Bagaimana kalo yang terpampang adalah muka bloon si Cecep dengan 
tiga helai rambut tegak menjadi parameter batasan pornografi? Para 
wanita penggemar Anjas bisa saja terobsesi dengan pose itu, walaupun 
dipamer dalam ruangan terbatas. Semua kembali pada persepsi masing 
masing. Namun batasan etika di jaman sekarang sudah kacau balau 
terbentur oleh berbagai kepentingan. Pada  satu objek tertentu bisa 
menimbulkan berbagai persepsi berbeda tergantung dilihat dari 
perspektif mana. Seniman ya dengan alasan seni. Ekonom melihatnya 
sebagai nilai jual. Antropolog  melihatnya sebagai hasil evolusi 
terbaik dari semua ras. Dian Nitami bisa saja melihatnya sebagai 
pria terganteng pada jam 12 siang, dan pria paling menggairahkan 
saat jam 12 malam.  Jaman globalisasi ini, sebuah objek akan secara 
tanpa batasan segmentasi telah dicampur adukkan dalam satu wadah 
media informasi, tersebar ke mana mana secara liberal, dapat dilihat 
oleh berbagai kalangan, anak, wanita, orang tua. Lalu menimbulkan 
perdebatan sengit, karena semua terjebak dalam ketidak tahuan bahwa 
apakah ini porno? Seni? Politik? Ekonomi? Social? Budaya? Untuk 
kalangan terbatas? Untuk kalangan umum? Untuk anak2? Untuk orang 
tua? Tidak ada sistem yang dapat secara otomatis menyaring, memilah, 
mengendalikannya agar tidak terjadi perbenturan kepentingan, nilai-
nilai etitka, estetika, dan lain sebagainya. Dari satu sisi 
menyebutnya demi liberalisasi, kebebasan berekspresi, kebebasan 
mengeluarkan pendapat, pada satu sisi lain menyebutnya bertentangan 
dengan ajaran agama dan tradisi. Seperti pada peristiwa pemuatan 
foto SBY yang berpelukan mesra di internet, sang pembuat foto 
menolak disebut melanggar hukum karena itu adalah salah satu bentuk 
kebebasan berekspresi. Sang penegak hukum ingin menghukumnya karena 
menganggap telah menghina Presiden. Kemudian masalah Ahmadiyah, 
Komunitas Eden dan lebih jauh lagi hingga kartun nabi Muhammad. 
Kemajuan Teknologi yang tidak di dukung oleh pembinaan budi pekerti 
akan menjadi begini hasilnya. Dan dunia ini sedang dalam masa kritis 
karena hal ini.   Semua ini tidak lain adalah liberalisasi yang 
terlanjur diterapkan pada kualitas-kualitas manusia yang masih belum 
matang dalam arti yang sesungguhnya. Indonesia bukanlah Amerika. Dan 
Amerika yang mengelu-ngelukan nilai kebebasan pun tidak luput dari 
berbagai masalah karena kualitas manusianya pun belum disebut matang 
dalam arti yang sesungguhnya juga. Semua harus kembali pada 
bimbingan budi pekerti. Teriakan yang mengelu-elukan kebebasan tidak 
menyadari bahwa kebebasan juga perlu ruangan tersendiri.    

Bagaimana seorang umat Buddha bersikap hal ini? Sang Buddha adalah 
salah satu pendukung nilai-nilai kebebasan. Bahkan sang Buddha 
menilai bahwa manusia itu telah terikat terlalu lama. Namun 
keterikatan itu bukan berasal dari luar, melain berasal dari dalam 
batin diri kita. Dan itulah yang menjadi tujuan kita dalam melatih 
diri- untuk mencapai pembebasan yang sesungguhnya.  Tetapi satu hal 
yang perlu diketahui adlaah bahwa di dalam jalan meraih  pembebasan 
itu memiliki jalur jalur yang bersifat tahapan. Tidak ada kebebasan 
yang diraih dengan cara bebas tanpa kendali. Semua ada aturan 
mainnya.  Sang Buddha mengajarkan moralitas kepada kita agar dapat 
mengendalikan diri dari perbuatan buruk sehingga dapat tercapainya 
manusia yang memiliki batin berkualitas unggul. Jadi ini merupakan 
tahapan awal.  Sang Buddha telah dengan tiada henti-hentinya 
berkelana ke mana-mana untuk mengajarkan dharma kepada semua umat 
manusia di sepanjang hidupNya. Ini mengindikasikan bahwa nasihat-
nasihat tentang moralitas, nilai-nilai kemanusiaan harus terus 
menerus diekspos jangan sampai kita lupa. Hari ini telah dinasihati, 
maka besokpun tidaklah berlebihan jika masih terus dinasihati, 
karena batin kita mudah terpancing ke bentuk2 pikiran yang mengarah 
ke hal-hal buruk. Sebelum kita dapat benar-benar mencapai tahapan 
sebagai manusia yang berkualitas batin unggul, maka kita perlu 
dengan kesadaran sendiri untuk menghindari diri dari sentuhan-
sentuhan hal yang dapat memancing sensifitas kita. Jika tidak, untuk 
apa sila-sila diterapkan oleh sang Buddha? Tidak lain karena adanya 
fakta bahwa kita memang mudah terperosot. 

 Dalam hal ini, pajangan foto yang dianggap sebagai nilai seni pun 
tetaplah pornografi pada sisi batin kita yang lain. Mungkin jam 12 
siang kita mengganggapnya seni, tapi jam 12 malam di sela-sela hujan 
gerimis batin kita telah berpaling, dan pikiranlah yang berperan 
menentukan apa maunya kita. Selamat datang jaman kebebasan (baca: 
kebablasan) dan selamat menikmati seni pornografi.     



Cg ik




--- In [email protected], TheHiddenDragon <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
>     Kalau Anjas Jadi  Ukuran
>        
>       Kalau Anjasmara  sebagai tersangka kasus pornografi 
menunjukkan betapa kacaunya definisi  pronografi di sini. Hanya 
karena foto-fotonya yang dipamerkan dalam CP Biennale  II, aktor 
film dan bintang sinetron itu diancam hukuman maksimal 18 bulan.  
Pameran seni rupa kelas internasional pada september 2005 itu, 
antara lain,  memajang pose polos Anjas yang diramu perupa Agus 
Suwage dalam karya instalasi  berjudul Pinkswing Park.
>            
>   Beserta Anjang,  lima orang yang bekerja dalam pameran itu 
ditetapkan sebagai tersangka dengan  acamana hukuman serupa. 
Kelompok Front pembela Islam yang mula-mula mengadukan  kasus ini 
kepada polisi, tapi kelompok itu kemudian mencabut laporannya. 
Namun,  proses hukum jalan terus. Nasib Anjas dan rekan-rekannya 
akan banyak bergantung  pada definisi pornografi yang dipakai polisi.
>            
>   Kamus Besar  Bahasa Indonesia (edisi ketiga, 2002) 
mendefinisikan pornografi sebagai  "Pengambaran tingkah laku secara 
erotis dengan lukisan atau tulisan yang  membangkitkan nafsu berahi? 
Pasal 282 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (ayat 1  dan 2), yang 
dapat dipakai untuk menjerat enam tersangka ini, mendefinisikan  
pornografi sebagai "kegiatan menyiarkan, mempertunjukkan, atau 
menempelkan  (materi pornografi) di muka umum?
>            
>   Definisi di atas  membawa kita pada sedikitnya dua titik lemah 
dalam penetapan status terangksa  untuk anjas dan kelimat kawannya. 
Pertama , tak ada satu pun laporanyang kita  dengar orang yang 
terbangkitkan nafsu berahinya gara-gara menonton foto Anjas  dalam 
pameran CP Biennale II. Kedua, ukuran "di muka umum?patut 
diperdebatkan.  Pameran itu dilangsungkan di dalam ruangan terbatas 
di satu sudut di museum  Bank Indonesia di Jakarta.
>            
>   Disarankan agar  kepolisian daerah metro jaya, yang berkukuh   
memproses kasus ini, mempertimbangkan dua hal tadi. Benar ini delik  
biasa dan bukan delik aduan sehingga proses harus jalan terus walau 
pelapor  telah mencabut. Tapi mendakwa Anjas dengan pasal pornografi 
harus  dipertimbangkan lebih dalam.
>            
>   Sebab, kasus ini  juga menyangkut nama Indonesia di forum seni 
internasional. Bisa-bisa kelak  banyak perserta asing yang takut 
memamerkan karyannya di Indonesia. Negeri ini  hanya akan menjadi 
bahan tertawaan komunitas seni dunia karena aparatnya tak  mampu 
membedakan mana yang karya seni dan mana yang cabul.
>        
>       Kalau Anjas  dihukum, mengapa materi pornografi "kental?dan 
jauh lebih terbuka di muka umum  tak kunjung padam setelah bertahun-
tahun masuk agenda kerja polisi? Sebutlah  peredaran video porno, 
majalah porno, dan tabloid porno.
>            
>   Kepada olda Metro  Jaya mungkin perlu menimbang untuk menambah 
pasukannya guna membereskan semua  materi pornografi yang terpampang 
di depan umum bila kasus Anjas menjadi tolak  ukur pornografi. 
Umpamanya patung atau lukisan yang memamerkan tubuh terbuka di  
jalan-jalan jakarta dan museum-museum, juga ini dia: warga Jakarta 
yang  terpaksa mandi telanjang bulat di muka umum, di sungai-sungai 
di seantero  jakarta. Betapa repotnya....
>   
>   Editorial Koran Tempo; Kamis, 16 Februari 2006
>   
>   
>     
> 
> J u n a i d y  A n w a r
> Dept. of Information Technology
>  






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke