Dear All,
Nammo Buddhaya,
 
Saya rasa, kita tidak dapat memilih: "Saya lahir diperut Orang Tionghua ataupun orang Pribumi".
Jadi, ya terima saja semuanya dengan senang hati..
Tidak perlu membedakan antar sesama manusia.
 
Yang penting adalah berusaha menjalani hidup dengan sebaik - baiknya.
Jika, Engkau terlahir sebagai orang Tionghua, jadilah orang Tionghua sebaik baiknya.
Jika, Engkau terlahir sebagai orang Pribumi, jadilah orang Pribumi sebaik baiknya.
Bukankah begitu Pesan Sang Buddha?
 
'Semua yang terjadi adalah "Karma" tidak ada yang terjadi secara kebetulan'.
 
Jika kita banyak karma buruk dimasa kehidupan lampau, ubahlah dengan perbanyak perbuatan baik.
"Tidak ada kejahatan, maka tidak ada kebaikan"
 
Jadikanlah semua peristiwa ini renungan, berusaha menasehati teman2 kita, saudara2 kita, orang tua kita, dsb.
agar mereka, Jangan lagi membeda - bedakan manusia, jangan memaki atau menghina siapa saja. Janganlah
karena marah dan benci, mengharapkan orang lain celaka.
 
Bukankah Sang Buddha pun tidak pernah membedakan siapapun?
Mulailah dari diri kita...
 
Saya pun masih belajar...
Oh Mi To Fo
 
Fery
 
----- Original Message -----
From: C.Kallita
Sent: Tuesday, November 15, 2005 8:43 AM
Subject: RE: [Dharmajala] Barongsaiku

Namo Buddhaya,

 

Menjadi Orang China asli, belum tentu akan memiliki kemampuan yang lebih baik, peruntungan yang lebih baik, dan perbuatan yang lebih baik.

Begitu pula, menjadi Orang Indonesia asli, belum tentu akan memiliki kemampuan yang lebih buruk, peruntungan yang lebih buruk, dan perbuatan yang lebih buruk.

 

Walaupun kita ketoprak/gado2 tapi senantiasa dapat memahami hidup yang lebih berarti, mungkin akan lebih memberi jaminan kepada diri kita akan memiliki kemampuan yang lebih baik, peruntungan yang lebih baik, dan perbuatan yang lebih baik.

 

Terima kasih Indonesia karena Kau telah memberikan kehidupan bagi kita yang Ketoprak/Gado2.

 

Mettacitena,

Casey Kallita


From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of harryson huang
Sent: Tuesday, November 15, 2005 1:04 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [Dharmajala] Barongsaiku

 

Saya dibesarkan sebagai orang China, makan makanan China, bicara dengan keluarga dalam bahasa China - saya merasa nomor satu: saya orang China.

 

Tapi sejak saya hidup di berbagai belahan dunia bersama keluarga saya yang "China", dan bertemu dengan orang-orang China perantauan, saya sadar saya sebenarnya bukan China. Nomor satu saya orang Indonesia.

 

Entahlah, di Indonesia saya orang China. Di luar negeri saya orang Indonesia.

 

Kebalikan: orang-orang Indonesia di Indonesia merasa orang Indonesia tapi di luar, semua memanggil mereka orang China!! Hey are you Chinese?  vous ĂȘtes chinois? es usted chino?

 

Anda adalah manusia - bukan China, bukan Indonesia. Jadilah diri sendiri, hidup saat ini, apa adanya saja. Tak usah pusing cari identitas kultural yang tidak bisa tidak pasti digilas waktu.

 

regards,

Harryson


Yuni <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Barongsaiku

Suatu saat ayahku sedang menyuguhiku masakan China-nya, dan terus memenuhi piringku dengan semakin banyak cumi goreng saus tiram, nasi, dan cap-cay, serta memenuhi mangkuk-ku dengan sup hisit. Minyak mengalir dari sendok sayurnya perlahan seakan menghayati setiap tetesannya... "Berhenti !!!" kataku terus padanya. "Berhenti !!!" Tapi dia malah terus memenuhi gelasku dengan arak Cina yang memabukkan. Kutatap matanya dan akhirnya kukatakan dalam bahasa mandarin... "Wo bu yao Pa...!!!" ( Aku tidak mau Yah... ) Ia pun akhirnya mengerti.

Mimpi yang sama, tiap kali... dua dunia yang tak pernah menerima diriku apa adanya. Kata berhenti-ku sama sekali tak menyiratkan kebencian ataupun kemarahan, melainkan karena aku memang tak berdaya. Yeah... sama sekali tak berdaya. Memang begitu adanya walaupun tak kuakui.

Setiap hari aku mencoba mengatakan pada ayahku sesuatu tentang kehidupanku, apa yang kualami di kampus, perasaanku sewaktu bertengkar dengan sahabatku, sakit hatiku saat pacarku menyakitiku, tapi justru di bagian terpentingnya, aku tak tahu kata apa yang harus kugunakan untuk melukiskan apa yang ingin kuceritakan padanya... mendadak aku bisu !!! Ayahku menerima kalimat-kalimat bahasa Indonesiaku yang bercampur aduk dengan istilah-istilah China, dan semakin kurasakan... aku bukan siapa-siapa, bukan orang China dan bukan pula orang Indonesia. Sesaat, aku mulai marah kepada Tuhan, "Aku punya Tuhan yang KEJAM !!!" pikirku saat itu.

Aku ingat saat aku berumur dua belas tahun, ayahku mengajakku ke pertunjukan di sebuah auditorium bersama teman-teman China-nya. Pemimpin pertunjukan adalah seorang eksekutif mapan yang berasal dari Canton, tempat ayahku berasal. Dan dia mendirikan lembaga-lembaga bagi orang yang tak ingin menyerahkan budaya China untuk ditukar dengan Gudeg dan Kethoprak. Di depan auditorium, kami bertemu dengan sanak saudara, dan bibi tertuaku berkomentar untuk entah keberapa kalinya tentang betapa hitam kulitku dibanding dengan saudaraku yang lain, dan tentang seberapa jelek aksen mandarin-ku dibanding dengan yang lain. Ayahku yang malang... dia hanya bisa tersenyum dengan luka tertoreh di hatinya, sambil menatapku penuh kasih, dan berusaha menanamkan sedikit penghiburan buatku.

Akhirnya kami masuk ke dalam auditorium yang bertirai merah menyala sebagai lambang keberuntungan, untuk mulai menonton pertunjukan. Dua barongsai meluncur keluar diiringi dengan bunyi genderang yang bertalu-talu, dua barongsai itu mulai mengibaskan ekor-ekor mereka dengan eloknya seirama dengan genderang yang berdenyut sejalan dengan gerakan mereka. Saat itu aku menoleh ke ayahku yang kubayangkan bahwa dia sedang mengangankan jikalau salah satu diantara pemain barongsai itu adalah aku, anaknya. Selama pertunjukan, ia sama sekali tak menengok untuk melihatku menyesali kethoprak yang kulihat, gudeg yang kumakan, dan pemikiran-pemikiran Indonesiaku... dan tidak pula tersebut dari mulutnya akan betapa bangganya ia pada pemain barongsai-barongsai itu. Karena ia tahu dan yakin bahwa aku tahu apa yang terbaik untuk diriku sendiri, dan karena dia tahu bahwa aku... tak akan pernah menyesal.

Seperti teka-teki : mana yang lebih dulu, telur atau ayam? Aku tak tahu mana yang lebih dulu, sebagai orang Indonesia atau orang China. Tak peduli betapa fasih aku berbicara dalam bahasa Indonesia, dan melupakan sebagian besar kosakata Mandarin dari ingatanku, aku tetap si orang asing sialan itu, dimana disetiap sudut jalan aku termaki dan tercaci, terhina dan terinjak-injak. Saat aku berusaha menatap mentari dan menantangnya untuk menghadapi hariku yang baru, ternyata memang mataku terlalu sipit untuk menantangnya. Tapi aku akan terus berusaha bergerak seirama dengan tiap ketukan genderang pertunjukan itu, memainkan barongsaiku dalam pertunjukanku sendiri, bersama setiap hal yang kuketahui tentang Indonesia tanah airku dan China tanah asalku. Dan itu membuatku sadar, bahwa Tuhan tidak janjikan jalan yang mulus untuk anak-anak Nya, tapi aku yakin, Dia janjikan akhir yang indah bagi hidup anak-anak Nya, sebab tiada yang mustahil bagi Allah.

Dalam setiap mimpi burukku di malam hari, aku masih selalu meneriakkan kata "Berhenti !!!" pada Ayahku yang sedang menambahkan porsi kedua masakan China-nya ke piringku... Yeah, sesekali dia memandangku dengan penuh kasih seorang ayah, mengundurkan niatnya untuk menambahkan porsi kedua masakan Cina itu sambil menangis, dan berkata padaku dalam bahasa Indonesia... "Ayah mengerti nak"


(Sumber : Unknown)


Yahoo! FareChase - Search multiple travel sites in one click.



** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke