Rekonstruksi Sosial Bangsa Asia
Putu Fajar Arcana
Selepas perang, problem terbesar yang dihadapi bangsa-bangsa Asia adalah ketimpangan sosial, yang didorong oleh percepatan pembangunan ekonomi. Sementara pada fase berikutnya, ketika teknologi informasi merembes ke segala sisi kehidupan masyarakat,
masalah-masalah seperti penghambaan diri di bawah kaki-kaki teknologi menjadi problem yang nyaris tak terpecahkan.
Dua problematika itulah yang dijadikan tema besar dalam Pameran Kartun Asia, 11-27 Januari 2006, yang diselenggarakan The Japan Foundation di Jakarta. Tema pertama dikristalkan dalam ungkapan Arti Kehidupan, sedangkan tema kedua beranjak dari pertanyaan, bagaimana teknologi informasi di Asia?. Lembaga ini menyelenggarakan pameran kartun sejak tahun 1995 sebagai wahana memperkenalkan masyarakat Asia.
Bagi bangsa Indonesia, kedua problem tadi seakan saling belit satu sama lain. Ketika benang kusut ketimpangan ekonomi belum diberesi, kita sudah dihadapkan pada persoalan kecintaan membabi buta terhadap teknologi. Dua kartunis Indonesia, Muhammad Najib dan Wahyu Kokkang, menangkap persoalan tersebut secara baik.
Najib memotret kehidupan sebuah keluarga yang tinggal di rumah kardus sedang menyeringai memandang keluar jendela. Pada bingkai jendela yang terbuka terlihat bulan sabit, di bawahnya puncak Monumen Nasional (Monas) serta gedung-gedung. Karya ini barangkali sama sarkastiknya dengan goresan Kokkang yang memperlihatkan seseorang yang berusaha minta tolong sebelum tenggelam ke dalam air. Seorang penolong hanya menyabet telepon genggam dari tangan korban. Bisalah dibayangkan betapa tidak berharganya nyawa ketika berhadapan dengan sebuah telepon. Jangan-jangan ini menjadi kecenderungan cara pandang manusia Indonesia terhadap pencapaian teknologi informasi.
Kesetanan
Dalam skala berbeda, ketika percepatan ekonomi terus-menerus digenjot untuk mengejar ketertinggalan bangsa Vietnam dari
bangsa lain di Asia, orang-orang lalu bekerja seperti kesetanan. Secara cerdik dan penuh sindiran, kartunis asal Vietnam, Dad, merekam itu dengan melukiskan seorang karyawan kantoran sepulang dari bekerja. Ketika mengguyur badannya dengan air di kamar mandi, seluruh pakaian kerjanya lumer ke lantai.
Cara ini sangat khas untuk menyindir betapa orang Vietnam sekarang begitu gila kerja, sampai di kamar mandi pun mereka seolah sedang bekerja. Barangkali dengan cara itulah negeri yang belum lama terbebas dari perang itu memiliki pertumbuhan ekonomi yang menggembirakan.
Singapura dan Jepang mungkin bisa kita kategorikan sebagai bangsa yang telah bergelimang kemakmuran. Tetapi bukan berarti mereka terbebas dari persoalan sosial. Di mata kartunis Lee Chee Chew, Singapura sedang berada di gerbang keterputusan generasi. Rata-rata orang dewasa sudah enggan
menikah, emoh juga memiliki keturunan. Belakangan negeri ini menghadapi situasi ketakutan kehilangan generasi penerus. Ini menjadi ekses terbesar dari pencapaian materialisme, di mana manusia tak mau dipusingkan dengan urusan-urusan domestik keluarga.
Di mata kartunis Tokoro Yukiyoshi, Jepang sedang berada di puncak ketakutan yang diciptakannya sendiri. Gedung-gedung menjulang sebagai pengejawantahan dari pencapaian ekonomi, menjadi titik balik bagi anak-anak di negeri itu. Anak-anak yang teralienasi dengan lingkungan akibat kesibukan orangtua, memilih terjun bebas dari gedung-gedung yang tadinya menjadi simbol pencapaian tingkat ekonomi itu.
Tokoro menggambarkan betapa takutnya tiga orangtua ketika mendaki sebuah gedung, sementara seorang anak terjun bebas sebagai burung yang melayang.
Kartunis India Posa Surendranath Reddy seolah mengingatkan bahwa pada suatu masa pencapaian teknologi informasi bisa menjauhkan manusia dari rasa kemanusiaannya sendiri. Dua orang yang janjian makan siang lewat telepon genggam, pada akhirnya sampai di meja makan pun tetap asyik dengan telepon. Jadi untuk apa makan siang bersama?
Di lain waktu ia gambarkan seorang anak sedang belajar membaca di pangkuan ayahnya. Tak berapa lama, ketika mengenal laptop ia malah menjauh dari ayahnya. Reddy lalu menyelipkan pertanyaan,Is laptop better than Dads lap? Pertanyaan yang sederhana, tetapi menggelitik kita untuk mempertanyakan ulang kehadiran teknologi di tengah-tengah kehidupan manusia.
Lewat sekitar 168 karya puluhan kartunis Asia sesungguhnya tidak sekadar membaca fenomena sosio-kultural yang melingkungi hidup mereka sehari-hari, tetapi sekaligus
melakukan rekonstruksi sosial atas realitas yang makin absurd dari kehidupan manusia modern. Rekonstruksi itu diharapkan melahirkan satu kesadaran bersama bahwa hidup telah sebegitu jauh dikendalikan oleh ambisi manusia untuk mempermudah kehidupannya sendiri.
Bahwa aplikasi terhadap pencapaian ekonomi dan teknologi sering kali justru membuat ketimpangan yang makin memerosokkan manusia ke dalam ketakberdayaan. Ia tidak lagi berperan sebagai subyek yang aktif, tetapi adalah obyek yang terombang-ambing di tengah-tengah badai penemuan akibat kemajuan ilmu pengetahuan.
Dalam situasi itu kartun hadir sebagai kekuatan pengontrol yang kritis, tidak tendensius tetapi menghadirkan senyum. Dan senyum itu lahir dari perasaan tersindir yang diam-diam kita akui sendiri kebenarannya....
Yahoo! Photos
Got holiday prints? See all the ways to get quality prints in your hands ASAP.
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
