Dampak Hujan dan Pengabaian Tata Ruang
Jakarta, Kompas - Bencana alam banjir bandang di Jember, Jawa Timur, dan tanah longsor di Banjarnegara, Jawa Tengah, tidak sepenuhnya akibat perusakan hutan. Fenomena alam terbentuknya waduk alami dan tipe tanah yang mudah menyerap air dipadu curah hujan tinggi ikut memicu terjadinya bencana.
Beberapa waduk alami pernah ditemukan di bagian atas gunung yang terbentuk dari batang pohon tumbang dan bebatuan. Tingginya curah hujan menyebabkan waduk-waduk alami tersebut jebol dan air pun meluncur tidak terkendali sebagai banjir bandang.
âItu fenomena alam sama haknya dengan bencana Pacet dan Bohorok beberapa tahun lalu,â kata aktivis lingkungan yang juga pengajar Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) Hariadi Kartodihardjo di Bogor, Jumat (6/1).
Namun, diakui adanya alih fungsi lahanâakibat diabaikannya tata ruangâdi beberapa bagian di ketinggian ikut menjadi faktor pemicu parahnya bencana.
Adapun analisis sementara bencana tanah longsor di Banjarnegara disebabkan oleh tipe tanah yang mudah menyerap dan menyimpan air. Adanya retakan di
beberapa bagian lereng menambah hal tersebut.
Geolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Sutrisno yang datang ke lokasi bencana mengungkapkan, kemiringan lereng Pawinihan yang terjal dengan beberapa bagian lereng yang ditanami palawija membuat tak mampu menahan tanah yang bermassa air tinggi.
âTipe tanah di sana dibentuk dari batuan lapuk dengan retakan di beberapa bagiannya. Maka massa tanah pun menjadi berat,â kata dia.
Menurut Sutrisno, alih fungsi lahan di lereng terjal terjadi setelah beberapa pohon pinus tumbang karena angin kencang beberapa tahun lalu.
Kepala Badan Geologi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Bambang Dwiyanto menuturkan, Oktober 2005 pihaknya telah mengirim surat ke beberapa
kabupaten/kota yang berisi peringatan peningkatan kewaspadaan adanya tanah longsor di musim hujan.
Kecamatan Banjarmangu, Banjarnegara, dan Kecamatan Rambipuji, Jember, masuk dalam daerah yang disebut badan geologi agar diwaspadai. Banjarmangu masuk kategori zona kerentanan tinggi, sedangkan Rambipuji masuk zona kerentanan menengah- tinggi.
âData-data seperti itu selalu rutin kami kirimkan setiap memasuki musim hujan ke kabupaten/kota sebagai dasar penyusunan tata ruang wilayah,â kata dia seusai rapat koordinasi di kantor Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) di Jakarta.
Menko Kesra Aburizal Bakrie mengungkapkan, pihaknya telah meminta setiap daerah yang memiliki kawasan rawan bencana agar siap mengantisipasi terjadinya bencana, termasuk kemungkinan
mengevakuasi.
âSetiap daerah harus memerhatikan apa yang telah dipetakan badan geologi dan bertindak cepat seperlunya. Pemerintah pusat berada di belakang pemerintah daerah,â kata dia.
Pertemuan sungai
Dihubungi terpisah, Dr Orbita Roswintiarti, Kepala Bidang Pemantauan Sumber Daya Alam dan Lingkungan di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), menyebutkan bahwa sebenarnya pola penutupan lahan di kawasan Banjarnegara dan Jember tidak banyak berubah antara 2002 dan 2005.
Menurut citra satelit tahun 2002, seperti yang dikoleksi Lapan, tampak bahwa di daerah perbukitan yang berada di atas lokasi bencana di Jember tidak cukup bervegetasi.
Selain itu, daerah bencana dilewati anak Sungai Tanggul. Ketika curah hujan tinggi dan tidak ada lagi vegetasi yang membantu menahan aliran air ke bawah, terjadilah bencana. âKalau di bagian bawahnya yang tampak hijau, mungkin perkebunan teh dan kopi,â lanjut Orbita.
Adapun Banjarnegara jika dilihat dari satelit merupakan daerah pertemuan dari banyak sungai. Intensitas curah hujan yang cukup tinggi membuat kawasan itu jadi berpotensi banjir dan longsor. Kondisi ini berlangsung bertahun-tahun, tanpa pernah ada upaya perbaikan tata ruang agar pertemuan sungai-sungai itu tidak menjadi pemicu bencana.
Menurut Kepala Pusat Pengembangan Pemanfaatan dan Teknologi Penginderaan Jauh Lapan Dra Ratih Dewanti, sebenarnya Lapan sudah menyuplai data ke berbagai instansi dan pemerintah daerah. Berbagai instansi itu di antaranya Badan
Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana (Bakornas PB), Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), Departemen Kehutanan, Departemen Pertanian, Departemen Pekerjaan Umum, dan Kementerian Lingkungan Hidup.
âAkan tetapi, fungsi kami memang lebih sebagai penyedia data dan analisisnya. Sedangkan implementasi yang harus dilakukan berdasar data itu, sudah bukan wewenang kami,â kata Ratih.
Agar bisa diakses masyarakat luas data juga selalu disediakan di website Sistem Informasi untuk Mitigasi Bencana Alam (Simba)-Lapan pada www.rs.lapan.go.id/SIMBA. Data tersebut diperbarui setiap hari.
âKami juga membuat laporan bulanan dan tahunan yang kemudian dikirim ke instansi terkait,â ujarnya lebih lanjut.
Data yang disediakan
tidak hanya soal kerusakan lahan, tetapi juga prakiraan cuaca dan titik-titik api pemicu kebakaran hutan. Bahkan, Lapan sudah menggabungkan data sumber daya alam suatu daerah dengan cuaca dan iklim.
Hasilnya adalah suatu peta sistem peringatan dini dengan daerah warna biru sebagai cekungan yang rawan genangan serta daerah dengan kelap-kelip merah sebagai gabungan daerah biru dengan kondisi cuaca dan iklim, termasuk curah hujan.
Belum proaktif
Meski Lapan memiliki data- data penginderaan jauh yang berasal dari stasiun Bumi di Jakarta, Pare-pare, dan Biak, Ratih mengakui pihaknya memang tidak bisa proaktif karena khawatir bersinggungan dengan wewenang instansi lain.
Padahal data yang diolah sangat
lengkap, mulai dari prediksi banjir, longsor, awal tanam, areal perkiraan panen, hingga berkurangnya tutupan lahan.
Saat ini baru Departemen Kehutanan yang sudah menjalin kerja sama dengan Lapan.
âMereka mengajak kami dan Fakultas Kehutanan IPB memetakan dan merehabilitasi hutan bakau di seluruh Indonesia, juga membangun sabuk hijau untuk kawasan Nanggroe Aceh Darussalam pascatsunami,â kata Ratih.
Dengan Departemen Pertanian kerja sama untuk memprediksi kekeringan sawah, tetapi mencakup Pulau Jawa.
Adapun pemerintah daerah yang sudah melibatkan Lapan dalam inventarisasi sumber daya alam dan upaya penataan ruang adalah Riau, Jawa Barat, dan Jawa Timur.
âKami memberi memberi data dan mereka yang kemudian mengolahnya menjadi kebijakan daerah,â ujarnya. (gsa/nes)
Yahoo! Photos
Ring in the New Year with Photo Calendars. Add photos, events, holidays, whatever.
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
SPONSORED LINKS
| Religion and spirituality | Spirituality |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
