| Kompas, Senin, 21 November 2005 |
| Menolak Parlemen! Radhar Panca Dahana Ini sebuah esai psikologis, boleh jadi. Psiko-politik, boleh juga. Ini kisah Ny Umi (bukan nama sebenarnya), belum lagi setahun kembali dari kerja sebagai TKI di salah satu negara Timur Tengah. Sekian ribu dinar dikumpulkan untuk membangun rumah, membuka kedai kelontong, memulai hidup baru di negeri sendiri. Tetapi semua habis tak berbekas, hasrat
pun tinggal impian. Dinar-dinar itu lenyap, bukan hanya untuk memenuhi hasrat konsumtif keluargaemak, adik-adik, kakak, paman-bibi, dan mantan suamimulai dari baju baru, makan di mekdi dan kentaki, beli mainan tamiya hingga pe es generasi terakhir. Namun, dinar ternyata lebih banyak lenyap, di luar dugaan sama sekali, oleh kebutuhan hidup rutin, sehari-hari. Belanja sekeluarga yang biasa cukup Rp 20.000-Rp 30.000 sehari kini Rp 50.000 lebih, untuk hanya menu lalapan, nasi, ikan asin plus tempe/tahu. Begitu harga BBM naik, semua berubah menjadi chaos. Transportasi, biaya listrik, hingga uang jajan adik tak lagi memenuhi hitungan tradisional enam bulan sebelumnya. Kini, sebagian keluarga harus berpuasa, tanpa alasan agama. Urat dan otot pun menegang saat tuntutan sama sekali tak berkurang, tak kompromi. Standar hidup sudah dipelorot bahkan dianjlokkan, tapi ketegangan rumah tangga terus meninggi. Di luar rumah persaingan tetap tajam.
Tiba-tiba semua pihak tak lagi punya kepedulian, kecuali hal itu memiliki nilai positif, secara material khususnya, uang wujud kerasnya. Dalam situasi itu, perilaku teman, tetangga, bahkan kerabat tanpa disadari berubah. Penuh intensi, pretensi, bahkan ambisi. Segala hubungan emosional, psikologis, bahkan hubungan darah dan adat tak lagi jadi dasar utama pergaulan dan kerja sama. Kepentingan material utama. Dan apa pun cara dapat dilakukan. Perselisihan, pengkhianatan, fitnah, ancaman jadi modus umum. Bentrok fisik hingga kriminalitas kelas berat pun segera terjadi. Semula jadi gunjingan di semua tempat nongkrong, kelamaan terasa sebagai peristiwa biasa. Lumrah. Selumrah mereka menyaksikan wajah penuh luka, kental darah, mayat yang kotor, dan wajah-wajah bengis, di puluhan program televisi setiap harinya, di muka halaman koran setiap paginya. Ny Umi tinggal sebagai Ny Umi. Perempuan setengah baya tak berdaya. Semua yang berada di dekatnya sudah
tak lagi enak diajak bicara. Kata-kata dan tata cara sudah kehilangan guna. Rasa sesal, kecewa, frustrasi, amarah, memundan bagai lava di hati dan tempurung kepalanya. Ia tak ingin lagi bicara, atau sekadar berkata. Ia cuma ingin berteriak. Tapi untuk siapa, untuk apa? Jangan tanya lagi Ny Umi. Ia ingin lebih dari itu. Desa Tanios (bukan nama sebenarnya) belum lagi terang tanah. Penduduk yang telah terbangun dikagetkan oleh satu mayat dengan kepala hancur karena benturan benda keras. Jufri (bukan nama sebenarnya) terbujur tewas tepat di sisi sawah, hanya tujuh meter dari jalan desa. Penganggur dan preman pasar itu dikenal sebagai lelaki pengerétan (merongrong harta orang terdekat), terutama terhadap mantan istrinya, Ny Umi. Dan terang tanah pagi itu pecah oleh suara emak, Umi!
