|
Penulis: Bagus Pratomo
PEKANBARU--MIOL: PT Caltex Pacific Indonesia bekerjasama dengan United States Agency for International Development melaksanakan pelatihan secara bertahap terhadap 150 pemuda-pemudi Aceh korban bencana tsunami. Pelatihan bertujuan menyiapkan tenaga terampil dalam membangun Aceh paskabencana tsunami.
Dari 150 siswa yang mengikuti program bernama Chevron Stunami Relief Initiative ini, 48 di antaranya dinyatakan lulus, setelah menjalani masa pelatihan di Politeknik Caltex Riau (PCR) selama sekitar 11 minggu. Mereka yang lulus merupakan tenaga terampil di bidang bangunan dan pemasangan instalasi listrik.
"Pelatihan ini merupakan awal dari serangkaian program kegiatan Caltex dalam membantu rakyat Aceh membantu membangun kembali daerahnya yang hancur diterjang tsunami," kata Presiden Direktur Caltex Wahyudin Yudiana usai memberikan sertifikat lulus pelatihan kepada ke 48 pemuda-pemudi Aceh, di Politeknik Caltex Riau, Rumbai, Pekanbaru, Sabtu, (1/10).
Program pelatihan kejuruan bagi pemuda-pemudi Aceh ini berlangsung dalam beberapa tahap dengan bidang pelatihan yang beragam. Keterampilan yang diajarkan sesuai kebutuhan lapangan di Aceh dalam proses pemulihan infrastruktur dan kehidupan masyarakat.
Pihak Caltex dan USAID telah menyiapkan dana sekitar US$10 juta untuk membangun sarana dan prasarana di Aceh.
Wahyudin mengharapkan, mereka yang mengikuti program ini, dapat berperan langsung dalam proses pemulihan dan pembangunan kehidupan masyarakat Aceh di daerah yang terkena tsunami.
Staf ahli pendidikan USAID, Elizabeth Sunindyo mengatakan, mereka yang lulus kali ini merupakan pemuda-pemudi Aceh yang mengikuti program pelatihan pada gelombang pertama. Sedangkan untuk gelombang kedua yang mendapat pelatihan aplikasi komputer, juru las, dan keahlian elektronika, akan lulus pada akhir Oktober 2005.
"Kami melatih mereka sesuai keterampilan yang mereka minati. Mereka merupakan siswa dari sekitar 60 desa di seantero Aceh. Penjaringan untuk mengikuti program ini atas kemauan mereka dan dukungan dari keluarga serta tetangganya. Tidak ada paksaan," kata Elizabeth.
Elizabeth mengakui, pihaknya akan tetap memantau pemuda-pemudi usai pelatihan. Memang, tak ada jaminan mereka langsung dapat bekerja seusai pelatihan. Namun ia berjanji, pihaknya akan mendampingi hingga mereka dapat berkarya dan mandiri membangun Aceh.
Selanjutnya, program ini akan mengikutisertakan 150 peserta lanjutan lainnya. Mereka akan dididik keterampilan memperbaiki mobil dan keterampilan lainnya. Tidak tertutup kemungkinan, keterampilan yang diajarkan serupa dengan program pelatihan sebelumnya.
Seorang pemuda yang lulus dalam pelatihan kali ini Muhajirrin menghrapkan, program ini dapat terus berjalan dan tidak berhenti sampai di sini. "Kami sangat senang dapat mengikuti program pelatihan ini. Kami yakin, ilmu yang kami dapatkan dalam pelatihan ini bisa membantu kami membangun Aceh kembali." (BG/TH/OL-02) |