Senin, 17 Oktober 2005

Tak Perlu Repot Antre Minyak Tanah

Irma Tambunan dan Agnes Rita Sulistyawaty

Huu yang bayar malah mati, yang ndak bayar kok malah nyala, kata Prawoto, warga Dusun Gayam, Desa Gayamharjo, Prambanan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, meniru ucapan warga ketika melihat lampu di rumah dengan pembangkit listrik tenaga surya tetap menyala. Adapun rumah-rumah yang memakai energi listrik dari PLN mati.

Terhindar dari pemadaman listrik hanyalah satu dari sekian keuntungan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Yang jelas, keberadaan PLTS ini membuat warga tidak perlu repot antre memperoleh minyak tanah untuk lampu minyak yang digunakan warga sebelum ada PLTS.

Dari namanya, PLTS jelas memanfaatkan energi matahari. Namun, krisis bahan bakar minyak di seantero Indonesia ternyata membawa berkah. Setidaknya di dua desa wilayah Yogyakarta, masyarakat desa justru menemukan hikmah, yaitu budidaya energi alternatif sebagai jalan keluar. Energi lain itu ialah energi terbarukan pemanfaatan biogas, dari ampas (makanan) tahu. Kedua jenis sumber energi itu bisa dipakai untuk penerangan, memasak, atau menggerakkan alat elektronika.

Untuk PLTS, satu unit PLTS terdiri dari modul surya yang berfungsi untuk menangkap energi surya, alat pengatur pengisi baterai yang dilengkapi dengan sakelar, dan baterai penyimpan energi. Tiap PLTS berkekuatan 200 wattjam dan bisa digunakan untuk menghidupkan dua sampai tiga lampu jenis TL dalam satu malam.

Sedangkan kebutuhan energi yang lebih besar bisa dilayani dengan beberapa unit PLTS yang dioperasikan bersama-sama. Semakin banyak PLTS yang dijalankan, diperlukan baterai penyimpan energi dengan kapasitas yang lebih besar. Di depan Pusat Studi Energi (PSE) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta—lembaga motivator di Desa Gayamharjo, Prambanan, itu—misalnya, dipasang dua modul surya untuk menghidupkan lampu penerangan jalan umum.

Namun, PLTS memiliki kelemahan, yakni ketergantungan pada cuaca. Saat mendung, kemampuan modul surya menangkap sinar matahari tentu saja menjadi berkurang. Akibatnya, PLTS tidak bisa digunakan secara optimal. Dalam kondisi prima penyerapan sinar matahari, satu PLTS bisa menghidupkan tiga lampu berkekuatan 10 watt selama sekitar tujuh jam. Tetapi, saat mendung, kemampuan PLTS menyimpan energi berkurang sekitar 30 persen.

Namun, di sisi lain, perawatan PLTS sebenarnya relatif mudah. Syaratnya, air aki yang ada pada baterai harus dijaga agar tidak berkurang banyak. Dalam satu bulan, air aki dalam baterai untuk satu PLTS diisi dengan sebotol air aki yang bisa didapatkan secara mudah di bengkel kendaraan, seharga sekitar Rp 2.000.

Kerusakan PLTS relatif jarang terjadi. Kalaupun ada, PLTS ini digunakan melebihi spesifikasinya, misalnya digunakan untuk menyalakan radio secara terus-menerus.

Tak menyala

Jika ada lampu yang tidak menyala lagi, warga bisa menggantinya dengan lampu TL yang dijual di pasar umum seharga sekitar Rp 3.000 per buah. Di Desa Gayamharjo, seluruh biaya perawatan diambil dari iuran bulanan sebesar Rp 6.000 per keluarga.

Yang agak mahal adalah investasi awal satu unit PLTS yang mencapai Rp 4-5 juta. Di DIY, Pemerintah Provinsi DIY dan Pemerintah Kabupaten Sleman mulai mengadakan PLTS untuk keluarga miskin yang tinggal di rumah yang tak terjangkau listrik dari PLN. Sejak tahun 2003, setidaknya ada 56 keluarga yang menikmati PLTS.

Dari total biaya PLTS, sekitar 70 persen digunakan untuk mendatangkan modul surya yang masih diimpor. Andaikan ada pembebasan bea impor untuk modul surya ini, kemungkinan harga satu unit PLTS bisa lebih murah.

Sayangnya, sepanjang dua sampai tiga tahun penggunaan PLTS, Prawoto, yang menjadi Koordinator PLTS Desa Gayamharjo, menemukan ada 10 buah PLTS yang tidak dapat berfungsi lagi. Ia belum mengetahui penyebab kerusakan ini.

Humas PSE UGM Rita Kristyani mengatakan kerusakan PLTS ini terjadi karena pemakaian yang melebihi kekuatan PLTS. PSE UGM ini menjadi mitra pemerintah dalam pengadaan PLTS. Kami memperkirakan daya tahan PLTS ini selama 20 tahun. Faktor alam lambat laun mengurangi kekuatan PLTS ini. Kalau dua-tiga tahun pemakaian sudah terjadi inefisiensi energi dari PLTS, kemungkinan besar ada penyalahgunaan alat ini, jelasnya.

Pimpinan Gamatech Scientific Instruments, Sudiartono, mengatakan teknologi PLTS bukan hal baru. Melihat krisis energi minyak saat ini, sumber listrik masa depan adalah milik energi terbarukan yang berlimpah dan gratis. Pemakaian energi surya merupakan contoh solusi problem energi bagi masyarakat luas, termasuk keluarga miskin.

Kami pernah memasang PLTS untuk memantau gempa di Selat Sunda, sebagai pemantau kebocoran Waduk Kedungombo, dan pemantau audio visual di puncak Gunung Merapi, ujar Sudiartono.

Untuk pemantau audio visual puncak Gunung Merapi, misalnya, PLTS adalah sumber energi yang paling mungkin untuk menggerakkan kamera karena listrik PLN belum dapat menjangkau puncak gunung teraktif di Pulau Jawa ini.

Hasil dari pemantauan aktivitas Gunung Merapi ini dijadikan salah satu obyek wisata di gardu pandang wisata Ketep, Magelang. Sebenarnya, pemanfaatan kamera ini bisa dipakai untuk deteksi dini terjadinya bencana akibat aktivitas Gunung Merapi. Bahkan, Sudiartono menyanggupi jika ada kebutuhan deteksi dini aktivitas Gunung Merapi dari Keraton Yogyakarta.

Selain PLTS, energi biogas yang berasal dari pengolahan limbah tahu juga merupakan sumber energi terbarukan. Desa Trimurti, Srandakan, Bantul, menjadi salah satu contoh desa pemanfaat energi bio gas.

Dijelaskan Team Leader Dewats (Decentralized Wastewater Treatment System) Suryanto, pelaksana program pengolahan limbah tahu di sana, pemanfaatan energi biogas juga dapat dilaksanakan pada jenis limbah lain, seperti tinja rumah tangga komunal, kotoran hewan di sentra-sentra peternakan, limbah pengolahan susu sapi, dan limbah pasar ikan.

Di Srandakan, beginilah proses kerja pengolahan limbah tahu menjadi biogas. Setelah pembuatan tahu selesai, cairan limbah langsung dialirkan ke dalam bak digester atau bak penghasil biogas. Pengisian dilakukan hingga penuh melimpah ke dasar bak pelimpahan. Tutup digester lalu dipasang dengan tanah liat khusus dan di atasnya diisi air hingga penuh.

Dalam kondisi tertutup, bakteri akan menguraikan bahan organik yang mengandung protein, lemak, dan karbohidrat. Bakteri akan terus berkembang pada suhu 15 hingga 30 derajat Celsius, dan setelah delapan hari akan dihasilkan biogas.

Berdasarkan penelitian Dewats dan Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan (LPTP), produksi tahu berkapasitas 700 kilogram kedelai per hari ini bisa menghasilkan 10.500 liter biogas. Untuk kebutuhan tiap keluarga diperlukan 1.200 hingga 2.000 liter biogas per hari.

Setelah melalui proses fermentasi oleh bakteri, pencemaran lingkungan bisa ditekan hingga 98 persen sehingga air limbah yang selanjutnya dialirkan ke sungai telah memenuhi standar baku mutu pemerintah.

Menurut Popo Yanto, Direktur LPTP Yogyakarta, sejumlah keuntungan yang diperoleh dari aplikasi teknologi ini adalah pemanfaatan energi baru, efektivitas waktu, dan yang pasti penyelamatan lingkungan.

Meski begitu, ditambahkan Suryanto, kelemahan teknologi alami ini adalah boros tempat dan berbiaya cukup tinggi. Paling tidak, masyarakat pengguna harus dapat menyiapkan ruang cukup untuk bak-bak pengolahan limbah ini.


Yahoo! Music Unlimited - Access over 1 million songs. Try it free.

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke