Lebih Baik Menyalakan Lilin
Maria Hartiningsih
Hujan deras mengguyur Kota Bogor sejak siang, membuat orang enggan keluar rumah. Suasananya muram. Tanah becek, petir sambung menyambung. Jalanan sepi, ditingkahi teng teng angkringan penjual bajigur keliling.
Dari kejauhan serombongan orang berpayung menerobos hujan menuju ke sebuah rumah panggung mungil dengan halaman yang asri di Bogor Selatan.
Satu per satu berdatangan kemudian, langsung membersihkan ruangan dan menyiapkan alas duduk. Beberapa orang mengeluarkan bekal makanan kecil dari rumah yang akan dinikmati bersama. Hadi Wijaya (60-an), si empunya rumah, menyiapkan air mineral gelas.
Mereka lalu duduk bersila, membentuk lingkaran, memulai pertemuan sekitar pukul 17.45 dengan meditasi bersama sekitar 10 menit. Setelah itu suasananya terasa lebih lepas, diskusi santai, berbagi pengalaman, membahas berbagai hal berkaitan dengan situasi hidup. Setiap orang bebas mengungkapkan pandangannya. Tidak ada wasit, tidak ada kebenaran yang paling benar.
Di sini tidak ada guru,
tidak ada murid. Semua guru dan semua murid, ujar Sukriya Agus (63) yang tampaknya dituakan di dalam kelompok diskusi teosofi itu.
Sifat kelompok itu sangat cair. Tidak ada keanggotaan. Tidak ada yang dikultuskan. Mereka memulai pertemuan mingguan setiap Kamis malam sejak beberapa tahun lalu karena ada kebutuhan untuk berkumpul. Hari Kamis dipilih karena itu adalah Hari Guru, ujar Handiman (40-an).
Dasar yang menyatukan mereka adalah persaudaraan universal antarmanusia tanpa sekat-sekat yang dikonstruksikan oleh sistem. Bisa dipahami kalau anggota kelompok diskusi itu mempunyai agama yang berbeda-beda, dari suku, etnis, golongan, dan profesi yang berbeda-beda pula.
Mereka mengukuhi cinta kasih sebagai kekuatan tertinggi karena meyakini manusia berasal dari Satu Sumber. Lalu
mengembangkan kebijaksanaan dan kehendak kuat untuk melakukannya. Ini yang diasah, sambung Agus.
Dalam setiap diskusi mereka juga mencoba mencari persinggungan ilmu pengetahuan, agama, dan filsafat, serta mempelajari hukum alam yang belum bisa dijelaskan oleh ilmu pengetahuan.
Kelompok itu hanya salah satu dari kelompok-kelompok serupa di Kota Bogor dan sekitarnya. Para peserta diskusinya kadang bergabung dengan kelompok-kelompok sejenis lainnya. Pun sebaliknya.
Malam satu Suro (31/1) mereka berkumpul dengan banyak orang lain di area Pura Parahyangan Agung Jagatkartha, di kaki Gunung Salak, untuk merasakan getar alam dan mengalami keheningan.
Menjumpai mereka serasa menemukan oase di tengah kepengapan hawa
kebencian dan kemarahan yang merebak di mana-mana belakangan ini.
Evolusi kesadaran
Ismed Natsir yang rajin mengikuti diskusi kelompok teosofi itu menengarai terjadinya evolusi kesadaran yang terus bergerak, menyentuh banyak orang, baik di Kota Bogor maupun di berbagai tempat lain.
Yang sekarang banyak diidentikkan dengan new age itu sebenarnya bukan fenomena baru bagi kita, lanjutnya.
Editor buku Ahmad Wahib dan Soe Hok Gie yang diterbitkan LP3ES itu juga mengikuti diskusi kelompok-kelompok serupa lainnya di sekitar Kota Bogor dan mendapati kesamaan pijakan: terbuka, tidak mengontrol, tidak mendominasi kebenaran.
Fenomena itu menjelaskan evolusi
manusia menuju kepada tahapan yang lebih spiritual, ujar Komarudin Hidayat. Pengamat budaya dan sosial kemasyarakatan itu melihat semakin banyak orang memasuki substansi tentang universal keagamaan, tidak lagi terjebak pada kulitnya.
Ismed menengarai semakin banyak orang mencoba keluar dari formalisme agama, dan terus mengasah tingkat kesadarannya sebagai makhluk spiritual. Di dalam spiritualitas, hal-hal yang bersifat dogmatik mencair, papar Ismed.
Bagi Komarudin, fenomena itu juga menjelaskan masyarakat Indonesia yang pluralistik. Mereka memiliki rumah budayanya yang penuh ketenangan dan kearifan, terbuka dan humanis. Siapa pun yang masuk diterima dengan baik, katanya.
Pendekatan ini berbeda dengan agama. Seperti dikemukakan Komarudin, setiap agama memiliki jaringan global.
Ada klaim universal yang menerabas batas-batas wilayah. Emosi, keterikatan, dan keloyalan terhadapnya, menurut Komarudin, kerap bertabrakan dengan kearifan lokal yang ramah, cinta damai, dan lebih sinkretis.
Karena itu, Komarudin mengingatkan agar kelompok-kelompok yang mengkaji spiritualitas itu tidak memasuki wilayah tabu dari simbol-simbol agama. Kalau itu dilakukan, artinya membuka pintu terhadap intervensi, kata Komarudin.
Sosiolog dan pengamat budaya Ignas Kleden justru melihat fenomena itu merupakan reaksi dari kompartementalisasi atas dasar agama. Mulai tampak adanya pergeseran dari agama sebagai referensi kelompok kepada agama sebagai referensi nilai-nilai yang mengacu kepada kebaikan, ujarnya.
Fokusnya adalah keselamatan manusia, the salvation of human being, yang
sebenarnya merupakan inti ajaran dari setiap agama. Keselamatan dalam budaya tidak bersifat esensialis, sementara banyak orang menganggap keselamatan ditaruh begitu saja di dalam agama, lanjut Ignas.
Karena itu, membangun semacam social construction of salvation dengan mewujudkan nilai-nilai agama secara pribadi maupun bersama-sama menjadi hal yang penting.
Dalam beberapa hal, psikolog Rubiana Soeboer sependapat dengan Ignas dan Komarudin. Klaim-klaim kebenaran itu menyesakkan, ujarnya. Dogma bahwa keselamatan hanya ada di satu ajaran melahirkan perasaan tidak nyaman.
Mengambil pengalamannya sendiri, Rubiana mengatakan, identitas orang Indonesia, bahkan dalam satu keluarga, bukanlah merupakan identitas tunggal. Sebuah keluarga bisa terdiri dari percampuran berbagai suku,
etnis, dan agama. Imlek, Lebaran, dan Natal bisa dirayakan bersama oleh satu keluarga.
Anggota keluarga dengan kondisi seperti itu terbiasa dengan perbedaan dan merasa tidak nyaman dengan kotak-kotak yang berkembang atas dasar ikatan primordial, ungkapnya.
Ikatan-ikatan seperti itu, menurut Rubi, gagap menghadapi perubahan di dunia yang kian mengglobal. Harus ada pendekatan baru untuk menyikapi perubahan.
Tantangan baru yang datang bersama kekuatan global biasanya ditanggapi dengan tiga cara, kata Ignas. Yakni, larut dalam life style yang baru, menutup diri dan menjadi semakin konservatif, atau melakukan seleksi kreatif terhadap pengaruh-pengaruh itu sesuai nilai-nilai yang dikukuhi.
Di antara yang ekstrem dan
yang longgar perlu ada ruang untuk memberi rasa hormat kepada yang lain agar bisa berinteraksi dengan baik, ujar Rubi, mengutip pandangan ahli filsafat Franz Magnis-Suseno.
Respek itu semestinya tak sulit diberikan ketika orang menyadari bahwa dirinya dan semua orang, serta semua ciptaan, berasal dari Sumber yang Satu.
Pejalan kaki
Barangkali ujung dari semuanya adalah kesadaran. Tentang bagaimana mengetahui, mengenali, dan menjaga diri; dan bagaimana menjalani hidup serta berinteraksi dengan sesama ciptaan-Nya, ujar Hendra, seorang wiraswastawan yang mendalami spiritualitas.
Itulah makna spiritualitas yang dipahami banyak orang saat ini. Seperti dikemukakan Agus Wiyono, pemilik Obhasa Crystal di
Bogor, Spiritualitas bukan klenik, tetapi bagaimana mengimplementasikan nilai-nilai kebaikan yang universal dalam agama di dalam kehidupan sehari-hari.
Hal senada dikemukakan Sitawati Sudjono (70), penggiat Olahraga Hidup Baru (Orhiba). Lebih pada bagaimana memanisfestasikan asih kepada manusia dan seluruh ciptaan-Nya, karena yang berlaku dalam hidup ini adalah hukum sebab akibat, ujarnya.
Ani Sekarningsih, penulis dan pembaca tarot terkemuka, memaknai spiritualitas sebagai, Bagaimana kita memaknai apa saja yang terjadi dalam hidup. Berspiritual berarti mengenali diri sendiri.
Karena itu, ibarat pejalan kaki, spiritualitas harus ditapaki selangkah demi selangkah. Seluruh fenomena di kaki Gunung Salak dan sekitarnya barangkali bisa dibaca dalam konteks itu. Seperti dikatakan
Hendra, Daripada mengutuki kegelapan, lebih baik kita nyalakan lilin
. (PUN/CAN)
Yahoo! Autos. Looking for a sweet ride? Get pricing, reviews, & more on new and used cars.
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
SPONSORED LINKS
| Religion and spirituality | Spirituality |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
