Yah, itulah kenyataan dalam kehidupan kita sehari
hari. Yang saya bingung adalah ada beberapa gelintir
orang Buddhist yang sudah sangat tidak melekat
(katanya) sehingga anaknya secara sadar dimasukkan
kesekolah kristen or katholik. Dia bilang " Mau
kristen, mau Islam, mau Katholik kaga apa apa. Yang
penting pikirannya Buddhist ". ASTAGA, setuju banget
tapi tidak untuk anak anak yang belum mengerti apa
apa. Kalau dirumah dia bisa mendidik anaknya secara
Buddhist sih ok ok saja tapi komunitas kan lebih
menentukan perkembangan dari si anak itu sendiri.
Tidak semua orang Buddhist bisa berkomunikasi baik dgn
anaknya. Krn sayang, terkadang kita jadi suka ngatur,
suka cela dsbnya dan anak jadi kesal. Sudah pasti si
anak pasti lebih nyaman dg temannya. so Good bye
pelajaran Buddha dirumah.

Hm, jadi orang baik ok, jadi orang yg penuh welas asih
- ok, Jadi apapun juga ok tapi pakailah sedikit
kebijaksanaan dan jangan terlalu hafal konsep " tidak
melekat ". 

Mungkin Sdr/i sedhamma bisa memberi masukkan. Terus
terang aku tidak bisa menemukan jawaban yang baik
untuk temanku ini. Dia HAFAL ajaran Buddha jadi semua
penjelasanku di balas dengan kalimat2 yg dia kutip dr
Dhammapada. Intinya, aku ini seolah olah jadi orang
yang aneh di depan matanya, kaga ngerti intisari
ajaran Sang Buddha. " JANGAN MELEKAT ". lem kali.
  
Terakhir kali bertemu dengannya, aku hanya bilang,
terserah sama kamu, wong itu anakmu kok. Hanya saja
aku titip pesan, bila suatu hari nanti anakmu
mempunyai pikiran yang sangat bertolak belakang
denganmu, kamu tidak perlu berdebat dengannya krn kamu
yang menyebabkannya.

Tahu dia bilang apa? Don't worry, klo orang sudah
ngerti Dhamma, tidak akan mudah terpancing emosi untuk
berdebat yang tidak ada gunanya. Klo sdh bisa melihat
dengan mata Dhamma maka agama itu cuma nama ato
istilah. ASTAGA itu mah aku tahu, aku angkat tgn dan
kaki dah. 

Dlm hati aku cuma bilang, semoga anda punya karma
baik. Semoga pikiranku yang salah. 

Salam,
 



 
> hal seperti ini  sampai jaman sekarang juga masih
> sering terjadi dalam
> lingkungan buddhis, walaupun tidak dalam skala besar
> seperti kerajaan
> majapahit, tapi banyak terjadi dalam lingkungan
> keluarga buddhis jaman
> sekarang.
> 
> dimana agama orangtua ( buddhis) akhirnya digusur
> oleh agama anak,
> mungkin ini juga kekeliruan orangtua yang
> menyerahkan pendidikan dan
> perkembangan anak kepada kelompok misionaris agama
> lain, 
> 
>     seperti Raja Brawijaya membiarkan Raden Patah
> dibesarkan oleh 
>     pamannya yang bukan buddhis di sumatera,
> berlanjut menjadi murid 
>     para wali, yang kemudian mengkompori Raden
> Patah, untuk menggulingkan 
>     Raja Brawijaya yang Buddha dan menggantikannya
> dengan kerajaan Islam.
> 
> 
> sehingga akhirnya anak-anak dari keluarga buddhis di
> doktrinasi dengan
> pemikiran agama lain, bahkan menjadi sangat fanatik
> terhadap agama
> lain, yang kemudian berusaha menyingkirkan suasana
> buddhis dalam
> keluarganya, bahkan sampai mempengaruhi dan memaksa
> orangtua agar
> berpindah agama.
> 
>     seperti yang dilakukan Raden Patah yang kemudian
> memaksa Raja
>     Brawijaya berpindah agama meninggalkan agama
> Buddha.
> 
> mungkin orangtua buddhis harus introspeksi, untuk
> memperhatikan
> pendidikan agama anak-anaknya sejak dini, 
> 
> 
> 
> 
> 
> >   Abdi Majapahit Sabdapalon (makhluk halus
> pelindung Jawa) bersumpah
> bahwa 500 tahun kemudian kejayaan Majapahit akan
> bersinar kembali.
> >   Saya kira kalau buddhist berkembang lagi,
> Indonesia akan berjaya
> kembali seperti Majapahit
> > 
> >   
> 
> 
> 
> 
> 
> 


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke