Bagaimana kita mengambil pelajarannya untuk melawan diskriminasi di Indonesia? Terhadap buddhis, terhadap etnik minoritas...
Eddy Setiawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
DR. B.R. AMBEDKAR
Perlawanan terhadap Diskriminasi di India
Oleh Eddy Setiawan*
Peradaban manusia terus berkembang sejak masa pra
sejarah hingga saat ini, segala bentuk
ketidakberadaban secara sistematis di kikis dan
diganti dengan keberadaban, bahkan 57 tahun yang
lalu tepatnya 9 Desember 1948 sejarah manusia telah
mencatat lahirnya Deklarasi Universal Hak Asasi
Manusia (DUHAM). Sebagai salah satu perangkatnya
disusun sebuah Konvensi Internasional tentang
Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial
(PSBDR)-1965 dan telah disebarluaskan sejak 1969,
namun hingga saat ini masih saja terjadi konflik antar
kelompok dengan latar belakang perbedaan suku, agama,
ras sebagai simbol permusuhan. Berbagai kasus besar
diskriminasi sempat menjadi perhatian dunia
internasional, seperti kasus Afro-Amerika di USA,
Yahudi di Eropa, Apartheid di Afrika Selatan, namun
kasus diskriminasi di Asia seperti masalah Dalit di
India misalnya, tidak mendapat perhatian yang cukup
dari dunia internasional. Padahal lebih dari 100
negara telah menjadi peserta dan pendukung Konvensi
Internasional tentang PSBDR, termasuk di dalamnya
India. Tulisan ini disarikan dari berbagai diskusi
dengan kawan-kawan dari komunitas Dalit dari berbagai
latar belakang pendidikan dan profesi, secara formal
maupun informal pada saat penulis yang mewakili
HIKMAHBUDHI mengikuti Konferensi INEB di Nagaloka,
Nagpur, India dengan tema utama Konferensi INEB kali
ini adalah Buddhism and Social Equality sedang Sub
temanya adalah Transcending Barriers: DR. Ambedkar
and the Buddhist World pada tanggal 9-16 Oktober
2005. Dalam tulisan ini, kata Hindu mengacu pada Hindu
historis-institusional di India, bagaimana pun hal-hal
yang diungkap disini adalah realitas sosial di India
hingga hari ini.
Sebagai negara yang telah menjadi peserta dan
pendukung PSBDR seharusnya setiap negara tersebut
wajib untuk peduli dan melakukan usaha untuk
melenyapkan diskriminasi yang masih terhadi di
negaranya sehingga praktek pembiaran (neglected) yang
dilakukan pemerintah India adalah pelanggaran terhadap
konvensi yang telah ditetapkan bersama dan merupakan
tindakan yang tidak ksatria. Sangat jelas pada
konvensi pasal 2 bab 1 menyebutkan bahwa negara-negara
peserta mengutuk diskriminasi rasial, dan berusaha
menggunakan semua cara yang memadai, secepatnya
melakukan kebijakan penghapusan diskriminasi rasial
dengan segala bentuknya, dan mengembangkan saling
pengertian diantara semua ras dan demi lima tujuan
yaitu: pertama, setiap negara peserta berusaha tidak
akan terlibat dalam praktek diskriminasi rasial
terhadap individu, kelompok orang atau lembaga, dan
menjamin bahwa aparatur pemerintah dan lembaga-lembaga
pemerintahan nasional maupun daerah, harus bertindak
sesuai tanggung jawab ini; kedua, setiap negara
peserta tidak membantu, membalas, atau mendukung
diskriminasi ras yang dilakukan oleh siapa pun atau
organisasi mana pun; ketiga, setiap negara peserta
wajib melakukan tindakan-tindakan yang efektif untuk
mengevaluasi kebijakan pemerintah, nasional dan
daerah, untuk memperbaharui, mencabut atau membatalkan
undang-undang dan peraturan yang berpengaruh
menciptakan atau mengembangkan diskriminasi rasial di
manapun; keempat, setiap negara peserta wajib, dengan
segala cara yang tepat termasuk perundang-undangan
apabila keadaan membutuhkan, melarang dan mengakhiri
diskriminasi rasial yang dilakukan secara perorangan
maupun secara berkelompok atau oleh suatu organisasi;
kelima setiap negara peserta berusaha mendorong,
apabila perlu, organisasi atau gerakan multi-ras yang
terpadu dan berbagai cara lainnya untuk menghilangkan
hambatan-hambatan antar-ras, dan mencegah segala
tindakan yang cenderung memperkuat pembagian ras.
Berdasarkan konvensi tersebut diskriminasi rasial
dideskripsikan sebagai segala bentuk perbedaan,
pengecualian, pembatasan atau pilihan yang didasarkan
pada ras, warna kulit, keturunan, atau asal negara
atau bangsa yang memiliki tujuan atau pengaruh
menghilangkan atau merusak pengakuan, kesenangan atau
pelaksanaan, pada dasar persamaan, hak asasi manusia
dan kebebasan yang hakiki di bidang politik, ekonomi,
sosila, budaya atau bidang lain dari kehidupan
masyarakat.
Di India modern saat ini ternyata masih terjadi
diskriminasi atas nama kasta, salah satu yang paling
fenomenal adalah diskriminasi terhadap kaum Dalit,
sebuah golongan masyarakat India yang dianggap berada
di luar sistem kasta yang ada
(outcaste/untouchable/mahar). Bentuk-bentuk
diskriminasi yang dialami kaum ini sungguh tidak masuk
akal dan di luar batas-batas kemanusiaan, namun tetap
berlangsung hingga saat ini sebab memang dipelihara
oleh kelompok kasta di atasnya yang diuntungkan oleh
adanya sistem kasta ini yang menguasai India secara
sosial politik dan ekonomi. Praktek diskriminasi
terhadap kaum dalit ini diperkirakan telah ada sejak
abad ke-4, sering disebut juga sebagai Apartheid
terselubung India, yang telah menyebabkan demikian
banyak manusia mengalami segregasi dari manusia pada
umumnya dan hanya menjadi kelompok manusia yang
mengerjakan pekerjaan-pekerjaan paling kotor, rendah
dan tidak berarti. Mereka juga dimarginalisasi,
disingkirkan dari pergaulan sehari-hari bahkan sekedar
menginjak bayangannya pun sudah menjadi kesialan bagi
kasta diatasnya. Kaum dalit di cap sebagai orang yang
tercemar dan kotor sehingga tidak pantas hidup
berdampingan dengan wajar dengan mereka yang merasa
lebih tinggi dan bersih. Untouchability berakar pada
sistem kasta Hindu-India yang merupakan hirarki sosial
yang bertahan paling lama di muka bumi. Secara garis
besar terdapat 4 kasta utama yakni Brahmana (pendeta
dan guru), Ksatria (penguasa dan tentara), Waisya
(pedagang/pengusaha) dan Sudra (pekerja). Disamping
kasta utama ini terdapat ribuan sub-kasta yang dikenal
sebagai jati, sistem kasta sebenarnya adalah
pembagian berdasarkan pekerjaan, sekte, daerah dan
garis bahasa. Dalit berada di luar keempat kasta utama
diatas, digolongkan sebagai kelompok yang sangat nista
untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang sangat
kotor dan rendah seperti membuang bangkai binatang,
menguliti binatang, membersihkan tempat penampungan
limbah dan berbagai pekerjaan yang dianggap nista oleh
kasta lainnya. Kata Harijan yang memiliki arti anak
tuhan sempat dikampanyekan Mahatma Gandhi untuk
menyebut komunitas outcaste ini namun kata Dalit
tampaknya lebih umum digunakan, berasal dari bahasa
Sansekerta yang berarti hancur, terdiskriminasi atau
orang yang dihancurkan. Ironisnya di dalam komunitas
Dalit sendiri terbagi atas lebih dari 70 sub kasta.
Secara legal formal sebenarnya untouchability sudah
dihapuskan sejak disusunnya konstitusi India pada
tahun 1950 pada pasal 16. DR. Bhimrao Ramji Ambedkar
demikian nama lengkapnya, ia adalah seorang Dalit yang
memegang peranan penting dalam penyusunan konstitusi
India dan sampai saat ini tetap dipuja oleh para
pengikutnya; komunitas Dalit dan telah menjadi ikon
bagi gerakan Dalit. Ia adalah seorang tokoh besar yang
dengan kesadaran dan penuh keberanian di tengah-tengah
kontroversi mengubah agamanya menjadi Buddha, dan
langkah ini menjadi begitu terkenal karena diikuti
oleh jutaan pengikutnya. Pengalaman masa kecilnya
penuh dengan penindasan hanya karena ia seorang yang
Dalit telah membentuk tekadnya untuk memerangi
ketidakadilan itu. Sekedar contoh saat kecil ia pernah
didorong dari gerobak karena pemilik gerobak tahu dia
seorang Dalit, di lain waktu karena hausnya ia minum
di sumur umum dan seseorang mengetahui hal tersebut
akhirnya masa datang dan memukulinya hingga babak
belur, demikian juga saat hendak mencukur rambutnya
Bhim kecil harus menerima penolakan karena si tukang
cukur tidak mau menyentuh orang outcaste, pernah saat
hendak berangkat ke sekolah, karena hujan lebat Bhim
berteduh di emperan rumah seseorang, saat penghuninya
melihat serta merta dengan penuh marah ia mendorong
Bhim sehingga jatuh di kubangan lumpur dan beserta
semua buku-bukunya. Pengalaman-pengalaman pahit dan
menyedihkan yang sangat melecehkan eksistensi
kemanusiaan seperti inilah yang harus dihadapi bahkan
oleh seorang anak kecil yang terlahir di komunitas
Dalit di India, bahkan mungkin banyak yang lebih pahit
dari pengalaman Bhim kecil. Namun semua hal inilah
yang membentuk kesadaran dalam diri Bhim dan menjadi
bara yang terus menyala dalam dadanya untuk memerangi
ketidakadilan ini.
Perjuangan untuk menghapus ketidakadilan terhadap
komunitas untouchable ini sebenarnya telah dimulai
sejak lama, sekedar contoh tahun 1883 Sayaji Rao
Gaekwad, Maharaja dari Baroda sudah mendirikan sekolah
untuk kaum Dalit sehingga dapat dinilai bahwa beberapa
raja Hindu sebenarnya juga tidak setuju akan
ketidakadilan yang terjadi terhadap kaum ini. Sejak
sebelum merdeka hingga setelah merdeka di India
terdapat banyak orang-orang besar yang mendedikasikan
hidupnya untuk menegakkan kebenaran dan prinsip yang
mereka yakini, Ambedkar adalah salah satunya. Desa
Ambavade di distrik Ratnagiri Propinsi Konkan yang
terletak di negara bagian Maharashtra adalah tempat
kelahiran Bhimrao anak ke-14 dari Ramji Sakpal.
Ambedkar lahir pada tanggal 14 April 1891 dengan nama
Bhimrao Ambavadekar. Salah seorang pamannya yang
menjadi biarawan pernah menyatakan kepada ayah
Bhimrao, bahwa ia akan mendapat seorang putera yang
nantinya akan menjadi orang terkenal di dunia.
Demikianlah kemudian Ambedkar lahir dan ibundanya
meninggal lima tahun kemudian.Nama Ambavadekar
akhirnya diubah menjadi Ambedkar oleh salah seorang
gurunya pada masa sekolah menengah atas, gurunya
adalah seorang brahmin dengan nama keluarga Ambedkar
dan ia sangat kagum dan senang akan kecerdasan Bhimrao
Ambavadekar sehingga kemudian mempersilakan Bhim untuk
menggunakan nama keluarganya yaitu Ambedkar. Sejak
muda Ambedkar sangat suka membaca buku, meski pun
miskin tapi ayahnya sangat mendukung kegemarannya
membaca buku bahkan terkadang ayahnya sampai meminjam
uang untuk membelikan Ambedkar buku. Keluarga ini
tinggal di daerah termiskin, rumah mereka sangat
sempit hanya terdiri dari satu ruangan dan segala
aktivitas dilakukan disitu mulai memasak, tidur,
belajar dan untuk kambing peliharaan. Sejak sekolah
dasar berbagai perlakuan diskriminasi dialaminya,
salah satu yang paling menyakitkan baginya adalah
larangan untuk membaca Veda karena ia seorang Mahar,
sebagai seorang India dia merasa sangat terhina karena
anak-anak dari luar India saja diperbolehkan
membacanya. Selain itu bila anak lain boleh duduk di
kursi, anak-anak Dalit harus duduk di atas tikar dan
itu pun harus membawa sendiri dari rumah, bahkan
pernah saat Bhim disuruh menyelesaikan soal matematika
di papan tulis anak-anak lain berteriak bahwa kotak
bekal mereka ada di belakang papan sehingga mereka
takut tercemar karena Bhim akan menyentuh papan tulis.
Sehingga setelah semua anak mengambil kotak bekalnya
barulah Bhim dapat menggunakan papan tulis, sementara
guru matematikanya tidak sedikit pun merasa terusik
menyaksikan ketidakadilan ini. Setelah lulus dari
sekolah menengah ia melanjutkan pendidikannya ke
Sekolah Tinggi Elphistone dan memperoleh gelar B.A
pada tahun 1912 dan kemudian ayahnya berkeinginan
Ambedkar mencari kerja di Bombay, karena kondisi
keuangannya sangat tidak memungkinkan untuk membiayai
Ambedkar melanjutkan ke universitas. Adalah Keluskar,
salah seorang guru Ambedkar di sekolah tinggi yang
simpatik padanya dan kerap kali memberi buku-buku
bermutu karena ia sangat menghargai kegemaran Ambedkar
membaca buku, salah satu buku Buddhis pertama
Ambedkar; Buddha-Charitra (Kisah Hidup Buddha) adalah
pemberiannya. Keluskar lah yang membantu Ambedkar
untuk bertemu dengan Raja Sayaji Rao Gaekwad seorang
raja di negara Baroda yang memiliki pandangan liberal
ayng akhirnya memberikan beasiswa kepada Ambedkar.
Sebelum memberikan beasiswa, sang raja bertanya kepada
Ambedkar karena ia menyatakan akan mempelajari banyak
subyek. Apa yang akan kamu lakukan setelah
mempelajari semua itu? Ambedkar menjawab Setelah
mempelajari semua itu, saya akan menemukan penyebab
dari keadaan komunitas saya sehingga saya dapat
melakukan reformasi sosial Karena mengetahui potensi
yang dimiliki Ambedkar, Raja Sayaji mengirim Ambedkar
ke Universitas Colombia-Amerika untuk meneruskan
pendidikannya. Amerika yang liberal tidak mengenal
untouchability hal ini sangat berkesan bagi Ambedkar,
disini Ambedkar merasa diberlakukan secara sama dan ia
bebas untuk belajar apapun, dan ia sempat mengutip
Shakespear pada salah satu surat ke sahabatnya untuk
mengungkapkan kebahagiaannya dapat belajar di Amerika
In the life of man now and again there is a swelling
wave; if a man uses this opportunity, it will carry
him towards his fortune. Di negeri Paman Sam inilah
ia menimba ilmu politik, etika, antropologi, ilmu
sosial dan ekonomi dan akhirnya memperoleh gelar gelar
M.A dan Ph.D, selanjutnya ia ingin menyelesaikan
pendidikannya di bidang ekonomi di Inggris namun
ditolak oleh pejabat pendidikan negara tapi akhirnya
dikabulkan atas rekomendasi dari Raja Baroda. Karena
tidak dikabulkan Ambedkar harus kembali ke India untuk
mengabdi di pemerintahan Baroda sesuai janjinya
sebelum menerima beasiswa, ia kembali ke India pada
tahun 1917 sebagai seorang yang berpendidikan
tertinggi di India masa itu. Namun India tetaplah
India dengan sistem kastanya yang diskriminatif
