Terserah saja siapa suka pake Sang yang silakan. Bagi yang tidak suka, yang tidak usah.
 
Bahasa Inggris pake Lord Buddha supaya lebih meninggikan.
 
Orang Kristen Indonesia pake Tuhan Yesus, padahal dalam bahasa Inggris cuman Jesus, bukannya Jesus God. Kalo Islam selalu Nabi Mohammad SAW. Dalam bahasa Inggris jadi Mohammad pbuh (peace be upon him).
 
Buddha itu sendiri bukan nama, itu gelar. Dengan menyebut gelar, saya kira sudah cukup hormat. Tapi kalo mau lebih hormat lagi dengan Sang, yah silakan saja. Tapi di telinga orang-orang non Buddhis yang tidak biasa dengan kata Sang, misalnya mertua saya, agak lucu dan janggal rasanya. Jadi saya lebih suka pakai kata Buddha saja, terdengar OK dan hormat.
 
Sanghyang = bukan bahasa Indonesia jadi tidak bisa dijadikan referensi.
 
regards,
Harryson


Robby C <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Saya sangat setuju bahwa ini adalah diskusi yang sehat. Kita tidak ingin membuat suatu keputusan, apalagi memaksakan kehendak kita pada yang lain. Tetapi diskusi ini perlu dibabar supaya setiap orang mengerti mengapa ada yang begini dan ada yang begitu, sehingga semua orang mendapatkan manfaat.
 
Memang umat Buddha ini cukup unik. Karena bagaimana menyebut Gurunya sendiri banyak yang tidak sependapat. Tetapi itu karena agama kita menjunjung kebebasan berpikir. Penggunaan kata Sang sudah umum digunakan, dipakai di paritta suci. Bahkan aliran Buddhayana menggunakan kata Sanghyang Adi Buddha. Inilah kebiasaan yang sudah kita pakai sejak lama. Dan bukankah bahasa itu adalah budaya, bukankah bahasa timbul dari kesepakatan bersama. Mengapa harus di ubah?
 
Karena banyak rekan kita yang sulit menerima audio file, maka ceramah itu saya transkrip saja. Transkrip audio file itu adalah sbb:
 
Saya sering memberitahukan kepada wartawan-wartawan. Cobalah berhati-hati menulis tentang “Buddha”. Jangan menyebutkan “Buddha Sidharta” atau “Sidharta Gautama”. Tetapi pendiri Agama Buddha, Guru Agung umat Buddha adalah “Buddha Gautama”. Buddha Gautama sering juga disebut sebagai Buddha Sakyamuni. Yang kalau di lafal mandarin menjadi Se-cia-mo-ni. Sakya ini suku. Seperti ada Suku Jawa, Suku Bali, Suku Bugis. Di jaman Sang Buddha ada Suku Sakya, Suku Waji, Suku Mala. Nah “muni” artinya orang suci, “Orang suci dari Suku Sakya”. Tradisi Mahayana senang menyebut Buddha Sakyamuni dari pada Buddha Gotama. Tetapi sesungguhnya sama, Seciamoni Buddha itu adalah Buddha Gotama.
 
Sering disebut dengan gelar-gelar lain. Yang paling terkenal adalah Dharmaraja, karena rajanya Dharma. Dalam arti yang menemukan dan mampu mengajarkan dengan baik. Tetapi ada sebutan lain yang cukup di kenal di dunia buddhis hanya tidak dikenal di Indonesia. Sang Buddha dan semua Buddha sering disebut juga dengan “Jina”. Bahasa indonesia ini bisa disalah mengertikan seperti berzina. Jina artinya “Penakluk”. Sang Buddha itu mempunyai gelar atau sering disebut dengan sebutan yang lain adalah ‘jina’, Yang telah menaklukan, menaklukkan hawa nafsunya sendiri. Dan masih banyak lagi.
 
Kalau beliau membahasakan dirinya sendiri, sebagai pengganti ‘I’ bahasa Inggris, beliau menyebutkan Tathagata. Tathagata artinya Yang sedemikian, Yang seperti ini. Jadi  beliau tidak menggunakan kata saya tetapi beliau menggunakan Tathagata, Yang seperti ini. Kalau kita bertemu dengan Sang Buddha. Dan menyapa Sang Buddha, kalimat apa yang digunakan. Apakah menggunakan Samma Sambuddha, “Apakah Buddha berkenan datang ke rumah saya?”, ataukah “ Apakah Dharmaraja berkenan datang ke rumah saya?” Kalau kita bertemu dengan Sang Buddha, untuk membahasakan beliau kita menggunakan ‘bhante’ atau ‘bhadante’. Sebagai pengganti ‘you’ bahasa Inggris. Kalau kita menceritakan keadaan Sang Buddha kepada orang lain, “Oh kemarin Sang Buddha baru kotbah di tempat ini” Orang jaman dulu tidak menyebut ‘Buddha’, tetapi orang menyebut Bhagava sebagai pengganti ‘he’ bahasa Inggris.
 
Sehingga sampai sekarang di dunia buddhis, orang merasa tidak enak untuk menyebut “Buddha” atau “Buddha Gotama” saja, tanpa penghormatan di depan. Seperti kita menyebut murid beliau, Ananda, Sariputra, Mogalana, itu tidak sopan. Harus ada penghormatan. Karena kita menyebut pembantu saja pakai ‘mbok’, ‘bu’. Bu Marto, Pak Marto. Itu Ananda, Itu Sariputra, Itu Mogalana, Itu Anurudha, Itu Kassapa, Itu Pak Marto. Wah ‘Pak Marto’ lebih terhormat. Harus ada penghormatan di depan. Kalau dalam tulisan, biasa disebut Yang Ariya karena memang mahluk suci. Atau kalau mau sederhana ya bhante untuk memudahkan berbicara.
 
Demikian juga Buddha Gotama. Kalau bahasa Inggris memang punya kaidah lain. Dalam bahasa inggris, bertemu dengan orang yang lebih tua juga pakai ‘you’, bertemu dengan pimpinan juga pakai ‘you’, tidak lain. Meskipun ada Your Excelency. Your Venerable. Tetapi kaidah di timur ini, yang dihormati harus pakai penghormatan. Wong orang sebaya saja kita panggil Mas, Mas Anton, Mas Hadi. Tetapi untuk Buddha, masak Buddha saja, “Oh itu buddha, patung buddha, sariputra, Mogalana.”
 
Nah di Indonesia ini sudah kaprah memakai ‘Sang’. Meskipun pernah terjadi perdebatan, “Sang itu terlalu sederhana. Biasanya digunakan untuk dongeng-dongeng, Sang Kancil, Sang Pelanduk, kadang-kadang Sang Pencuri, Sang dengan Si itu hampir sama. Sang Kodok. Wah Sang Buddha dengan Sang Kodok, itu bagaimana?”
 
Kalau di Thailand mereka menggunakan “Phra Buddha Chao”. Kalau di terjemahkan dalam bahasa Inggris adalah “The Lord Buddha”. Nah Lord itu diterjemahkan apa? Atau Yang Mulia Buddha. Dulu pernah di gunakan Yang Maha Suci Buddha Gotama. Bagi kita cocok sekali, tetapi bagi penganut agama lain dianggap menTuhankan Buddha. Karena konsep agama lain, yang Maha-Maha itu hanya Tuhan. Dan Buddha itu manusia. Kalau Buddha diberi penghormatan Yang Maha Suci, kok sama dengan Tuhan. Padahal menurut pengertian Buddhis, Tuhan itu tidak bisa diberi penghormatan seperti manusia. Maha mendengar, maha tahu, Maha Suci. Tidak, Tuhan itu Maha Sempurna, Maha Esa, cukup. Yang bisa Maha Suci itu manusia. Itu menurut konsep Agama Buddha.
 
Kalau di lontar-lontar, kitab-kitab jawa kuno, bagaimana bhante orang membahasakan Sang Buddha Gotama pada jaman itu? Dia menulis, “Bhatara Buddha”. Pernah mau digunakan kalimat ini, “Bhatara Buddha”. Eh, nanti orang salah mengerti dikira Buddha itu seperti Bhatara Narada. Susah. Bhatara Guru, Bhatara Kresna, nah ini Bhatara Buddha. Bhatara itu sebenarnya penghormatan. Lalu pernah digunakan juga Hyang Buddha. Hyang ini hampir sama dengan Yang. Tetapi ini agak salah. Hyang ini untuk membahasakan yang tidak tampak, dewa-dewa dan sebagainya.
 
Jadi sulit, sampai sekarang ini ‘polemik’. Bagaimana untuk memberikan penghormatan yang pantas kepada Buddha Gotama. Dan sudah terlanjur dengan Sang Buddha. Sudah terlanjur itu. Ya pendeknya ada penghormatan, saudara jangan njambal. Di Asia ini kalau orang memanggil nama njambal itu menjadi tidak sopan. Jangan njambal tetapi harus pakai penghormatan. Kalau kita memanggil Pak Marto, Bu Marto, kok ini Buddha. Lebih terhormat Pak Marto. Kalau Pak Buddha mungkin lebih baik dari pada Buddha saja.
 


Yahoo! Shopping
Find Great Deals on Holiday Gifts at Yahoo! Shopping

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke