Renungan Sumpah Pemuda:
Menakar Tanggung Jawab jaman Kaum Muda Indonesia Abad
21
Oleh Eddy Setiawan*
Sejarah bangsa-bangsa di dunia telah membuktikan
betapa pentingnya peran kaum muda bagi proses
perubahan dalam masyarakat, termasuk bagi Indonesia.
Perjalanan bangsa yang sudah merdeka 60 tahun ini
penuh dengan sejarah perjuangan kaum mudanya bahkan
jauh sebelum terbentuknya Indonesia yakni pada tahun
1908 dengan berdirinya Boedi Oetomo dan kemudian
bermuara pada Sumpah Pemuda tahun 1928 dimana pemuda
dari berbagai latar belakang etnis, agama dll berikrar
tentang Indonesia yang satu. Kongres Pemuda tersebut
sebenarnya adalah berangkat dari kesadaran akan adanya
perbedaan dan heterogenitas di bumi nusantara yang
sering kali dimanfaatkan oleh penjajah untuk memecah
belah sehingga perlawanan-perlawanan terhadap
kesewenang-wenangan penjajah Belanda saat itu menjadi
lemah. Hal inilah yang kemudian mendorong kaum muda
untuk bergerak membangun persatuan, sebuah strategi
yang visioner dan progresif di tengah-tengah kondisi
nusantara saat itu, dimana Negara Indonesia belumlah
lahir. Pemuda di masa lalu memiliki tantangannya
sendiri, sebagai kaum intelektual di jamanya mereka
telah menunjukkan kepekaan, kejujuran dan
keberaniannya sebagai kaum intelektual. Kepekaan
intelektual disini adalah kemampuan untuk menangkap
dan memahami berbagai fenomena sosial, ekonomi,
politik dll dalam masyarakat, memiliki kepekaan dan
selera akan nilai (kebenaran, keadilan, demokrasi
kemanuasian dan lain sebagainya) juga peka terhadap
segala bentuk ketidakadilan dalam hal ini
ketidakadilan dan kesewenang-wenangan penjajah
terhadap bangsa kita. Sedangkan kejujuran intelektual
adalah keberanian untuk berkata tidak pada pelacuran
dan penghianatan kepekaan intelektual itu sendiri,
jujur bersuara tentang pemahaman dan perasaannya
terhadap berbagai fenomena yang terjadi di dalam
masyarakat, tidak terkooptasi oleh kekuasaan dan
kemewahan. Pada masa-masa penjajahan tersebut, tak
jarang karena kejujuran, kepekaan dan keberaniannya
tersebut kaum muda harus merasakan kekejaman dari
penjajah yang senantiasa berusaha melanggenggakan
kekuasaannya, dengan menindas dan melakukan pembodohan
terhadap jajahannya.
Jaman yang senantiasa berubah menghadirkan tantangan
yang juga terus berkembang dan berubah bentuk, bila
tantangan di masa itu adalah politik pecah belah dari
kaum penjajah, sementara Indonesia belumlah terbentuk
sebagai sebuah negara persatuan yang berdaulat, maka
tantangan di masa sekarang sebenarnya hanya berubah
bentuk dan polanya. Proklamasi 17 Agustus 1945
hanyalah titik awal pembangunan nation state dan
pekerjaan ini belumlah usai hingga sekarang, terbukti
bangsa dan negara Indonesia yang bersatu, berdaulat
adil dan makmur sebagaimana yang dicita-citakan
belumlah terwujud bahkan semakin jauh dari apa yang
diharapkan. Berbagai kerusuhan yang
mengkambinghitamkan agama, etnis dll kerap terjadi,
padahal agama sebenarnya bukan sumber konflik sebab
setiap agama memiliki nilai universalitas yang sama
seperti cinta kasih dan kasih sayang, anti kekerasan,
penghargaan terhadap keadilan dan lain sebagainya.
Sebenarnya justru ketidakadilan lah pangkal dari
berbagi perpecahan yang terjadi, ketidakmampuan
penguasa untuk memberikan keadilan lah yang justru
menjadi sumber konflik yang sesungguhnya. Diskursus
pembangunan menjadi begitu kering dan tak bernilai
karena hakekat pembangunan yang seharusnya membawa
kesejahteraan bagi seluruh komponen bangsa, ternyata
hanya dapat dinikmati oleh segelintir oknum penguasa
dan pengusaha. Pembangunan justru memperlebar
ketimpangan antara yang kaya dengan yang miskin, sebab
sistem ekonomi yang dikembangkan tidak memberi ruang
bagi kaum marginal untuk meningkatkan taraf hidupnya
tapi malah kaum yang lemah ini menjadi korban dari
pembangunan bangsanya sendiri. Di sisi lain kapitalis
internasional justru mendapat perlakuan yang sangat
istimewa, kekuatan modal telah menaklukkan penguasa
yang hanya bisa menggadaikan kedaulatan bangsanya demi
mendapat hutang yang juga berarti mendapat kesempatan
untuk korupsi. Karena itu masalah kedaulatan dan
kemandirian bangsa Indonesia saat ini pun merupakan
tanda tanya besar yang perlu disikapi kaum muda
Indonesia. Dapat kita saksikan dan rasakan betapa
daulat rakyat telah dirampas oleh daulat kaum
kapitalis internasional yang dengan mudahnya
memaksakan berbagai kepentingan investasinya dengan
cara menekan pemerintah untuk mengeluarkan berbagai
regulasi untuk melenyapkan segala rintangan investasi
meski harus mengorbankan rakyat sendiri. Inilah bentuk
neo kolonialisme yang sedang terjadi di Indonesia,
sehingga sangat tepat Richard Nixon menyatakan “The
real war is being fought on many fronts, it takes
place on economic front, in the realms, of ideas and
ideals, in covert action and psychological warfare and
propaganda. In all the various arenas of competing
faiths and competing systems. We could be
overwhelmingly superior militarily and still lose if
we fail on the economic, ideological, or diplomatic
front.? Indonesia saat ini jelas menunjukkan
kekalahan di bidang ekonomi dan ideologi sehingga
paham neoliberal dengan sangat massif di terapkan,
terbukti dengan berbagai kebijakan yang pro pasar dan
tidak memihak rakyat seperti kenaikan BBM, Perpres no.
36 tahun 2005 dan lain-lain. Dengan berkedok sebagai
Negara donor, dengan mudahnya MNC lewat tangan
negaranya merampas kedaulatan bangsa kita sementara
kaum elit Indonesia semakin memperjelas bahwa mereka
masih bermental bangsa terjajah, tengok saja
perpanjangan kontrak Exxon mobile hingga 2030 padahal
jelas-jelas Indonesia dirugikan oleh kontrak tersebut
dan sejak merdeka hingga sekarang Indonesia hanya
menguasai 8% dari tambang-tambang yang ada sehingga
terjawab mengapa sampai terjadi krisis BBM di negeri
yang cukup banyak cadangan minyaknya? Dan mengapa
harga BBM begitu tingginya? Tak lain karena mentalitas
terjajah yang dipelihara elit bangsa ini, kita
seharusnya belajar dari Negara lain yang mampu
memberikan subsidi BBM kepada rakyatnya sebab
pemerintah saat ini seharusnya melihat kondisi sosial
ekonomi rakyat tidak hanya berpatokan pada harga
minyak dunia, alasan beban APBN dan berbagai alasan
lainnya. Sementara sistem pembagian subsidi malah
menjadi sumber masalah baru dan tak ubahnya politik
uang pemerintah yang setelah kenaikan BBM serempak
menaikkan anggarannya, jadi jelas untuk siapa
sebenarnya kenaikkan BBM tersebut tak lain untuk
penguasa dan juga demi kepentingan perusahaan minyak
asing yang ingin membuka pasar di Indonesia sebab
dengan harga minyak sebelum kenaikkan sangat mustahil
perusahaan-perusahaan minyak asing tersebut dapat
membuka SPBU-SPBU nya di Indonesia. Ironi sebuah
bangsa yang elit pemimpinya bermental terjajah.
Mentalitas terjajah inilah yang menjadi tantangan
bagi kaum muda Indonesia saat ini, karenanya kaum muda
harus menjawab dengan berkata tidak pada
neoliberalisme dan kembali pada Pancasila dan UUD 1945
yang semakin banyak dilanggar oleh para penyelenggara
negara. Alih-alih membawa bangsa ini pada keadilan dan
kesejahteraan, justru yang terjadi adalah pemiskinan
akibat penerapan paham neoliberal yang wataknya hanya
mengabdi pada kaum kapitalis yang bermodal akbar.
Propaganda globalisasi yang dilakukan Negara-negara
utara hanyalah sebuah strategi baru untuk menguasai
dunia, dengan indoktrinasi paham neoliberal, tercakup
di dalamnya liberalisasi pasar, pencabutan subsidi
bagi rakyat dan lain sebagainya. Kaum muda harus
melakukan perubahan cepat dan segera untuk membangun
kemandirian dan merebut kembali kedaulatan bangsa dari
tangan para penjajah baru. Kaum muda Indonesia
sekarang masih memiliki cukup kepekaan, kejujuran dan
keberanian intelektual serta kesadaran dan ketuntasan
akan makna keberagaman dalam persatuan untuk
membebaskan bangsanya dari para penjajah baru dan kaki
tangannya, dengan persatuan rakyat pasti menang!!!
* Disampaikan pada Dialog Pemuda Lintas Agama, 26
Oktober 2005 yang diselenggarakan oleh Kementerian
Pemuda dan Olahraga dalam rangka memperingati Sumpah
Pemuda di Kantor Menpora Senayan-Jakarta
** Eddy Setiawan, Ketua Umum PP HIKMAHBUDHI (Presidium
Pusat Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia)
__________________________________
Yahoo! FareChase: Search multiple travel sites in one click.
http://farechase.yahoo.com
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya
maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta
kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas
dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua,
para guru, serta sahabat-sahabat kami **
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/