dengan kondisi semua orang di jaman
sekarang. Lalu karena mendengar bahwa vihara ZheFu di gunung HongLuo
merupakan pusat ajaran Tanah suci dari patriak ke 12 bhiksu CheWu,
maka pada tanggal 14 bulan 10 tahun 1886 di usianya yang ke 26,
YinGuang menuju vihara tersebut untuk berlatih ajaran Tanah suci dan
mendapatkan kemajuan yang pesat di sana. Di vihara ZheFu, selain
berlatih bersama para bhiksu dan melakukan berbagai tugas vihara,
YinGuang juga mempelajari kitab suci secara konprehensif sehingga
pengetahuannya tentang ajaran Buddha semakin mendalam. Tinggal di
gunung HongLuo selama 4 tahun, YinGuang juga lebih banyak berfokus
pada ajaran dari patriak ke 12 bhiksu CheWu sehingga beliau disebut
sebagai pewaris ajaran dari sang patriak.
Tahun 1893, bhiksu HuaWen dari vihara FaYu di gunung PuTuo
mengunjungi vihara YuanGuang di Beijing untuk mengambil kitab suci
Tripitaka. Bhiksu itu sangat membutuhkan seorang pembantu, maka ada
yang memperkenalkan YinGuang kepada beliau. Karena mengetahui
YinGuang adalah seorang praktisi yang sangat berkompeten, maka
bhiksu HuaWen merasa sangat bergembira dengan mengajaknya untuk
menetap di vihara FaYu, gunung PuTtuo. YinGuang lalu ditempatkan di
bagian perpustakaan. Di vihara FaYu, YinGuang mendapatkan pujian
dari banyak orang karena pengetahuannya tentang ajaran Buddha. Tahun
1897, karena desakan orang untuk memintanya memberi ceramah, maka
beliau terpaksa memenuhi panggilan. Dan setelah selesai berkhotbah,
YinGuang lalu memutuskan untuk melakukan praktek penyepian di
samping aula ZhuBao, dalam 2 sesi selama 6 tahun.
Sejak meninggalkan rumah dan menjadi bhiksu, tidak pernah sekalipun
YinGuang menginjakkan kakinya untuk kembali ke kampung halaman
ataupun bertemu dengan sanak keluarganya. Selama masa hidupnya,
hanya sekali beliau menitipkan surat untuk mengetahui kabar tentang
keluarganya di tahun 1891, namun tidak ada satupun kabar balasan
yang beliau terima. Setelah melewati masa 30 tahun, beliau baru
mengetahui kabar bahwa kedua orang tuanya telah tiada.
Menjadi bhiksu selama 30 tahun dari tahun 1881-1911, YinGuang selalu
menjauhi diri dari keramaian dan tidak suka menonjolkan diri bahkan
tidak mau orang mengetahui namanya. Beliau sangat mengutamakan
berlatih diri, mempraktekkan Nianfo dengan harapan dapat segera
mencapai Samadhi. Terlihat jelas bahwa proses keberhasilan
seseorang memang perlu melalui suatu masa masa seperti ini, seperti
yang dialami YinGuang.
Gunung Puthuo adalah pusat keagamaan dan tempat manifestasi
bodhisattva Avalokitetsvara. Di sinilah tempat YinGuang menetap
dalam jangka waktu paling lama selama menjadi bhiksu. Tahun 1911,
berhubung seorang upasaka bernama Gao-HeNian berkunjung ke gunung
PuTuo dan mendapatkan tulisan karya YinGuang dengan nama samaran
ChangChan, kemudian beliau memuatkan karya tersebut dalam sebuah
tabloid Buddhisme terbitan kota Shanghai, maka sejak itu pula jodoh
YinGuang dengan dunia luar mulai berkembang. Tahun 1917 hingga 1920,
Xu-WeiRu dan kawan kawan mengumpulkan surat-surat dan artikel
tulisan YinGuang dan menerbitkannya dalam bentuk buku
berjudul "Catatan tulisan bhiksu YinGuang". Tulisannya yang sangat
sarat dengan ajaran dharma pun menuai berbagai pujian dari banyak
kalangan, hingga nama beliau menjadi populer baik dari dalam maupun
luar negeri. Seorang tokoh buddhis bernama Liang-QiChao bahkan
pernah memuji bahwa Samadhi dalam wujud tulisan YinGuang adalah
petunjuk jalan bagi mereka yang buta di masa itu.
Profesor Chen-RongJie mengungkapkan : " Tahun 1920-an, dia
(YinGuang) menyebarkan sekian banyak buku kecil yang memproposalkan
ajaran tentang kehidupan moralitas dan agama. Beliau dapat dengan
leluasa mengambil inti kebijakan ajaran Confucius dan Taoisme.
Beliau sendiri adalah orang yang sangat paham tentang ajaran
Confucius dan Taoisme, menurutnya kedua ajaran tersebut pada
dasarnya memiliki keselarasan dengan ajaran Buddha". Meskipun
YinGuang tidak pernah menerima murid secara langsung, namun beliau
memiliki banyak umat yang menyebar diberbagai penjuru negeri.
Sesungguhnya pengaruh tulisannya dalam buku "Catatan tulisan bhiksu
YinGuang" cukup besar sekali.
Tahun 1930 bulan ke 2, YinGuang yang telah berusia 70 tahun
menjalani praktek penyepian di SuZhou, vihara BaoGuo. Namun karena
banyak umat yang selalu ingin berada di dekat sang bhiksu, maka
akhirnya beliau dengan upaya kausalya memberi bimbingan kepada para
umat. Alhasil, pada masa masa ini pula jumlah umat yang ingin
belajar di bawah bimbingan YinGuang malah semakin banyak lagi.
Letak vihara BaoGuo tidak terlalu jauh dari vihara LinYan di
kabupaten MuDu. Di vihara LinYan inilah kemudian YinGuang mendirikan
pusat latihan ajaran Tanah suci agar para umat dapat berkumpul untuk
berlatih bersama. Inilah masa sepuluh tahun terakhir YinGuang
memberi bimbingan kepada umat dalam jumlah terbanyak.
Tahun 1936 awal bulan 9, Ketua Pelaksana harian Lembaga Agama Buddha
China bhiksu YuanYing mengundang mahaguru YinGuang untuk memberi
ceramah di kota Shanghai dengan tema "Upacara keselamatan bangsa
agar terhindar dari bencana". Ceramah ini berlangsung selama 8
hari.
Tahun 1940, YinGuang telah berusia 80 tahun. Pada tanggal 27 bulan
ke 10, beliau mengalami sakit ringan, lalu keesokan harinya
dikumpulkanlah semua anggota bhiksu dan umat yang berkepentingan.
YinGuang telah tahu bahwa hari kemangkatannya telah dekat, oleh
sebab itu beliau bermaksud memberi pesan-pesan terakhirnya. Karena
YinGuang menjadi kepala vihara LinYan selama 10 tahun lebih yang
selalu dibantu oleh pengawas vihara, bhiksu MiaoZhen, maka jabatan
kepala vihara diputuskan untuk diberikan kepadanya. Keputusan ini
mendapat persetujuan dari semua anggota. Lalu ditetapkanlah waktu
untuk mengadakan upacara serah terima jabatan itu pada tanggal 9
bulan 11, tetapi Yin guang menolaknya dengan mengatakan bahwa
penetapan tanggal tersebut sudah terlambat. Kemudian dimajukan
menjadi tanggal 4, namun sang bhiksu menolaknya lagi dengan alasan
yang sama. Akhirnya diajukan pada tanggal 1 dan sang bhiksu baru
menyetujuinya. Hingga pada tanggal 3, kondisi YinGuang tampak
semakin lemah. Malam harinya, beliau diberi santapan berupa bubur.
Setelah selesai menyantap makanan, YinGuang berkata kepada bhiksu
ZhenDa dan orang yang merawatnya :"Tidak ada cara yang muluk-muluk
dalam praktek ajaran Tanah suci, asalkan bersungguh sungguh dan
tulus maka tidak ada yang tidak disambut oleh Buddha dan terlahir
(di tanah suci) dengan membawa sisa karma". Hingga pada jam 1 tengah
malam, YinGuang bangkit dari tempat tidurnya dan berkata :"Melafal
nama Buddha dan melihat Buddha, pasti terlahir di Barat (tanah suci
Sukhavati)". Selesai berkata demikian, beliau lalu melafal nama
Buddha dengan suara lantang. Pukul 2 lewat 15 menit, beliau membasuh
tangannya dengan air, lalu berdiri dan berkata :"Berkat sang Buddha
Amitabha datang menyambut, aku pergi sekarang. Kalian semua
melafallah nama Buddha, bangkitkanlah tekad, terlahirlah di tanah
suci Barat". Setelah berkata demikian, YinGuang lalu duduk di atas
kursi dalam posisi meditasi dan menghadap ke arah barat. Saat jam
menunjukkan pukul 3, beliau berkata kepada bhiksu
MiaoZhen : "Pertahankanlah pusat latihan ini, kembangkanlah ajaran
Tanah suci, jangan bersikap bak orang besar". Setelah itu beliau
terus melafal nama Buddha. Hingga jam 5 pagi (tanggal 4) YinGuang
mangkat dengan tenang disela sela para siswa mengalunkan nama
Buddha. Setelah dikremasi, di dapat kan reliknya yang berbentuk unik
dan gemilang yang berjumlah banyak sekali , kemudian disemayamkan
dalam stupa di vihara LinYan.
Sepanjang karirnya menjadi bhiksu, YinGuang lebih banyak membimbing
orang melalui metode ajaran Tanah suci. Sejak patriak ke 12 dari
mazhab Sukhavati hingga keruntuhan dinasti Qing, hanya dialah
penyebar ajaran Tanah suci yang paling menonjol. Oleh sebab itu
tidak ada penghormatan yang lebih besar lagi selain menobatkannya
sebagai patriak ke 13. Di samping itu, YinGuang juga disebut sebagai
salah satu dari 4 bhiksu terbesar di era baru China nasionalis. 3
bhiksu lainnya adalah Master XuYun, mahaguru TaiXu dan guru vinaya -
bhiksu HongYi.
Selama menjadi bhiksu, meskipun tidak pernah menerima murid dengan
cara penahbisan, sesungguhnya banyak bhiksu yang belajar dibawah
bimbingan YinGuang. Bhiksu Hongyi sendiri merupakan murid YinGuang..
Hongyi sendiri lebih populer disebut sebagai guru ahli vinaya karena
sangat menitik beratkan pada ajaran vinaya. Sikap dan perilakunya
sebagai bhiksu ditonjolkannya dengan praktek vinaya, tetapi batinnya
yang bernaung pada tanah suci merupakan hasil belajarnya dibawah
bimbingan YinGuang. Hongyi kemudian disebut sebagai salah satu 4
bhiksu besar yang disejajarkan dengan sang guru- YinGuang tersirat
bahwa YinGuang adalah guru yang telah berhasil memberikan apa yang
terbaik kepada sang murid. Selain Hongyi, murid YinGuang yang paling
menonjol adalah bhiksu DeSheng dan DaXing. Kemudian muridnya yang
berstatus upasaka adalah GaoHeNian, FanGuNong dan LiBingNan.
LiBingNan boleh dikatakan telah membawa warisan ajaran YinGuang
menembus China daratan menuju Taiwan. Setelah kemangkatan YinGuang
situasi China pada saat itu memang penuh dengan gejolak. Dari perang
dunia ke 2 hingga perang saudara antara pemerintahan nasionalis dan
komunis, China pada saat itu benar benar dalam situasi yang tidak
genting. Apalagi setelah kemenangan pihak komunis, kehidupan
beragama mengalami berbagai hambatan. Agama Buddha sendiri tidak
luput dari imbas ini, hingga tidak sedikit para umat yang ikut
menyeberang ke Taiwan. Di sinilah LiBingnan kemudian menyemaikan
ajaran Tanah suci sehingga warisan ajaran YinGuang dapat berkembang
di Taiwan. LiBingNan sendiri mendirikan pusat latihan ajaran Tanah
suci dan hal ini mendapat sambutan yang baik oleh para umat di
Taiwan. Semua orang tahu bahwa LiBingnan merupakan salah satu murid
dari pewaris garis silsilah mazhab Sukhavati, sehingga tidak
diragukan lagi beliau mendapatkan predikat penerus ajaran Tanah suci
yang di bawah garis tangan YinGuang. Meskipun ajaran Tanah suci
tidak terikat dengan segala jenis otoritas dan lagi pula garis
silsilah mazhab Sukhavati juga tidak diturunkan berdasarkan warisan
dari guru ke murid secara langsung, namun dengan melihat kenyataan
yang ada, orang lebih yakin jika belajar dibawah bimbingan guru yang
dimana guru tersebut adalah murid dari seorang sesepuh. Jika kita
perhatikan penyebaran ajaran Tanah suci melalui garis LiBingnan di
Taiwan, ternyata keberhasilannya cukup menakjubkan. Salah seorang
murid LiBingnan bernama bhiksu Jingkong adalah penerus ajaran Tanah
suci. Pada masa sekarang ini, bhiksu Jingkong telah membawa ajaran
Tanah suci menyebar ke berbagai penjuru seperti Asia tenggara,
Amerika dan Australia. Inilah dampak dari pengaruh ajaran YinGuang.
Jadi sungguh tidak berlebihan jika YinGuang dipuji oleh muridnya
Hongyi ," Orang besar seperti YinGuang, dalam 300 tahun terakhir ini
hanya dia saja" .
Patriak lainnya
TanLuan (476-542 M)
TanLuan adalah seorang bhiksu besar di masa dinasti Wei utara (abad
5 M). Tempat kelahiran beliau terletak di YanMen, wilayah DaTong,
bagian dari propinsi ShanXi. Karena letak rumahnya berdekatan dengan
pegunungan WuTai, maka sejak kecil beliau telah sering mendengar
kisah keajaiban yang diperlihatkan bodhisattva Manjusri di
pegunungan ini. Pada umur belasan tahun, beliau kemudian mengunjungi
gunung WuTai dan ternyata mengalami sendiri beberapa keajaiban yang
membuatnya sangat terharu. Di situlah kemudian beliau memutuskan
untuk menjadi bhiksu dan berlatih. TanLuan mempelajari berbagai
sutra dan kitab komentar, dan mengkaji secara mendalam terhadap
kitab karya Nagarjuna dan Aryadewa seperti Mahaprajna Paramitha
Sastra, Madyamaka Sastra, Dvadasa nikaya sastra, dan Sata
Sastra.
Kemudian beliau mempelajari kitab Mahasamnipata Sutra dan menyadari
bahwa makna dari isi kitab ini sungguh mendalam dan sulit dipahami,
maka beliaupun menuliskan kitab penjelasan terhadap kitab tersebut.
Di sela-sela sedang menyelesaikan tugasnya ini, tiba tiba beliau
mengidap penyakit pernafasan. Dengan terpaksa beliau menghentikan
tugasnya, dan pergi mencari pengobatan. Saat tiba di wilayah
FenZhou, penyakitnya mendadak sembuh. Kemudian beliau bermaksud
untuk meneruskan tugasnya, namun muncul dalam pikirannya bahwa
kehidupan yang singkat dan tidak pasti ini, jika tidak mendapatkan
usia yang panjang, maka segala perencanaan yang ada akan menjadi sia
sia. Lalu beliaupun memutuskan untuk mencari ilmu memperpanjang
usia. TanLuan mendapatkan kabar bahwa di wilayah selatan ada seorang
yang bernama TaoHongJing sangat mahir dalam ilmu dewa dan
berpengetahuan tinggi, maka beliau pun berangkat ke selatan untuk
mengunjunginya. Saat itu wilayah selatan adalah daerah kekuasaan
dinasti Liang, maka para penduduk dari dinasti Wei utara tidak dapat
secara bebas untuk masuk ke wilayah ini.Tiba di kota JianKang,
ibukota dinasti Liang (sekarang kota NanJing), TanLuan harus
diinterogasi dulu oleh petugas. Setelah itu kemudian beliau
dipertemukan dengan kaisar LiangWuDi. Sang kaisar adalah penganut
Buddha yang tulus dan suka berdiskusi tentang ajaran Buddha, maka
sangat senang atas kunjungan TanLuan dan mengajaknya untuk
berdiskusi. Saat ini, TaoHongJing sedang menetap di JuRong daerah
gunung MaoShan, di mana tokoh ini sangat dihormati juga oleh Kaisar
LiangWuDi dan sudah terkenal dengan julukan sebagai "Perdana Menteri
(yang tinggal) di atas pegunungan". Di kota JianKang, TanLuan
menyurati TaoHongJing terlebih dahulu untuk menjelaskan maksud
kunjungannya. Ternyata TaoHongJing juga telah kenal dengan
popularitas TanLuan maka beliau segera membalas surat sebagai tanda
sambutannya atas permohonan TanLuan. Setelah bertemu TaoHongJing di
gunung Mao, TanLuan kemudian menerima "Kitab dewa" sebanyak 10
jilid. Dengan gembira, beliaupun kembali ke Wei Utara dan bermaksud
untuk melatih diri berdasarkan kitab tersebut.
Saat tiba di kota LuoYang, TanLuan bertemu dengan bhiksu asal India
utara bernama Bodhiruci. Pada kesempatan ini, beliau lalu
mengutarakan maksudnya dan menanyakan bahwa apakah dalam kitab suci
Buddha terdapat kitab yang melebihi "Kitab Dewa" yang mengajarkan
tentang ilmu keabadian. Bodhiruci lalu menjawab, "Di negeri ini mana
ada ilmu untuk dapat hidup abadi, jika pun dapat hidup panjang umur,
saatnya untuk terbawa dalam arus tumimbal lahir tetap akan tiba,
lalu apanya yang berharga?". Ilmu yang benar-benar dapat membuat
hidup abadi sesungguhnya hanya ada dalam ajaran Buddha" ujarnya.
Setelah menjelaskan kepada TanLuan tentang "Kitab Dewa" tidak
sebanding dengan ajaran Buddha, Bodhiruci lalu memberikannya
kitab "Amitayur Dhyana Sutra" dan berkata, "Ini baru ilmu maha dewa,
jika berlatih dengan cara ini, akan terbebas dari kelahiran dan
kematian. Tidak akan terbawa lagi dalam arus tumimbal lahir di 6
alam kehidupan ini. Segala macam bencana, kegagalan dan
keberhasilan, yang baik dan yang buruk, tidak akan datang mengusik
kita lagi. Dan lagi pula akan mendapatkan usia yang sangat panjang
bagaikan jumlah pasir yang tak terbatas di sungai gangga, tidak ada
perumpamaan lagi yang dapat dijadikan perbandingan untuk
menggambarkan panjangnya usia. Inilah ilmu maha dewa dari
ajaran `yang telah sadar', Hyang Buddha". Setelah mendapat pelajaran
dari Bodhiruci, TanLuan mengambil "Kitab Dewa" lalu membakarnya.
Mulai sejak itu, beliau berlatih ajaran Tanah suci dengan tekun.
Kemudian beliau juga membimbing orang, dan secara perlahan lahan
orang yang belajar dibawah bimbingannya pun semakin banyak
jumlahnya. Kaisar Wei Utara pun sangat menghormatinya, sehingga
memberinya gelar "ShenLuan (Luan sakti)", sekaligus mengundangnya
untuk menetap di vihara di BingZhou, (sekarang TaiYuan)
prop.ShanXi.
Pada masa tuanya, beliau pindah menetap di vihara XuanZhong. Sering
juga beliau mengunjungi JieShan (sekarang wilayah JieXiu,
prop.ShanXi) untuk kumpul bersama mempraktekkan Nianfo. Kemudian
tempat ini disebut dengan LuanGongYan (tebing sesepuh Luan).
Masa kaisar XiaoJingDi, dinasti Wei Timur (542 M), pada suatu malam,
ada seorang bhiksu suci muncul di depan TanLuan dan berkata, "aku
adalah Nagarjuna, aku telah terlahir di Tanah suci, karena kamu
memiliki cita cita yang sama dengan ku, maka aku datang ke sini
untuk melihat mu". TanLuan mengetahui bahwa masa hidupnya sudah
tidak lama lagi, lalu mengumpulkan semua orang dan memberi pesan
terakhir, "Kalian telah banyak menderita dalam roda kehidupan yang
terus berputar tanpa ada masa akhirnya. Bangkitkanlah rasa takut
akan penderitaan alam neraka, dan jangan bersikap lengah dalam
melatih diri untuk berharap terlahir di alam Sukhavati melalui
metode ajaran Tanah suci ini". Setelah berkata demikian, TanLuan
lalu meminta para murid melafal nama Buddha dengan suara lantang,
kemudian bersujud ke arah barat dan setelah itu beliaupun mangkat
dalam usianya yang ke 67 tahun. Saat itu, semua orang melihat iring
iringan bendera dan umbul umbul muncul dari atas langit sebelah
barat, dan terdengar suara musik surgawi. Beberapa lama kemudian
pemandangan ajaib tersebut baru sirna kembali. Peristiwa ajaib ini
kemudian tersebar hingga ke istana kerajaan, maka Kaisar pun
memerintahkan jenasah TanLuan disemayamkan di FenXi (sekarang
wilayah PingYang, prop.ShanXi) dan mendirikan stupa dan tugu
peringatan untuknya.
Mengenai tahun kemangkatan TanLuan, di masa dinasti Tang sudah
muncul perbedaan pendapat. Dalam kitab "JingTuLun (Risalat Tanah
suci) bagian "Kisah TanLuan" karya JiaCai bagian akhir menulis bahwa
beliau hidup antara masa dinasti Qi-pemerintahan kaisar QiGaoDi
(479 M) hingga dinasti Wei akhir (554 M). Dalam kitab karya DaoXuan
berjudul "XuGaoSengZhuan (Lanjutan Kisah Bhiksu Suci)" jilid ke 20
bagian "Kisah DaoChuo" dan kitab karya ShaoKang
berjudul "WangShenXiFangJingTuRuiYingShanZhuan (Kisah singkat tanda
keajaiban terlahir di Tanah suci Barat)" , menulis tentang beliau
sebagai bhiksu yang hidup di masa dinasti Qi (479-502).
Mengenai kitab karya TanLuan, terdapat kitab "DaJiJingShu
(penjelasan tentang Mahasamnipata Sutra)", kitab ini sudah tidak
pernah ditemukan lagi hingga kini. Menurut kitab "XuGaoSengZhuan
(Lanjutan Kisah Bhiksu Suci)" jilid ke 6, mencatat bahwa terdapat 10
jenis kitab karya TanLuan. Selain menulis kitab tentang ajaran
Buddha, TanLuan juga menulis kitab tentang ilmu pengobatan khususnya
tentang pengobatan melalui ilmu QiGong (ilmu energi Prana). Kemudian
juga dikisahkan bahwa beliau mampu mengobati orang dengan ilmu
QiGong, dan ilmu pengobatannya terkenal ke seluruh penjuru negeri
Wei. Seorang penulis di masa dinasti Sui bernama LangWangShao pernah
menuliskan kitab penjelasan dari kitab karyanya yang
berjudul "TiaoQiLun (Risalat tentang Menyeimbangkan energi Qi)" .
Ini membuktikan bahwa TanLuan juga termasuk orang yang memiliki
pengaruh dalam dunia ilmu pengobatan di China pada masa lalu.
Karyanya yang paling utama tentu adalah doktrin doktrin tentang
ajaran Tanah Suci. TanLuan mengekspresikan pemikirannya tentang
ajaran Tanah Suci dalam kitabnya yang berjudul "WangShenLunZhu
(Penjelasan tentang Risalat Kelahiran di Tanah Suci)" 2 jilid. Kitab
ini merupakan kitab penjelasan mengenai buah karya Vasubandhu yang
berjudul "WuLiangShouJingYouPuoTiSeYuanShenJi (Syair tentang tekad
terlahir di Tanah suci dalam Maha Sukhavativyuha Sutra Upadesa)".
Pada jilid pertama, beliau menjelaskan tentang makna dari syair, dan
pada jilid kedua menjelaskan tentang makna sutra. Dengan
berlandaskan pada kitab Dasabhumika Vibhasa Sastra karya Nagarjuna,
TanLuan menjelaskan bahwa terdapat jalan mudah dan jalan sulit bagi
seorang bodhisattva yang ingin mencapai tahap Avairvatika (tidak
merosot). Jika hidup pada masa tidak ada Buddha dan dalam dunia
lima kekeruhan, maka disebut jalan sulit bagi mereka yang ingin
mencapai tahap avarvatika. Namun jika memiliki keyakinan terhadap
Buddha dan bertekad terlahir di Tanah suci, bergantung pada
kekuatan Buddha untuk masuk ke dalam Samadhi yang benar dari jalan
Mahayana, maka cara ini disebut jalan mudah. Dengan demikian, jika
di masa tidak ada Buddha dan bergantung pada kekuatan sendiri, tanpa
bantuan kekuatan lain, maka akan sulit mencapai avairvatika ibarat
berjalan di daratan, setiap langkah terasa berat dan melelahkan.
Sebaliknya jika bergantung pada kekuatan Buddha untuk terlahir di
Tanah Suci, maka ini adalah jalan yang mudah ibarat menaiki kapal
yang berjalan di atas air dengan rasa nyaman. Beliau juga menulis 12
syair tentang praktek Nianfo, persembahan dan permohonan terlahir di
Tanah suci sebagai syair lanjutan yang pernah dibuat oleh Nagarjuna.
Selain mendapat bimbingan Bodhiruci, pemikiran TanLuan tentang
ajaran Tanah suci jelas mendapat pengaruh dari sang bapak Mahayana
Nagarjuna.
Sudah menjadi pandangan umum bahwa doktrin tanah suci yang dianut
TanLuan adalah berasal dari bimbingan Bodhiruci. Tetapi ada juga
yang berpendapat bahwa beliau belajar dibawah bimbingan bhiksu
HuiCong dan DaoChang (kitab "AnLeJi (kumpulan catatan tentang tanah
suci)" karya DaoChuo). Lalu dalam kitab "JindTuSanGuoFoZuZhuanJi
(Kumpulan kisah Tanah suci Buddha dalam 3 kerajaan) karya bhiksu
asal Jepang -ShenChong", mengatakan bahwa HuiCong adalah murid dari
HuiYuan yang kemudian juga belajar dibawah bimbingan Bodhiruci.
Sedangkan DaoChang adalah murid dari HuiCong, dan juga sebagai
kepala vihara generasi ke 3 di vihara DongLin-pusat ajaran tanah
suci di gunung Lu.
Kedua orang ini merupakan generasi penerus dari bhiksu HuiYuan namun
tidak diketahui mengapa mereka bisa menjadi murid Bodhiruci.
Sedangkan dalam tulisan TanLuan sendiri tidaklah pernah menyinggung
tentang kedua guru ini, maka seberapa jauh hubungan mereka dengan
TanLuan tentu menjadi sebuah pertanyaan tersendiri.
Mengenai murid TanLuan, dalam kitab karya bhiksu ShenChong, beliau
menulis bahwa murid dari TanLuan adalah DaHai yang menetap di vihara
XuanZhong. Kita tidak dapat memungkiri bahwa murid TanLuan tentu
lebih dari satu orang. Hanya saja yang menjadi pertanyaan tersendiri
adalah bahwa DaHai merupakan salah satu tokoh dari 6 sesepuh ajaran
Tanah suci yang tercatat dalam kitab "AnLeJi (kumpulan catatan
tentang tanah suci) " karya bhiksu DaoChuo . Dalam tulisan tersebut,
tidak ada persinggungan mengenai hubungan DaHai dengan TanLuan.
Namun yang jelas, "penerus" TanLuan yang paling menonjol tentu
adalah sang tokoh ajaran tanah suci yang juga sama populernya -
bhiksu DaoChuo. Meskipun hidup dalam jaman yang berbeda, Daochuo
menjadikan TanLuan sebagai tokoh inspirasi. Beliau meyakini ajaran
Tanah suci berkat tulisan karya TanLuan. Walaupun tidak memiliki
hubungan langsung dengan TanLuan, DaoChuo telah mengekspresikan
kembali ajaran dari TanLuan dengan sangat baik.
DaoChuo (562-645 M)
DaoChuo adalah penduduk asal kabupaten BingZhou (sekarang TaiYuan),
daerah WenShui. ( kitab "JingTuLun (Risalat Tanah Suci)" karya
JiaCai, menulis tempat asalnya adalah kab.BingZhou, daerah JinYang).
Nama marganya adalah Wei. Dialah yang disebut sebagai guru penerus
ajaran dari bhiksu TanLuan. DaoChuo menjadi bhiksu pada usia 14
tahun. Sangat tekun dalam mempelajari kitab suci Buddha khususnya
mengkaji secara mendalam terhadap kitab "Maha Parinirvana Sutra" dan
telah memberi ceramah mengenai kitab ini sebanyak 24 kali. DaoChuo
juga berlatih ajaran Chan dibawah bimbingan Chan master HuiZan (536-
607) di vihara KaiHua, gunung Meng, wilayah TaiYuan.
Kemudian pada masa dinasti Sui, era KaiYue tahun ke 5 (609 M),
beliau pindah menetap di vihara XuanZhong di WenShui tempat
asalnya. Vihara ini merupakan pusat ajaran Tanah suci yang
didirikan oleh bhiksu TanLuan. Di tempat inilah TanLuan beralih
menjadi praktisi Tanah suci karena terharu setelah membaca tulisan
tentang kisah keajaiban pada diri bhiksu TanLuan yang terpampang di
dinding vihara. Beliau sangat mengagumi atas hasil yang dicapai oleh
TanLuan, oleh sebab itu beliaupun menghentikan ceramahnya terhadap
kitab MahaParinirvana Sutra, berlatih metode Tanah suci dan sepenuh
hati melafal nama Buddha. Dengan beralih menjadi praktis Tanah
suci, DaoChuo kemudian mendalami kitab "Amitayudhyana Sutra"
dan "Maha Sukhavativyuha Sutra". Dengan demikian beliaupun menjadi
seorang pembabar yang handal tentang kitab tersebut di mana tidak
kurang dari 200 kali dalam memberi ceramah. Semua orang yang
mendengar ceramahnya menyambut dengan suka cita atas apa yang beliau
babarkan, dan setiap selesai memberikan ceramah, semua orang tetap
melantunkan nama Buddha hingga menggema ke seluruh penjuru gunung.
Aktivitas tetapnya setiap hari adalah memberi persembahan dan
melafal nama Buddha sebanyak 70.000 kali. Saat dudukpun selalu
menghadap ke arah barat sebagai tanda keagungan tekadnya terhadap
Tanah Suci Buddha. Kemudian juga mengajar orang melafal nama Buddha
dengan menggunakan tasbih. Beliau juga sering membuat tasbih
sendiri untuk menghadiahkannya kepada semua orang dan menasihati
mereka melafal nama Buddha. Ada orang yang tidak percaya dengan
ajaran Tanah suci dan bermaksud mendiskreditkan ajaran ini, sekali
bertemu dengan kewibawaan DaoChuo dan kepiawaiannya berbicara, dapat
beralih menjadi pengikutnya juga. Demikianlah kegigihan DaoChuo
menyebar luaskan ajaran Tanah suci, hingga di sepanjang wilayah
JinYang, TaiYuan dan WenShui, para penduduk dari usia 7 tahun ke
ataspun sanggup melafal nama Buddha.
Berbagai kisah keajaiban menyangkut dirinya pun bermunculan, seperti
ada bhiksu yang dalam meditasinya melihat keindahan pemandangan alam
Sukhavati sekaligus melihat sosok DaoChuo dalam wujud yang gemilang
dan besar bagaikan gunung 7 permata, tangannya memegang tasbih.
Suatu ketika, peristwa ajaib lain yang disaksikan oleh para umat
adalah muncul wujud bhiksu TanLuan sedang duduk dalam perahu yang
berhiaskan 7 permata sambil berkata kepada DaoChuo, "Karena
kegigihan anda berlatih, maka istana yang terbentuk dari hasil buah
karma anda di alam Sukhavati telah terwujud, hanya saja anda masih
memiliki sejumlah jodoh karma yang belum terselesaikan. " Pada saat
yang sama juga muncul wujud Buddha disepenjuru angkasa, dan dihujani
oleh bunga surgawi. Peristiwa ini disaksikan oleh para umat dengan
perasaan kagum dan suka cita.
Pada masa pemerintahan kaisar Tang TaiZong di era ZhenGuang tahun ke
2 (628M), karena Ratu WenDe sedang sakit, maka Kaisar pun
mengunjungi vihara XuanZhong untuk bermohon berkah dari bhiksu
DaoChuo. Ini menandakan DoaChuo sudah memiliki nama yang cukup besar
di masa itu.
Kegigihan DaoChuo dalam berlatih tidaklah membuat kesehatannya
menurun seiring dengan usia yang semakin tua, bahkan boleh dikatakan
semakin bertambah umurnya, yang terlihat malah sosok yang semakin
kuat dan segar. Pada usia 70 tahun saja, giginya yang sudah rusak
ditelan usia dapat tumbuh kembali bagaikan anak balita yang dalam
masa pertumbuhan.
Tahun 645, tanggal 24 bulan ke 4, DaoChuo berpamitan kepada semua
umat, dan tanggal 27 kemudian beliau mangkat di vihara XuanZhong
pada usianya yang ke 84 tahun. Saat itu, seorang praktisi Tanah Suci
lain yang bernama bhiksu DaoFu, di mana beliau sering berdiskusi
dengan DaoChuo dan setiap kali bertemu, mereka akan saling berjanji
untuk terlahir di Tanah suci. Setelah DaoChuo mangkat 3 hari
kemudian, DaoFu baru mengetahui kabar ini dan berkata, " Saya sering
berharap agar dapat lebih dulu terlahir di Tanah Suci, namun tak
disangka sekarang berada di belakang. Jika mengerahkan sedikit
tenaga lagi maka saya akan dapat menyusul DaoChuo". Kemudian bhiksu
ini bersujud di depan Buddha rupang dan mengucapkan tekad, setelah
selesai beliaupun duduk dan langsung mangkat seketika. Demikianlah
keistimewaan praktisi Tanah suci, dengan begitu leluasanya mereka
melepaskan tubuh fisiknya di sela sela orang yang masih sangat
terikat dengan tubuh yang kotor ini.
Karena letak vihara XuanZhong berada di wilayah WenShui dan XiHe,
maka DaoChuo juga dijuluki dengan nama Chan Master XiHe.
Kitab karya DaoChuo yang terkenal adalah "AnLeJi (Kumpulan
catatan Tanah Suci)" sebanyak 2 jilid. Kitab ini merupakan kumpulan
pemikirannya tentang ajaran Tanah Suci yang beliau kombinasikan
antara pemikiran para sesepuh terdahulu seperti Nagarjuna,
Vasubandhu, HuiYuan dan TanLuan. Pemikirannya yang mendalam tentang
doktrin Tanah Suci tidak terlepas dari pengetahuannya yang luas
terhadap kitab suci Buddha secara keseluruhan. Dalam kitab "AnLeJi"
saja beliau menulis bahwa kitab ini berlandaskan pada Sutra, Vinaya
dan Abhidharma, yang berjumlah lebih dari 40 kitab. Kitab yang
dijadikan landasan utama adalah 3 sutra tanah suci yakni: "Maha
Sukhavativyuha Sutra", "Amitayur-dhyana Sutra", "Amitabha Sutra".
Selain itu, landasan pelengkapnya adalah Maha Samnipata Sutra, Maha
Parinirvana Sutra, Avatamsaka Sutra, Vimalakirti Nirdesa Sutra,
Saddharmapundarika Sutra, Maha Karuna Sutra, Ekottara-agama Sutra
(pali: Anguttara Nikaya), Dasabhumika Sutra, Guanfo Sanmei Haijing,
Dharmapada, SheFang SHuiYuan WangSheng, DaChengTongXing,
Mahaprajnaparamita Sastra, Mahayana Sraddhopatda sastra, Abhidharma
Kosa, WangShengLun, ZanAMiToFoJi.
Ajaran DaoChuo sangat menekankan cara berlatih yang sesuai
dengan kondisi dunia. Dalam kitab AnLeJi, beliau menulis bahwa kitab
Chandragarbha Sutra (bagian dari Samnipata Sutra)
mengatakan : "Setelah kemangkatan sang Buddha, pada periode ke 5
dari 500 tahun, masa akhir dharma dimulai. Pada masa ini, yang
dititik beratkan adalah berbuat kebajikan untuk mengikis karma
buruk, sekaligus mengatakan bahwa metode yang paling sesuai dengan
masa ini adalah mempraktekkan Nianfo. Kemudian DaoChuo
mengklasifikasikan ajaran Buddha menjadi 2 metode, yakni metode
Jalan suci dan metode Tanah suci. Pada Metode jalan suci, para
makhluk yang memiliki "akar tumpul" di masa akhir dharma ini tidak
akan dapat berhasil dengan cara ini. Hanya dengan berlandaskan
metode Tanah suci-lah yang bergantung pada kekuatan tekad Buddha
baru akan terlahir di Tanah suci Buddha. Itulah yang menjadi sebab
DaoChuo menyebar luaskan ajaran Tanah Suci.
Mengenai kunci untuk terlahir di Tanah Suci, DaoChuo menitik
beratkan pada membangkitkan Bodhicitta (batin Buddha) sebagai factor
utama, dan mempraktekkan Buddhanursmerti Samadhi (Nianfo SanMei)
sebagai jalannya. Beliau menekankan pentingnya memiliki batin Buddha
dengan mengutip teori dari kitab tentang kelahiran di Tanah suci
karya Vasubandhu. Beliau mengatakan: "Pikiran yang membangkitkan
Batin Buddha adalah pikiran yang bertekad untuk menjadi Buddha,
Pikiran yang bertekad menjadi Buddha adalah pikiran untuk
membebaskan semua makhluk hidup". Kemudian mengenai pentingnya
mempraktekkan Buddhanusmerti Samadhi, beliau mengatakan bahwa
berlatih Samadhi ini dipastikan akan bertemu dengan Buddha dan saat
menjelang kematian pasti akan terlahir di sisi Buddha. Praktek
Samadhi ini telah meliputi praktek Sadparamita (6 kesempurnaan) dan
Catur Samgraha vastu dan dapat mengikis karma buruk.
Praktek Nianfo yang dijalankan DaoChuo meliputi 2 jenis Nianfo yakni
Nianfo dengan melafal nama Buddha dan Nianfo dengan
memvisualisasikan wujud Buddha.
Sebagai praktisi Tanah Suci, yang menjadi guru DaoChuo
sesungguhnya adalah TanLuan, meskipun DaoChuo sendiri tidak pernah
belajar darinya secara langsung. Dalam kitab "AnLeJi", DaoChuo
mengungkapkan bahwa terdapat 6 orang sebagai sesepuh ajaran Tanah
Suci di China di mana mereka adalah Bodhiruci, HuiChong, DaoChang,
TanLuan, DaHai dan FaShang. Sedangkan mengenai murid DaoChuo, yang
paling menonjol adalah ShanDao (patriak ke 2).
HuiRi (680-748 M)
HuiRi adalah penduduk asal propinsi ShanDong, kab.DongLai. (sekarang
kab.DongYe). Nama marganya adalah Xing. Setelah menjadi bhiksu,
beliau bertemu dengan bhiksu terkenal YiJing yang mencari kitab
suci ke India dan pernah belajar bahasa Sankerta di kerajaan
Sriwijaya. Karena sangat kagum dengan apa yang telah dilakukan oleh
YiJing, maka HuiRi pun bermaksud mengikuti jejaknya. Tahun 701,
HuiRi berangkat melalui jalur laut dan singgah di FoShe (Pulau
Sumatera) dan SheZiZhou (Srilanka). 3 tahun kemudian beliau tiba di
India. Di samping mengunjungi berbagai tempat suci agama Buddha,
HuiRi juga mencari kitab suci dan mengunjungi berbagai tokoh agama
Buddha di India.
Karena telah mengarungi berbagai tantangan yang berat dan
melelahkan, HuiRi secara perlahan-lahan merasakan kejenuhan dunia
Samsara ini, maka beliaupun mulai bertanya tanya bahwa apakah ada
metode latihan yang dapat membimbing seseorang untuk terbebas dari
penderitaan demikian. Kemudian para bhiksu di sana pun menasihatinya
berlatih ajaran Tanah suci untuk dapat terlahir di tanah suci
Buddha. Dan sejak itupun beliau menjadi seorang praktisi Tanah Suci.
Kemudian HuiRi melanjutkan perjalanannya ke India bagian utara dan
singgah di Gandhara. Di sisi timur laut ibukota kerajaan, terdapat
sebuah gunung di mana di atas gunung ini terdapat patung bodhisattva
Avalokitetsvara. Konon dikatakan bahwa orang yang dengan tulus
bermohon, maka sang bodhisatva akan muncul di depan orang tersebut.
Setelah mendengar kabar ini, HuiRi kemudian berangkat menuju tempat
tersebut dan bersujud selama 7 hari tanpa makan dan minum. Hingga
pada malam hari ke 7, bodhisattva Avalokitetsvara muncul di
hadapannya dengan wujud yang besar dengan posisi duduk dalam
teratai. Sang Bodhisatva lalu menjulurkan tangannya menyentuh kepala
HuiRi dan berkata, "Jika kau ingin menyebar luaskan ajaran Buddha
demi manfaat semua orang, maka hanya dengan mempraktekkan Nianfo
pada Buddha Amitabha dan dengan tulus bersumpah untuk terlahir di
Tanah Suci. Setelah bertemu denganku dan Buddha Amitabha, maka kau
akan mendapatkan manfaat yang tidak ada bandingannya. Ketahuilah
bahwa ajaran Tanah suci merupakan metode ajaran yang paling unggul
dan melampaui semua metode ajaran yang ada." Setelah berkata
demikian, sang bodhisattva kemudian lenyap kembali. HuiRi yang
sebelumnya dalam kondisi yang lemah dan lelah, setelah mendengar
kata kata tersebut, tiba tiba pulih kembali dan semakin bersemangat.
Selama perjalanannya mengelilingi India, HuiRi telah menyinggahi
lebih dari 70 kerajaan selama 18 tahun. Pada masa pemerintahan
kaisar TanXuanZhong (719 M), HuiRi akhinya kembali ke China dan
tiba di kota ChangAn. Beliau lalu diundang ke istana kaisar dan
mempersembahkan lukisan dan kitab suci Buddha bahasa Sanskerta
kepada sang Kaisar. Kaisar kemudian memberinya gelar "Mahaguru
Tripitaka CiMin".
HuiRi mempraktekkan ajaran Tanah suci dengan rajin dan tekun.
Beliau menasihati semua orang melafal nama Buddha dan ajarannya juga
cukup berpengaruh di saat itu. Kemudian beliau menulis
kitab "WangShengJingTuJi (kumpulan catatan kelahiran di Tanah
Suci)" Karyanya yang lain adalah : "JingTuCiPeiJi (Catatan welas
asih Tanah Suci)"; "BanZhouSanMeiZhan (Syair pujian tentang
Pratyutpannasamadhi); "Syair pujian tentang tekad terlahir di tanah
suci" ; "XiFangZhan (Syair pujian tentang tanah suci Barat)". Kitab
JingTuCiPeiJi (Catatan welas asih Tanah Suci) yang telah lama
hilang, pada tahun 1925 ditemukan di vihara TongHua di Korea.
Pada masa kaisar TanXuanZhong era TianBao tahun ke 7 (748 M), HuiRi
mangkat di vihara WangJi, kota LuoYang (sekarang kota XiAn,
prop.ShaanXi) dalam usia 69 tahun. Saat menjelang kemangkatannya,
HuiRi melihat wujud bunga teratai muncul di depan beliau dengan
cahaya yang gemilang.
HuiRi menjadi praktisi Tanah suci merupakan hasil belajarnya secara
langsung dari tanah India. Ini merupakan satu cerminan bahwa mazhab
Tanah Suci bukanlah sebuah mazhab yang eksklusif berkembang dari
China. Mazhab Tanah suci merupakan bagian tak terpisahkan dari
filosofi Buddhisme Mahayana yang berkembang sejak di India.
Setelah kembali ke China, beliau pun menyebar luaskan ajaran ini.
Pemikiran ajaran Tanah sucinya memiliki ciri khas tersendiri. Oleh
sebab itulah sebagian scholar membedakan ajaran Tanah suci menjadi
tiga aliran, yakni Aliran dari HuiYuan, Aliran dari ShanDao dan
Aliran dari HuiRi atau disebut aliran CiMin.
Meskipun menitik beratkan pada ajaran Tanah Suci, HuiRi juga
berpegang pada prinsip ajaran Chan, Vinaya dan Esoterik lainnya.
Beliau mengkritisi para praktisi Chan yang telah mengabaikan Vinaya
dan para praktisi ajaran Tanah Suci yang tidak lagi berpantangan
makanan daging. Prinsip ajaran yang dipegang oleh HuiRi ini kemudian
mempengaruhi jalan pemikiran patriak ke 6 bhiksu YenShou. Kemudian
patriak ke 3 bhiksu ChengYuan pernah belajar dibawah bimbingannya.
Sedangkan penekanannya pada Vinaya juga sangat diteladani oleh
bhiksu YuanZhao, patriak dari mazhab Vinaya di masa dinasti Song.
Ini mengindikasikan bahwa kontribusi yang diberikan HuiRi dalam
membentuk ajaran Tanah suci secara keseluruhan cukup berpengaruh.
Referensi:
- JingKong, PuXuanPhuShaXingYuanPinJiangJi (Ceramah tentang 10
ikrar Bodhisatva Samantha-bhadra)
- ChenShiQiang, ZhongGuoFoJiao BaiKeQuanShu
JingDianJuan (Ensiklopedi Buddhisme China kelompok Kitab Suci).
ShangHai: ShangHaiGuJiChuBanShi- Tahun 2000.
- LuZen, LinZiQing, dkk, ZhongGuo FoJiao RenWu (Tokoh agama
Buddha China) -2 jilid.
- HuiLuu, JingTu ShengXuanLu YiJie (Penjelasan praktis
terhadap kitab "Kisah sesepuh suci mazhab Sukhavati").
- Software: Combine dictionary of East Asian Buddhist Terms
and East Asian Literaly Terms. Edited by : A. Charles Muller
- Software: DingFuBao Buddhist Dictionary
- Website : amitabha.uhome.net
- Website: www.jodoshu.com
- Website: www. bfnn2.org
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya
maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta
kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas
dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua,
para guru, serta sahabat-sahabat kami **
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/