03 Februari

   'Di masa lalu, saya (memberi) kepada seorang
bhikkhu, kepada orang yang meninggalkan keduniawian.'
Inilah Cerita Peta Benang. Bagaimanakah ini bermula?

   Dikatakan bahwa lebih dari tujuh ratus tahun
sebelum Guru kita muncul ada suatu desa tidak jauh
dari Savatthi di situ seorang pemuda menopang seorang
Paccekabuddha. Ketika pemuda itu dewasa, atas namanya
si ibu mencarikan seorang putri dari keluarga
baik-baik dari suku yang setara kedudukannya. Tetapi
pada hari pernikahannya, ketika pemuda itu pergi
bersama beberapa teman untuk mandi, dia digigit ular
dan meninggal. Bahkan dikatakan bahwa hal itu terjadi
karena dia dirasuki oleh yakkha. Walaupun telah banyak
melakukan tindakan-tindakan terampil karena
dukungannya terhadap Paccekabuddha tersebut, tetapi
pemuda itu memiliki kemelekatan kepada gadis itu. Maka
ia muncul sebagai vimanapeta yang memiliki kekuatan
supranormal dan keagungan yang besar. Karena ingin
menjemput gadis itu ke istananya, vimanapeta itu
bertanya-tanya, Dengan cara apa dia bisa melakukan
suatu tindakan jasa yang dapat dialami di dalam
kehidupan ini juga dan bisa menikmati
kesenangan-kesenangan cinta denganku di sini?'
Sementara sedang mempertimbangkan bagaimana gadis itu
dapat mengalami hebatnya kenikmatan surgawi, dia
melihat seorang Paccekabuddha yang sedang membuat
jubah. Vimanapeta pun pergi menjelma dalam bentuk
manusia dan menghormat Beliau serta bertanya, "Apakah
bhante membutuhkan benang?' "Kami sedang membuat
jubah, umat awam' (beliau menjawab). Pemuda itu
menunjukkan rumah gadis tersebut sambil berkata,
"Kalau demikian, bhante seharusnya pergi dan minta
benang di tempat seperti itu.' Paccekabuddha itu pergi
ke sana dan berdiri di pintu rumah. Ketika gadis itu
melihat Paccekabuddha yang berdiri di sana, dia
menyadari bahwa yang mulia tesebut membutuhkan benang
darinya. Dengan bakti di hati dia memberikan segulung
benang kepada Beliau. Kemudian makhluk yang bukan -
manusia yang mengambil bentuk manusia tersebut pergi
ke rumah gadis itu, memohon kepada ibunya untuk
tinggal bersamanya selama beberapa hari. Untuk
membantu si ibu, vimanapeta tersebut mengisi seluruh
bejana di rumah mereka dengan uang dan emas serta
menuliskan namanya pada semua bejana itu sambil
berkata, "Kekayaan yang telah diberikan oleh para dewa
ini tidak boleh diambil oleh siapa pun', Kemudian dia
mengambil gadis itu dan pergi kembali ke istananya.
Ibunya, karena telah memperoleh kekayaan yang
melimpah, memberi sanak saudaranya, fakir miskin dan
gelandangan dll. Serta juga menggunakannya sendiri.
Ketika sedang sekarat, dia memberitahu sanak
saudaranya, ‘Jika putriku datang, tunjukkan padanya
kekayaan ini'. Tak lama kemudian dia meninggal.

   Tujuh ratus tahun kemudian setelah Guru kita muncul
di dunia dan memutar Roda Dhamma Nan Mulia pada saat
Beliau berdiam Savatthi, pada saat itu ketidakpuasan
muncul di dalam diri wanita yang sedang berdiam dengan
makhluk bukan-manusia itu. Dia berkata kepada
laki-Iaki itu, 'Tuanku, bawalah saya kembali ke
rumahku sendiri', dan kemudian mengucapkan syair-syair
ini:

   'Di masa lalu, saya memberikan benang kepada
seorang bhikkhu, kepada orang yang telah meninggalkan
keduniawian, yang datang dan minta kepadaku. Sebagai
akibat dari hal itu buah yang melimpah diterima dan
banyak koti pakaian telah muncul bagiku.

   Istanamu ditaburi bunga dan menyenangkan; istana
ini memiliki lukisan yang tak terhitung banyaknya dan
diurus oleh pria dan wanita. Saya telah menggunakannya
dan mengenakan pakaian-pakaian itu tetapi tetap saja
harta benda yang melimpah ini masih tidak habis.

   Jadi, sebagai akibat dari tindakan yang sama itu,
kebahagiaan dan kesenangan diterima di sini. Bila saya
telah kembali sekali lagi ke (alam) manusia, saya
bertekad untuk melakukan tindakan-tindakan berjasa.
Tolong antarkan saya, tuanku'.

   Ketika mendengar hal ini, vimanapeta itu tidak mau
pergi karena belas kasihan dan juga karena
kemelekatannya terhadap gadis itu. Dia mengucapkan
syair ini:

   'Tujuh ratus tahun sudah berlalu sejak engkau
datang ke sini. Engkau sudah tua dan lanjut usia di
sana dan semua sanak saudaramu sudah meninggal. Apa
yang akan
engkau lakukan jika engkau pergi ke tempat itu dari
sini?'

   Ketika dewa itu telah berkata demikian, sekali lagi
wanita itu berkata lewat syair ini, karena tidak
percaya pada apa yang dikatakan dewa itu:

   'Baru tujuh tahun sejak saya datang ke sini
diberkahi dengan kebahagiaan surgawi. Bila saya telah
kembali sekali lagi ke (alam} manusia, saya bertekad
melakukan tindakan-tindakan yang berjasa. Tolong
antarkan saya, tuanku.'

   Dia berbicara dengan cara ini karena tidak
menyadari bahwa banyak waktu yang telah lewat dan dia
telah diberkahi kebahagiaan surgawi selama tujuh ratus
tahun. Ketika dia telah berkata demikian, vimanapeta
tersebut menasihatinya dengan berbagai cara, 'Engkau
tidak akan hidup di sana lebih dari tujuh hari dari
sekarang. Ada kekayaan yang diberikan olehku dan
disisihkan oleh ibumu. Berikan kekayaan itu kepada
para petapa dan para brahmana dengan keinginan bahwa
engkau bisa muncul di sini.' Setelah vimanapeta itu
berkata demikian, dia memegang tangan wanita itu dan
menaruhnya di tengah desanya, setelah berpesan bahwa
dia harus mendesak orang-orang lain yang juga telah
datang ke sana untuk melakukan tindakan-tindakan
berjasa sesuai kemampuan mereka masing-masing,
vimanapeta kemudian pergi. Karena alasan inilah
dikatakan:

   Dia memegang tangannya dengan erat dan
membimbingnya kembali, tua dan renta, sambil berkata,
'Engkau harus memberitahu orang-orang lain yang juga
datang ke sini, "Lakukanlah tindakan-tindakan berjasa
maka kebahagiaan akan diterima."'

  Dikatakan bahwa begitu meninggalkan istana, wanita
itu menjadi tua, lanjut (dalam usia), dilanda
kerentaan, telah melewatkan masa hidupnya dan berada
di akhir hidupnya.

   Ketika vimanapeta tersebut telah mengatakan hal ini
dan pergi dari sana, wanita itu pergi ke tempat
tinggal sanak saudaranya dan memperkenalkan diri
kepada mereka. Dia mengambil kekayaan yang mereka
berikan, dan berdana kepada para petapa dan brahmana,
serta mendesak semua yang datang di hadapannya dengan
syair ini :

   'Para peta, demikian juga manusia, terlihat olehku
ketika mereka meratap karena belum melakukan apa yang
baik, seperti para dewa dan manusia, kelompok ini
terbentuk kokoh dalam kebahagiaan, karena telah
melakukan tindakan-tindakan yang akan dialami sebagai
kebahagiaan.'

   Setelah mendesak mereka demikian. dia mulai
memberikan dana besar-besaran kepada para petapa dan
brahmana yang berlangsung tujuh hari. Pada hari
ketujuh. dia meninggal dan terlahir di alam
liga-puluh-tiga dewa. Para bhikkhu mengajukan masalah
tersebut kepada Sang Buddha. Sang Buddha melihat
masalah itu sebagai suatu kebutuhan yang muncul dan
mengajarkan Dhamma kepada mereka yang berkumpul di
sana. Beliau secara khusus menjelaskan keuntungan yang
besar serta buah yang besar dari berdana yang
diberikan untuk menghormati para Paccekabuddha. Ketika
mendengar hal ini, mereka menjadi bebas dari noda
keegoisan dan bergembira dalam tindakan-tindakan
berjasa, seperti misalnya memberi dll.

(Petavatthu 2; Cerita-cerita makhluk Peta)
(11.11 Penjelasan Mengenai Cerita Peta Benang)
(Suttapetavatthuvannana)

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke