Dear all,

Sekuntum teratai untuk anda semua, para calon Buddha.


Pada prinsipnya saya 100% sependapat dengan Sis Jenty.

Alangkah idealnya jika masing-masing dari kita bisa berpikiran seperti itu, berkemampuan untuk melakukan hal itu, dan betul2 melakukannya.

Sayangnya, karena berbagai faktor, lebih banyak dari kita yang belum berkemampuan untuk melakukannya, meskipun tahu itu penting, dan bahkan mutlak untuk dilakukan.

Itulah sebabnya, dari sejak awal melalui Program Dharmajala saya berusaha (dan tidak akan bosan-bosannya) untuk mengajak Bro en Sis yang peduli dan berkompeten untuk merancang sistem agar melalui KPD (Komunitas Praktik Dharmajala) dan jaringan KPD, anggota-anggota KPD kita bisa saling bantu manakala ada di antara kita yang mengalami musibah ataupun mengalami peristiwa yang mendadak membutuhkan dana seperti sakit, anggota keluarga meninggal, dana pendidikan jangka pendek karena yg membiayai kena PHK, cacat, ataupun meninggal, atau dana bantuan melahirkan.

Bagi yang memiliki kemampuan finansial, tabungan, asuransi, dan investasi untuk keperluan mendadak maupun masa depan, bukan merupakan masalah.

Tapi bagaimana dengan yang penghasilannya pas-pasan atau bahkan tidak mencukupi?

Dalam sistem perekonomian yang dominan saat ini, akan jauh lebih banyak orang yang berpenghasilan tidak memadai ataupun pas-pasan.

Menurut saya, sebagai manusia dan sebagai Buddhis, kita perlu membuka hati, memeras otak, dan bahu-membahu mengembangkan sistem saling bantu ini. Mari kita usahakan untuk mengembangkan sistem ini.

Sebenarnya, Sis Ety sudah berusaha membentuk team untuk merancang sistem ini (dan juga sistem keuangan DKD yg dikordinatori oleh Sis Jenty). Tapi karena sekarang dia baru pindah keluar Jawa dan merintis usaha baru, sementara belum bisa aktif seperti dulu.

Kepada Bro en Sis yang memiliki kompetensi untuk merancang sistem ini,

Sungguh, saya ketok pintu hati anda untuk mulai memikirkannya.

Sungguh, saya undang welas asih anda untuk  bekerja sama mewujudkannya.

Bagi anda yang ingin membantu, silahkan japri saya.

Anumodana
Let us try to be mindful and...
Salam Perjuangan

JL






  








Jen <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Saya ingin sharing saja karena topik ini berhubungan dengan pekerjaan saya, yang selalu menasehati client agar menabung for the rainy days.
 
Kalau dilihat dari sudut perencanaan keuangan keluarga,
kita bekerja keras untuk mencari sandang dan pangan. Kita juga harus memproteksi sandang dan pangan kita, caranya? Beli asuransi untuk melindungi rumah agar kalau terjadi musibah, kantong kita tidak ikut kebakaran.
 
Untuk melindungi pangan, kita harus memproteksi income kita; dengan membeli asuransi yang mengcover sakit kritis (ini yang paling banyak menghabiskan tabungan, hasil kerja keras  bertahun-tahun), cacat tetap total, kecelakaan dan meninggal.
Setelah ini terpenuhi, barulah kita menabung.
Teman SMP saya, usia 35 tahun, sebulan lalu, dideteksi menderita kanker, dan karena tidak punya asuransi, harus menjual rumah dan mobil.
 
Cash itu penting, karena berdasarkan pengalaman pribadi, ketika salah satu anggota keluarga saya tertimpa musibah, banyak sekali biaya yang keluar.
 
Dan selanjutnya tabungan, kita harus menabung di instrumen tabungan yang bisa beat inflasi. Misalnya kalau bunga bank berkisar 7%, kita setidaknya investasikan di instrumen yang bisa menghasilkan 12-15%. Agar nilai tabungan kita tidak turun dimakan inflasi. Saya sendiri memilih reksa dana saham dari perusahaan yang memiliki reputasi bagus selama 5 tahun terakhir.
Tabungan sebesar 3 bulan gaji diperlukan, untuk menjaga-jaga kemungkinan kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, uang ini bisa digunakan.
Kesalahan yang sering client saya lakukan adalah tidak memiliki cash dan menginvestasikan uangnya di property. Property tidak liquid, terkadang lebih mudah pada saat membeli tetapi ketika butuh uang dan mau dijual, tidak ada pembeli yang berminat.
 
Besarnya tabungan yang diperlukan dan nilai asuransi yang kita inginkan, itu bisa dihitung berdasarkan kebutuhan kita saat ini dan life style kita. Untuk asuransi, seringkali banyak client yang under insured (nilai asuransi yang mereka beli, tidak cukup untuk mengcover kebutuhan mereka), walaupun ada juga sebagian yang over insured.
 
Selain tabungan secara materi, tabungan dalam bentuk lain juga diperlukan. Mengutip kata Sayalay Dipankara, kita harus ready to face the sunsets. Katanya, ini asuransi untuk kehidupan kita di masa mendatang.
 
Semoga bisa membantu.
 
 
Regards,
 
 
Jenty Siswanto
PT Prudential Life Assurance
Menara Duta, Lt 6, Jl HR Rasuna Said Kav B9,
Kuningan, Jakarta Selatan
 
Telp (021) 520-7811, 6830-5055
 
 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
 
 
 
shiau hui <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
 
............... saya belum bisa merumuskan definisi "hidup cukup" didlm kehidupan saya. saya n suami saya dulu sering berdebat soal ini. "hidup cukup" menurut suami saya, kalo semua biaya hidup 3 generasi (org tua, kita, anak2) tercover. trus hrs punya emergency money plg sedikit 3bln biaya hidup. trus setiap org hrs ada asuransi, kmdn hrs ada uang pensiun wkt umur 50 taun, dan punya "sdkt" investasi.sedangkan definisi"hidup cukup" menurut saya spt bang uki, yg penting kita bahagia dan hidup tenang.ujung2nya kita berdebat. ia menilai saya terlalu naif. ga mikir masa depan.dan saya pikir dia terlalu money oriented.finally, saya kalah berdebat.

Yahoo! Mail
Use Photomail to share photos without annoying attachments.


Relax. Yahoo! Mail virus scanning helps detect nasty viruses!

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke