7 November
311. Seorang awam mengalami perasaan menyenangkan,
menyakitkan, dan netral, dan demikian pula dengan
siswa utama yang telah mendapatkan petunjuk. Jadi,
apakah yang menjadi pemisah, pembagi, dan perbedaan di
antara mereka?
Bila seorang awam tersentuh oleh suatu perasaan
menyakitkan, ia gelisah dan bersedih hati, meratap,
memukuli dadanya, menangis, dan putus asa. Oleh karena
itu, ia mengalami suatu perasaan jasmaniah dan suatu
perasaan batiniah. Ia bagaikan seorang yang terluka
oleh sebatang anak panah, dan setelah luka yang
pertama, ia terkena oleh anak panah yang kedua. Ia
akan mengalami perasaan-perasaan yang disebabkan oleh
kedua anak panah itu. Dan demikianlah dengan seorang
awam. Setelah tersentuh oleh suatu perasaan
menyakitkan, ia terus menolak dan kesal terhadapnya,
dan dengan begitu, suatu kecenderungan yang kuat dari
penolakan dan kekesalan timbul. Di bawah pengaruh
perasaan menyakitkan itu, ia lalu beralih menikmati
kesenangan hawa nafsu. Dan mengapa ia berbuat begitu?
Karena seorang awam tidak mengetahui cara pelepasan
lain dari perasaan menyakitkan kecuali dengan
menikmati kesenangan hawa nafsu. Lalu dalam menikmati
kesenangan hawa nafsu, suatu kecenderungan yang kuat
untuk menikmati perasaan menyenangkan timbul. Ia tidak
mengetahui sebagaimana adanya muncul dan lenyapnya
perasaan-perasaan itu, pemuasaannya, bahayanya, atau
pelepasan darinya. Dalam kekurangan pengetahuan ini,
kecenderungan yang kuat terhadap ketidaktahuan tentang
perasaan netral timbul. Maka, apakah ia merasakan
suatu perasaan menyenangkan, menyakitkan, ataupun
netral, ia merasakannya seperti seseorang yang
terbelenggu oleh perasaan tersebut. Ia terbelenggu
oleh kelahiran, usia tua, dan kematian, oleh
penderitaan, keluh kesah, sakit, kesedihan, dan
keputusasaan. Aku (Tathagata) nyatakan bahwa ia
terbelenggu oleh penderitaan.
Namun, bila siswa utama yang telah mendapatkan
petunjuk tersentuh oleh suatu perasaan menyakitkan, ia
tidak gelisah, bersedih hati, atau mengeluh, ia tidak
memukuli dadanya atau menangis, tidak juga putus asa.
Hanya satu jenis perasaan yang dialaminya, suatu
perasaan jasmaniah dan bukan perasaan batiniah. Ia
bagaikan seorang yang terluka oleh sebatang anak panah
tetapi tidak terkena oleh anak panah lain yang
mengikuti anak panah pertama. Dan demikianlah dengan
siswa utama yang telah mendapatkan petunjuk. Setelah
tersentuh oleh perasaan menyakitkan itu., ia tidak
menolak ataupun kesal terhadapnya, dan dengan begitu
tidak ada kecenderungan yang kuat terhadap penolakan
atau kekesalan timbul. Oleh karena itu, sebagai akibat
dari perasaan menyakitkan, ia tidak beralih untuk
menikmati kesenangan hawa nafsu. Dan mengapa tidak?
Karena ia mengetahui suatu pelepasan dari perasaan
menyakitkan selain dengan menikmati kesenangan hawa
nafsu. Lalu, dengan tidak menikmati kesenangan hawa
nafsu, kecenderungan yang kuat untuk menikmati
perasaan menyenangkan tidak timbul. Ia mengetahui
sebagaimana adanya muncul dan lenyapnya
perasaan-perasaan itu, pemuasannya, bahayanya, dan
pelepasan darinya. Dengan mengetahui ini,
kecenderungan yang kuat terhadap ketidaktahuan tentang
perasaan netral tidak timbul. Jadi, apakah ia
merasakan suatu perasaan menyenangkan, menyakitkan,
ataupun netral, ia merasakannya seperti seorang yang
terbebas darinya. Ia terbebas dari kelahiran, usia
tua, dan kematian, dari penderitaan, keluh kesah,
sakit, kesedihan, dan keputusasaan. Aku (Tathagata)
nyatakan bahwa ia terbebas dari penderitaan.
(Buddha Vacana)
__________________________________
Yahoo! Mail - PC Magazine Editors' Choice 2005
http://mail.yahoo.com
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Click here to rescue a little child from a life of poverty.
http://us.click.yahoo.com/rAWabB/gYnLAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya
maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta
kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas
dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua,
para guru, serta sahabat-sahabat kami **
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/