Mana Umi! Umi hilang! Peminat Nyonya Umi bukan ahli, peminat, atau pemerhati politik. Tapi siaran TV yang menjadi satu-satunya hiburan tiap hari
memberinya satu informasi penting. Info yang menjelang peristiwa di atas kerap ia bicarakan dengan emak atau kerabat dekatnya: para petinggi, pejabat atau anggota de pe er kok terus-menerus ditambah pundi-pundi hartanya yang sesungguhnya sudah berlebih. Sebaliknya, rakyat kecil terus diperah-diperas, oleh pajak, kenaikan harga, uang pelicin di semua urusan, hingga uang perasan para preman. Dan nyonya itu tak sendiri. Puluhan, bahkan ratusan juta, manusia seperti dia harus menerima ironi dan tragik hidup yang sama. Frustrasi, amarah, dendam memunculkan gejala psikosis, akibat ketimpangan hidup yang disengaja. Elite memperkaya diri tanpa peduli mata dan mulut rakyat yang konon diwakilinya menganga karena takjubnya. Rakyat banyak telah kehilangan realitas dan identitas paling sederhana dari dirinya sendiri. Karena mereka telah kehilangan acuan (references), kehilangan standar, kehilangan panutan, kehilangan tempat bertaut, mengadu, dan memohon. Sementara
Tuhan terlalu jauh, abstrak, tak terjangkau. Hidup telah dibuat oleh kaum elite, para anggota parlemen terutama, menjadi kasar, jadi rimba, amoral dan gergasi yang peduli perutnya sendiri. Kita kini mengalami krisis parlemen yang paling tuli, buta, dan bebal sepanjang sejarah republik ini (sebenarnya begitu juga lembaga negara). Dan Ny Umi tak perlu menunggu azab Ilahi atau terjunnya Imam Mahdi. Ia selesaikan sendiri persoalan berat hidupnya. Di sini kita tak perlu menunggu menjalarnya wabah Ny Umi untuk bisa menerima negara yang gagal dipelihara. Riwayat parlemen yang tak peduli, superkorup, bahkan eksploitatif (terhadap konstituennya) sendiri, tidak lagi dapat dibela/ditutupi keahlian tercanggih anggota-anggotanya dalam berkelit dan memainkan retorika. Ia sudah menjadi sejarah. Sejarah Bukan sejarah yang pendek. Dalam catatan tertua, sejak 67 tahun SM, di Yunani sudah sangat dikenal perilaku korup wakil rakyat, di antaranya
dengan membeli suara pemilih. Cicero yang menjadi konsul saat itu mengusulkan para calon tidak boleh menerima jamuan makan, hadiah, menyelenggarakan pentas gladiator, hiburan umum atau munus selama dua tahun pencalonannya. Siapa yang terbukti melanggar akan didenda, dipenjara, dan dibuang ke luar negeri selama sepuluh tahun. Hasilnya? Mana ancaman hukuman berhasil menakuti para calon konsul. Korupsi tetap merajalela. Para calon tetap keluar uang banyak. Tercatat Julius Caesar pun berutang sejuta sesterce (sekitar 300.000 dollar AS) dalam pemilihan suara tingkat pertama. Penggantinya, Marcus Antonius, saat berusia 24 tahun berutang 50.000 dollar, empat belas tahun kemudian ia meningkat menjadi 900.000 dollar. Selama jadi konsul mereka berusaha mengambil balik biaya itu. Dukungan rakyat bahkan juri (macam KPU atau Komisi Pengawas) pun dibeli habis. Begitu pun saat mereka menyusun aturan (undang-undang), keuntungan akan diberi pada para juragan pemberi upeti
besar, dan rakyat dikorbankan dalam eksploitasi ekonomi dan politik paling durjana sepanjang sejarah Eropa. Di negeri sendiri, saya dengar kisah seorang mantan menteri yang telah menyiapkan ratusan halaman argumentasi hasil penelitian soal satu proyek infrastruktur untuk dengar pendapat dengan parlemen. Tapi semua berakhir sia-sia, ratusan halaman itu menjadi sampah, karena bagaimana saya melawan para juragan yang menyuplai ratusan juta rupiah ke setiap rekening anggota komisi? kisah pahit mantan menteri yang intelektual itu. Dan kisah seperti itu adalah rahasia umum, sebagaimana di Yunani dua milenium lalu. Produk undang-undang yang ditelurkan atau disahkan parlemen sesungguh hanya kompromi politik dan ekonomi kaum elite, pembagian jatah rezeki di antara mereka. Rakyat? Adalah obyek terbaik pencipta rezeki itu. Hingga seorang wanita anggota baru parlemen mengeluh: Betapa mudah kita memperoleh uang dalam jumlah besar, tanpa kerja. Doakan saya agar saya
kuat untuk menolaknya. Saya tahu, doa saya tidaklah ampuh. Bukan karena saya tahu siapa berani terjun ke kali, harus berani basah berani hanyut, tapi juga mafhum retorika elite legislatif harus dibaca secara semiotik, tidak denotatif. Dan sebelum kita mengalami gangguan jiwa, psikotik, karena amarah dan frustrasi akibat ulah parlemenyang bukan hanya menyinggung akal dan perasaan tapi juga nurani keberadaban kitakita semestinya bertindak untuk setidaknya menghindar menjadi Ny Umi. Malangnya, tak ada peraturan perundangan dalam sejarah negeri ini (sepanjang tahu saya) yang mengatur rakyatsebagai pemilik kuasa dan kedaulatan sesungguhnyamendakwa, menghukum, atau menggagalkan parlemen semacam itu. Hanya ada saluran yang isinya imbauan, protes, atau masukan, yang tak memiliki kekuatan atau implikasi yuridis sama sekali. Rakyat seakan lumpuh, impoten di dalam kuasanya yang gigantik. Saya kira, tak ada pilihan lain, di samping pasifitas publik,
kita bisa secara aktif membenahi situasi di atas, dengan satu tindakan: tolak parlemen! Kita tidak bisa menolak legalitas lembaga itu, tak bisa menolak upaya mereka memperkaya diri, menolak ketidakpedulian mereka, menolak keanggotaan (yang lebih ditentukan partai ketimbang pemilih) mereka. Kita tidak bisa menyentuh mereka. Merekalah kaum the untouchables dari ujung jari rakyat. Tapi satu hal kita bisa: menolak secara psikologis dan sosial keberadaan dan produk-produk mereka yang telah dimanipulasi begitu rupa. Dengan penolakan itu, wibawa mereka akan merosot, dan kekuatan politik mereka mandul, jika misalnya produk-produk hukum mereka yang manipulatif dan mengeksploitasi publik tidak kita indahkan. Perusahaan asing yang menyewa hak di negeri ini saja mampu menyepelekan aturan menteri. Kenapa publik, pemilik sah republik ini, tak bisa? Penolakan atau pembangkangan ini bukan sebuah cara yang elegan, mungkin. Berpotensi menciptakan disorder, mungkin. Tapi
negeri, negara, dan penguasa harus juga diingatkan secara keras. Agar Presiden dan Mahkamah Konstitusi, misalnya, berpikir lebih keras, bagaimana mereka menggunakan wewenangnya untuk memberi jalan pada publik untuk mampu mengoreksi dan membenahi para wakilnya yang menyimpang. Tak cuma boleh menjadi korban belaka. Atau frustrasi itu harus keluar juga dari ubun-ubun. Uapnya saja mampubukan hanyamembubarkan lembaga itu, tapi juga riwayat negeri ini. Maka sebaiknya: waspadalah! Radhar Panca Dahana Sastrawan, Tinggal di Tangerang |
Yahoo! FareChase - Search multiple travel sites in one click.
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