sebagaimana masa sebelum ia belajar ke Amerika, jadi
meski Ambedkar menduduki jabatan penting di
pemerintahan kerajaan Baroda namun ia tetap merasakan
ketidakadilan. Bahkan pesuruh di kantornya pun tidak
mau mengantarkan dokumen-dokumen yang Ambedkar
perlukan secara langsung, tapi dengan cara melemparkan
ke arahnya, tidak ada yang membawakannya air minum dan
ia tidak diberi jatah tempat tinggal sebagaimana
pegawai lain setingkatnya karena mereka tidak mau
bertetangga dengan orang kasta rendahan. Apalagi
pegawai-pegawai lainnya semua memperlakukannya bagai
biang penyakit, bahkan mereka yang non Hindu pun
memperlakukannya dengan tidak semestinya. Sementara
Raja tidak dapat melakukan apapun, karena tindakan
diskriminatif ini bersumber dari agama, raja tidak
bisa menentangnya secara langsung. Karena tidak
mendapat tempat tinggal akhirnya Ambedkar menyewa
sebuah wisma dengan menggunakan nama Persia, namun
tidak bertahan lama karena orang-orang Persia pun tahu
ia seorang Dalit dan mengusirnya dengan sangat tidak
terhormat. Saat itu semua orang di Baroda tidak mau
membantunya, sehingga akhirnya ia meninggalkan Baroda
dan kembali ke Bombay dan berusaha mencari kerja namun
tak satu pun perusahaan mau menerimanya karena ia
seorang Dalit, demikian juga saat ia membuka usaha
hingga akhirnya Sekolah Tinggi Sydenham Bombay
membutuhkan seorang Profesor Ekonomi. Sydenham adalah
nama seorang bangsawan mantan gubernur Bombay yang
cukup kenal dengan Ambedkar, demikianlah akhirnya
Ambedkar mendapatkan pekerjaan. Setelah dua tahun,
kembali ia melanjutkan pendidikan ke London dan Jerman
sehingga akhirnya ia memiliki gelar M.A, Ph.D, D.Sc,
menguasai bidang hukum, siap untuk beraksi, memasuki
dunia politik dengan persiapan yang komprehensif bukan
untuk kepentingan pribadi tapi kepentingan
komunitasnya; kaum Dalit. Langkah pertamanya adalah
membentuk organisasi bernama Bahishkrit Hitkarini
Sabha (Komunitas untuk Kesejahteraan Kaum Tersisih)
pada awalnya di wilayah Bombay, tujuannya adalah
membangun asrama-asrama untuk mempromosikan dan
menyebarkan pendidikan untuk kaum Dalit, membuat
perpustakaan dan pusat pendidikan untuk pembangunan
budaya dan mengkampanyekan penghapusan untouchability.
Usaha penghapusan untouchability dari dalam
pemerintahan telah diawali Raja Baroda yang telah
memberikan beasiswa kepada kaum Dalit yang berpotensi,
sementara dari masyarakat sendiri terdapat Mahatma
Phule dan isterinya yang mendedikasikan hidupnya untuk
pendidikan kaum Dalit. Mahatma Phule adalah seorang
Sudra, ia bahkan rela diusir dari rumahnya karena sang
ayah menganggap puteranya ikut tercemar karena
berkumpul dengan kaum Dalit. DR. Ambedkar
mendedikasikan salah satu bukunya; Who Were The
Shudras kepada orang yang ia anggap guru ini. Usaha
lain adalah dari anggota Dewan di Bombay, ia bernama
Bole seorang reformis sosial yang mengajukan resolusi
yang pada intinya menyatakan bahwa semua fasilitas
umum negara seperti pengadilan, sekolah, rumah sakit,
kantor, penginapan, sumur, tangki air dan sebagainya
dapat digunakan oleh kaum Dalit. Resolusi ini
disetujui namun pada pelaksanaannya kembali tertabrak
hegemoni kaum Brahmin yang diuntungkan oleh sistem
kasta ini, seperti di Kota Mahad di Maharashtra meski
resolusi ini sudah ditetapkan tapi tetap kaum Dalit
tidak diperbolehkan mengambil air di tangki umum,
padahal kaum muslim dan bahkan ternak pun bebas minum
di tangki tersebut. Hal ini mengundang Ambedkar
melakukan aksi di tangki air tersebut pada saat
diadakannya Konferensi Kasta Tertindas di kota
tersebut pada tahun 1927 yang diketuai oleh Ambedkar,
sedang para peserta yang rata-rata aktivis dari kaum
dalit ini tidak hanya datang dari negara bagian
Maharashtra tapi bahkan dari Gujarat. Di akhir
konferensi diadakanlah aksi yang melibatkan tak kurang
dari 10.000 orang, aksi damai yang dipimpin Ambedkar
berjalan lancar hingga mereka mencapai tangki air
Chowdar dan kemudian dipimpin Ambedkar mereka
mengambil air dengan telapak tangan dan meminumnya.
Namun kemudian dikalangan masyarakat Hindu tersebar
isu bahwa kaum Dalit akan menduduki salah satu kuil
mereka sehingga terjadilah kerusuhan, peristiwa ini
dikenal dalam sejarah India sebagai Chowdar Tank
Case. Namun bagaimana pun, tangki tersebut telah
tercemar lalu bagaimana mereka mensucikan kembali?
Setelah aksi ini, dengan dipimpin kaum brahmin tangki
dikosongkan, kemudian ditaburi berbagai produk sapi
seperti susu, dadih, mentega murni, urin dan kotoran
sapi sembari para brahmin membacakan mantra, dan
kemudian tangki dianggap suci kembali, Ironis! Pada
tahun yang sama juga terjadi aksi pembakaran kitab
Manusmrti (Hukum Manu), sebuah kitab yang merupakan
sumber dari semua aturan menyangkut kasta. Kitab ini
mengatur siapa boleh makan dengan siapa, siapa boleh
mengawini siapa, siapa boleh menyentuh siapa, juga
memuat hukuman bagi yang melanggar, misal apabila
seorang sudra yang menganggap mengajar kaum Brahmana
adalah tugasnya harus dihukum dengan cara memasukkan
minyak panas ke dalam mulut dan telinganya. Pembakaran
kitab ini membuat guncangan besar terhadap kaum
ortodok Hindu seluruh India dan merupakan simbol
penolakan kaum Dalit terhadap kekuasaan dan
kitab-kitab Hindu. Namun aksi di tangki air Chowdar di
Mahad tetap merupakan simbol perlawanan awal yang
penting, karenanya setelah konferensi di Mahad
tersebut DR. Ambedkar mendirikan koran untuk
memperkenalkan pemikiran-pemikirannya kepada
masyarakat luas, namanya Excluded India dan isu
pertama yang diangkat adalah Chowdar Tank Case.
Kembali Ambedkar merencanakan untuk mengadakan aksi
bersama-sama pengikutnya ke tangki air tersebut, namun
karena alasan hukum dan keamanan para pengikutnya
akhirnya dibatalkan namun secara jalur hukum Ambedkar
terus memperjuangkannya dan akhirnya tahun 1937
Pengadilan Tinggi Bombay memenangkan kaum Dalit untuk
dapat menggunakan tangki air tersebut. Sebuah
kemenangan kecil di tengah perjuangan untuk menghapus
untouchability, menuntut persamaan, kebebasan dan
keadilan bagi semua, namun penting sebagai titik pijak
awal perjuangan.
Berbagai gerakan dilakukan Ambedkar dan jutaan
pengikutnya untuk menuntuk hak-hak mereka, gerakan
massa, politik, hukum, bahkan gerakan diplomasi
internasional. Karena sistem kasta di India telah
menyebabkan mereka tidak memiliki hak ekonomi dan
politik. Tak jarang Ambedkar harus berhadapan dengan
Mahatma Gandhi yang memiliki cara pandang yang berbeda
dalam hal untouchability ini. Gandhi adalah seorang
berkasta yang mengklaim berdiri di atas semua
golongan, namun kaum Dalit menyangkal hal ini dan
kenyataan pun tidak berkata demikian. Gandhi setuju
pada saat kaum Muslim, Kristen dan Sikh memiliki
sistem pemilihan terpisah, hal ini sejalan dengan
demokratisasi namun pada saat Ambedkar menuntut sistem
pemilihan terpisah untuk Dalit pada tahun 1932, Gandhi
melakukan gerakan penolakan dengan gerakan Mogok
Makan hingga Mati-nya yang terkenal itu. Ambedkar
menjadi begitu dibenci di India kala itu karena Gandhi
adalah seorang tokoh besar bagi India. Ambedkar
dihadapkan pada pilihan membiarkan Gandhi mati
sehingga dapat menimbulkan kerusuhan hebat di India
antara penganut kasta Hindu dan kaum Dalit atau
berkompromi, ia terpaksa memilih yang kedua karena
tidak ingin terjadi pembantaian terhadap kaumnya. Hal
ini semakin memperkuat keyakinan kaum Dalit bahwa yang
dapat menjadi penyelamat mereka hanyalah seorang Dalit
juga, sebab tanpa pernah merasakan betapa pahitnya
kenyataan hidup sebagai kaum Untouchable maka mereka
tidak akan mungkin dapat memahami secara utuh
permasalahan ini. Pada tahun 1935 Ambedkar membuat
pernyataannya yang terkenal bahwa ia boleh lahir
sebagai seorang Hindu tapi tidak akan mati sebagai
Hindu, 12 tahun kemudian ia menjadi Menteri Hukum
pertama paska kemerdekaan India namun setelah 4 tahun
beliau mengundurkan diri dari kabinet. Sisa Hidupnya
kemudian didedikasikan bagi pengembangan Buddhisme di
India, hal ini diumumkannya pada tahun 1954 dan dua
tahun kemudian pada sebuah upacara di Nagpur, Ambedkar
menjadi seorang Buddhis yang diikuti ratusan ribu
pendukungnya saat itu tepatnya tanggal 14 Oktober
1956. Adalah U Chandramani, seorang bhikkhu senior
yang menjadi pemimpin upacara saat Ambedkar menyatakan
tiga perlindungan kepada Buddha, Dhamma dan Sangha.
Peristiwa ini adalah sebuah peristiwa besar yang
begitu mengejutkan semua orang di India, bahkan bagi
Buddhisme di India ini sangat berarti bagi kebangkitan
Buddhis setelah ratusan tahun berusaha ditenggelamkan.
Dengan menjadi Buddhis, Ambedkar berharap kaum Dalit
merasakan pembebasan secara sosial, psikologi dan
spiritual disamping kesadarannya yang tinggi bahwa
Buddhisme pernah nyaris punah dari India dan kemudian
bangkit kembali, ia tidak ingin Buddhisme punah
kembali sehingga setelah ia menyatakan tiga
perlindungan dan memohon lima sila dari Bhikkhu,
selanjutnya ia membaca 22 sumpah yang ia buat bagi
kaum Dalit kemudian mentahbiskan para pengikutnya.
Prosesinya berlangsung sebagai berikut, pengikut
Ambedkar pertama-tama mengikuti upacara pentahbisan
dengan menyatakan tri sarana dan panca sila kemudian
setelahnya tahap kedua mereka menyatakan 22 sumpah
untuk memperjelas dan benar-benar memisahkan Buddhis
dari Hindu. Perlu dipahami, pada saat itu tertanam
anggapan bahwa seorang Buddhis adalah juga seorang
Hindu dan hal ini telah begitu mengakar di India,
biasa dikatakan bahwa Hindu bagaikan samudra yang
luas, Buddhisme hanyalah salah satu sungai kecilnya.
Hal inilah yang berusaha dikikis oleh Ambedkar,
sehingga para pengikutnya diharapkan benar-benar
berusaha mempelajari ajaran Buddha bukan sekedar
menyebut diri seorang Buddhis tapi tidak memahami
ajaran yang sebenarnya. Akhirnya budaya pentahbisan
ala Ambedkar ini menjadi upacara tahunan yang mereka
sebut Dhammadiksa/Diksabumi. Sampai saat ini acara
ini terus berlangsung sebagai acara tahunan dimana
komunitas Dalit dari berbagai daerah berkumpul di
vihara dimana Ambedkar ditahbiskan menjadi seorang
Buddhis, di tengah-tengah Konferensi INEB para peserta
diajak ikut berpartisipasi dalam acara ini meski
dengan pengawalan ekstra ketat sebab di acara ini
terlibat begitu banyak massa, ratusan ribu bahkan
mungkin jutaan orang berkumpul dari seluruh India.
Acara serupa juga diselenggarakan di wilayah-wilayah
lain namun dengan jumlah massa yang tentunya tidak
sebanyak di Maharashtra, sebab secara
sosio-historis-politis memang merupakan wilayah Dalit.
Perjuangan Ambedkar bersama-sama komunitasnya adalah
sebuah perjuangan yang panjang dan tidak mudah untuk
merebut hak-hak mereka, perjuangan ini masih terus
berlanjut hingga hari ini, terutama perjuangan untuk
mempertahankan eksistensi mereka sebagai Buddhis.
Ironisnya di tanah Buddha, mereka bahkan baru mulai
membangun vihara-vihara sederhana dan tidak ada
bhikkhu yang dapat memberikan dhamma pada mereka
karena aturan manajemen vihara-vihara tua yang
dikuasai kaum Brahmin. Sebagaimana sub tema
konferensi, salah satu tujuan dari konferensi INEB
kali ini adalah untuk menyingkirkan halangan antara
perjuangan Ambedkar dan komunitas Buddhis
Internasional. Komunitas Buddhis di India membutuhkan
dukungan yang cukup dari seluruh dunia untuk dapat
berdiri tegak di India. Pengalaman historis mereka
berjuang untuk membebaskan diri dari belenggu sistem
kasta dan trauma panjang akibat tindakan-tindakan yang
sangat merendahkan harkat dan martabat kemanusiaan
yang telah mereka alami sebagai kaum Dalit, tingkat
pendidikan yang rendah, kemiskinan dan lain sebagainya
telah membentuk karakter yang eksplosif dalam diri
mereka. Salah satu masalah mendasar yang dihadapi
komunitas Dalit paska meninggalnya DR. Ambedkar 6
minggu setelah beliau menjadi Buddhis adalah
kecenderungan penekanan yang salah pada perjuangan DR.
Ambedkar, yang lebih banyak ditransformasikan kepada
komunitas Dalit yang sebagian besar telah menjadi
Buddhis ini adalah kritik Ambedkar terhadap sistem
kasta Hindu dan mereka anggap hal ini sebagai
Buddhisme. Hal ini juga mungkin terjadi akibat
minimnya jumlah bhikkhu, namun di akhir konferensi
beberapa pimpinan organisasi Buddhis dari kaum Dalit
menyatakan bahwa mereka siap bekerja sama dengan para
Lama dari Tibet untuk memberikan Buddha Dhamma yang
sebenarnya kepada komunitas Buddhis di India. Sebuah
tesis sederhana mungkin dapat kita renungkan bahwa
Tibet mungkin memang harus meninggalkan kenyamanan
tanah kelahirannya yang begitu kental akan spiritual
untuk membangkitkan kembali Buddhisme di tanah Buddha
melanjutkan perjuangan Ambedkar bersama-sama jutaan
pengikutnya.
* Ketua Umum PP HIKMAHBUDHI periode 2005-2007
__________________________________
Yahoo! Mail - PC Magazine Editors' Choice 2005
http://mail.yahoo.com
Yahoo! FareChase - Search multiple travel sites in one click.
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
SPONSORED LINKS
| Religion and spirituality | Spirituality |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
