Namo Buddhaya,

Sdr. Ika Polim yang budiman, 

Saya akan coba mengulas sedikit mengenai pertanyaan saya dengan 
berbekalkan pengetahuan saya yang rendah ini:

>    
>   a. Pada Masa Pangeran Siddharta Gotama Melakukan "Pencarian 
Luhur Nya" Sampai Dengan Pencapaian Penerangan Sempurna Nya , Buddha 
Siapa Yg Sedang Tugas Di Dunia Saha Ini ?

TAN:

Pada zaman itu, ajaran Buddha sebelumnya sudah habis. Sehingga tidak 
ada lagi Buddha yang "bertugas" di dunia Saha ini. Memang menurut 
kosmologi Buddhis, ajaran Dharma suatu saat akan dilupakan orang, 
dan pada saat itu seorang Buddha "baru" akan terlahir di dunia Saha 
ini. Untuk jelasnya silakan baca buku "Once Upon a Future Time." 
Yang mengisahkan konsep India tentang waktu yang circular.

>    
>   b. Tepat Setelah Shakyamuni Buddha Mencapai Penerangan Sempurna 
Nya & Menikmati Pengetahuan Tertinggi Tsb, Beliau Tersirat Tidak Ada 
Niatan Utk Membabarkannya Bagi Manusia Maupun Segala Mahluk (karena 
terkesan sangat sulit dipahami & sgt halus utk para mahluk awam) 
sampai membuat Dewa Sahampati 
>   (yg membaca pikiran Shakyamuni Buddha seperti itu) hadir 
langsung ke hadapan Beliau guna Memohon Serta Membujuk Agar 
Pengetahuan Tertinggi Nya Di babarkan Kpd Seluruh Mahluk Awam: 
Bagaimana Pandangan Bro & Sis Mengenai Hal Ini, Apakah Stuju Klo 
Dikatakan Bahwa Pada Detik Menentukan Itu Shakyamuni Buddha Masih 
Memiliki Sedikit "Debu" ?? Maaf ! Klo Pertanyaan INi "Menggangu Anda 
Semua Namun Tlg Klarifikasi Seandainya Sy Keliru !!
> 
TAN:

Penjelasan atau jawaban hal ini, sebenarnya telah ada dalam Sutra 
Upaya Kausalya. Buddha hendak memberikan kesempatan pada Brahma 
Sahampati untuk berbuat kusala karma yang besar, yakni dengan 
memberinya kesempatan untuk memohon agar Buddha bersedia membabarkan 
Dharma. Secara logika, seorang dewa tidak mungkin dapat membaca 
pikiran seorang Buddha, kecuali kalau Buddha itu sendiri 
yang "mentransmisikan" pikirannya pada makhluk suci tersebut. Jadi 
hal ini tidak dapat dikatakan bahwa Buddha Sakyamuni masih memiliki 
debu. Saya tidak yakin bahwa jawaban ini dapat memuaskan Anda, 
tetapi setidaknya ada jawaban bagi pertanyaan semacam ini dalam 
Sutra Pitaka. Memang dalam tradisi Mahayana, Buddha sering 
pula "mentransimisikan" pikiranNya pada para Bodhisattva agar mereka 
mengajukan pertanyaan-pertanyaan tertentu demi kemaslahatan semua 
makhluk.
Kedua, mungkin saja kisah ini adalah sisipan generasi Buddhis 
belakangan, agar kita menyadari bahwa berjumpa Dharma itu sungguh 
sesuatu yang sangat sulit. Hampir2 saja kita tidak dapat berjumpa 
dengan Dharma, bila pada detik yang menentukan itu, Brahma Sahampati 
tidak memohon pada Buddha. Karena itu, pesan moral kisah di atas, 
adalah anjuran bahwa kita menghargai Dharma. Kita hendaknya 
bersyukur bahwa kita dapat berjumpa dengan Dharma, yang indah pada 
awalnya, indah pada bagian tengahnya, serta indah pada bagian 
akhirnya. Meskipun kisah ini hanya sisipan, tetapi tetap saja 
memiliki maknya yang mendalam, sebagaimana halnya kisah2 Jataka.
Ketiga, berdasarkan Sutra Damamuka Nidana (Sutra Orang Bijaksana dan 
Orang Bodoh), maka tanpa permohonan Brahma Sahampati itu, kita tidak 
akan dapat mendengar 52 kisah Jataka yang sungguh indah.

Demikianlah sedikit pendapat saya. Semoga dapat membawa manfaat.

Salam metta,

Tan







------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke