Rekan-rekan Dharmajala yth,
A) Apakah mungkin ?
Dari ceramah yang pernah saya dengar maupun dari bacaan yang pernah terbaca (hanya lupa dimana), tumbuh-tumbuhan itu tidak mempunyai kesadaran karena itu kita tidak terkena hukum karma kalau mencabutnya/memakannya. Hanya kalau anda tanya mengapa tidak punya kesadaran maka jawaban saya : "tidak tahu", mata batin saya tidak cukup tinggi untuk bisa menerangkannya.
Tambahan: dalam diskusi muncul istilah faktor X1,x2,... apasih yang dimaksud ? Apakah hanya suatu perumpamaan atau dalam ilmu pengetahuan memang dikenal faktor-faktor ini.
Tertima kasih atas penjelasannya.
B) Hermeneutika
1)Kalau saya membaca suta-suta dari Tipitaka, sampai sekarang terkesan bahwa cara membabarkan Dhamma pajaman itu dilakukan secara langsung dan jelas seperti kita sekarang mengarang hasil percobaan. Saya tidak merasakan kesan menyampaikan dalam bentuk yang tersamar sehingga perlu ditafsirkan. Yang diperlukan adalah memberi istilah yang benar sehingga konotasinya benar, misalnya "Dukha". Dulu diterjemahkan dengan kata "Penderitaan", sekarang ada orang yang cendrung menterjemahkan dengan kata "Ketidak Puasan".Cara ini tidak saya katagorikan sebagai penafsiran tapi memberikan pengertian yang lebih tepat. Di agama lain memang perlu penafsiran (salah satu teman saya yang non-Budhist pernah menyatakan ini). Kalau dibaca teks aslinya memang pernyataan dalam kitab suci mereka tidak jelas. Hal inilah yang mendorong saya untuk berkesimpulan: sistim kepercayaan mereka itu belum tentu seperti yang dimaksud oleh para Nabi mereka, dan rasanya yang tertulis dalam kitab suci mereka
tidak sebanyak yang ditulis, dikotbahkan oelh mereka.
2)Saya lebih cendrung menerima anggapan bahwa Budhisme itu berdasarkan atas fakta transendental dan non-transendental. Karena itu kalau ada sesuatu yang tidak jelas lebih senang kalau kita "Back to Basic" artinya mencocokkan ke pengalaman transendental dan non-transendental tadi. Itulah sebabnya dalam millist ini saya pernah berangan-angan ada bikhu yang tingkat Jhananya tinggi untuk menulis pengalaman transendentalnya demi kemanusiaan, supaya Budhisme ini tidak terlalu jauh ditafsirkan melainkan lebih dekat ke fakta. Setelah kita mengerti faktanya yang lebih jelas barulah kita masing-masing menyusun sistim pemahaman yang kita setujui sendiri dengan segala konskuensinya. Kalau ada yang masih tertarik dengan memancing ikan, ya silahkan asal tahu dan mau menerima akibatnya, ada yang sudah bisa tidak membunuh segala macam binatang kecuali cacing misalnya, ya silahkan asal tahu akibat dan mau menerima akibatnya. Pemilihan itu masing-masing orang harus membuat untuk dirinya dan sadar
akan akibatnya.
Untuk sementara sekian dahulu semoga bermanfaat untuk diskusi kita.
Kreshna
11-11-05
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS