14 Desember Di Savatthi berdiam sepasang suami-istri brahmana. Mereka hanya memiliki sebuah pakaian luar yang digunakan oleh mereka berdua. Karena itu mereka dikenal dengan nama Ekasataka. Karena mereka hanya memiliki sebuah pakaian luar, mereka tidak dapat keluar berdua pada saat bersamaan. Jadi, bila si istri pergi mendengarkan khotbah Sang Buddha pada siang hari maka si suami pergi pada malam hari.
Pada suatu malam, ketika brahmana mendengarkan khotbah Sang Buddha, seluruh badannya diliputi keriangan yang sangat menyenangkan dan timbul keinginan yang kuat untuk memberikan pakaian luar yang dikenakannya kepada Sang Buddha. Tetapi ia menyadari jika ia memberikan pakaian luar yang satu-satunya ia memiliki berarti tidak ada lagi pakaian luar yang tertinggal buat ia dan istrinya. Ia ragu-ragu dan bimbang. Malam jaga pertama dan malam jaga kedua pun berlalu, pada malam jaga ketiga brahmana berkata pada dirinya sendiri, Jika saya bimbang dan ragu-ragu, saya tidak akan dapat terhindar terlahir ke empat alam rendah (Apaya), saya akan memberikan pakaian luar saya kepada Sang Buddha. Setelah berkata begitu, ia meletakkan pakaian luarnya ke kaki Sang Buddha dan ia berteriak, Saya menang! Saya menang! Saya menang! Waktu itu Raja Pasenadi dari Kosala juga berada di antara para pendengar khotbah. Mendengar teriakan tersebut ia menyuruh pengawalnya untuk menyelidiki. Mengetahui perihal pemberian brahmana kepada Sang Buddha, raja berkomentar bahwa brahmana tersebut telah berbuat sesuatu yang tidak mudah untuk dilakukan oleh orang lain sehingga harus diberi penghargaan. Raja memerintahkan pengawalnya untuk memberikan sepotong pakaian kepada brahmana sebagai hadiah atas keyakinan dan kedermawanannya. Brahmana menerimanya lalu memberikan lagi pakaian tersebut kepada Sang Buddha. Ia mendapatkan hadiah lagi dari raja berupa dua potong pakaian. Brahmana memberikan lagi kedua potong pakaian itu kepada Sang Buddha, dan ia memperoleh hadiah empat potong lagi. Jadi ia memberikan kepada Sang Buddha apa saja yang diberikan raja kepadanya, dan tiap kali raja melipatduakan hadiahnya. Akhirnya hadiah meningkat menjadi tiga puluh dua potong pakaian, brahmana mengambil satu potong untuknya dan satu potong untuk istrinya, dan selebihnya diberikan Sang Buddha. Kemudian raja berkomentar lagi bahwa brahmana benar-benar melakukan suatu perbuatan yang sulit dan juga harus diberi hadiah yang pantas. Raja mengirim seorang utusan untuk membawa dua potong pakaian beludru yang berharga mahal, dan memberikannya kepada brahmana. Brahmana itu membuat kedua pakaian tersebut menjadi dua penutup tempat tidur dan meletakkan satu di kamar harum tempat Sang Buddha tidur dan satunya lagi diletakkan di tempat para bhikkhu menerima dana makanan di rumah brahmana. Ketika raja pergi berkunjung ke Vihara Jetava untuk memberikan penghormatan kepada Sang Buddha, raja melihat tutup tempat tidur beludru dan mengenalinya bahwa barang itu adalah pemberiannya kepada brahmana, ia merasa sangat senang. Kali ini, raja memberikan hadiah tujuh macam yang masing-masing berjumlah empat buah (sabbacatukka) yaitu empat ekor gajah, empat ekor kuda, empat orang pelayan wanita, empat orang pelayan laki-laki, empat orang pesuruh laki-laki, empat desa dan empat ribu uang tunai. Ketika para bhikkhu mendengar hal tersebut mereka bertanya kepada Sang Buddha, Bagaimana hal ini bisa terjadi, dalam kasus brahmana ini, perbuatan baik yang dilakukan saat ini menghasilkan pahala yang sangat cepat? Sang Buddha menjawab, Jika brahmana memberikan baju luarnya pada malam jaga pertama dia akan diberi hadiah enam belas buah untuk tiap macam barang, jika ia memberikan pada malam jaga kedua ia akan diberi delapan buah untuk tiap macam barang. Ketika ia memberikan pada malam jaga terakhir ia diberi hadiah empat buah untuk tiap macam barang. Jadi, jika seseorang ingin berdana, lakukanlah secepatnya, jika seorang menunda-nunda pahalanya datang perlahan dan hanya sebagian. Juga, jika seseorang terlalu lambat dalam melakukan perbuatan baik mungkin dia tidak akan sanggup untuk melakukannya secara keseluruhan, karena pikiran orang cenderung senang dengan melakukan perbuatan perbuatan yang tidak baik. Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 116 berikut: Bergegaslah berbuat kebajikan dan kendalikan pikiranmu dari kejahatan, barang siapa lamban berbuat bajik, maka pikirannya akan senang dalam kejahatan. [Puppha Vagga (Kejahatan)] (syair 116) (Kisah Culekasataka) __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Give the gift of hope to an orphaned child this holiday season. Become a sponsor>> http://us.click.yahoo.com/ZEPhsD/1RCMAA/i1hLAA/UlWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya ** ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh ** ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian ** ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami ** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
