PATRIAK SUCI - MAZHAB SUKHAVATI (6)
by: ching ik

12. CheWu /Jixing (1741 – 1810)
 Mahaguru CheWu adalah patriak ke 12 dari mazhab Sukhavati,  
termasuk bhiksu terkenal di masa dinasti Qing. Naman julukannya 
adalah Jixing; YiZiNaTang; dan juga MengDong. Beliau berasal dari 
wilayah JinDong,(Sekarang merupakan wilayah propinsi HeBei, 
kabupaten FengRun). Marganya adalah Ma, nama ayahnya WanZhang. 
Ibunya berasal dari keluarga Gao. Sejak kecil sang bhiksu telah 
menampakkan kecerdasannya. Beliau sangat suka membaca buku seperti 
kitab kitab konfusianis dan sejarah. Beliau juga mahir membuat puisi 
sehingga sangat dihormati oleh orang.    
Pada masa pemerintahan kaisar QianLong tahun ke 27 (1762 M), di 
usianya yang ke 22, sang bhiksu jatuh sakit dengan kondisi yang 
sangat lemah dan di saat itu pula beliau menyadari sifat ketidak 
kekalan hidup ini. Dari hal inilah akhirnya beliau memutuskan untuk 
menjadi bhiksu.  Setelah sembuh beliau berangkat menuju ke kabupaten 
FangShan, bermohon ditahbis oleh bhiksu tua bernama RongChe di 
vihara SanSheng.  Tahun berikutnya, beliau pergi ke vihara XiuYun 
untuk menerima Sila penuh dari seorang guru vinaya bernama Bhiksu 
HengShi. Tahun berikutnya lagi, beliau berangkat ke vihara XiangJie 
untuk mendengarkan khotbah tentang Sutra Mahaparipurnabudhi dari 
bhiksu LongYi. Beliau dengan tekun mendalami sutra tersebut dan 
berhasil menembus makna inti tentang Kesadaran sempurna. Kemudian 
beliau pergi lagi menuju vihara ZhenShou untuk belajar di bawah 
bimbingan bhiksu HuiAn, mempelajari ajaran mazhab Yogacara. Setelah 
berhasil menguasai ajaran tersebut, beliau pergi lagi menuju ke 
vihara XinHua, dibawah bimbingan bhiksu BianKong beliau mendengarkan 
khotbah tentang Sutra Teratai, Sutra Intan, Sutra Surangama, dan 
berbagai sutra Mahayana lainnya. Setelah mendalami berbagai sutra 
beliau akhirnya berhasil menembus pemahamannya tentang inti ajaran 
Buddha. Sejak itu beliau menjadi seorang ahli ajaran dari kelompok 
Vijnana maupun Sunyata, khususnya tentang ajaran dari mazhab 
TienTai. Pada masa proses pembejarannya ini  telah membantu  CheWu 
mendapatkan pijakan yang kuat untuk menjalankan misi penyebaran 
ajaran Buddha.
Tahun 1768 di musim gugur, di usia ke 28 tahun sang bhiksu pergi 
mengunjungi seorang sesepuh dari sekte Chan bernama Bhiksu CuiRuChun 
di vihara GuanTong, wilayah JinDu. Setelah belajar di bawah 
bimbingan bhiksu CuiRuChun dan berhasil menembus inti ajaran Chan, 
bhiksu CheWu kemudian diangkat sebagai pewaris garis silsilah aliran 
LinJi (Rinzai) yang ke 36 dan pewaris generasi ke 7 dari sub aliran 
QingShan. Tahun 1776, karena bhiksu CuiRuChun berangkat ke vihara 
WanShou, maka bhiksu CheWu pun menggantikan sang guru untuk mengajar 
di vihara GuanTong dan  membimbing para siswa untuk berlatih 
meditasi.  Hingga tahun 1792 selama 24 tahun ini, bhiksu CheWu terus 
berlatih secara tekun, membimbing para praktisi junior dan menjadi 
panutan semua orang. Popularitas sang bhiksu kemudian menyebar ke 
berbagai penjuru, dan oleh karena itu juga ajaran Chan kembali 
menampakkan kejayaannya. Lalu kemudian di sela sela mempraktekkan 
meditasinya, selalu terbayang dalam perenungannya bahwa  bhiksu 
YenShou  dan bhiksu LianCi  sebagai sesepuh dari mazhab Chan bahkan 
rela melepaskan ajaran Chan dan sepenuh hati bernaung pada Tanah 
suci untuk bermohon terlahir di tanah suci Sukhavati, maka  
bagaimana dengan makhluk hidup di masa sekarang yang di mana akar 
kebajikannya lebih kecil? Atas perenungan ini, akhirnya beliau 
memutuskan untuk mengikuti jejak para sesepuh terdahulu, melepaskan 
Chan dan bernaung pada Tanah suci dan bertekad untuk terlahir di 
Sukhavati. Ini merupakan pengalihan terbesar yang dialami sang 
bhiksu selama menjadi seorang praktisi dan oleh sebab itu pula dalam 
sejarah mazhab Sukhavati  kemudian akan muncul lagi seorang praktisi 
besar. 
Sejak itu bhiksu CheWu berhenti mempraktekkan meditasi Chan, beralih 
mempraktekkan Nianfo dan secara khusus membabarkan ajaran Tanah 
suci. Setiap ada orang yang membuat rintangan atas ajaran Tanah 
suci, beliau tidak akan  mempedulikan orang tersebut. Tidak ada yang 
dapat menandinginya dalam hal  Keyakinannya  yang tulus dan 
tekadnya  yang kuat. Untuk mempraktekkan ajaran Tanah suci secara 
intensif, beliau berusaha keras untuk menjauhi diri dari hubungannya 
dengan dunia luar. Jika ada oarng yang datang mengunjunginya, maka 
beliau hanya membatasi waktu selama satu batang dupa untuk bertatap 
muka. Selain itu, beliau hanya mempraktekkan nianfo saja. 
Kemudian bhiksu CheWu berangkat menuju vihara JueShen dan menjadi 
kepala  vihara tersebut.  Selama 8 tahun di sana beliau membimbing 
para umat untuk mempraktekkan Nianfo secara tekun. Metode Chan dan 
Tanah suci dikombinasikannya secara bijaksana untuk mengajar para 
siswa. Para siswa dari berbagai penjuru datang untuk berguru 
kepadanya dan  orang yang bernaung pada ajaran Tanah Suci pun tak 
terhitung jumlahnya dan oleh karena itu pula ajaran Tanah suci 
mengalami kemajuan pesat. Saat itu orang orang pun memujinya sebagai 
orang nomor satu dalam mazhab Tanah suci. 
Tahun 1800, sebagai bhiksu yang sudah memasuki usia senja, CheWu 
kemudian menetap di vihara ZiFu di gunung Hongluo. Sebenarnya sang 
bhiksu bermaksud menyepi ke gunung untuk mempraktekkan nianfo dengan 
tenang untuk menjalani masa masa akhir hidupnya  Namun karena para 
siswanya yang tidak rela ditinggalkan oleh sang guru,  maka beliau 
pun dengan welas asihnya terus membimbing para siswanya tanpa 
pamrih. Hari demi hari, jumlah siswa yang semakin banyak hingga 
wilayah tersebut kemudian menjadi sebuah vihara hutan yang luas. 
Berkat pengaruh bhiksu CheWu pula sejak itu vihara Zhefu di gunung 
Hongluo ini pun berubah menjadi sebuah pusat ajaran Tanah suci yang 
penting. Meskipun pada usianya yang sudah tua, bhiksu CheWu masih 
tetap melakukan pekerjaan kasar bersama para siswa sebagaimana 
biasanya seperti memikul kayu, mengambil air, memperbaiki bangunan. 
Tahun 1810 bulan ke 2, beliau menuju ke vihara WanShou untuk 
bersujud pada stupa gurunya-bhiksu CuiRuChun. Kemudian beliau 
berpesan kepada para siswa dengan mengatakan :" Dunia dan kehidupan 
ini tidak kekal, hidup dengan hampa sungguh sayang, berlatihlah 
nianfo secara tekun, semoga dapat berjumpa lagi di Tanah suci pada 
suatu saat" . Kata-kata sang guru mengindikasikan bahwa beliau telah 
tahu masa hidupnya sudah tidak lama lagi. Hingga pada bulan ke 3,  
bhiksu CheWu kembali ke gunung HongLuo, karena tahu hari 
kemangkatannya sudah semakin dekat maka beliau pun memberi pesan 
kepada para siswanya untuk mempersiapkan kremasinya, kemudian 
melepaskan  jabatan vihara kepala   dan berkata kepada semua 
orang :" Metode ajaran Nianfo dapat dilatih oleh  semua orang yang 
memiliki tingkat kebajikan tinggi, sedang maupun rendah, t idak ada 
satupun orang yang tidak dapat terserap dalam metode ini. Selama 
bertahun-tahun ini aku telah mendirikan pusat latihan ini bersama 
semua orang dengan susah payah, pada intinya bertujuan untuk 
mengundang semua orang agar dapat datang ke tempat ini berlatih 
ajaran Tanah suci bersama, maka taatilah setiap tata tertib yang 
telah aku tetapkan di sini selama lamanya dan jangan sampai 
merubahnya secara semena mena, sehingga tidak mensia-siakan usaha ku 
selama ini. 
Setengah bulan sebelum kemangkatannya, bhiksu CheWu sudah mulai 
menampakkan gejala sakitnya. Beliau meminta para siswanya untuk 
melafalkan nama Buddha, kemudian di atas langit muncul wujud 
berbagai macam umbul umbul dan bendera dari arah barat, beliau pun 
berkata kepada para siswanya: "Wujud tanah suci telah muncul,  aku 
akan berangkat ke (tanah suci)barat". Lalu para siswa bermohon 
kepada guru CheWu untuk tetap tinggal di dunia ini, namun beliau 
menjawab :"Meski hidup seratus tahun, saat untuk berpisah tetap akan 
tiba, aku akan mencapai alam suci, semestinya kalian bergembira 
untukku, untuk apa menahanku? ". Pada tanggal 16 bulan ke 12,  
bhiksu CheWu meminta pengawas vihara, bhiksu GuangYi untuk 
mempersiapkan jamuan Nirvana. Esok harinya sekita pukul 3 sore, 
bhiksu CheWu berkata kepada semua orang: "Semalam aku telah bertemu 
dengan 3 mahasatvva , bodhisattva Manjusri, Avalokitetsvara dan 
Mahasmaprapta, lalu hari ini aku telah melihat sang Buddha Amitabha 
mengulurkan tangannya untuk menjemputku, hari ini aku akan terlahir 
(di tanah suci)". Lalu semua orang pun melafalkan nama Buddha dengan 
semakin lantangnya, dan bhiksu CheWu kemudian dalam posisi meditasi 
ke arah barat berkata lagi :"Mengucapkan nama agung (Amitabha) 
sekali akan muncul satu wujud yang mulia" setelah itu beliaupun 
menggerakkan tangannya dalam bentuk Mudra Amitabha lalu mangkat 
dengan sikap yang tenang. Semua orang di tempat tersebut kemudian 
mencium aroma yang harum  menyerbak ke angkasa. Jenasah sang bhiksu 
lalu di semayamkan selama 7 hari, di mana selama itu raut muka sang 
guru tampak masih seperti hidup, bahkan rambut ubannya berubah 
menjadi warna hitam. Pada minggu ke dua, jenasah beliau baru di 
masuk ke peti, dan pada minggu ke 3 dikremasikan. Setelah dikremasi, 
didapatkan relic sang bhiksu berjumlah ratusan biji. Kemudian para 
siswanya menempatkan abu dan relic tersebut dalam stupa PuTong 
sesuai dengan pesan sang guru. Bhiksu CheWu mangkat pada usia ke 70, 
di mana beliau menjadi bhiksu selama 49 tahun.          
 

13. YinGuang (1861-1940)

Bhiksu YinGuang dilahirkan pada tanggal 12 bulan ke 12  tahun 1861. 
Tempat asalnya berada di desa ChiCheng, kab.Heyang, wilayah tenggara 
prop.ShaanCi, China. Ayahnya bernama BingGang dari marga Zhao dan 
ibunya berasal dari keluarga Zhang.   
YinGuang memiliki 2 orang kakak kandung, dimana kakak pertama 
bernama ChongLong, sedangkan kakak kedua bernama FanLong. Beliau 
sendiri adalah anak bungsu. Nama aslinya adalah ShaoYi, dan nama 
julukannya adalah ZiRen.
Keluarganya bukanlah  termasuk golongan keluarga berada, namun 
ayahnya merupakan pemuka masyarakat yang sangat dihormati oleh 
penduduk desa tersebut. Di antara ketiga bersaudara ini, kakak 
pertama –ChongLong- merupakan kaum terpelajar yang telah banyak 
mengenyam ajaran klasik termasuk Confusianisme.. Kakak keduanya- 
FanLong- tidak begitu tertarik dengan pendidikan formal, karena 
beliau lebih suka bekerja di ladang. Sedangkan si bungsu YinGuang, 
sejak kecil telah dipersiapkan untuk mengikuti jejak kakak 
pertamanya mengenyam dunia pendidikan. Meskipun terlahir dalam 
keluarga petani, orang tua YinGuang sangat mengharapkan agar 
YinGuang pada suatu saat dapat menjadi orang besar. Maka tidak heran 
jika beliau diberi nama ShaoYi, yang berarti mengikuti jejak YiYing, 
seorang perdana menteri pada masa dinasti Shang yang berasal dari 
wilayah Heyang. 
Antara usia 7 hingga 14 tahun, YinGuang mengenyam pendidikannya yang 
pertama dibawah bimbingan kakaknya sendiri di rumah.  Antara usia 15 
hingga 20 tahun, beliau melanjutkan pendidikannya di kota ChangAn. 
Karena system pendidikan di China pada saat itu sangat sarat dengan 
ajaran Confucius, maka secara alami kerangka berpikir YinGuang telah 
tertanam oleh paham Confucianisme.  YinGuang muda bahkan mengikuti 
jejak para tokoh confusianis terdahulu yang cukup radikal untuk 
mendiskreditkan ajaran Buddha. 
Namun mengapa pada akhirnya justru beliau menjadi seorang penganut 
Buddha bahkan meninggalkan keluarganya dan menjadi bhiksu? 
Faktor yang membuat perubahan dalam diri beliau yang cukup besar 
adalah penyakit yang dideritanya selama bertahun tahun. Sebenarnya, 
sejak usia 6 bulan YinGuang telah mengidap penyakit mata yang sangat 
mengganggu penglihatannya. Penyakit ini membuat beliau tidak mampu 
melihat sesuatu dalam waktu yang cukup lama, jika menatap terlalu 
lama maka penglihatan tersebut akan semakin kabur. Tidak diketahui 
secara jelas apa kaitan langsung tentang  penyakit yang dideritanya 
dengan keputusannya untuk menjadi bhiksu. Atau apakah ada penyakit 
yang dideritanya selain penyakit mata tersebut, tidaklah diketahui. 
Beliau sendiri mengakui kesalahan  telah mendiskreditkan ajaran 
Buddha di mana hal ini beliau tuangkan dalam tulisannya dalam sebuah 
surat balasan kepada seorang upasaka bernama Shao-HuiYuan di tahun 
1931 demikian : "Aku pada dasarnya adalah seorang pelajar yang tidak 
pernah mendengar nama Buddha dan hanya tahu kisah Han, Ou, Cheng dan 
Zhu mendiskreditkan Buddha. Banyak orang yang menjadikannya sebagai 
petunjuk jalan, tapi saya sebaliknya dan bahkan 100 kali lebih 
parah. Untung saja aku sering menderita penyakit hingga baru tahu 
apa yang dikatakan para pendahulu  (tentang pendiskreditan ajaran 
Buddha) adalah tidak benar".
YinGuang menjadi bhiksu pada usia 21 tahun (1881). Tanpa mendapat 
restu dari keluarga, beliau secara diam diam dari kota ChangAn  
menuju ke gunung ZhongNan, kemudian ke gunung WuTai selatan dan goa 
LienHua  dan di sana  ditahbis oleh bhiksu DaoChun.  Orang yang 
paling tidak setuju dengan keputusannya ini adalah kakak pertamanya –
ChongLong. YinGuang sendiri pergi menjadi bhiksu di saat ChongLong 
tidak berada di ChangAn. Tidak sampai 3 bulan kemudian YinGuang 
ditemukan oleh kakaknya dan diminta pulang dengan alasan harus 
mendapat persetujuan dari sang ibu terlebih dahulu. YinGuang sendiri 
tahu bahwa itu hanyalah alasan yang dibuat oleh kakaknya, namun 
bagaimanapun beliau terpaksa harus pulang juga. Setelah kembali ke 
rumah, baru diketahui bahwa ibunya tidak pernah menolak maupun 
menyetujui. Sesungguhnya yang tidak setuju dengan keputusan YinGuang 
hanyalah kakaknya seorang. Kakaknya memperingatkan YinGuang dengan 
berkata :" siapa yang suruh engkau menjadi bhiksu dan apakah lalu 
kau boleh menjadi bhiksu begitu saja dengan keputusan sendiri? Mulai 
sekarang lupakanlah (niatmu) itu, jika tidak kau akan diberi 
hukuman". Kemudian  ChongLong lalu memaksa YinGuang tetap menjalani 
kehidupan biasa dan menjaga agar beliau tidak melarikan diri lagi. 
Hal ini memaksa YinGuang tetap tinggal di rumah selama 80 hari lebih 
hingga pada suatu hari kebetulan ChongLong sedang pergi mengunjungi 
saudaranya dan kakak keduanya sedang sibuk dengan pekerjaannya, maka 
pada kesempatan ini YinGuang secara diam diam mengambil kembali 
jubah bhiksunya, mencuri uang 200 sen sebagai biaya perjalanannya  
dan pergi menuju ke goa LienHua. Karena takut akan ditemukan kembali 
oleh kakaknya, maka beliau hanya tinggal di sana selama satu malam 
saja dan keesokannya berangkat lagi menuju ke wilayah HuBei dan 
tinggal sementara di vihara LienHua, daerah ZhuXi. Di vihara 
LienHua, YinGuang membantu tugas vihara seperti mengambil air dan 
kayu dan  berbagai pekerjaan kasar lainnya untuk keperluan sekitar 
40 orang bhiksu. Dengan rajin dan tekun melakukan tugas tugas itu 
hingga akhirnya beliau diterima untuk menetap di vihara tersebut.    
Tahun 1862 saat di usia 22 tahun, YinGuang berangkat menuju ke 
vihara ShuangXi di kabupaten XinAn propinsi ShaanXi untuk menerima 
sila penuh dari guru vinaya- Bhiksu YinHai. Karena ada tugas yang 
harus beliau selesaikan dalam kegiatan mencatat selama masa 
penyempurnaan Sila, mengakibatkan penyakit matanya kambuh kembali. 
YinGuang kemudian dengan sepenuh hati melafal nama Buddha dan 
ternyata penyakitnya menjadi sembuh. Hal ini membuat keyakinan diri 
yang semakin kuat dalam diri YinGuang tentang metode ajaran Nianfo. 
Setelah belajar beberapa lama di vihara ShuangXi, YinGuang berangkat 
lagi menuju ke gunung ZhongNan wilayah puncak TaiYi. Di sana beliau 
dengan tekun berlatih, mempraktekkan Nianfo dan mendalami kitab 
suci. Setelah mendalami kitab suci, beliau menyadari bahwa metode 
ajaran Tanah suci sangat sesuai dengan kondisi semua orang di jaman 
sekarang. Lalu karena mendengar bahwa vihara ZheFu di gunung HongLuo 
merupakan pusat ajaran Tanah suci dari patriak ke 12 bhiksu CheWu, 
maka pada tanggal 14 bulan 10 tahun 1886 di usianya yang ke 26, 
YinGuang menuju vihara tersebut untuk berlatih ajaran Tanah suci dan 
mendapatkan kemajuan yang pesat di sana. Di vihara ZheFu, selain 
berlatih bersama para bhiksu dan melakukan berbagai tugas vihara, 
YinGuang juga mempelajari kitab suci secara konprehensif sehingga 
pengetahuannya tentang ajaran Buddha semakin mendalam. Tinggal di 
gunung HongLuo selama 4 tahun, YinGuang juga lebih banyak berfokus 
pada ajaran dari patriak ke 12 bhiksu CheWu sehingga beliau disebut 
sebagai pewaris ajaran dari sang patriak.
        Tahun 1893, bhiksu HuaWen dari vihara FaYu di gunung PuTuo 
mengunjungi vihara YuanGuang di Beijing untuk mengambil kitab suci 
Tripitaka. Bhiksu itu sangat membutuhkan seorang pembantu, maka ada 
yang memperkenalkan YinGuang kepada beliau. Karena mengetahui 
YinGuang adalah seorang praktisi yang sangat berkompeten, maka 
bhiksu HuaWen merasa sangat bergembira dengan mengajaknya untuk 
menetap di vihara FaYu, gunung PuTtuo. YinGuang lalu ditempatkan di 
bagian perpustakaan. Di vihara FaYu, YinGuang mendapatkan pujian 
dari banyak orang karena pengetahuannya tentang ajaran Buddha. Tahun 
1897, karena desakan orang untuk memintanya memberi ceramah, maka 
beliau terpaksa memenuhi panggilan. Dan setelah selesai  berkhotbah, 
YinGuang lalu memutuskan untuk melakukan praktek penyepian di 
samping aula ZhuBao,  dalam 2 sesi selama 6 tahun.  
Sejak meninggalkan rumah dan menjadi bhiksu, tidak pernah sekalipun 
YinGuang menginjakkan kakinya untuk kembali ke kampung halaman 
ataupun bertemu dengan sanak keluarganya. Selama masa hidupnya, 
hanya sekali beliau menitipkan surat untuk mengetahui kabar tentang 
keluarganya di tahun 1891, namun tidak ada satupun kabar balasan 
yang beliau terima. Setelah melewati masa 30 tahun, beliau baru 
mengetahui kabar bahwa kedua orang tuanya telah tiada. 
Menjadi bhiksu selama 30 tahun dari tahun 1881-1911, YinGuang selalu 
menjauhi diri dari keramaian dan tidak suka menonjolkan diri bahkan 
tidak mau orang mengetahui namanya. Beliau sangat mengutamakan 
berlatih diri, mempraktekkan Nianfo dengan harapan dapat segera 
mencapai Samadhi. Terlihat jelas bahwa proses keberhasilan 
seseorang  memang perlu melalui suatu masa masa seperti ini, seperti 
yang dialami YinGuang. 
Gunung Puthuo adalah pusat keagamaan dan tempat manifestasi 
bodhisattva Avalokitetsvara. Di sinilah  tempat YinGuang menetap 
dalam jangka waktu paling lama selama menjadi bhiksu. Tahun 1911, 
berhubung seorang upasaka bernama Gao-HeNian berkunjung ke gunung 
PuTuo dan mendapatkan tulisan karya YinGuang dengan nama samaran 
ChangChan,  kemudian beliau memuatkan karya tersebut dalam sebuah 
tabloid Buddhisme terbitan kota Shanghai, maka sejak itu pula jodoh 
YinGuang dengan dunia luar mulai berkembang. Tahun 1917 hingga 1920, 
Xu-WeiRu dan kawan kawan mengumpulkan  surat-surat dan artikel 
tulisan YinGuang dan menerbitkannya dalam bentuk buku 
berjudul "Catatan tulisan bhiksu YinGuang". Tulisannya yang sangat 
sarat dengan ajaran dharma pun menuai berbagai pujian dari banyak 
kalangan, hingga nama beliau menjadi populer baik dari dalam maupun 
luar negeri. Seorang tokoh buddhis bernama Liang-QiChao bahkan 
pernah memuji  bahwa Samadhi dalam wujud tulisan YinGuang adalah 
petunjuk jalan bagi mereka yang buta di masa itu.   
Profesor Chen-RongJie mengungkapkan : " Tahun 1920-an, dia 
(YinGuang) menyebarkan sekian banyak buku kecil yang memproposalkan 
ajaran tentang kehidupan moralitas dan agama. Beliau dapat dengan 
leluasa mengambil inti kebijakan ajaran Confucius dan Taoisme. 
Beliau sendiri adalah orang yang sangat paham tentang ajaran 
Confucius dan Taoisme, menurutnya kedua ajaran tersebut pada 
dasarnya memiliki keselarasan dengan ajaran Buddha".    Meskipun 
YinGuang tidak pernah menerima murid secara langsung, namun beliau 
memiliki banyak umat yang menyebar diberbagai penjuru negeri. 
Sesungguhnya pengaruh tulisannya dalam buku "Catatan tulisan bhiksu 
YinGuang" cukup besar sekali.
    Tahun 1930 bulan ke 2, YinGuang yang telah berusia 70 tahun 
menjalani praktek penyepian di SuZhou, vihara BaoGuo. Namun karena 
banyak umat yang selalu ingin berada di dekat sang bhiksu, maka 
akhirnya beliau dengan upaya kausalya memberi bimbingan kepada para 
umat. Alhasil, pada masa masa ini pula jumlah umat yang ingin 
belajar di bawah bimbingan YinGuang malah semakin banyak lagi.  
Letak vihara BaoGuo tidak terlalu jauh dari vihara LinYan di 
kabupaten MuDu. Di vihara LinYan inilah kemudian YinGuang mendirikan 
pusat latihan ajaran Tanah suci agar para umat dapat berkumpul untuk 
berlatih bersama. Inilah masa sepuluh tahun terakhir YinGuang 
memberi bimbingan kepada umat dalam jumlah terbanyak. 
Tahun 1936 awal bulan 9, Ketua Pelaksana harian Lembaga Agama Buddha 
China – bhiksu YuanYing mengundang mahaguru YinGuang untuk memberi 
ceramah di kota Shanghai dengan tema "Upacara keselamatan bangsa 
agar terhindar dari bencana". Ceramah ini berlangsung selama 8 
hari.   
Tahun 1940, YinGuang telah berusia 80 tahun. Pada tanggal 27 bulan 
ke 10, beliau mengalami sakit ringan, lalu keesokan harinya 
dikumpulkanlah semua anggota bhiksu dan umat yang berkepentingan. 
YinGuang telah tahu bahwa hari kemangkatannya telah dekat, oleh 
sebab itu beliau bermaksud memberi pesan-pesan terakhirnya.  Karena 
YinGuang menjadi kepala vihara LinYan selama 10 tahun lebih yang  
selalu dibantu oleh pengawas vihara, bhiksu MiaoZhen, maka jabatan 
kepala vihara diputuskan untuk diberikan kepadanya. Keputusan ini 
mendapat persetujuan dari semua anggota. Lalu ditetapkanlah  waktu 
untuk mengadakan upacara serah terima jabatan itu pada tanggal 9 
bulan 11, tetapi Yin guang menolaknya dengan mengatakan bahwa 
penetapan tanggal tersebut sudah terlambat. Kemudian dimajukan 
menjadi tanggal 4, namun sang  bhiksu menolaknya lagi dengan alasan 
yang sama. Akhirnya diajukan pada tanggal 1 dan sang bhiksu baru 
menyetujuinya. Hingga pada tanggal 3, kondisi YinGuang tampak 
semakin lemah. Malam harinya, beliau diberi santapan berupa bubur. 
Setelah selesai menyantap makanan, YinGuang berkata kepada bhiksu 
ZhenDa dan orang yang merawatnya :"Tidak ada cara yang muluk-muluk 
dalam  praktek ajaran Tanah suci,  asalkan bersungguh sungguh dan 
tulus maka tidak ada yang tidak disambut oleh Buddha dan terlahir 
(di tanah suci) dengan membawa sisa karma". Hingga pada jam 1 tengah 
malam, YinGuang bangkit dari tempat tidurnya dan berkata :"Melafal 
nama Buddha dan melihat Buddha, pasti terlahir di Barat (tanah suci 
Sukhavati)". Selesai berkata demikian, beliau lalu melafal nama 
Buddha dengan suara lantang. Pukul 2 lewat 15 menit, beliau membasuh 
tangannya dengan air, lalu berdiri dan berkata :"Berkat sang Buddha 
Amitabha datang menyambut, aku pergi sekarang. Kalian semua 
melafallah nama Buddha, bangkitkanlah tekad, terlahirlah di tanah 
suci Barat". Setelah berkata demikian, YinGuang lalu duduk di atas 
kursi dalam posisi meditasi dan menghadap ke arah barat. Saat jam 
menunjukkan pukul 3, beliau berkata kepada bhiksu 
MiaoZhen : "Pertahankanlah pusat latihan ini, kembangkanlah ajaran 
Tanah suci, jangan bersikap bak orang besar". Setelah itu beliau 
terus melafal nama Buddha. Hingga jam 5 pagi (tanggal 4) YinGuang 
mangkat dengan tenang disela sela para siswa mengalunkan nama 
Buddha. Setelah dikremasi, di dapat kan reliknya yang berbentuk unik 
dan gemilang yang berjumlah banyak sekali ,  kemudian disemayamkan 
dalam stupa di vihara LinYan. 
Sepanjang karirnya menjadi bhiksu, YinGuang lebih banyak membimbing 
orang melalui metode ajaran Tanah suci. Sejak patriak ke 12 dari 
mazhab Sukhavati hingga keruntuhan dinasti Qing, hanya dialah 
penyebar ajaran Tanah suci yang paling menonjol. Oleh sebab itu 
tidak ada penghormatan yang lebih besar lagi selain menobatkannya 
sebagai patriak ke 13. Di samping itu, YinGuang juga disebut sebagai 
salah satu dari 4 bhiksu terbesar di era baru China nasionalis. 3 
bhiksu lainnya adalah Master XuYun, mahaguru TaiXu dan guru vinaya -
bhiksu HongYi.  
Selama menjadi bhiksu, meskipun tidak pernah menerima murid dengan 
cara penahbisan, sesungguhnya banyak bhiksu yang belajar dibawah 
bimbingan YinGuang. Bhiksu Hongyi sendiri merupakan murid YinGuang.. 
Hongyi sendiri lebih populer disebut sebagai guru ahli vinaya karena 
sangat menitik beratkan pada ajaran vinaya. Sikap dan perilakunya 
sebagai bhiksu ditonjolkannya dengan praktek vinaya, tetapi batinnya 
yang bernaung pada tanah suci merupakan hasil belajarnya dibawah 
bimbingan YinGuang. Hongyi kemudian disebut sebagai salah satu 4 
bhiksu besar yang disejajarkan dengan sang guru- YinGuang – tersirat 
bahwa YinGuang adalah guru yang telah berhasil memberikan apa yang 
terbaik kepada sang murid. Selain Hongyi, murid YinGuang yang paling 
menonjol adalah bhiksu DeSheng dan DaXing. Kemudian muridnya yang 
berstatus upasaka adalah GaoHeNian, FanGuNong dan LiBingNan. 
LiBingNan boleh dikatakan telah membawa warisan ajaran YinGuang 
menembus China daratan menuju Taiwan. Setelah kemangkatan YinGuang 
situasi China pada saat itu memang penuh dengan gejolak. Dari perang 
dunia ke 2 hingga perang saudara antara pemerintahan nasionalis dan 
komunis, China pada saat itu benar benar dalam situasi yang tidak 
genting. Apalagi setelah kemenangan pihak komunis, kehidupan 
beragama mengalami berbagai hambatan. Agama Buddha sendiri tidak 
luput dari imbas ini, hingga tidak sedikit para umat yang ikut 
menyeberang ke Taiwan. Di sinilah LiBingnan kemudian menyemaikan 
ajaran Tanah suci sehingga warisan ajaran YinGuang dapat berkembang 
di Taiwan. LiBingNan sendiri mendirikan pusat latihan ajaran Tanah 
suci dan hal ini mendapat sambutan yang baik oleh para umat di 
Taiwan. Semua orang tahu bahwa LiBingnan merupakan salah satu murid 
dari pewaris garis silsilah mazhab Sukhavati, sehingga tidak 
diragukan lagi beliau mendapatkan predikat penerus ajaran Tanah suci 
yang di bawah garis tangan YinGuang. Meskipun ajaran Tanah suci 
tidak terikat dengan segala jenis otoritas dan lagi pula garis 
silsilah mazhab Sukhavati juga tidak diturunkan berdasarkan warisan 
dari guru ke murid secara langsung, namun dengan melihat kenyataan 
yang ada, orang lebih yakin jika belajar dibawah bimbingan guru yang 
dimana guru tersebut adalah murid dari seorang sesepuh. Jika kita 
perhatikan penyebaran ajaran Tanah suci melalui garis LiBingnan di 
Taiwan, ternyata keberhasilannya cukup menakjubkan. Salah seorang 
murid LiBingnan bernama bhiksu Jingkong adalah penerus ajaran Tanah 
suci. Pada masa sekarang ini, bhiksu Jingkong telah membawa ajaran 
Tanah suci menyebar ke berbagai penjuru seperti Asia tenggara, 
Amerika dan Australia. Inilah dampak dari pengaruh ajaran YinGuang. 
Jadi sungguh tidak berlebihan jika YinGuang dipuji oleh muridnya 
Hongyi ," Orang besar seperti YinGuang, dalam 300 tahun terakhir ini 
hanya dia saja" .    


Patriak lainnya

TanLuan (476-542 M)
  
TanLuan adalah seorang bhiksu besar di masa dinasti Wei utara (abad 
5 M). Tempat kelahiran beliau terletak di YanMen, wilayah DaTong, 
bagian dari propinsi ShanXi. Karena letak rumahnya berdekatan dengan 
pegunungan WuTai, maka sejak kecil beliau telah sering mendengar 
kisah keajaiban yang diperlihatkan bodhisattva Manjusri di 
pegunungan ini. Pada umur belasan tahun, beliau kemudian mengunjungi 
gunung WuTai dan ternyata mengalami sendiri beberapa keajaiban yang 
membuatnya sangat terharu. Di situlah kemudian beliau memutuskan 
untuk menjadi bhiksu dan berlatih. TanLuan mempelajari berbagai 
sutra dan kitab komentar, dan mengkaji secara mendalam terhadap 
kitab karya Nagarjuna dan Aryadewa seperti  Mahaprajna Paramitha 
Sastra, Madyamaka Sastra, Dvadasa nikaya sastra, dan Sata 
Sastra.      
Kemudian beliau mempelajari kitab Mahasamnipata Sutra dan menyadari 
bahwa makna dari isi kitab ini sungguh mendalam dan sulit dipahami, 
maka beliaupun menuliskan kitab penjelasan terhadap kitab tersebut. 
Di sela-sela sedang menyelesaikan tugasnya ini, tiba tiba beliau 
mengidap penyakit pernafasan. Dengan terpaksa beliau menghentikan 
tugasnya, dan pergi mencari pengobatan. Saat tiba di wilayah 
FenZhou, penyakitnya mendadak sembuh. Kemudian beliau bermaksud 
untuk meneruskan tugasnya, namun muncul dalam pikirannya bahwa 
kehidupan yang singkat dan tidak pasti ini, jika tidak mendapatkan 
usia yang panjang, maka segala perencanaan yang ada akan menjadi sia 
sia. Lalu beliaupun memutuskan untuk mencari ilmu memperpanjang 
usia. TanLuan mendapatkan kabar bahwa di wilayah selatan ada seorang 
yang bernama TaoHongJing sangat mahir dalam ilmu dewa dan 
berpengetahuan tinggi, maka beliau pun berangkat ke selatan untuk 
mengunjunginya.  Saat itu wilayah selatan adalah daerah kekuasaan 
dinasti Liang, maka para penduduk dari dinasti Wei utara tidak dapat 
secara bebas untuk masuk ke wilayah ini.Tiba di kota JianKang, 
ibukota dinasti Liang (sekarang kota NanJing), TanLuan harus 
diinterogasi dulu oleh petugas. Setelah itu kemudian beliau 
dipertemukan dengan kaisar LiangWuDi. Sang kaisar adalah penganut 
Buddha yang tulus dan suka berdiskusi tentang ajaran Buddha, maka 
sangat senang atas kunjungan TanLuan dan mengajaknya untuk 
berdiskusi.  Saat ini, TaoHongJing sedang menetap di JuRong daerah 
gunung MaoShan, di mana tokoh ini sangat dihormati juga oleh Kaisar 
LiangWuDi dan sudah terkenal dengan julukan sebagai "Perdana Menteri 
(yang tinggal) di atas pegunungan". Di kota JianKang, TanLuan 
menyurati TaoHongJing terlebih dahulu untuk menjelaskan maksud 
kunjungannya. Ternyata TaoHongJing juga telah kenal dengan 
popularitas TanLuan maka beliau segera membalas surat sebagai tanda 
sambutannya atas permohonan TanLuan. Setelah bertemu TaoHongJing di 
gunung Mao, TanLuan kemudian menerima  "Kitab dewa" sebanyak 10 
jilid. Dengan gembira, beliaupun kembali ke Wei Utara dan bermaksud 
untuk melatih diri berdasarkan kitab tersebut. 
Saat tiba di kota LuoYang, TanLuan bertemu dengan bhiksu asal India 
utara bernama Bodhiruci. Pada kesempatan ini, beliau lalu 
mengutarakan maksudnya dan menanyakan bahwa apakah dalam kitab suci 
Buddha terdapat kitab yang melebihi "Kitab Dewa" yang mengajarkan 
tentang ilmu keabadian. Bodhiruci lalu menjawab, "Di negeri ini mana 
ada ilmu untuk dapat hidup abadi, jika pun dapat hidup panjang umur, 
saatnya untuk terbawa dalam arus tumimbal lahir tetap akan tiba, 
lalu apanya yang berharga?". Ilmu yang benar-benar dapat membuat 
hidup abadi sesungguhnya hanya ada dalam ajaran Buddha" ujarnya.  
Setelah menjelaskan kepada TanLuan tentang "Kitab Dewa" tidak 
sebanding dengan ajaran Buddha, Bodhiruci lalu memberikannya 
kitab "Amitayur Dhyana Sutra" dan berkata, "Ini baru ilmu maha dewa, 
jika berlatih dengan cara ini, akan terbebas dari kelahiran dan 
kematian. Tidak akan terbawa lagi dalam arus tumimbal lahir di 6 
alam kehidupan ini. Segala macam bencana, kegagalan dan 
keberhasilan, yang baik dan yang buruk, tidak akan datang mengusik 
kita lagi. Dan lagi pula akan mendapatkan usia yang sangat panjang 
bagaikan jumlah pasir yang tak terbatas di sungai gangga, tidak ada 
perumpamaan lagi yang dapat dijadikan perbandingan untuk 
menggambarkan panjangnya usia. Inilah ilmu maha dewa dari 
ajaran `yang telah sadar', Hyang Buddha". Setelah mendapat pelajaran 
dari Bodhiruci, TanLuan mengambil "Kitab Dewa" lalu membakarnya. 
Mulai sejak itu, beliau berlatih ajaran Tanah suci dengan tekun. 
Kemudian beliau juga membimbing orang, dan secara perlahan lahan 
orang yang belajar dibawah bimbingannya pun semakin banyak 
jumlahnya. Kaisar Wei Utara pun sangat menghormatinya, sehingga 
memberinya gelar "ShenLuan (Luan sakti)", sekaligus mengundangnya 
untuk menetap di vihara di BingZhou, (sekarang TaiYuan)  
prop.ShanXi. 
Pada masa tuanya, beliau pindah menetap di vihara XuanZhong. Sering 
juga beliau mengunjungi JieShan (sekarang wilayah JieXiu, 
prop.ShanXi) untuk kumpul bersama mempraktekkan Nianfo. Kemudian 
tempat ini disebut dengan LuanGongYan (tebing sesepuh Luan).  
Masa kaisar XiaoJingDi, dinasti Wei Timur (542 M), pada suatu malam, 
ada seorang bhiksu suci muncul di depan TanLuan dan berkata, "aku 
adalah Nagarjuna, aku telah terlahir di Tanah suci, karena kamu 
memiliki cita cita yang sama dengan ku, maka aku datang ke sini 
untuk melihat mu". TanLuan mengetahui bahwa masa hidupnya sudah 
tidak lama lagi, lalu mengumpulkan semua orang dan memberi pesan 
terakhir, "Kalian telah banyak menderita dalam roda kehidupan yang 
terus berputar tanpa ada masa akhirnya. Bangkitkanlah rasa takut 
akan penderitaan alam neraka, dan jangan bersikap lengah dalam 
melatih diri untuk berharap terlahir di alam Sukhavati melalui 
metode ajaran Tanah suci ini". Setelah berkata demikian, TanLuan 
lalu meminta para murid melafal nama Buddha dengan suara lantang, 
kemudian  bersujud ke arah barat dan setelah itu beliaupun mangkat 
dalam usianya yang ke 67 tahun.  Saat itu, semua orang melihat iring 
iringan bendera dan umbul umbul muncul dari  atas langit sebelah 
barat, dan terdengar suara musik surgawi. Beberapa lama kemudian 
pemandangan ajaib tersebut baru sirna kembali. Peristiwa ajaib ini 
kemudian tersebar hingga ke istana kerajaan, maka Kaisar pun 
memerintahkan jenasah TanLuan disemayamkan di FenXi (sekarang 
wilayah PingYang, prop.ShanXi) dan mendirikan stupa dan tugu 
peringatan untuknya.  
Mengenai tahun kemangkatan TanLuan, di masa dinasti Tang sudah 
muncul perbedaan pendapat.  Dalam kitab "JingTuLun (Risalat Tanah 
suci) bagian "Kisah TanLuan" karya JiaCai bagian akhir menulis bahwa 
beliau hidup antara  masa dinasti Qi-pemerintahan kaisar QiGaoDi 
(479 M) hingga dinasti Wei akhir (554 M). Dalam kitab karya DaoXuan 
berjudul  "XuGaoSengZhuan (Lanjutan Kisah Bhiksu Suci)" jilid ke 20 
bagian "Kisah DaoChuo" dan kitab karya ShaoKang 
berjudul  "WangShenXiFangJingTuRuiYingShanZhuan (Kisah singkat tanda 
keajaiban terlahir di Tanah suci Barat)" , menulis tentang beliau 
sebagai bhiksu yang hidup di masa dinasti Qi (479-502).  
Mengenai kitab karya TanLuan, terdapat kitab "DaJiJingShu 
(penjelasan tentang Mahasamnipata Sutra)", kitab ini sudah tidak 
pernah ditemukan lagi hingga kini. Menurut kitab "XuGaoSengZhuan 
(Lanjutan Kisah Bhiksu Suci)" jilid ke 6, mencatat bahwa terdapat 10 
jenis kitab karya TanLuan. Selain menulis kitab tentang ajaran 
Buddha, TanLuan juga menulis kitab tentang ilmu pengobatan khususnya 
tentang pengobatan melalui ilmu QiGong (ilmu energi Prana). Kemudian 
juga dikisahkan bahwa beliau mampu mengobati orang dengan ilmu 
QiGong, dan ilmu pengobatannya terkenal ke seluruh penjuru negeri 
Wei. Seorang penulis di masa dinasti Sui bernama LangWangShao pernah 
menuliskan kitab penjelasan dari kitab karyanya yang 
berjudul "TiaoQiLun (Risalat tentang Menyeimbangkan energi Qi)" . 
Ini membuktikan bahwa TanLuan juga termasuk orang yang memiliki 
pengaruh dalam dunia ilmu pengobatan di China pada masa lalu. 
Karyanya yang paling utama tentu adalah doktrin doktrin tentang 
ajaran Tanah Suci. TanLuan mengekspresikan pemikirannya tentang 
ajaran Tanah Suci dalam kitabnya yang berjudul "WangShenLunZhu 
(Penjelasan tentang Risalat Kelahiran di Tanah Suci)" 2 jilid. Kitab 
ini merupakan kitab penjelasan mengenai buah karya Vasubandhu yang 
berjudul "WuLiangShouJingYouPuoTiSeYuanShenJi (Syair tentang tekad 
terlahir di Tanah suci dalam Maha Sukhavativyuha Sutra Upadesa)". 
Pada jilid pertama, beliau menjelaskan tentang makna dari syair, dan 
pada jilid kedua menjelaskan tentang makna sutra.  Dengan 
berlandaskan pada kitab Dasabhumika Vibhasa Sastra karya Nagarjuna, 
TanLuan menjelaskan bahwa terdapat jalan mudah dan jalan sulit bagi 
seorang bodhisattva yang ingin mencapai tahap Avairvatika (tidak 
merosot).  Jika hidup pada masa tidak ada Buddha dan dalam dunia 
lima kekeruhan, maka disebut jalan sulit bagi mereka yang ingin 
mencapai tahap avarvatika. Namun jika memiliki keyakinan terhadap 
Buddha dan bertekad terlahir di Tanah suci,  bergantung pada 
kekuatan Buddha untuk masuk ke dalam Samadhi yang benar dari jalan 
Mahayana, maka cara ini disebut jalan mudah. Dengan demikian, jika 
di masa tidak ada Buddha dan bergantung pada kekuatan sendiri, tanpa 
bantuan kekuatan lain, maka akan sulit mencapai avairvatika ibarat 
berjalan di daratan, setiap langkah terasa berat dan melelahkan. 
Sebaliknya jika bergantung pada kekuatan Buddha untuk terlahir di 
Tanah Suci, maka ini adalah jalan yang mudah ibarat menaiki kapal 
yang berjalan di atas air dengan rasa nyaman. Beliau juga menulis 12 
syair tentang praktek Nianfo, persembahan dan permohonan terlahir di 
Tanah suci sebagai syair lanjutan yang pernah dibuat oleh Nagarjuna. 
Selain mendapat bimbingan Bodhiruci, pemikiran TanLuan tentang 
ajaran Tanah suci jelas mendapat pengaruh dari sang bapak Mahayana – 
Nagarjuna. 
Sudah menjadi pandangan umum bahwa doktrin tanah suci yang dianut 
TanLuan adalah berasal dari bimbingan Bodhiruci. Tetapi ada juga 
yang berpendapat bahwa beliau belajar dibawah bimbingan bhiksu 
HuiCong dan DaoChang (kitab "AnLeJi (kumpulan catatan tentang tanah 
suci)" karya DaoChuo). Lalu dalam kitab "JindTuSanGuoFoZuZhuanJi 
(Kumpulan kisah Tanah suci Buddha dalam 3 kerajaan) karya bhiksu 
asal Jepang -ShenChong",  mengatakan bahwa HuiCong adalah murid dari 
HuiYuan yang kemudian juga belajar dibawah bimbingan Bodhiruci. 
Sedangkan DaoChang adalah murid dari HuiCong, dan  juga sebagai 
kepala vihara generasi ke 3 di vihara DongLin-pusat ajaran tanah 
suci di gunung Lu.  
Kedua orang ini merupakan generasi penerus dari bhiksu HuiYuan namun 
tidak diketahui mengapa mereka bisa menjadi murid Bodhiruci. 
Sedangkan dalam tulisan TanLuan sendiri tidaklah pernah menyinggung 
tentang kedua guru ini, maka seberapa jauh hubungan mereka dengan 
TanLuan tentu menjadi sebuah pertanyaan tersendiri. 
Mengenai murid TanLuan,  dalam kitab karya bhiksu ShenChong, beliau 
menulis bahwa murid dari TanLuan adalah DaHai yang menetap di vihara 
XuanZhong. Kita tidak dapat memungkiri bahwa murid TanLuan tentu 
lebih dari satu orang. Hanya saja yang menjadi pertanyaan tersendiri 
adalah bahwa DaHai merupakan salah satu tokoh dari 6 sesepuh ajaran 
Tanah suci yang tercatat dalam  kitab "AnLeJi (kumpulan catatan 
tentang tanah suci) " karya bhiksu DaoChuo . Dalam tulisan tersebut, 
tidak ada persinggungan mengenai hubungan DaHai dengan TanLuan. 
Namun yang jelas, "penerus"  TanLuan yang paling menonjol tentu 
adalah sang tokoh ajaran tanah suci yang juga sama populernya  - 
bhiksu DaoChuo. Meskipun hidup dalam jaman yang berbeda, Daochuo 
menjadikan TanLuan sebagai tokoh inspirasi. Beliau meyakini ajaran 
Tanah suci berkat tulisan karya TanLuan. Walaupun tidak memiliki 
hubungan langsung dengan TanLuan, DaoChuo telah mengekspresikan 
kembali ajaran dari TanLuan dengan sangat baik. 


DaoChuo (562-645 M)

DaoChuo adalah penduduk asal kabupaten BingZhou (sekarang TaiYuan), 
daerah WenShui. ( kitab "JingTuLun (Risalat Tanah Suci)" karya 
JiaCai, menulis tempat asalnya adalah kab.BingZhou, daerah JinYang). 
Nama marganya adalah Wei. Dialah yang  disebut sebagai guru penerus 
ajaran dari bhiksu TanLuan.  DaoChuo menjadi bhiksu pada usia 14 
tahun.  Sangat tekun dalam mempelajari kitab suci Buddha khususnya  
mengkaji secara mendalam terhadap kitab "Maha Parinirvana Sutra" dan 
telah memberi ceramah mengenai kitab ini sebanyak 24 kali.  DaoChuo 
juga berlatih ajaran Chan dibawah bimbingan Chan master HuiZan (536-
607) di vihara KaiHua, gunung Meng, wilayah TaiYuan.  
Kemudian pada masa dinasti Sui, era KaiYue tahun ke 5 (609 M), 
beliau pindah menetap di vihara XuanZhong di WenShui tempat 
asalnya.  Vihara ini merupakan pusat ajaran Tanah suci yang 
didirikan oleh bhiksu TanLuan. Di tempat inilah TanLuan beralih 
menjadi praktisi Tanah suci karena terharu setelah membaca tulisan 
tentang kisah keajaiban pada diri bhiksu TanLuan yang terpampang di 
dinding vihara. Beliau sangat mengagumi atas hasil yang dicapai oleh 
TanLuan, oleh sebab itu beliaupun menghentikan ceramahnya terhadap 
kitab MahaParinirvana Sutra, berlatih metode Tanah suci dan sepenuh 
hati melafal nama Buddha.  Dengan beralih menjadi praktis Tanah 
suci, DaoChuo kemudian mendalami kitab "Amitayudhyana Sutra" 
dan "Maha Sukhavativyuha Sutra". Dengan demikian beliaupun menjadi 
seorang pembabar yang handal tentang kitab tersebut di mana tidak 
kurang dari 200 kali dalam memberi ceramah.  Semua orang yang 
mendengar ceramahnya menyambut dengan suka cita atas apa yang beliau 
babarkan, dan setiap selesai memberikan ceramah, semua orang tetap 
melantunkan nama Buddha hingga menggema ke seluruh penjuru gunung. 
Aktivitas tetapnya setiap hari adalah memberi persembahan dan  
melafal nama Buddha sebanyak 70.000 kali. Saat dudukpun selalu 
menghadap ke arah barat sebagai tanda keagungan tekadnya terhadap 
Tanah Suci Buddha. Kemudian juga mengajar orang melafal nama Buddha 
dengan menggunakan tasbih. Beliau  juga sering membuat tasbih 
sendiri untuk menghadiahkannya kepada semua orang dan menasihati 
mereka melafal nama Buddha. Ada orang yang tidak percaya dengan 
ajaran Tanah suci dan bermaksud mendiskreditkan ajaran ini, sekali 
bertemu dengan kewibawaan DaoChuo dan kepiawaiannya berbicara, dapat 
beralih menjadi pengikutnya juga. Demikianlah kegigihan DaoChuo 
menyebar luaskan ajaran Tanah suci, hingga di sepanjang wilayah 
JinYang, TaiYuan dan WenShui, para penduduk dari usia 7 tahun ke 
ataspun sanggup melafal nama Buddha. 
Berbagai kisah keajaiban menyangkut dirinya pun bermunculan, seperti 
ada bhiksu yang dalam meditasinya melihat keindahan pemandangan alam 
Sukhavati sekaligus melihat sosok DaoChuo dalam wujud yang gemilang 
dan besar bagaikan gunung 7 permata, tangannya memegang tasbih. 
Suatu ketika, peristwa ajaib lain yang disaksikan oleh para umat 
adalah muncul wujud bhiksu TanLuan sedang duduk dalam perahu yang 
berhiaskan 7 permata sambil berkata kepada DaoChuo, "Karena 
kegigihan anda berlatih, maka istana yang terbentuk dari hasil buah 
karma anda di alam Sukhavati telah terwujud, hanya saja anda masih 
memiliki sejumlah jodoh karma yang belum terselesaikan. " Pada saat 
yang sama juga muncul wujud Buddha disepenjuru angkasa, dan dihujani 
oleh bunga surgawi. Peristiwa ini disaksikan oleh para umat dengan 
perasaan kagum dan suka cita.
Pada masa pemerintahan kaisar Tang TaiZong di era ZhenGuang tahun ke 
2 (628M),  karena Ratu WenDe sedang sakit, maka Kaisar pun  
mengunjungi vihara XuanZhong untuk bermohon berkah dari bhiksu 
DaoChuo. Ini menandakan DoaChuo sudah memiliki nama yang cukup besar 
di masa itu.
Kegigihan DaoChuo dalam berlatih tidaklah membuat kesehatannya 
menurun seiring dengan usia yang semakin tua, bahkan boleh dikatakan 
semakin bertambah umurnya, yang terlihat malah sosok yang semakin 
kuat dan segar. Pada usia 70 tahun saja, giginya yang sudah rusak 
ditelan usia dapat tumbuh kembali bagaikan anak balita yang dalam 
masa pertumbuhan. 
Tahun 645, tanggal 24 bulan ke 4, DaoChuo berpamitan kepada semua 
umat, dan tanggal 27 kemudian beliau mangkat di vihara XuanZhong 
pada usianya yang ke 84 tahun. Saat itu, seorang praktisi Tanah Suci 
lain yang bernama bhiksu DaoFu, di mana beliau sering berdiskusi 
dengan DaoChuo dan setiap kali bertemu, mereka akan saling berjanji 
untuk terlahir di Tanah suci. Setelah DaoChuo mangkat 3 hari 
kemudian, DaoFu baru mengetahui kabar ini dan berkata, " Saya sering 
berharap agar dapat lebih dulu terlahir di Tanah Suci, namun tak 
disangka sekarang berada di belakang. Jika mengerahkan sedikit 
tenaga lagi  maka saya akan dapat menyusul DaoChuo". Kemudian bhiksu 
ini bersujud di depan Buddha rupang dan mengucapkan tekad, setelah 
selesai beliaupun duduk dan langsung mangkat seketika. Demikianlah 
keistimewaan praktisi Tanah suci, dengan begitu leluasanya mereka 
melepaskan tubuh fisiknya di sela sela orang yang masih sangat 
terikat dengan tubuh yang kotor ini. 
Karena letak vihara XuanZhong berada di wilayah WenShui dan XiHe, 
maka DaoChuo juga dijuluki dengan nama Chan Master XiHe.  
        Kitab karya DaoChuo yang terkenal adalah "AnLeJi (Kumpulan 
catatan Tanah Suci)" sebanyak 2 jilid. Kitab ini merupakan kumpulan 
pemikirannya tentang ajaran Tanah Suci yang beliau kombinasikan 
antara pemikiran para sesepuh terdahulu seperti Nagarjuna, 
Vasubandhu, HuiYuan dan TanLuan. Pemikirannya yang mendalam tentang 
doktrin Tanah Suci tidak terlepas dari pengetahuannya yang luas 
terhadap kitab suci Buddha secara keseluruhan. Dalam kitab "AnLeJi" 
saja beliau menulis bahwa kitab ini berlandaskan pada Sutra, Vinaya 
dan Abhidharma, yang berjumlah lebih dari 40 kitab. Kitab yang 
dijadikan landasan utama adalah 3 sutra tanah suci yakni: "Maha 
Sukhavativyuha Sutra", "Amitayur-dhyana Sutra", "Amitabha Sutra". 
Selain itu, landasan pelengkapnya adalah Maha Samnipata Sutra, Maha 
Parinirvana Sutra, Avatamsaka Sutra, Vimalakirti Nirdesa Sutra, 
Saddharmapundarika Sutra, Maha Karuna Sutra, Ekottara-agama Sutra
(pali: Anguttara Nikaya), Dasabhumika Sutra, Guanfo Sanmei Haijing, 
Dharmapada, SheFang SHuiYuan WangSheng, DaChengTongXing, 
Mahaprajnaparamita Sastra, Mahayana Sraddhopatda sastra, Abhidharma 
Kosa, WangShengLun, ZanAMiToFoJi. 
        Ajaran DaoChuo sangat menekankan cara berlatih yang sesuai 
dengan kondisi dunia. Dalam kitab AnLeJi, beliau menulis bahwa kitab 
Chandragarbha Sutra (bagian dari Samnipata Sutra) 
mengatakan : "Setelah kemangkatan sang Buddha, pada periode ke 5 
dari 500 tahun, masa akhir dharma dimulai. Pada masa ini, yang 
dititik beratkan adalah berbuat kebajikan untuk mengikis karma 
buruk, sekaligus mengatakan bahwa metode yang paling sesuai dengan 
masa ini adalah mempraktekkan Nianfo. Kemudian DaoChuo 
mengklasifikasikan ajaran Buddha menjadi 2 metode, yakni metode 
Jalan suci dan metode Tanah suci. Pada Metode jalan suci, para 
makhluk yang memiliki "akar tumpul"  di masa akhir dharma ini tidak 
akan dapat berhasil dengan cara ini. Hanya dengan berlandaskan 
metode Tanah suci-lah yang bergantung pada kekuatan tekad Buddha 
baru akan terlahir di Tanah suci Buddha. Itulah yang menjadi sebab 
DaoChuo menyebar luaskan ajaran Tanah Suci.  
        Mengenai kunci untuk terlahir di Tanah Suci, DaoChuo menitik 
beratkan pada membangkitkan Bodhicitta (batin Buddha) sebagai factor 
utama, dan mempraktekkan Buddhanursmerti Samadhi (Nianfo SanMei) 
sebagai jalannya. Beliau menekankan pentingnya memiliki batin Buddha 
dengan mengutip teori dari kitab tentang kelahiran di Tanah suci 
karya Vasubandhu.  Beliau mengatakan: "Pikiran yang membangkitkan 
Batin Buddha adalah  pikiran yang bertekad untuk menjadi Buddha, 
Pikiran yang bertekad menjadi Buddha adalah pikiran untuk 
membebaskan semua makhluk hidup".  Kemudian mengenai pentingnya 
mempraktekkan Buddhanusmerti Samadhi, beliau mengatakan bahwa 
berlatih Samadhi ini dipastikan akan bertemu dengan Buddha dan saat 
menjelang kematian pasti akan terlahir di sisi Buddha. Praktek 
Samadhi ini telah meliputi praktek Sadparamita (6 kesempurnaan) dan 
Catur Samgraha vastu dan dapat mengikis karma buruk.
Praktek Nianfo yang dijalankan DaoChuo meliputi 2 jenis Nianfo yakni 
Nianfo dengan melafal nama Buddha dan Nianfo dengan 
memvisualisasikan wujud Buddha. 
        Sebagai praktisi Tanah Suci, yang menjadi guru DaoChuo 
sesungguhnya adalah TanLuan, meskipun DaoChuo sendiri tidak pernah 
belajar darinya secara langsung. Dalam kitab "AnLeJi", DaoChuo 
mengungkapkan bahwa terdapat 6 orang sebagai  sesepuh ajaran Tanah 
Suci di China di mana mereka adalah Bodhiruci, HuiChong, DaoChang, 
TanLuan, DaHai dan FaShang. Sedangkan mengenai murid DaoChuo, yang 
paling menonjol adalah ShanDao (patriak ke 2).  


HuiRi  (680-748 M)

HuiRi adalah penduduk asal propinsi ShanDong, kab.DongLai. (sekarang 
kab.DongYe). Nama marganya adalah Xing. Setelah menjadi bhiksu, 
beliau bertemu dengan bhiksu terkenal –YiJing – yang mencari kitab 
suci ke India dan pernah belajar bahasa Sankerta di kerajaan 
Sriwijaya.  Karena sangat kagum dengan apa yang telah dilakukan oleh 
YiJing, maka HuiRi pun bermaksud mengikuti jejaknya. Tahun 701, 
HuiRi berangkat melalui jalur laut dan singgah di FoShe (Pulau 
Sumatera) dan  SheZiZhou (Srilanka). 3 tahun kemudian beliau tiba di 
India. Di samping mengunjungi berbagai tempat suci agama Buddha, 
HuiRi juga mencari kitab suci dan mengunjungi berbagai tokoh agama 
Buddha di India. 
Karena telah mengarungi berbagai tantangan yang berat dan 
melelahkan, HuiRi secara perlahan-lahan merasakan kejenuhan dunia 
Samsara ini, maka beliaupun mulai bertanya tanya bahwa apakah ada 
metode latihan yang dapat membimbing seseorang untuk terbebas dari 
penderitaan demikian. Kemudian para bhiksu di sana pun menasihatinya 
berlatih ajaran Tanah suci untuk dapat terlahir di tanah suci 
Buddha. Dan sejak itupun beliau menjadi seorang praktisi Tanah Suci. 
Kemudian HuiRi melanjutkan perjalanannya ke India bagian utara dan 
singgah di Gandhara. Di sisi timur laut ibukota kerajaan, terdapat 
sebuah gunung di mana di atas gunung ini terdapat patung bodhisattva 
Avalokitetsvara.  Konon dikatakan bahwa orang yang dengan tulus 
bermohon, maka sang bodhisatva akan muncul di depan orang tersebut. 
Setelah mendengar kabar ini, HuiRi kemudian berangkat menuju tempat 
tersebut dan bersujud selama 7 hari tanpa makan dan minum. Hingga 
pada malam hari ke 7, bodhisattva Avalokitetsvara muncul di 
hadapannya dengan wujud yang besar dengan posisi duduk dalam 
teratai. Sang Bodhisatva lalu menjulurkan tangannya menyentuh kepala 
HuiRi dan berkata, "Jika kau ingin menyebar luaskan ajaran Buddha 
demi manfaat semua orang, maka hanya dengan mempraktekkan Nianfo 
pada Buddha Amitabha dan dengan tulus bersumpah untuk terlahir di 
Tanah Suci. Setelah bertemu denganku dan Buddha Amitabha, maka kau 
akan mendapatkan manfaat yang tidak ada bandingannya. Ketahuilah 
bahwa ajaran Tanah suci merupakan metode ajaran yang paling unggul 
dan  melampaui semua metode ajaran yang ada." Setelah berkata 
demikian, sang bodhisattva kemudian lenyap kembali. HuiRi yang 
sebelumnya dalam kondisi yang lemah dan lelah, setelah mendengar 
kata kata tersebut, tiba tiba pulih kembali dan semakin bersemangat. 
Selama perjalanannya mengelilingi India, HuiRi telah menyinggahi 
lebih dari 70 kerajaan selama 18 tahun. Pada masa pemerintahan 
kaisar TanXuanZhong (719 M), HuiRi  akhinya kembali ke China dan 
tiba di kota ChangAn. Beliau lalu diundang ke istana kaisar dan 
mempersembahkan lukisan dan kitab suci Buddha bahasa Sanskerta 
kepada sang Kaisar. Kaisar kemudian memberinya gelar "Mahaguru 
Tripitaka CiMin".  
 HuiRi mempraktekkan ajaran Tanah suci dengan rajin dan tekun. 
Beliau menasihati semua orang melafal nama Buddha dan ajarannya juga 
cukup berpengaruh di saat itu. Kemudian beliau menulis 
kitab "WangShengJingTuJi (kumpulan catatan kelahiran di Tanah 
Suci)"  Karyanya yang lain adalah : "JingTuCiPeiJi (Catatan welas 
asih Tanah Suci)"; "BanZhouSanMeiZhan (Syair pujian tentang 
Pratyutpannasamadhi); "Syair pujian tentang tekad terlahir di tanah 
suci" ; "XiFangZhan (Syair pujian tentang tanah suci Barat)". Kitab 
JingTuCiPeiJi (Catatan welas asih Tanah Suci) yang telah lama 
hilang, pada tahun 1925 ditemukan di vihara TongHua di Korea. 
Pada masa kaisar TanXuanZhong era TianBao tahun ke 7 (748 M), HuiRi 
mangkat di vihara WangJi, kota LuoYang (sekarang kota XiAn, 
prop.ShaanXi) dalam usia 69 tahun. Saat menjelang kemangkatannya, 
HuiRi melihat wujud bunga teratai muncul di depan beliau dengan 
cahaya yang gemilang.  
HuiRi menjadi praktisi Tanah suci merupakan hasil belajarnya secara 
langsung dari tanah India. Ini merupakan satu cerminan bahwa mazhab 
Tanah Suci bukanlah sebuah mazhab yang eksklusif berkembang dari 
China. Mazhab Tanah suci merupakan bagian tak terpisahkan dari 
filosofi Buddhisme Mahayana yang berkembang sejak di India. 
Setelah kembali ke China, beliau pun menyebar luaskan ajaran ini. 
Pemikiran ajaran Tanah sucinya memiliki ciri khas tersendiri. Oleh 
sebab itulah sebagian scholar membedakan  ajaran Tanah suci menjadi 
tiga aliran, yakni Aliran dari HuiYuan, Aliran dari ShanDao dan 
Aliran dari HuiRi atau disebut aliran CiMin. 
Meskipun menitik beratkan pada ajaran Tanah Suci, HuiRi juga 
berpegang pada prinsip ajaran Chan, Vinaya dan Esoterik lainnya. 
Beliau mengkritisi para praktisi Chan yang telah mengabaikan Vinaya 
dan para praktisi ajaran Tanah Suci yang tidak lagi berpantangan 
makanan daging. Prinsip ajaran yang dipegang oleh HuiRi ini kemudian 
mempengaruhi jalan pemikiran patriak ke 6 –bhiksu YenShou. Kemudian 
patriak ke 3 –bhiksu ChengYuan pernah belajar dibawah bimbingannya.  
Sedangkan penekanannya pada Vinaya juga sangat diteladani oleh 
bhiksu YuanZhao, patriak dari mazhab Vinaya di masa dinasti Song.  
Ini mengindikasikan bahwa kontribusi yang diberikan HuiRi dalam 
membentuk ajaran Tanah suci secara keseluruhan cukup berpengaruh.   


 



Referensi: 

-       JingKong, PuXuanPhuShaXingYuanPinJiangJi (Ceramah tentang 10 
ikrar Bodhisatva Samantha-bhadra)
-               ChenShiQiang, ZhongGuoFoJiao BaiKeQuanShu – 
JingDianJuan (Ensiklopedi Buddhisme China – kelompok Kitab Suci). 
ShangHai: ShangHaiGuJiChuBanShi-  Tahun 2000.  
-       LuZen, LinZiQing, dkk, ZhongGuo FoJiao RenWu (Tokoh agama 
Buddha China) -2 jilid.
-       HuiLuu, JingTu ShengXuanLu YiJie (Penjelasan praktis 
terhadap kitab "Kisah  sesepuh suci mazhab Sukhavati").    
-       Software: Combine dictionary of East Asian Buddhist Terms 
and East Asian Literaly Terms. Edited by : A. Charles Muller
-       Software: DingFuBao Buddhist Dictionary
-       Website : amitabha.uhome.net
-       Website:  www.jodoshu.com
-       Website: www. bfnn2.org





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke