Cuaca, Kerusakan dan Sikap
Inilah persoalan yang sedang kita hadapi. Musim hujan lebat, merata, disertai angin kencang. Ekologi menunjuk hutan, sungai, dan permukiman yang rentan.
Sikap menyangkut pertanyaan, bagaimana warga, pemerintah, dan kita menyikapinya. Hampir seluruh Pulau Jawa tertimpa banjir, menerjang
permukiman, jalan, dan sawah. Pengungsi dan penderitaan di mana-mana. Jalan putus menghambat transportasi barang dagangan dan kebutuhan masyarakat. Sawah pun rusak, panen terancam gagal di beberapa tempat.
Pulau Jawa bukan saja tempat hunian sebagian besar rakyat, tetapi juga pusat dan sumber kegiatan ekonomi. Bisa kita bayangkan akibatnya yang buruk bagi Indonesia jika produksi dan distribusi ekonomi Jawa terganggu.
Pemerintah dan kita masyarakat dibuat serba sibuk. Satu bencana belum selesai ditangani, keburu disusul bencana baru. Sesibuk apa pun dan terbatas macam apa pun, pemerintah di Jakarta dan di daerah wajib memberikan bantuan dan pendampingan. Turun tangan itu belum terlalu tampak menghadapi bencana ini.
Bukan saja pemerintah, juga organisasi kemasyarakatan kurang tampak.
Inilah kesempatan kita bangkit mewujudkan kesetiakawanan. Bukan saja rumah warga rusak, sumber penghasilan dan pekerjaan hilang, tetapi sekaligus jalan rusak, jembatan putus, dan sawah terlanda banjir. Mobilitas warga dan ekonomi terganggu.
Kita pun bertanya, cuaca buruk seperti kita alami bulan-bulan ini, hanya berlaku sekali ini atau telah merupakan pola yang lebih tetap bagi kondisi ekologi Indonesia? Persoalan ini mendasar. Bahkan, bertubi-tubi cuaca buruk dan rawannya kondisi ekologi hutan, sungai, serta permukiman sudah menggugat kita.
Pada bangsa-bangsa yang hidup dalam empat musim (dingin, semi, panas, dan gugur) sudah dari sononya mau tidak mau sejak kecil di keluarga, sekolah, dan masyarakat belajar dan bersikap proaktif terhadap alam. Siap menghadapi musim dingin, panas, semi dan gugur.
Kita yang hidup dalam dua musim, hujan dan panas, cenderung bersikap dimanja. Bahkan, sempat membuat ilmuwan seperti Gunnar Myrdall berpendapat, ramah dan baiknya alam ikut memberikan tumbuhnya sikap masyarakat bangsa sebagai soft state, negara lunak.
Bagaimanapun, gangguan dan rusaknya ekologi telah dan sedang menimpa kita, Indonesia. Tepat kebijakan ekologi juga telah merupakan kebijakan nasional kita. Namun, setiap kali ditunjukkan betapa lemah dan tidak efektifnya kita melaksanakan kebijakan itu. Padahal, untuk perubahan sikap dan pemahaman yang proaktif diperlukan kerja sama pemerintah, masyarakat, dan berbagai lembaga lain.
Kita bahkan sekaligus dihadapkan pada tantangan interaksi global yang akan tetap berat sebelah jika kita tidak memacu pengetahuan, pemahaman, dan sikap kita yang proaktif dan bekerja keras.
Bencana alam, kecuali penderitaan, setiap kali juga menantang kesadaran dan kebangkitan kita bersama.
Do you Yahoo!?
With a free 1 GB, there's more in store with Yahoo! Mail.
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
SPONSORED LINKS
| Religion and spirituality | Spirituality |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
