Sekedar memberi masukan saja.

Mengapa kita perlu mempersoalkan kata Buddha dan Sang Buddha?
Apakah perbedaan adanya penambahan gelar atau tidak tersebut akan
mempengaruhi rasa hormat kita terhadap Buddha atau Sang Buddha itu sendiri?

Ada sebagian orang yang merasa bahwa dengan menambahkan partikel "Sang"
atau kata "Guru" didepan kata "Buddha", maka lebih enak untuk diucapkan
atau dituliskan dan memudahkan mereka untuk memberikan penghormatan kepada
Buddha atau Sang Buddha.

Seperti halnya dalam bahasa Inggris, kata Buddha biasanya didahului oleh
partikel "The" untuk menyatakan kata benda subyek/obyek (Buddha Gotama).
Sedangkan kata "Buddha" biasanya digunakan untuk menunjukkan status/keadaan
seseorang yang telah mencapai penerangan sempurna.

Dan ada sebagian orang yang tidak terbiasa atau merasa ganjil untuk
menggunakan partikel "Sang" atau kata "Guru" dan ingin mengggunakan kata
Buddha saja.

Menurut saya kedua-duanya tidak berbeda dalam hakikat sesungguhnya, jika
dalam pikiran masing-masing menghormati "Buddha atau Sang Buddha" dengan
tulus. Yaitu tanpa berpikir bahwa penggunaan kata yang dianggapnya benar
itu akan menimbulkan penghormatan yang lebih besar, atau sebaliknya dengan
menggunakan kata yang dianggapnya keliru akan mengurangi penghormatan
kepada "Buddha atau Sang Buddha"

Salam Metta.
Mulyadi



                                                                           
             harryson huang                                                
             <[EMAIL PROTECTED]                                             
             ahoo.com>                                                  To 
             Sent by:                  [email protected],         
             [EMAIL PROTECTED]         [EMAIL PROTECTED]          
             roups.com                                                  cc 
                                                                           
                                                                   Subject 
             12/13/2005 03:17          Re: [Dharmajala] BUDDHA atau SANG   
             PM                        BUDDHA (Gelar)                      
                                                                           
                                                                           
             Please respond to                                             
             [EMAIL PROTECTED]                                             
                 roups.com                                                 
                                                                           
                                                                           




Robby,

Saya kira anda mengaitkan sesuatu yang tidak terkait. Yang dibahas itu kan
Buddha, bukan Sanghyang Adi Buddha. Sanghyang Adi Buddha sudah diterima
sebagai satu "istilah" yang merepresentasikan Ketuhanan di Indonesia. Dalam
literatur Indonesia tidak pernah kita menulis sebagian saja seperti "Adi
Buddha".

Jadi mari kita bahas kata Buddha saja. Apakah dengan penambahan prefiks
Sang menjadi lebih hormat?  Dari kamus mana itu yah?

Jika memang perlu memberikan prefiks, yah banyak prefiks lain yang bisa
digunakan. Mengapa tidak menggunakan yang umum saja seperti Yang Mulia
Buddha Gautama. Demikian pula seharusnya digunakan untuk para Arahat
seperti Yang Mulia Arahat Sariputra.

salam,
Harryson


Robby C <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
 Rekan-rekan sedhamma

 Terima kasih atas masukan-masukan yang diberikan pada saya. Namun ada
 beberapa orang bertanya “Buddha itu sebuah nama, atau gelar?”

 Jelas Buddha bukan nama seseorang, tetapi Buddha bukan hanya gelar. Buddha
 juga digunakan untuk merujuk pada seseorang.

 BUDDHA SEBAGAI GELAR

 Kalau Buddha sebagai gelar saja, maka kalau seseorang menunjuk Buddha
 saja, orang akan bertanya Buddha siapa? Seperti orang berkata Dokter,
 Presiden. Dokter siapa? Presiden siapa? Kecuali orang menuliskan Presiden
 SBY atau Presiden Suharto. Maka dengan penulisan lengkap Presiden ini
 menjadi gelar, menjadi penghormatan.

 BUDDHA UNTUK MERUJUK SESEORANG

 Kalau dalam suatu tulisan kita menulis Buddha saja, dan orang menjadi
 mengerti bahwa yang dimaksud adalah Buddha Gotama, maka tentu Buddha di
 sini bukan gelar. Seperti saya tuliskan diatas, kalau gelar saja, kita
 tentu tidak akan mengerti Buddha siapakah yang dimaksud. Jadi dengan
 menulis Buddha saja, dan orang mengerti bahwa itu Buddha Gotama, Buddha
 disini digunakan untuk merujuk pada seseorang, yaitu Buddha Gotama.

 Sudah menjadi budaya timur kalau kita merujuk pada seseorang yang kita
 hormati, maka kita menggunakan prefik penghormatan. Karena itu timbul
 kalimat-kalimat seperti “Pak Dokter”, “Ibu Presiden”. Ini wajar sekali.
 Sudah diterima umum. Sudah menjadi kebiasaan. Karena ‘Presiden’ dalam
 kalimat ‘Ibu Presiden” adalah untuk merujuk pada seseorang yaitu Ibu
 Megawati. Jadi untuk menghormati beliau di TV-TV di koran-koran, kita
 menuliskan “Ibu Presiden”. Dan tidak ada yang memprotes.

 RASA HORMAT

 Sewaktu koran-koran atau TV-TV menyebutkan “Ibu Presiden” atau “Bapak
 Presiden”, faktanya tidak ada yang protes. Entah karena hal itu benar,
 atau karena hal itu baik. Kalau Presiden saja diberi prefik penghormatan,
 mengapa kita umat Buddha tidak memberi prefik penghormatan dengan
 menuliskan Buddha saja ketimbang Sang Buddha, atau Sri Buddha, atau Guru
 Buddha, atau yang lain-lainnya. Apalagi kalau untuk SBY kita menulis
 “Bapak Presiden” sedang untuk Siddharta Gotama kita menulis “Buddha” saja.
 Karena kata Buddha dan Presiden mempunyai sifat kata yang sama.

 Bukankah budaya menghormati ini harus kita tanamkan pada umat Buddha.
 Kalau ada orang menganggap salah, walau sebenarnya menurut saya tidak
 salah, tetap saja memberi prefik penghormatan ini lebih memberi
 pendidikan, lebih memberi contoh yang baik, lebih menanamkan pikiran baik
 daripada menuliskan Buddha saja.

 Apa perlunya kita mengubah kebiasaan baik ini? Kalau mau me ngubah, kenapa
 sebutan Sanghyang Adi Buddha tidak diganti saja menjadi Adi Buddha dengan
 berpikir bahwa Adi Buddha adalah gelar yang sangat tinggi? Kalau nanti
 orang terbiasa menyebut Buddha saja, akhirnya nanti kalimat ‘Namo
 Sanghyang Adi Buddha’ akan diganti juga. Buntutnya kemudian akan timbul
 konflik, yang akarnya dari mengubah tulisan Sang Buddha menjadi Buddha
 saja. Kalau timbul konflik, bukankah konflik itu kita yang menanam juga.
 Kita juga tidak perlu protes kalau UUD salah menulis Mahaesa menjadi Maha
 Esa. Karena akan timbul konfilk. Akhirnya yang keliru itu dibenarkan saja
 karena sudah menjadi kebiasaan. (seperti pendapat Hendri)

 SARAN

 Kita yang bergabung dalam FPBI, sedikit banyak ikut memberi andil dalam
 perkembangan Buddha Sasana. Cobalah kita bersikap arif. Kadang kita tidak
 harus membenarkan yang benar, kalau hal itu akan berakibat buruk. Ada
 pepatah, anak kecil itu sifatnya ‘ngeyelan’, tidak peduli benar atau
 salah, kalau keinginannya tidak dipenuhi dia akan ngambek. Remaja itu
 ‘idealis’, kalau ada yang dianggap salah harus dibetulkan. Orang tua itu
 ‘bijak’, benar atau salah itu nomor dua, yang paling penting hasilnya atau
 akibatnya baik.

 Salam Metta
 Be Good Be Happy
 Robby

 From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On
 Behalf Of Krishnanda
 Sent: Monday, December 12, 2005 08:10
 To: [email protected]
 Subject: Re: [Dharmajala] RE: [FPBI] Transkirp audio file -> Nada yang
 Berbeda jadi Lagu yang Indah

 Salam dalam Dharma,
 Saya ingin bertanya: apa Buddha itu sebuah nama, atau gelar? Menurut saya,
 Buddha adalah gelar, menjadi sebutan yang paling terhormat, paling mulia.
 Jangan bandingkan dengan nama orang (seperti Marto, yang masih mesti
 ditambah sebutan Pak atau Bu). Maaf, saya tidak bermaksud mengajari.
 Kalau mau menyebut Buddha historis dengan namanya lengkap: Buddha Gotama
 (saya tidak menulis Gautama lagi, karena dalam bahasa Indonesia au
 dituliskan o seperti kata anggauta ditulis baku anggota). Sehubungan
 dengan cara berbahasa dan penulisan: perlu diingat bahasa adalah konvensi.
 Menurut Buddha sendiri seseorang seharusnya tidak merusak dan menyimpang
 dari batas-batas perjanjian linguistik (M. III, 230). Penganut agama
 Buddha hendaknya tidak berbahasa yang bisa diartikan lain oleh sesama
 bangsa Indonesia yang tidak beragama Buddha. Dan bahasa Indonesia bukan
 Jawa. Barangkali masih ada pendapat lain? Terimakasih.
 Krishnanda
 ----- Original Message -----
 From: Robby C
 To: [EMAIL PROTECTED] ; [email protected]
 Sent: Sunday, December 11, 2005 10:34 AM
 Subject: [Dharmajala] RE: [FPBI] Transkirp audio file -> Nada yang Berbeda
 jadi Lagu yang Indah

 Saya sangat setuju bahwa ini adalah diskusi yang sehat. Kita tidak ingin
 membuat suatu keputusan, apalagi memaksakan kehendak kita pada yang lain.
 Tetapi diskusi ini perlu dibabar supaya setiap orang mengerti mengapa ada
 yang begini dan ada yang begitu, sehingga semua orang mendapatkan manfaat.

 Memang umat Buddha ini cukup unik. Karena bagaimana menyebut Gurunya
 sendiri banyak yang tidak sependapat. Tetapi itu karena agama kita
 menjunjung kebebasan berpikir. Penggunaan kata Sang sudah umum digunakan,
 dipakai di paritta suci. Bahkan aliran Buddhay ana menggunakan kata Sang
 hyang Adi Buddha. Inilah kebiasaan yang sudah kita pakai sejak lama. Dan
 bukankah bahasa itu adalah budaya, bukankah bahasa timbul dari kesepakatan
 bersama. Mengapa harus di ubah?

 Karena banyak rekan kita yang sulit menerima audio file, maka ceramah itu
 saya transkrip saja. Transkrip audio file itu adalah sbb:

 Saya sering memberitahukan kepada wartawan-wartawan. Cobalah berhati-hati
 menulis tentang “Buddha”. Jangan menyebutkan “Buddha Sidharta” atau
 “Sidharta Gautama”. Tetapi pendiri Agama Buddha, Guru Agung umat Buddha
 adalah “Buddha Gautama”. Buddha Gautama sering juga disebut sebagai Buddha
 Sakyamuni. Yang kalau di lafal mandarin menjadi Se-cia-mo-ni. Sakya ini
 suku. Seperti ada Suku Jawa, Suku Bali, Suku Bugis. Di jaman Sang Buddha
 ada Suku Sakya, Suku Waji, Suku Mala. Nah “muni” artinya orang suci,
 “Orang suci dari Suku Sakya”. Tradisi Mahayana senang menyebut Buddha
 Sakyamuni dari pada Buddha Gotama. Tetapi sesungguhnya sama, Seciamoni
 Buddha itu adalah Buddha Gotama.

 Sering disebut dengan gelar-gelar lain. Yang paling terkenal adalah
 Dharmaraja, karena rajanya Dharma. Dalam arti yang menemukan dan mampu
 mengajarkan dengan baik. Tetapi ada sebutan lain yang cukup di kenal di
 dunia buddhis hanya tidak dikenal di Indonesia. Sang Buddha dan semua
 Buddha sering disebut juga dengan “Jina”. Bahasa indonesia ini bisa
 disalah mengertikan seperti berzina. Jina artinya “Penakluk”. Sang Buddha
 itu mempunyai gelar atau sering disebut dengan sebutan yang lain adalah
 ‘jina’, Yang telah menaklukan, menaklukkan hawa nafsunya sendiri. Dan
 masih banyak lagi.

 Kalau beliau membahasakan dirinya sendiri, sebagai pengganti ‘I’ bahasa I
 nggris, beliau menyebutkan Tathagata. Tathagata artinya Yang sedemikian,
 Yang seperti ini. Jadi  beliau tidak menggunakan kata saya tetapi beliau
 menggunakan Tathagata, Yang seperti ini. Kalau kita bertemu dengan Sang
 Buddha. Dan menyapa Sang Buddha, kalimat apa yang digunakan. Apakah
 menggunakan Samma Sambuddha, “Apakah Buddha berkenan datang ke rumah
 saya?”, ataukah “ Apakah Dharmaraja berkenan datang ke rumah saya?” Kalau
 kita bertemu dengan Sang Buddha, untuk membahasakan beliau kita
 menggunakan ‘bhante’ atau ‘bhadante’. Sebagai pengganti ‘you’ bahasa
 Inggris. Kalau kita menceritakan keadaan Sang Buddha kepada orang lain,
 “Oh kemarin Sang Buddha baru kotbah di tempat ini” Orang jaman dulu tidak
 menyebut ‘Buddha’, tetapi orang menyebut Bhagava sebagai pengganti ‘he’
 bahasa Inggris.

 Sehingga sampai sekarang di dunia buddhis, orang merasa tidak enak untuk
 menyebut “Buddha” atau “Buddha Gotama” saja, tanpa penghormatan di depan.
 Seperti kita menyebut murid beliau, Ananda, Sariputra, Mogalana, itu tidak
 sopan. Harus ada penghormatan. Karena kita menyebut pembantu saja pakai
 ‘mbok’, ‘bu’. Bu Marto, Pak Marto. Itu Ananda, Itu Sariputra, Itu
 Mogalana, Itu Anurudha, Itu Kassapa, Itu Pak Marto. Wah ‘Pak Marto’ lebih
 terhormat. Harus ada penghormatan di depan. Kalau dalam tulisan, biasa
 disebut Yang Ariya karena memang mahluk suci. Atau kalau mau sederhana ya
 bhante untuk memudahkan berbicara.

 Demikian juga Buddha Gotama. Kalau bahasa Inggris memang punya kaidah
 lain. Dalam bahasa inggris, bertemu dengan orang yang lebih tua juga pakai
 ‘you’, bertemu dengan pimpinan juga pakai ‘you’, tidak lain. Meskipun ada
 Your Excelency. Your Venerable. Tetapi kaidah di timur ini, yang dihormati
 harus pakai penghormatan. Wong orang sebaya saja kita panggil Mas, Mas
 Anton, Mas Hadi. Tetapi untuk Buddha, masak Buddha saja, “Oh itu buddha,
 patung buddha, sariputra, Mogalana.”

 Nah di Indonesia ini sudah kaprah memakai ‘Sang’. Meskipun pernah terjadi
 perdebatan, “Sang itu terlalu sederhana. Bias anya digunakan untuk
 dongeng-dongeng, Sang Kancil, Sang Pelanduk, kadang-kadang Sang Pencuri,
 Sang dengan Si itu hampir sama. Sang Kodok. Wah Sang Buddha dengan Sang
 Kodok, itu bagaimana?”

 Kalau di Thailand mereka menggunakan “Phra Buddha Chao”. Kalau di
 terjemahkan dalam bahasa Inggris adalah “The Lord Buddha”. Nah Lord itu
 diterjemahkan apa? Atau Yang Mulia Buddha. Dulu pernah di gunakan Yang
 Maha Suci Buddha Gotama. Bagi kita cocok sekali, tetapi bagi penganut
 agama lain dianggap menTuhankan Buddha. Karena konsep agama lain, yang
 Maha-Maha itu hanya Tuhan. Dan Buddha itu manusia. Kalau Buddha diberi
 penghormatan Yang Maha Suci, kok sama dengan Tuhan. Padahal m enurut
 pengertian Buddhis, Tuhan itu tidak bisa diberi penghormatan seperti
 manusia. Maha mendengar, maha tahu, Maha Suci. Tidak, Tuhan itu Maha
 Sempurna, Maha Esa, cukup. Yang bisa Maha Suci itu manusia. Itu menurut
 konsep Agama Buddha.

 Kalau di lontar-lontar, kitab-kitab jawa kuno, bagaimana bhante orang
 membahasakan Sang Buddha Gotama pada jaman itu? Dia menulis, “Bhatara
 Buddha”. Pernah mau digunakan kalimat ini, “Bhatara Buddha”. Eh, nanti
 orang salah mengerti dikira Buddha itu seperti Bhatara Narada. Susah.
 Bhatara Guru, Bhatara Kresna, nah ini Bhatara Buddha. Bhatara itu
 sebenarnya penghormatan. Lalu pernah digunakan juga Hya ng Buddha. Hyang
 ini hampir sama dengan Yang. Tetapi ini agak salah. Hyang ini untuk
 membahasakan yang tidak tampak, dewa-dewa dan sebagainya.

 Jadi sulit, sampai sekarang ini ‘polemik’. Bagaimana untuk memberikan
 penghormatan yang pantas kepada Buddha Gotama. Dan sudah terlanjur dengan
 Sang Buddha. Sudah terlanjur itu. Ya pendeknya ada penghormatan, saudara
 jangan njambal. Di Asia ini kalau orang memanggil nama njambal itu menjadi
 tidak sopan. Jangan njambal tetapi harus pakai penghormatan. Kalau kita
 memanggil Pak Marto, Bu Marto, kok ini Buddha. Lebih terhormat Pak Marto.
 Kalau Pak Buddha mungkin lebih baik dari pada Buddha saja.



                                                            SPONSORED LINKS
                                                                  
 Religion and spirituality                 S pirituality          
                                                                  


                            YAHOO! GROUPS LINKS

        Visit your group "Dharmajala" on the web.

        To unsubscribe from this group, send an email to:
        [EMAIL PROTECTED]

        Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service
       .






__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri
saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami
taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan
cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga
terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh
welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore
hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama
melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan
orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **



                                                            SPONSORED LINKS


                                                                  
 Religion and spirituality                  Spirituality          
                                                                  



                            YAHOO! GROUPS LINKS

       Visit your group "Dharmajala" on the web.

       To unsubscribe from this group, send an email to:
       [EMAIL PROTECTED]

       Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke