Mereka yang Terbius Pesona
Ilham Khoiri dan Khairina Nasution
Jakarta masih terus memancarkan pesona yang membius banyak orang. Urbanisasi besar-besaran dari masyarakat pedesaan ke ibu kota Indonesia itu telah menjadi ritual setiap arus balik Lebaran. Wajah-wajah baru tak henti membanjiri Jakarta, termasuk pada Lebaran akhir tahun 2005 ini, ketika ekonomi sedang sulit dan kesempatan kerja semakin sempit.
Pelabuhan Bakauheni termasuk salah satu pintu masuk bagi wajah-wajah baru warga Jakarta. Sebagian dari puluhan ribu orang yang balik dari wilayah Sumatera membawa serta beberapa anggota keluarga, atau teman sekampung untuk mencari pekerjaan di Jakarta atau kota-kota penyangga metropolitan, seperti Bogor, Bekasi, atau Tangerang.
Medi (19), pemuda asal Lampung Selatan, Provinsi Lampung, adalah salah satu dari ribuan wajah baru yang pertama kali datang ke Jakarta. Pemuda berkulit hitam itu ikut berdesakan di antara ribuan pemudik di Pelabuhan Bakauheni yang hendak menyeberang ke Merak, Banten, Senin (7/11). Dari Mereka, dia akan melanjutkan perjalanan ke Jakarta.
Di desa sulit cari kerja. Kalau ada, paling-paling hanya buruh tukang bangunan yang upahnya Rp 15.000 sehari. Itu pun, tidak selalu ada, begitu alasan Medi.
Mengadu nasib, karena Medi ibarat berjudi ke Jakarta. Meski jebolan SMA di Lampung Selatan, dia tak memiliki keterampilan khusus. Tinggal di kampung setahun belakangan ini, dia menganggur, dan risi jadi beban orangtua yang hanya buruh tani.
Untuk sementara, dia berencana tinggal di kamar kos teman sekampungnya, Ujang (28), yang lebih dulu menjadi buruh sebuah pabrik di Bogor. Medi tetap ngotot ke Jakarta meski tahu situasi ekonomi nasional sulit dan sebagian industri tersendat sejak harga bahan bakar minyak (BBM) dinaikkan awal Oktober lalu. Bahkan, dia sendiri belum punya bayangan, mau bekerja apa.
Saya akan cari dan terima pekerjaan apa pun untuk cari pengalaman. Syukur, kalau dapat upah lumayan sehingga bisa nabung demi memperbaiki hidup, tuturnya.
Sebagian warga yang balik telah mendapatkan pekerjaan di Jakarta. Ani (20), misalnya, akan kembali berjualan nasi goreng di Tanjung Priok, Jakarta. Wanita asal Kedung Aji Lama, Kabupaten Tulang Bawang, Lampung, itu bekerja bersama suaminya, Yuda (26), yang dikenalnya di perantauan, tujuh tahun lalu.
Pasangan suami istri itu mendapat penghasilan sekitar Rp 20.000 setiap malam atau Rp 600.000 per bulan. Dari jumlah itu, Rp 400.000 untuk bayar kontrakan. Sisanya, Rp 200.000, untuk kebutuhan sehari-hari.
Kalau ada sisa lagi, kami menabung. Kalau tidak, ya pas-pasan. Sekarang hidup ini makin susah setelah kebutuhan naik semua sehingga kami harus berhemat. Tapi, di kampung tak ada pekerjaan yang layak, kata Yuda.
Ketimpangan pembangunan
Menurut Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya Syamsurijal AK, urbanisasi warga pedesaan ke Jakarta sulit dibendung selama pembangunan antara pusat dan daerah masih timpang. Sedangkan pemerintah daerah banyak yang mengejar investasi teknologi tinggi yang kurang padat karya.
Orang-orang datang ke Jakarta karena kesempatan kerja di daerah tidak mencukupi dengan angkatan kerja yang bertambah setiap tahun. Pekerjaan yang ditawarkan di desa sering dinilai kurang bergengsi dan tidak kompetitif.
Jakarta menarik didatangi karena jadi pusat kegiatan ekonomi dengan sekitar 60 persen peredaran uang berputar di kota tersebut. Apalagi, setiap hari televisi menjual mimpi dan sensasi kota metropolitan yang wah. Kegiatan apa pun bisa menghasilkan uang sehingga selalu menerbitkan harapan bagi pendatang baru, kata Syamsurijal.
Sensasi kota, urban sensation, tetap menyita kesadaran mereka. Sri (18), dari Kabupaten Way Kanan, Lampung, usai Lebaran ini juga memilih mencari pekerjaan di Bogor. Untuk sementara, Sri menumpang di rumah kerabatnya, pasangan Yati (25) dan Aep (28) di Wanaherang, Gunung Puteri, Bogor. Sri mengaku tinggal di desa serba sulit karena segalanya serba pas-pasan. Mau tani juga susah, mau apa-apa susah kalau di desa, kata Sri.
Menurut Yati, hampir tiap tahun dia mengajak satu atau dua kerabatnya dari Way Kanan untuk bekerja di sekitar Jabotabek. Yati tak hanya menyediakan tempat menginap sementara, tetapi juga ikut repot mencarikan pekerjaan. Untunglah saya punya kenalan di pabrik, jadi alhamdulillah, semua saudara atau tetangga yang saya ajak ke Jakarta atau Bogor dapat pekerjaan, kata Yati.
Sebagian kerabat yang diajaknya ke Jakarta dan sudah bekerja umumnya mengajak kerabat lainnya untuk bekerja di Jakarta pada tahun berikutnya. Bekerja di Jakarta dianggap sebagai salah satu jalan untuk meringankan beban keluarga.
Unayah (20), warga Kabupaten Tulang Bawang, yang bekerja di pabrik kabel di kawasan Kapuk, Jakarta Utara, berkisah awalnya bekerja di Jakarta karena diajak kakaknya. Gadis lulusan SMP itu lalu ganti mengajak teman dan tetangga di desanya bertarung di Jakarta. Akhirnya, banyak teman Unayah ikut jejaknya. Jadi buruh pabrik dengan upah tidak besar, Rp 690.000. Sebab, bayar kamar indekos saja sudah Rp 225.000 per bulan dan makan Rp 10.000 per hari. Sisa uang ditabungnya sedikit, untuk bekal pulang pada Lebaran berikut.
Para pendatang baru itu umumnya berasal dari daerah yang relatif tertinggal secara sosial ekonomi. Beberapa wilayah Lampung yang jadi kantong buruh ialah Lampung Selatan, Lampung Tengah, dan Tulang Bawang. Banyak pula buruh dari daerah Lempung, Kabupaten Ogan Komering Ilir, wilayah Sumatera Selatan. Sebagian penduduk Lempung termasuk warga miskin yang setiap musim paceklik terpaksa makan oyek, penganan dari singkong untuk menggantikan nasi putih.
Sebenarnya, Lampung dan Sumsel memiliki areal perkebunan karet, kelapa sawit, dan kopi yang cukup luas. Hanya saja, pemilik perkebunan itu rata-rata justru para investor yang berasal dari kota dan memiliki modal besar. Mayoritas penduduk lokal hanya menjadi buruh dengan penghasilan cekak. Sebagian petani memiliki kebun sendiri, tetapi sempit. Penghasilan mereka pun terbatas karena harga jual produksi perkebunan, terutama karet dan kopi, cenderung rendah di tingkat petani.
Surahman (23), pemuda jebolan SD asal Ketubung, Lampung Selatan, bekerja di pabrik konfeksi di Bogor karena penghasilan ayahnya sebagai buruh tani tidak cukup memenuhi kebutuhan keluarga. Dia juga mengajak salah satu dari tiga adiknya, Ujang (17), yang tak tamat SD, ke Bogor. Kami tak mau jadi buruh tani yang hidupnya sulit, katanya.
Sebagian daerah Lampung dan Sumsel memiliki potensi pertambangan batu bara, minyak, dan gas bumi. Tetapi, industri tambang relatif kecil menyerap tenaga kerja, itu pun umumnya harus punya keterampilan khusus. Warga desa yang tak memenuhi tuntutan kerja pertambangan ya terpinggirkan.
Anhar (22) lulusan SMA dari Kota Prabumulih, kota minyak sejak puluhan tahun lalu. Tapi, dia terpaksa hijrah dan jadi buruh pabrik karung di Bekasi karena tidak bisa bekerja di kilang industri minyak di kotanya.
Kami tinggal di dekat kilang minyak. Tapi, ayah dulu juga buruh yang kerja serabutan di Jakarta atau Bekasi. Setelah ayah meninggal, saya yang jalan untuk cari uang, kata Anhar, yang harus membantu ibunya membiayai empat saudaranya.
Para pencari kerja ini umumnya masuk dalam sektor informal.
Sebagian pendatang terpaksa menelan kepahitan karena gagal berkompetisi mencari pekerjaan. Tapi, orang-orang terus saja menyerbu Jakarta....
Yahoo! FareChase - Search multiple travel sites in one click.
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
