17 Januari
Siapakah engkau (yang tetap berada) di dalam
istanamu? Demikian dikatakan ketika Sang Guru sedang
berdiam di Savatthi, berkenaan dengan peti yang
berkepala gundul.
Dikatakan bahwa dahulu kala di Benares ada seorang
pelacur yang amat cantik dan menarik di pandang mata.
Dia amat elok dan beruntung memiliki kulit yang amat
indah dan rambut ikal yang amat menawan. Rambutnya
hitam dan panjang, lembut, halus, licin, dan ujungnya
bergelombang. Bila dilepas dari gulungannya, rambutnya
terurai sampai ke pinggang. Bila memandang rambutnya
yang indah, hampir semua laki-laki yang ada di sana
jatuh cinta kepada pelacur itu. Tak tahan melihat
rambut yang indah itu, beberapa wanita yang dikuasai
rasa dengki mengadakan pertemuan bersama dan kemudian
menyuap pembantunya agar memberikan ramuan yang
menyebabkan rambut wanita itu rontok. Dikatakan bahwa
pembantunya menyiapkan ramuan itu di dalam serbuk
mandinya yang kemudian diberikan pada waktu dia sedang
mandi di sungai Gangga. Dia membasahi rambutnya sampai
ke akar-akarnya dan kemudian membilasnya ke dalam air.
Tak lama setelah dia membilas rambutnya, rambut itu
rontok di akarnya sehingga kepalanya mirip labu pahit.
Maka karena kepalanya gundul tanpa rambut sama sekali
dan dia kelihatan amat tidak menarik bagaikan burung
dara yang kepalanya dicabuti bulunya, dia merasa
terlalu malu untuk masuk kota. Lalu dia menutupi
kepalanya dengan sehelai kain dan pindah untuk berdiam
di suatu tempat di luar kota. Setelah selang waktu
beberapa hari, rasa malunya meninggalkan dia dan dia
memeras biji wijen serta mencari nafkah dengan
berdagang minyak dan minuman keras. Suatu ketika,
ketika dua atau tiga pemabuk tertidur lelap, dia
mencuri pakaian mereka yang sedang tergantung. Pada
suatu hari dia melihat seorang Thera yang telah
menghancurkan asava-asavanya berkeliling untuk
mengumpulkan dana makanan. Dengan bakti di dalam hati,
dia mengajak Thera itu ke rumahnya, mempersilakan
bhikkhu itu duduk di tempat yang ditunjukkan dan
kemudian memberinya kue-minyak yang terbuat dari biji
wijen yang ditumbuk dan dicelup di dalam minyak. Thera
tersebut, karena merasa kasihan padanya, menerima dan
makan kue itu. Sementara itu, wanita itu berdiri
dengan penuh rasa bakti sambil memegangi penghalang
sinar matahari di atas bhikkhu itu. Sang Thera
menunjukkan penghargaan yang mengembirakan hati wanita
itu dan kemudian pergi. Ketika Thera itu menunjukkan
penghargaannya, pada saat yang bersamaan wanita itu
juga mengucapkan suatu harapan, Semoga rambutku
menjadi panjang, lembut, licin, halus dan bergelombang
di ujungnya! Pada waktunya kemudian dia meninggal dan
sebagai akibat dari perbuatan-perbuatannya yang baik
dan buruk, dia lahir kembali sendirian di sebuah
istana keemasan di tengah laut. Rambutnya persis
seperti yang dia inginkan, tetapi dia telanjang karena
telah mencuri pakaian-pakaian para pria. Berkali-kali
dia muncul di istana keemasan itu dalam keadaan
telanjang, dan melewatkan satu masa jeda-Buddha
disana. Kemudian ketika Sang Buddha Gotama muncul di
dunia dan telah memutar Roda Dhamma yang Agung dan
akhirnya tinggal di Savatthi, sebanyak seratus
pedagang, penghuni Savatthi, pergi dengan kapal
mengarungi lautan yang luas menuju ke Suvannabhumi.
Kapal yang mereka tumpangi terombang-ambing karena
dihempas angin yang keras dan hanyut ke sana kemari,
sampai akhirnya tiba di tempat itu. Maka vimanapeti
itu mengungkapkan diri dan istananya kepada mereka.
Ketika ada pedagang senior yang melihat vimanapeti
itu, dia mengucapkan syair ini untuk bertanya:
Siapakah kamu yang tetap berada di dalam istanamu,
dan tidak keluar? Keluarlah, wahai sahabat, biarlah
kami melihat kamu berdiri di luar.
Karena telanjang, aku (terlalu) sedih dan malu
untuk keluar; aku tertutup (hanya) oleh rambutku
hanya sedikit perbuatan-perbuatan baik yang telah
kulakukan.
Kemarilah, aku akan memberi kamu bajuku --
pakailah baju ini. Setelah kamu memakai baju ini, lalu
keluarlah wahai gadis cantik. Keluarlah, sayang,
biarlah kami melihat kamu berdiri di luar.
Sambil berkata demikian, dia mempersembahkan kepada
peti itu baju luarnya. Peti itu mengucapkan dua syair
ini untuk menunjukkan bahwa apa yang diberikan dan
cara seperti itu tidak akan memberi dia manfaat, serta
menunjukkan cara agar barang-barang yang diberikan
dapat memberikan manfaat baginya:
Apa yang diberikan oleh tanganmu ke dalam tanganku
tidak ada manfaatnya bagiku. Tetapi umat awan di sini
ini memiliki keyakinan dan merupakan seorang savaka
dari Buddha yang Sempurna;
Setelah memberikan pakaian kepada beliau,
tunjukanlah dana itu bagiku. Maka aku akan berbahagia
dan dapat memperoleh apapun yang kuinginkan.
Mendengar hal ini, para pedagang kemudian
memandikan dan meminyaki umat awam itu dan kemudian
memberikan sepasang baju luar. Mereka mengulang teks
itu kemudian mengucapkan tiga syair ini untuk
menjelaskan perihal ini:
Para pedagang itu memandikan dan meminyaki dia
serta memberinya pakaian-pakaian itu dan menujukan
dana itu kepada peti tersebut.
Segera setelah mereka mempersembahkan ini, hasilnya
pun menjelma makanan, pakaian dan minuman yang
merupakan buah dari dana ini.
Maka peti itu menjadi murni, terbungkus pakaian
yang bersih dan segar, mengenakan pakaian yang lebih
halus daripada pakaian Kasi dan meninggalkan istananya
sambil tersenyum (untuk menunjukkan), Inilah buah
dari danamu,
Ketika para pedagang itu melihat sendiri buah dari
perbuatan baik mereka, hati mereka amat takjub dan
heran, dan mereka dipenuhi dengan rasa hormat dan
penghargaan kepada umat awam itu. Mereka pun
memberikan penghormatan kepadanya dengan anjali. Umat
awam itu membuat bakti mereka lebih dalam lagi lewat
pembicaraan mengenai Dhamma dan memantapkan mereka ke
dalam Peraturan dan Perlindungan. Kemudian mereka
bertanya kepada vimanapeti tentang perbuatan yang
telah dilakukannya lewat syair ini:
Istanamu yang dicat indah, yang berkilau tampak
bersinar, Oh devata, kami mohon beritahukanlah kepada
kami perbuatan apakah yang membuahkan ini.
Ketika ditanya demikian, peti tersebut mengatakan
tiga syair ini memberitahukan mereka bahwa (istana)
itu merupakan buah dari perbuatan baik sepele yang
telah dilakukan, dan bahwa di masa depan, akan ada
(buah) perbuatan tidak baik sebagaimana terdapat di
neraka:
Kepada seorang bhikkhu pengembara yang lurus, aku,
dengan hati yang tulus, telah memberikan kue minyak.
Sebagai akibat dari perbuatan yang baik itu, untuk
waktu yang lama aku bersenang-senang di dalam istana
ini, tetapi sekarang hanya tinggal sedikit.
Setelah empat bulan kematianku akan tiba dan aku
akan jatuh ke dalam neraka yang amat kejam dan
mengerikan:
Bersudut empat dan dengan empat pintu, neraka
terbagi menjadi bagian-bagian yang sama, dikelilingi
oleh dinding besi dengan atap besi diatasnya;
Lantainya yang menyala terbuat dari besi yang
membara ke sekeliling sejauh seratus yojana lantai
itu terbentang, selamanya berdiri.
Di sana untuk waktu yang lama kau akan mengalami
perasaan-perasaan yang menyakitkan sebagai buah dari
perbuatan-perbuatan jahatku karena alasan inilah aku
merasa amat sedih.
Setelah peti itu menjelaskan tentang buah dari
perbuatannya serta kehidupannya di masa mendatang di
neraka, hati umat awam itu tergugah dengan welas asih,
dan karena berpikir bahwa dia mungkin dapat menjadi
(sarana) penopang bagi peti itu, dia berkata, Hanya
dengan satu pemberian saja kepadaku, O devatta, engkau
akan dapat memiliki secara melimpah segala yang engkau
inginkan dan bersatu dengan kemuliaan yang agung ini.
Jika sekarang engkau memberikan hadiah kepada
umat-umat awam ini dan mengingat kembali
keluhuran-keluhuran Sang Guru, engkau akan terbebas
dari keharusan muncul di neraka. Peti itu amat
gembira dan mengatakan, Baiklah, dan membuat mereka
kenyang dengan makanan dan minuman surgawi serta
memberi mereka pakaian-pakaian surgawi dan berbagai
jenis permata. Kemudian peti itu menyerahkan ke dalam
tangan mereka sepasang jubah surgawi khusus untuk Sang
Buddha dan menyampaikan penghormatan ini. Jika kalian
sampai di Savatthi, tolong sampaikan hormatku kepada
Sang Guru dengan pesan ini dariku: Bhante satu
makhluk vimanapeti menghormat Yang Mulia dengan
kepalanya di kaki Yang Mulia. Lalu peti itu membawa
kapal mereka ke pelabuhan yang mereka inginkan pada
hari itu juga lewat kekuatan supranormal dan
kehebatannya. Dari pelabuhan itu akhirnya para
pedagang sampai ke Savatthi dan masuk ke hutan Jeta.
Mereka memberikan kepada Sang Buddha sepasang jubah
itu dan setelah mereka menyampaikan pesan dari peti
itu mereka mengajukan seluruh persoalan itu sebagai
munculnya kebutuhan dan mengajarkan Dhamma secara
rinci kepada kelompok yang berkumpul di sana. Ajaran
itu bermanfaat bagi orang-orang yang berkumpul di
sana. Pada hari berikutnya para umat awam itu
memberikan dana makanan melimpah kepada Sangha bhikkhu
dengan Sang Buddha sebagai pimpinannya dan kemudian
menunjukan dana ini kepada peti itu. Ketika peti itu
jatuh dari alam peta, dia lahir spontan di istana
keemasan di alam Tiga Puluh Tiga Dewa, dilengkapi
dengan berbagai permata dan dengan seribu bidadari
sebagai pengiring.
(Petavatthu1; Cerita-cerita makhluk Peta)
(I.10 Penjelasan Mengenai Cerita Peta Berkepala
Gundul)
(Khallatiyapetavatthuvannana)
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya
maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta
kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas
dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua,
para guru, serta sahabat-sahabat kami **
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/