Politika
Globalisasi Indonesia
Di luar soal pro atau kontra, rencana penerbitan majalah Playboy edisi Indonesia memperlihatkan fenomena globalisasi bisnis media massa. Pada edisi 2 Januari 2006, International Herald Tribune menulis Playboy Enterprises Incorporated (PEI)
ingin memanfaatkan potensi pasar yang menggiurkan di mancanegara.
Data dari lembaga pengamat masalah terkenal, International Federation of the Periodical Press (IFPP), menunjukkan bahwa Playboy terbitan Amerika Serikat (AS) merupakan majalah hiburan terlaku di sana dengan sirkulasi 3,150 juta kopi. Sebagai perbandingan, majalah berita Time dicetak 4,1 juta eksemplar di AS saja.
Sirkulasi Playboy bahkan masih jauh lebih besar dibandingkan dengan total sirkulasi tiga majalah pesaingnya sekaligus, yakni Esquire, GQ, dan Rolling Stone. Majalah dengan harga jual untuk orang-orang berduit itu dibaca oleh hampir sepuluh juta orang di Negeri Paman Sam.
Selain itu, Playboy diterbitkan di 17 negara dan dibaca oleh sekitar 15 juta orang di berbagai belahan dunia. Keuntungan penjualan
internasional yang meningkat sampai 13 persen (2004) tentu menjadi faktor penting untuk meluaskan jaringan.
Maka mereka masuk ke India, yang merupakan pasar kedua terbesar setelah China dengan jumlah pembaca majalah 200 juta dan jumlah majalah terjual 79 juta kopi. Nilai iklan di sektor media massa cetak di India mencapai 1,5 miliar dollar AS per tahun dan akan terus berkembang.
Di negerinya sendiri Playboy mulai kehilangan pasar, yakni sekitar satu persen pada tahun 2004 dan diperkirakan akan turun terus. Imperial presidency ala Presiden George W Bush dan kelompok konservatif yang gencar mengampanyekan nilai-nilai agama menjadi penyebab penurunan.
Dan sebenarnya perang terhadap pornografi di AS sudah lama dilancarkan oleh pemerintah demi pemerintah. Alhasil, di beberapa negara
bagian Playboy dan majalah-majalah sejenisnya dibungkus plastik hitam serta cuma boleh dijual di toko-toko khusus.
Sekali lagi, masalah pro dan kontra bukan maksud ulasan ini. Lebih penting dikemukakan, kasus Playboy merupakan salah satu risiko dari era globalisasi.
Globalisasi di sektor media massa tampak jelas dari masuknya modal mogul pers dunia, Rupert Murdoch, ke stasiun televisi ANTV. Di mal maupun di pinggir jalan Anda dengan mudah akan menemukan berbagai jenis majalah perkawinan modal lokal dengan internasional.
Globalisasi seperti burung alap-alap yang siap memangsa kita setiap saat. Mungkin karena kita cepat teperdaya, atau karena kita memang sulit diatur, pesta globalisasi yang paling meriah selalu terjadi di negeri ini.
Dulu waktu Orde Lama tersingkir utang luar negeri kita hanya 7,5 miliar dollar AS. Sebenarnya Bung Karno yang ahli globalisasi ideologi agak takut kepada globalisasi dan karena itu setiap ada kesempatan ia berteriak lantang, Go to hell with your aid.
Dan benar, yang dikhawatirkan Bung Karno akhirnya terjadi. Siapa mengira hanya dalam waktu sekitar 40 tahun utang luar negeri kita menjadi sekitar 50 kali lebih besar?
Globalisasi berubah menjadi ketergantungan. Elite kekuasaan di negara-negara tengah (centers) mengibuli elite negara-negara pinggiran (peripheries) serta rakyatnya sekalian.
Globalisasi terjadi ketika masuknya Mafia Berkeley, Dana Moneter Internasional, Bank Dunia, IGGI, dan mereka yang promodal asing. Globalisasi adalah penjualan sumber-sumber
alam dan harga diri kita sampai kering kerontang.
Pecahnya kerusuhan 15 Januari 1974, yang dikenal dengan peristiwa Malari, juga karena globalisasi. Sumber gara-gara termasuk juga persaingan antardua kelompok yang mewakili negara tengah, AS dan Jepang, yang berebut pasar di sini.
Bukan cuma di urusan bacaan, globalisasi malah sudah mengatur hidup kita sehari-hari. Jika orang-orang kota doyan makan di restoran-restoran cepat saji franchised dari AS atau Jepang, maka orang-orang di desa menikmati film-film Mandarin atau India.
Waktu kecil, tahun 1960-an, jajanan pulang sekolah terbatas pada permen asem atau kerupuk warna-warni yang berformalin. Sekarang banyak nyamikan anak-anak buatan perusahaan asal Swiss, Nestle, atau es krim Haagen Dazs.
Globalisasi membuat industri otomotif kita belum juga maju. Meskipun sudah mulai sejak awal tahun 1970-an, sampai kini kelasnya masih kelas Toyota Kijang full pressed body.
Globalisasi menghasilkan deretan gedung perkantoran mewah di sepanjang Jalan Thamrin, Jalan Jenderal Sudirman, dan Jalan HR Rasuna Said. Namun, jangan-jangan semuanya itu bukanlah milik kita.
Apa makna globalisasi bagi kita? Artinya tak lebih tak kurang sama seperti peristiwa tewasnya Putri Diana.
Perempuan Inggris itu bersama pacarnya yang asal Mesir mengalami kecelakaan di terowongan buatan Perancis. Mereka menaiki sedan buatan Jerman, yang mesinnya dirakit di Belanda, yang disopiri orang Belgia yang sedang mabuk setelah menenggak wiski bermutu tinggi buatan
Skotlandia.
Mobil naas itu diikuti wartawan Italia yang bermotor buatan Jepang. Diana dan pacarnya dirawat seorang dokter asal AS, yang dengan cepat menangani mereka dengan obat-obatan buatan Brasil.
Lelucon ini beredar luas di internet yang harus dipantau melalui komputer dengan monitor buatan Korea dan dengan chips buatan Taiwan. Komputer Anda dan saya bukan tak mungkin dirakit orang-orang Banglades yang bekerja di Singapura.
Akhir cerita? Perangkat-perangkat lunak komputer globalisasi itu ternyata dibajak oleh kita orang Indonesia.
Yahoo! Autos. Looking for a sweet ride? Get pricing, reviews, & more on new and used cars.
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
SPONSORED LINKS
| Religion and spirituality | Spirituality |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
