Etika Ekologi dalam Kitab Liji
Menggugah Kesadaran Lingkungan Hidup Berdasarkan Literatur 
Konfusianisme

Dewasa ini, lingkungan menjadi tidak bersahabat karena ulah manusia 
yang mengeksploitasinya secara tanpa batas. Banjir dan tanah longsor 
terjadi di mana-mana. Berdasarkan kenyataan tersebut, kita menyadari 
bahwa ternyata kemajuan ilmu pengetahuan masih belum dapat 
menyadarkan umat manusia mengenai pentingnya menjaga lingkungan 
hidup. Oleh karena itu, kita perlu berpaling pada kitab-kitab kuno 
yang telah mengajarkan mengenai pentingnya melakukan pembangunan 
berdasarkan kesadaran ekologis. Pada kesempatan kali ini, kita akan 
menelaah kitab Liji sehubungan dengan pandangannya terhadap 
lingkungan hidup.
Liji IVD bab Yueling, bagian 1.21 (terjemahan Matakin halaman 189) 
menyatakan:

Pada bulan ini diamanatkan kepada para penilik perairan dan pemimpin 
nelayan untuk menghimpun hasil sungai-sungai, sumber, empang, dan 
rawa-rawa, dijaga agar tidak melampaui batas dalam segala hal atas 
berjuta rakyat sehingga tidak menimbulkan perasaan tidak puas dan 
menyesali Tianzi (secara harafiah berarti "Putera Langit," yang 
merupakan gelar bagi kaisar. Pada zaman sekarang ia dapat 
diterjemahkan sebagai "pemerintah"). Siapa yang melakukan dosa itu 
dijatuhi hukuman tanpa ampun.

Berdasarkan kutipan di atas, kita menyadari bahwa pada zaman Tiongkok 
kuno prinsip pemanfaatan sumber daya alam secara tidak berlebihan 
telah dikenal. Bahkan ada petugas khusus yang mengawasi hal itu dan 
barangsiapa yang melanggarnya akan dikenakan hukuman berat. Dewasa 
ini, penebangan hutan liar masih banyak dilakukan, dan merajelelanya 
kejahatan terhadap lingkungan tersebut disebabkan oleh tiadanya 
mekanisme hukum yang baik. Hal ini ditegaskan kembali dalam Liji IVD 
bagian 2.12 (terjemahan Matakin halaman 191):

Bila orang dapat mengambil sesuatu dari gunung dan hutan, telaga dan 
paya-paya berupa buah-buahan yang dapat dimakan atau menangkap hewan 
hasil buruan, penilik hutan wajib memberi penjelasan dan tuntunan 
kepada mereka. Bila di antara mereka ada yang berbuat melampaui batas 
atau merampok milik orang lain, orang yang berbuat dosa itu harus 
dihukum tanpa ampun.

Jadi jelas sekali perburuan liar dan eksploitasi alam yang berlebihan 
telah ditentang semenjak zaman Tiongkok kuno. Petugas penjaga hutan 
wajib mengawasi hal ini dan menindak tegas orang yang melakukan 
pelanggaran.
Rusak atau tercemarnya tanah beserta lingkungan akan mengakibatkan 
rusaknya kualitas kehidupan di atasnya. Bangsa Tiongkok kuno di dalam 
Liji XVII bab Yueji 2.12 (terjemahan Matakin halaman 413) telah 
mengenal prinsip ini:

Bila tanah itu rusak, rumput, dan pohon-pohonan di atasnya tidak 
tumbuh baik. Bila air itu sering bergolak, ikan dan kura-kura tidak 
dapat menjadi besar. Bila semangat yang besar itu melayu, barang-
barang yang dihasilkan tidak dapat bebas pada zaman yang kacau, Li 
dilupakan dan diabaikan, dan Yue menjadi kemaksiatan.

Lebih jauh lagi, kutipan di atas menyatakan dengan sangat jelas bahwa 
kerusakan ekosistim pada gilirannya akan mengakibatkan permasalahan 
pada bidang kehidupan lainnya. Karena ekosistim merupakan landasan 
bagi kehidupan kita, sehingga bila ia mengalami kerusakan, maka 
kualitas kehidupan kita juga akan terpengaruh.
Rasa hormat terhadap alam sesungguhnya merupakan dasar bagi kesadaran 
untuk menjaga lingkungan hidup, dimana hal ini telah ditekankan dalam 
Liji IVD bagian 2.10 (terjemahan Matakin halaman 191):

Tianzi mengamanatkan kepada yang berwajib untuk berdoa dan 
bersembahyang ke keempat lautan, sungai-sungai besar, sumber-sumber 
yang termashyur, palung-palung yang dalam, rawa-rawa, seluruh sumur-
sumur dan mata air.

Berdasarkan kutipan di atas, segenap bentang alam harus dianggap 
sebagai sesuatu yang sakral, sehingga kita tidak akan mencemarinya 
dengan semena-mena. Pencemaran lingkungan yang marak akhir-akhir 
menandakan rendahnya penghormatan terhadap lingkungan hidup. 
Menariknya, disebutkan pula dalam Liji bahwa tianzi (kaisar) harus 
mengamanatkan penghormatan tersebut pada rakyatnya atau dengan kata 
lain pemerintah harus berperan aktif untuk memberikan teladan pada 
rakyatnya mengenai wawasan ekologi yang sehat. Sebagai bahan 
perbandingan, bangsa India kuno juga telah mengenal penghormatan 
terhadap alam ini, sebagaimana yang dituangkan dalam 
Atharvaveda.12.1.35:

Bila kami telah melukaimu, wahai bumi, dengan melakukan kegiatan 
penggalian atau pencangkulan, semoga lukamu itu dapat sembuh dengan 
cepat; semoga kami tidak mengenai (arpay) organ-organ penting ataupun 
jantungmu, wahai bumi yang menyucikan segalanya.

Bumi menurut kutipan di atas (dan juga sebagian besar filosofi 
Timur), dipandang sebagai suatu organisme hidup yang perlu dihormati.
Pemerintah perlu menggariskan suatu etika ekologi yang hendaknya 
disebarkan secara meluas dan menjadi teladan bagi pelaksanaannya. 
Pentingnya etika ini dikemukakan dalam Liji VIII bab Liqi, bagian 
1.15 (terjemahan Matakin halaman 265): Nabi Kongzi 
bersabda, "Melaksanakan Kesusilaan tidak boleh tidak diperhatikan." 
Namun, agar rakyat dapat mematuhi etika ekologi yang telah digariskan 
dengan sukarela dan penuh kesadaran, pemerintah perlu memberikan 
teladan. Pemerintahan yang bersih adalah suatu keharusan mutlak. 
Tanpa adanya pemerintahan yang terbebas dari korupsi dan tindakan-
tindakan kotor lainnya, susah menciptakan masyarakat yang beretika 
dengan penuh kesadaran. Bagaimana mungkin menciptakan lingkungan yang 
bersih dan sehat bila pemerintahannya saja masih belum bersih dan 
sehat? (Ivan Taniputera, dipl. Ing. 7 Februari 2006).






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke